Hello Juliette!! 3rd Act

aku sedang membeli makan malam ketika seseorang memanggilku

“Hyuna-ssi!”

aku mendapati seseorang yang menjadi namja impianku berjalan ke arahku.

“kau sering ke sini ya minho-ssi.”

ia tertawa kecil yang jarang diperlihatkannya.

jantungku berdegup.

“kau sudah tahu jawabannya.””Taemin-ssi?”

ia mengangguk.

“kau mau kemana?” tnyanya

“makan malam, kau sudah makan?” tanyaku

“perhatian sekali denganku?”

wajahku memerah.

“ayo kutemani kau makan”

kurasa ini akan jadi malam terbaikku.

Aku sedang mengobrol bersama Minho kembali ke ruang rawat Kyuhyun ketika terdengar teriakan yang aku yakin dari Donghae

Aku dan Minho berpandangan sejenak lalu bergegas masuk.

“KAU BRENGSEK! BUKANNYA SUDAH KUBILANG JANGAN MEMBUATNYA CEMAS? APALAGI SAMPAI MENANGIS!!” teriak Donghae

aku bingung kepada siapa Donghae berteriak dan kenapa.

tapi sedetik kemudian aku sadar, Kyuhyun sudah sadar dari koma

Taemin memeluk Donghae dari belakang, menahannya agar tidak memukul Kyuhyun, Ahra menangis, tangannya menggenggam erat tangan Kyuhyun.

“hyung! bantu aku!” ujar Taemin

buru-buru Minho memegangi Donghae

“hyung..tenanglah..” ujar Minho

“KAU…”

“CUKUP! CUKUP DONGHAE-AH!! JANGAN SALAHKAN KYUHYUN!!!” Jerit Ahra di sela tangisnya.

“Donghae-hyung…tenanglah…. aku tahu aku salah…kuharap kau mau tenang untuk mendengarkan penjelasanku.” ucap Kyuhyun dengan suara lirih.

DOnghae tidak menjawab, hanya napasnya terdengar memburu, seolah penuh amarah.

“aku tidak ingin menyakitinya… tidak pernah… tapi aku tidak tahu kalau aku menyakitinya karena aku menyakiti diriku sendiri.. aku hanya ingin melindunginya hyung… aku tidak mau kehilangan dirinya..”

Ahra terisak semakin keras.

“aku tidak menyesal melakukan ini.. aku menyakitinya, ya memang,tapi itu bukti dia membutuhkanku.. benar-benar membutuhkanku.. apa hyung mengerti? aku melakukan ini untuknya.. dan ia melakukannya untukku. tidak pernahkah hyun sadar?”

hening di antara kami, aku dan Minho berpandangan.

ia menggeleng seolah mengatakan ia juga tidak mengerti apa yang terjadi.

Minho dan Taemin melepaskan Donghae ketika tiba-tiba Donghae terduduk lesu.

“arraseo..arraseo… dari awal aku sudah kalah..” ujar Donghae lirih.

Ahra bangkit tapi Kyuhyun mencegahnya, menggeleng

“tidak…hyung tidak kalah… aku hanya lebih beruntung hyung… maafkan aku..”

beberapa saat kemudian Donghae berdiri, ia tersenyum

aku heran melihat perubahan emosinya yang mendadak.

“gwaenchana… kau harus bertanggung jawab.. jaga dia” ujar Donghae.

Kyuhyun tersenyum

“tak perlu kau ucapkan .. aku sudah tahu”

“hei Ahra…temanmu ini boleh untukku?” tanya Donghae sembari mengerling ke arahku.. sontak aku jadi gugup.

ku lirik wajah Minho tapi ia hanya diam tanpa ekspresi

Ahra tertawa

“kurasa tidak bisa Donghae-ah..” ujarnya

“aiiish… sudahlah aku pergi saja.. ”

Donghae berbalik.

“hyung…” tahan kyuhyun

DOnghae menoleh

“gamsa hamnida”

Donghae hanya mengangguk singkat lalu keluar ruangan.

Ini hari keempat Kyuhyun dirawat di rumah sakit, seharusnya ini bukan jadwal jaga ku, tapi apa boleh buat eunsung bilang dia ada urusan. Aku baru memasuki loby rumah sakit ketika seseorang memanggilku

“Hyuna-ssi! Hyuna-ssi!”

aku berbalik, ternyata Taemin yang berlari menghampiriku.

“Hyuna-ssi kan?” tanyanya sembari mengatur napasnya yang memburu.

Aku mengangguk

“ne.. waeyo?”

Taemin tersenyum

“aniyo..hanya takut salah sebut nama.. ngomong-ngomong kau mau kemana?”

“tentu saja ke ruangan Kyuhyun-ssi, kau kira kemana lagi? Kau sendiri?”

“sama saja.”

“cari siapa kau?” tanyanya ketika melihatku celingukan

Wajahku memerah

“tidak siapa-siapa. oya biasanya kau pergi bersama Minho-ssi?”

“mm.. dia ada kok, tadi aku keluar sebentar membeli makanan ringan”

Hatiku berdebar mengetahui bahwa aku akan bertemu dengannya lagi.

“ngomong-ngomong Hyuna-ssi, aku ingin bicara sesuatu denganmu.”

aku menatapnya, aku merasa ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

“mwo?”

“tidak disini.. ikut aku sebentar?”

aku mengangguk lalu mengikutinya

Ah..ke tempat ini lagi.. dimana aku berduaan pertama kali bersama Minho.

Mengingatnya wajahku memerah sendiri.

“duduklah Hyuna-ssi”

AKu duduk di sebelahnya Taemin awalnya diam..

“aku ingin bertanya kepadamu.. maukah kau menjawab jujur?”

“tanya apa?”

“aku ingin kau janji dulu”

aish.. anak ini..

“oke..kau dapat janjiku.”

Taemin menghela napas

“Apa kau menyukai Minho-hyung?”

aku tersentak apakah perasaanku begitu jelas terlihat?

“kau sudah berjanji untuk menjawab..” ujar Taemin kalem

Aku mendesah.

“dan kurasa kau sudah tahu jawabannya.” jawabku lirih

“arraseo…tapi maksudku suka..dalam arti benar-benar suka, bukan suka terhadap seorang idola.”

aku diam…berpikir.. aku sendiri tidak tahu…apa yang sebenarnya kurasakan pada Minho?

memang aku fansnya..tapi setelah bertemu dengannya dan menghabiskan waktu dengannya walau hanya sebentar apakah perasaan itu masih tetap sama?

Tapi mungkinkah perasaan bisa berubah secepat itu?

“hei..eottaeyo?”

aku mendesah lagi

“mollaseo…”

Taemin mengernyit

“waeyo?”

aku menghela napas

“nan jeongmal mollaseo Taemin-ssi..arraseo?”

Taemin tertawa kecil.

“wae? kenapa kau tertawa? memangnya lucu?” tanyaku sedikit tersinggung

“aniyo..jangan marah… hanya saja perasaanku mengatakan kau menyukainya…..sebagai namja..”

“mwo?! tentu saja! kau kira aku menganggapnya yeoja!”

Taemin terkekeh..

“sudahlah..ayo kita kembali.” ajaknya

aku masih menggerutu sebal tapi mengikutinya.

“oh ya..” ujarnya tiba-tiba

“mwo?”

“kurasa lebih baik kau singkirkan perasaan terhadap Minho-hyung kalau kau tak ingin terluka.”

aku menahan napas

“aku tak berharap padanya.” ujarku lirih

“beberapa hari ini kulihat kalian sangat dekat, aku hany tidak ingin kau menaruh harapan tinggi.”

Aku diam..lalu mendesah lagi

“arraseo…tapi.. kenpa kau begitu perhatian padaku jangan-jangan kau menyukaiku?” tanyaku sembari tersenyum simpul

“MWO?! hahaha..bermimpilah nona…memangnya siapa kau bisa mendapatkan hatiku? sementara ini hatiku hanya milik Ahra-noona.”

Aku memukul lengan Taemin

“ssi pal….” ujarku

Taemin tertawa, aku ikut tertawa

Tapi tawaku terhenti bersama langkahku ketika melihat di depan Ruang rawat Kyuhyun ada seseorang yang tertawa.

Seseorang yang sudah mengisi hatiku

Choi Minho sedang tertawa lepas dengan Ahra…sedetik kemudian ia tersipu malu.

Ekspresi itu… Kedua ekspresi itu aku tidak pernah melihatnya

Dia tidak pernah memperlihatkannya padaku.

Hatiku sakit… Aku tahu aku bukan siapa-siapa..tapi..

“Hyuna-ah? gwaenchanayo?” tanya Taemin

aku tidak menjawab

Taemin menoleh ke arah yang sedang kulihat.

“aaaahhh.. arraseo…karena itu..hei..hei! HYUNA-AH!!!”

Aku tidak berbalik ketika Taemin memanggilku

Aku juga tidak berhenti ketika Ahra memanggilku

Aku benci dia… Aku benci Ahra..

kenapa selalu Ahra? Ahra sudah punya Kyuhyun…ia akan menikah dengan Kyuhyun… Donghae juga mencintainya walau sudah mengaku kalah… Taemin menganggapnya noona..

Dan sekarang Minho? Kenapa harus Minho??

Dia tahu aku menyukainya! Aku memang bukan siapa-siapa bagi Minho.. tapi paling tidak aku ingin dia menghargainya!

apa dia tidak sakit jika Kyuhyun tertawa bersamaku padahal tawa itu tidak pernah diperlihatkan untuknya???

Aku tidak sadar apa yang kulakukan dan kemana aku pergi, tapi ketika aku sadar aku sudah membawa barang-barangku dan sedang berdiri di bandara Incheon.

“apa yang akan aku lakukan? ” rintihku pelan

ah sudahlah, ini mungkin sudah takdir aku harus pulang.

aku menyeret koperku ke arah loket pembelian.

“jweisong hamnida.. apakah hari ini ada jadwal penerbangan ke Indonesia?” tanyaku pada petugas di sana.

Petugas itu tersenyum ramah

“sebentar saya cek dulu.”

Petugas itu seperti membuka suatu page di komputernya

“oh ada, sekitar 7 jam lagi.” ujarnya kemudian

“mworago? 7 jam? tidak adakah penerbangan dalam waktu dekat?” tanyaku

gila! menunggu selama itu? bisa-bisa mereka menemukanku duluan!

aku sedang tidak ingin bertemu dengan Ahra..tidak ingin mendengar penjelasan siapa-siapa.

Tidak saat ini.. kupikir jika aku pulang ke Indonesia pikiranku bisa kembali rasional dan berpikir jernih.

“aniyo…hanya itu yang paling cepat.”

aku mendesah.. eottaeyo?

“baiklah..gamsa hamnida” ujarku lalu menyeret koperku menjauh.

aku harus berpikir dulu.

Penerbangan 7 jam lagi berarti tiba di Indonesia malam hari.. aissshh… tidak mungkin mengganggu tidur orangtuaku di malam hari hanya untuk menjemputku di bandara, lagipula mereka pasti merasa aneh aku pulang lebih cepat dari perkiraan di malam hari pula!

Aku baru akan masuk di sebuah cafe ketika seseorang menyentakkan tanganku untuk berbalik.

Aku menahan napas.

Minho…

“apa-apaan kau ini!” bentaknya

Aku tercekat…kenapa…

“tentu saja aku mengejarmu babo! kenapa tiba-tiba kau berlari bahkan ingin pulang ke Indonesia hah?!!”

Orang-orang mulai memperhatikan kami, lalu ada yang berteriak

“ITU CHOI MINHO!!”

“ah ssi pal! Ikut aku!” ujarnya

Ia menyeretku, berlari menghindari kejaran fansnya.

Sesampainya di mobilnya, aku tetap diam mengatur irama napasku.

Minho juga tidak berkata apa-apa.

Kenapa dia marah padaku? Hanya karena aku pergi tanpa pamit? Hanya karena aku akan pulang ke Indonesia? Bukannya dia menyukai Ahra?

“diamlah.. kita bicara lagi nanti.” ujarnya

Aku terkejut. Aku bahkan tidak bersuara.

Aku mendengus..dan berpaling ke jendela..malamunkan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa yang ku lamunkan.

Minho membawaku ke pantai, aku tidak tahu pantai apa ini tapi yang jelas sedikit sekali pengunjungnya.

Ah Kim Hyuna baboya! orang bodoh mana yang mau berjemur di musim dingin?

“turunlah” ujar Minho singkat.

Aku mematuhinya. Aku mengikutinya dari belakang, ia berjalan ke sebuah karang dan duduk di atasnya.

“duduklah dan jelaskan padaku.” ucapnya.

Aku duduk, tapi aku tetap diam

Apa yang harus ku jelaskan padanya?

“katakan kenapa kau lari.” ujarnya.

“kau bisa membaca pikiranku?” tanyaku spontan tanpa berpikir.

Dia menoleh, sedikit terkejut kurasa.

“mwo?” tanyanya

aku menelan ludah dengan susah payah, apa aku salah bicara?

“ani..ani..kau tidak salah..”

aku kembali terkejut.

“kau benar-benar bisa membaca pikiranku?” tanyaku sekali lagi.

Minho mendesah pelan

“tidak… aku…”

aku diam menunggu kelanjutan kalimatnya

“ssi pal!” umpatnya

“aku tidak tahu kenapa aku tahu apa yang kau pikirkan! aku benar-benar tidak tahu kenapa bisa begitu! aku tidak bisa membaca pikiranmu.. tidak..aku hanya tahu apa yang kau pikirkan di masa ini, aku tahu dari ekspresimu! aku tidak tahu bagaimana prosesnya..itu..terjadi begitu saja..seolah kau menyuarakannya!” penjelasannya seperti air bah.

aku berusaha memahaminya.

“itu…”aku mencoba menarik kesimpulan tapi gagal.

Minho berbalik menghadapku.

“pikirkan sesuatu”ujarnya kepadaku

tapi apa yang harus ku pikirkan?

“terserah kau..sesuatu..cepat..akan ku buktikan.”

tiba-tiba gambaran sewaktu aku melihatnya bersama Ahra…tertawa bersama Ahra kembali.

Minho mengangguk seolah mengerti

“tidak seperti itu.” desahnya.

“maksudmu?” tanyaku

“Aku tidak menyukainya…Dia seperti saudaraku.. Entahlah..sejujurnya aku juga tidak begitu dekat.. Tapi aku seing bertemu gara-gara Taemin mendesakku menemaninya.”

Kami terdiam..

“lalu….kau mengejarku hanya karena ingin menjelaskan ini kepadaku?” tanyaku

Entah kenapa wajah Minho yang biasanya dingin tanpa ekspresi jadi memerah.

“hei…wajahmu merah kau sakit?” tanyaku sambil memegang keningnya

Minho menepis tanganku.

“mianhae..” ujarku lirih.

Rupanya dia membenciku.

Tiba-tiba Minho mengangkat wajahku lalu menciumku.

Aku hanya bisa menatapnya tanpa suara,aku tidak tahu harus berkata apa.

“tidakkah kau mengerti? kau ini spesial! kau spesial untukku! aku tidak pernah bisa tahu apa yang dipikirkan orang.. tidak sebelum aku bertemu denganmu! bahkan itu hanya terjadi padamu!”

aku masih diam.

“kau ingat saat pertama kita bertemu? tiba-tiba aku mendengar suaramu, suaramu waktu kau sedih ditinggal donghae-hyung. aku tidak yakin kau menyuarakannya sehingga aku mengajakmu pergi untuk memastikan. dan kau tahu..saat kita berdua, hanya berdua malam itu aku bisa mendengar apa yang kau pikirkan saat itu hanya dengan melihat wajahmu. dan saat itu aku yakin satu hal.”

Minho menatapku lekat-lekat.

“m..m…mwo?” tanyaku

“kau hanyalah milikku.”

aku tercekat.

“Juliette! yeonghoneul bachilkkeyo” Minho bernyanyi lirih

“Juliette! jebal nal bada jwoyo”

“I’m Romeo geudael jikineun gisado”

“amu maldo an haedo imi modu algo inneun geol”

Minho berhenti..menatap lautan di depannya.

“aku…”

“tidak usah berkata apa-apa..pikirkan saja..aku tahu.” ujarnya

dan saat ini hanya ada satu hal yang ku pikirkan.

aku menyukaimu choi minho… benar-benar menyukaimu…

Minho tersenyum.. ia memelukku.

“araseo juliette.. nan jeongmal arraseo…” bisiknya.

2 thoughts on “Hello Juliette!! 3rd Act

  1. Uhuuuuiii so swit.. tp serem ya kl bnr2 bs baca pikiran org.. Wlpn ad baikny jg sih, tp kbayang kl bs denger pikiran org byk, otak penuh x aah mikir mulu krjany ehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s