The Jumper

Inspirated by “The Jumper” movie

Cast : Yesung a.k.a Kim Jongwoon

Yoon Shina

Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti


“Hyung, kenapa hyung tidak pernah cerita soal yeochin hyung?” tanya Sungmin kepadaku.

Pertanyaan yang sering ditanyakan kepadaku dan selalu kuberikan jawaban yang sama.

“Apa yang harus aku ceritakan? Kau kan selalu tahu apa yang kami lakukan. Iya kan nae yeochin, ryeowookie?”

Wook yang sedang menonton drama menoleh.

“Ne hyung? Hyung memanggilku?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya, beralih menatap Sungmin.

Sungmin hanya menggelengkan kepala sebagai responnya.

Aku memang tidak mempunyai yeoja chingu, bagiku keberadaan Ryeowook dan member Super Junior lainnya, keluargaku juga kura-kura dan anjingku sudah cukup.

Namun tak urung juga pertanyaan itu menyeretku ke peristiwa masa lalu, yang aku yakin jika orang tahu mereka akan menganggapku gila, halusinasi waktu tidur atau apa.

Gadis itu, Yoon Shina, gadis yang bisa aku katakan ajaib.

#JONGWOON FLASHBACK

Aku terbangun. Kebiasaanku ini aku sendiri penasaran apa bisa suatu saat aku sembuh. Bukan penyakit memang, entahlah.

Aku menoleh, melihat Ryeowook yang tertidur di ranjang sebelahku. Tidurnya tenang, seperti biasanya.

Aku menghela napas lega.

Berjingkat aku keluar kamar, menuju dapur. Belum sampai dapur aku mendengar suara di kamar Kyumin.

AKu menggelengkan kepala. Sepertinya maknae harus diingatkan untuk tidur, wajahnya semakin lama semakin tirus.

Aku membuka pintu kamar Kyumin.

Namun tak seorang pun dari mereka yang terbangun.

Aku tidak yakin kalau aku hanya salah dengar, apa mungkin tikus? Mungkin aku harus bilang pada manajer untuk menyewa petugas pembasmi tikus.

Aku baru akan keluar ketika perhatianku teralihkan oleh selimut Kyuhyun. Biasanya selimutnya sudah entah kemana, tapi kenapa sekarrang dia berselimut dengan rapi?

Apa dia baru saja tidur?

Dengkurnya yang keras mematahkan asusmsiku.

Ah sudahlah.

Aku keluar, mengambil air minum lalu kembali ke kamarku.

Aku harus kembali terlelap, bagaimanapun caranya, harus mengisi acara di beberapa TV show, aku tidak ingin mengecewakan ELF dengan perfomanceku yang buruk.

Aku kembali mendengar suara dari kamar Kyumin, ini sudah terjadi beberapa kali, dan ketika aku masuk, aku selalu tidak menemukan siapa-siapa.

Dari bawah pintu, aku melihat sepasang kaki, milik yeoja aku yakin.

Dahiku berkerut, bagaimana bisa seorang yeoja malam-malam datang dan menyusup masuk ke kamar mereka? Padahal mereka selalu mengunci pintu kamar mereka setiap malam agar tidak seorang pun masuk waktu mereka tidur, hanya aku karena aku memegang kunci duplikat.

Aku langsung membuka pintu kamar Kyumin perlahan. Seorang gadis sedang membenarkan selimut Kyuhyunnie.

Gadis itu terkesiap melihatku datang, dan sedetik kemudian dia menghilang.

Ya, benar, meng-hi-lang.

Aku mencubit tanganku, sakit, berarti ini nyata.

Dia…hantu?

Aku sedikit bergidik membayangkan pemikiranku barusan. Tapi tidak, ia bisa menyentuh selimut Kyuhyun, tanda keberadaannya nyata, tapi bagaimana bisa ia datang dan menghilang secara tiba-tuiba?

Aku mengamati tempatnya menghilang, puluhan asumsi memenuhi pikiranku.

Tiba-tiba aku merasakan hembusan angin yang aneh di belakangku, aku berbalik.

Yeoja itu kembali.

Ia kembali terkejut melihatku masih disini dan bermaksud menghilang lagi, asumsiku, ketika aku mencekal tangannya.

“kajima.” bisikku.

Dia sedikit gemetar.

“ikut aku, jangan menghilang, aku berjanji tidak akan melukaimu.” imbuhku pelan lalu memberikan isyarat keluar dari kamar Kyumin.

Gadis itu menurut, mengikutiku ke ruang tengah.

“kau manusia?” tanyaku.

Gadis itu mengernyit heran.

“Oke, maksudku kau manusia normal? Tentu tidak, kau bisa menghilang. Jadi kau ini apa? Alien? Penyihir? Ninja?”

“Aku ini pelompat (The Jumper).” jawab gadis itu diselingi beberapa lama keheningan.

“Pelompat? Maksudmu kau suka melompat-lompat seperti kodok?”

Gadis itu mendengus mendengar pertanyaan konyolku.

“Aku bisa melompati dimensi ruang. Aku bisa pergi kemanapun yang aku mau selama aku tahu gambaran dari tempat itu.”

Aku tercengang, penjelasan yang sangat tidak logis.

“Aku maklum kalau kau tidak percaya.” ujar gadis itu lagi melihatku speechless.

“Bisa kau tunjukkan buktinya?” tanyaku.

Gadis itu tersenyum sinis.

“Aku tidak mau.” jawabnya blak-blakan.

Mengingatkanku pada sang maknae -_-

“Kau suka dengan Kyuhyunnie?” tanyaku langsung.

Wajahnya memerah, ia tak menjawab.

Wow, ternyata dia mempunyai sisi yang imut juga.

Aku menanyainya terus walau terkadang ia tidak mau menjawab. tampangnya terlihat bosan seolah pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan sudah biasa untuknya.

Terdengar suara gemerisik dari kamarku. Tubuh gadis itu menegang.

“Aku harus pergi.” bisiknya.

“chamkkan. Siapa namamu?”

Ia berbalik, menatapku ingin tahu.

“Shina, Yoon Shina.” ujarnya lalu menghilang bersamaan dengan Ryeowook yang keluar dari kamar.

“Pagi hyung..hyung bicara dengan siapa?” tanya Ryeowook sambil mengucek-ucek matanya dan menguap lebar.

“amugeotdo..” jawabku singkat.

“hyung tidak tidur semalaman?”tanyanya lagi.

Aku tersenyum.

“Tidur, tapi aku bangun lebih cepat.”

Ryeowook ber-ooh ria lalu menuju kamar mandi.

AKu memandang tempat gadis itu menghilang.

“Yoon Shina…”

Sejak saat itu aku sering bertemu dengan gadis itu, tidak, tepatnya memergokinya. Dia pun tidak lagi heran atau menghindar jika melihatku, kelihatannya justru dia sengaja muncul dan menghilang di hadapanku untuk pamer.

“Kau tidak pernah tidur ya?” tanyaku suatu ketika.

“Kenapa?”

“Kau selalu datang dini hari, kau tidak tidur?” ulangku.

“Sepulang sekolah aku langsung tidur. Kau sendiri, pagi kau punya segudang jadwal kenapa masih menungguku di malam hari?” tanyanya.

“Siapa yang menunggumu?” tanyaku balik.

Wajahnya merah, terlihat salah tingkah, aku tertawa kecil.

“Sejujurnya ya, aku memang menunggumu, menunggumu untuk membawaku ke sebuah tempat dengan kemampuan jumpingmu.”

Gadis itu mendengus.

“Aku harus pergi, sudah jam empat pagi, sebentar lagi ada yang bangun. Kau juga tidurlah.”

Aku tersenyum.

“Aku tersanjung dengan perhatianmu.”

Shina memutar bola matanya, kemudian ia menghilang.

Aku baru berdiri ketika ada hembusan angin dan dia kembali.

Wajahnya pucat.

“Kau kenapa?” tanyaku.

“Aku tidak bisa kembali ke rumah, jalanku terblokir.”

Dahiku mengernyit.

“Maksudmu?”

“Seharusnya tadi aku tiba di rumah, tapi aku justru tiba di Tokyo! Aku tidak tahu apakah jalanku yang memang terblokir atau kemampuanku yang…”

Shina tidak melanjutkan, tubuhnya gemetar.

“Ayo ku antar pulang.” ujarku kemudian.

Dia menatapku nanar.

Aku masuk ke kamar untuk mengambil jaketku, untuknya, dan kunci mobil.

Di depan rumahnya ia tercengang. Banyak mobil yang terparkir di halaman rumahnya.

“Jalan lagi, ppali!” ujarnya.

Aku menjalankan lagi mobilku.

“Wae geurae?” tanyaku, Shina melihat ke belakang.

“Aku harus pergi, dengar, kau dikejar, aku akan menghilang, 3 menit kemudian baru kau boleh berhenti, jangan bertanya apapun, ikuti saja instruksiku agar kau selamat, pandai-pandailah mengarang cerita.”

Shina menatapku tajam.

“Arrayo..” jawabku.

Dia menghela napas.

“Gomawo.” ujarnya terakhir kali lalu menghilang.

Setelah itu aku dicegat beberapa orang yang menyebut kelompok mereka “pemburu” (the hunter), aku merasa mereka berhubungan dengan kemampuan Shina.

Mereka mengikutiku sampai dorm, menjaga dorm siang-malam.

Aku tidak bertemu Shina lagi, jujur saja aku merindukannya. Dia yang setiap malam menemaniku dengan kalimat-kalimatnya yang pedas atau ekspresi wajahnya yang mudah memerah.

“Shina… neo eodiya?” desahku.

Aku sedang berdiri di atap dorm, melihat hiruk pikuk jalanan di bawahku.

“hei.”

Aku menoleh dan terkejut. Shina ada di hadapanku.

“Shina! Kenapa kau ke sini? Mereka ada banyak sekali di bawah! Mereka bisa menangkapmu! Kau kemana saja selama ini? Bagaimana caramu hidup? Kau baik-baik saja?”

Aku tidak bisa mencegah mulutku.

Shina tersenyum.

“Waktuku tidak banyak, Aku ingin kau ikut denganku.”

Shina mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dan kami menghilang.

Aku tidak tahu bagaimana itu bekerja yang jelas ketika aku membuka mata, aku berada di tempat yang aku impikan, Niagara.

Aku melihat dengan takjub.

“Dengarkan aku.” ujar Shina memecah ketakjubanku.

Aku menoleh menatapnya.

“Aku minta maaf sudah merepotkan kalian, tapi aku juga berterima kasih padamu, karena kau sudah merahasiakan keberadaanku pada member lain dan orang-orang itu.”

“bagaimana kau..”

Shina memberi isyarat padaku untuk diam.

“Aku tahu itu.. Mulai sekarang aku akan berpindah-pindah tempat karena mereka mengejar pelompat. Jika aku tertangkap aku akan dilenyapkan.”

Hening. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.

Shina mendesah.

“Aku ingin menjadi orang biasa, tidak apa walau tidak bertemu kalian setiap malam.. Setidaknya aku tidak akan selalu merasa terancam untuk dimusnahkan.” katanya sambil tertawa getir.

“Orangtuaku saja takut denganku dan meninggalkanku.” imbuhnya.

Entah karena dorongan apa aku memeluknya, bahunya bergetar.

Aku membiarkan Shina menangis di pelukanku.

“Aku senang kau itu pelompat, dulu setiap malam aku selalu berkeliling dan berceloteh sendiri, tapi sejak bertemu denganmu aku tidak lagi merasa sendirian.”

Shina tertawa dalam tangisnya.

“Kim Jongwoon, kau ini member teraneh, aku dulu sangat membencimu, kau tahu? Kelakuanmu yang aneh dan sok cari perhatian itu membuatku sebal.”

Aku mengangkatt bahu.

“Lalu sekarang?” tanyaku.

Shina tidak menjawab, wajahnya memerah dan aku senang karenanya.

“Kau harus kembali.” ujarnya lalu memegang tanganku.

Dan kami kembali berada di atap dorm.

“Aku harus pergi, semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti.”

Aku mengangguk, tidak sanggup mengucapkan kata-kata perpisahan.

“eh hei.. aku masih membawa jaketmu!”

Aku tersenyum.

“anggap itu hadiah dariku.” ujarku.

Shina tersenyum.

Dan aku terkejut dengan yang dia lakukan selanjutnya, Shina mencium pipiku.

“oppa, gomawo…” ujarnya terakhir kali sembari tersenyum.

Aku terhenyak, itu pertama kali dan mungkin terakhir kalinya dia mencium pipi dan memanggilku oppa

“Ya… semoga kita bertemu lagi.

#AUTHOR’S POV

“Hyung.. hyung… ireona….”

Sebuah suara terdengar sayup-sayup.

Yesung membuka mata.

“Kau kenapa menangis hyung?” tanya Sungmin.

Ternyata Yesung tertidur, tangannya bergerak ke arah mata dan wajahnya terkejut mendapati airmata di sana.

“Gwaenchana” jawab Yesung singkat.

“Ha! Hyung, kau tidak mau melihat wajahmu waktu menangis tadi? Aku sudah memotretnya. Aku penasaran bagaimana respon ELF dengan ini.” ujar Kyuhyun sambil menimang-nimang Iphone di tangannya dan tersenyum evil.
“Terserah kau sajalah, Kyu..” jawab yesung lalu bergerak ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Yesung bisa mendengar Sungmin meminta Kyuhyun untuk tidak mempublikasikannya. Dan aku heran Kyuhyun selalu menurutinya.

“Shina… Yoon Shina…” ucap Yesung lirih, ia tidak tahu kenapa ia mengucapkan nama itu.

Yesung berbalik, ia merasakan ada hembusan angin di belakangnya yang sudah lama tidak ia rasakan.

Tapi ia tidak menemukan apa-apa.

Yesung tertawa kecil.

“Aku terlalu merindukannya sampai-sampai berhalusinasi.” uajrnya lirih tanpa tahu ada sepasang mata yang menatapnya di tempat tersembunyi.

8 thoughts on “The Jumper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s