How Precious You Are..!!


This FF dibuat oleh saeng, member shinee yadong rangers sekaligus bawahanku

Nina a.k.a sekseh a.k.a alay a.k.a minho *whatever u call her*😄

thanks for ur precious story :’]

comment for readers are very needed

and dont plagiat this FF ^^

Casts:

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Ahra


***

Kuhempaskan tubuhku kasar ke sofa yang tersedia di ruang tunggu member SHINee. Sedikit iri, kenapa mereka yang notabene-nya masih hoobae malah mendapatkan pelayanan lebih daripada kami.

“Oh hyung, kau disini ?” Kubuka mataku pelan. Meski sempat terpejam beberapa saat, sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat untuk tidur meskipun yang kutahu, otakku tidak dengan mudah merespon penalaran itu.

“Nde Jonghyun-nie. Mana yang lain ?”

Kulihat dia mengendikkan bahunya segan. Perubahan raut wajahnya terlihat kentara sekali. Entah karena apa, aku sendiri tidak yakin. Mengurusi masalah pribadi orang lain, sama sekali bukan tipeku. Kurasakan dia telah berpindah posisi. Terduduk tepat disampingku. Merilekskan tubuhnya, dan memejam matanya. Seperti yang kulakukan barusan. Benar-benar pengcopy-an kejadian tadi yang sempurna.

“Jonghyun-nie, aku kembali dulu. Aku harus menemui member yang lain.” Pamitku undur diri. Terlalu lama disini dalam keheningan sama sekali tidak menarik. Meskipun sebenarnya tujuan awalku kesini untuk beristirahat sejenak. Aku bangkit dari tempatku. Berjalan segan bersikap seolah tanpa beban di hadapan dongsaengku ini. Setidaknya.

Hyung, ceritakan padaku.” Aku terhenyak. Suaranya yang besar membuat kalimat barusan terdengar seperti memerintah tak sopan. Tapi aku mengenal Jonghyun. Ia tidak bermaksud seperti itu.

“Apa maksudmu Jonghyun-nie ? Cerita apa ? Jangan yadong. Kau itu minor. Hahaha.” Aku melihatnya sudah membusungkan tubuhnya. Bukan dalam posisi bersantai seperti tadi.

“Ya ! Aku tidak berminat dengan hal seperti itu hyung. Jangan samakan aku dengan dia.”

Deg.

Sialan sekali kau Jonghyun. Mau cari mati denganku. Seenaknya saja mengungkit hal yang bahkan menjadi tujuanku kesini. Melupakan dia.

“Jonghyun-nie, mungkin saat ini Teuki hyung sedang mencariku. Aku tidak sempat berpamitan tadi. Aku pergi dulu.” Kutinggalkan Jonghyun sendiri di tempat itu. Aku tahu Jonghyun bukan namja bodoh. Dia pasti sadar dengan perubahan sikapku. Tapi, aku tidak peduli. Sama sekali.

***

Aku sudah di ruang tunggu Super Junior. Seluruh member sudah berkumpul disini. Bahkan dia. Yang bahkan aku tidak sudi untuk menyebutnya sebagai kekasihku itu. Argh~ hal ini benar-benar menyiksa pikiranku.

“Kyuhyun-ah, kami mencarimu. Kau darimana saja ?” Kutarik paksa kedua ujung bibirku. Membentuk selengkung senyuman, setidaknya di hadapan mereka.

“Maaf Siwon hyung. Aku hanya pergi ke ruang tunggu SHINee. Setidaknya aku bisa bersenang-senang sebentar.” Kuubah nada suaraku. Meninggi tepat di kata terakhir.

“Ya ! Kita harus melakukan fighting. Tak sampai tujuh menit lagi, giliran kita yang tampil. Arra ?” Suara Teuki hyung membuyarkan semuanya. Tapi setidaknya di pikiranku, dialah penyelamatku dari kesungkanan tadi. Kulihat keseluruhan member berjalan ke arah tangan Teuki hyung terentang. Mulai menyatukan tangan mereka satu persatu. Menumpuknya tinggi.

“Ya ! Kyuhyun-ah. Tidak bisakah kau lebih cepat kesini. Rutinitas ini benar-benar membosankan kau tahu. Ppalliwa !” teriak Donghae hyung sedikit tak sabaran. Aku memaksakan diri tersenyum melihat tingkahnya.

“Arra arra.” Aku memasukkan tangan kiriku ke dalam kantong bajuku. Suatu kebiasaan yang kulakukan disaat aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Kemudian berjalan ke arah kerumunan orang ini. Hahaha. Benar-benar hal kurang ajar saat aku menyebut saudaraku sendiri dengan istilah orang ini.

Tepat saat aku meletakkan tanganku diatas tangan salah satu coordi noona, kurasakan ada sesuatu baru menekannya. Kukira, hanya tinggal aku yang belum melakukan rutinitas sebelum tampil ini. Kupicingkan mataku ke si pemilik tangan. Bukan bermaksud mendoktrin, hanya mencari tahu siapakah orang itu.

“Hana… Dul… ” Kudengar suara Yesung hyung yang memimpin acara kecil kami ini. Namun terhenti tepat saat aku menarik tanganku keluar dari tumpukan itu. Di dalam kantong, tangan kiriku bahkan sudah mengepal berusaha menahan emosi. Benda tadi, yang menyentuh tanganku, ternyata dia.

Kutarik napas dalam. Lalu menghembuskannya kasar, hingga terdengar seperti dengusan. “Super Junior fighting !! Kkaja !!” Kukepalkan tanganku ke atas. Lalu segera berlari cepat keluar dari tempat ini. Airmataku terlalu berharga di tunjukkan di hadapannya.

***

“Kyuhyun-ah, nae eoddiga?” Aku tersenyum kecut mendengar suara Sungmin hyung ini. Berusaha digertakkan, namun malah terdengar dialek lucu.

“Ada apa hyung?” Aku berlari-lari kecil di tempatku sekarang berdiri. Di tengah filming dan cuaca dingin yang tidak begitu bersahabat. “Aku sedang mencari uang hyung. Kau tahukan, Super Junior saat ini sepi job bernyanyi di Korea?” Kulontarkan kalimat candaanku tadi. Meski tak sebagus lelucon Eunhyuk hyung atau Leeteuk hyung, namun setidaknya aku sudah berusaha.

“Ya ! Kau masih memikirkan filming ? Sedari tadi Ahra menghubungimu kenapa tak kau angkat ?”

Tubuhku meremang. Kenapa harus ada yang menyebut namanya. Bahkan dengan istilah kata ganti saja, itu sudah membuatku muak. “Waeyo ?”

“Kau masih bertanya ? Jawab dulu pertanyaanku tadi.”

Hyung, maaf. Tapi aku sudah dipanggil PD-nim. Syuting dimulai sebentar lagi. Nanti kuhubungi lagi. Byeeee~” Suaraku terdengar sedikit manja. Namun kulakukan itu untuk sekedar meredam emosiku. Terdengar sedikit kekanakan memang. Memutuskan sambungan telepon ketika topik yang tak kau sukai diangkat. Bahkan dengan alasan bodoh yang sedikit klise.

“Ayo kita mulai filming-nya. Fighting Cho Kyuhyun!!!” Teriakan riuh langsung terdengar dari para crew. Mungkin sedikit heran kenapa aku bisa sesemangat ini.

***

Aku berjalan tergesa-gesa. Memaksakan langkah-langkah besar demi mempercepat diriku sampai di tempat tujuan. Alasan kekanakan, namun sepertinya memang hanya hal itu yang bisa memberi alternatif terbaik pada diriku saat ini.

Flashback

“Kyuhyun-sshi, kau masih disini? Belum pulang?”

Aku meletakkan naskah drama yang sedari tadi kubolak-balik tak mengerti. Aku memang tak berniat membacanya. Hanya berusaha menyibukkan diriku sendiri dengan sesuatu hal. “Belum sunbaenim. Sunbae sendiri ?” kujawab sopan pertanyaan seniorku ini. Ah, sepertinya aku bisa berbasa-basi sebentar.

“Kukira tadi selesai filming kau mau langsung pulang.” Aku mengernyitkan dahiku bingung. Kenapa aku harus langsung pulang. Kuurungkan niatku untuk bertanya. Kalaupun memang hal yang penting, pasti sunbae akan bercerita alasannya mengemukakan hal tadi.

“Berarti dia  sudah lebih baik ya?”

Dan jujur, kebingunganku semakin menjadi. Apa lagi ini ? Siapa yang sunbae-ku maksud dengan dia. “Maksud sunbaenim siapa? Maaf, tapi saya belum mengerti kemana arah pembicaraan ini.” Aku memasang senyuman setulus mungkin. Dengan tatapan mata merasa bersalah.

“Kyuhyun-sshi, kau bercanda kan?” Dia menatapku tak percaya. Dan sayangnya aku harus mengecewakan sunbae idolaku ini dengan menggelengkan kepalanya. Aku benar-benar tak mengerti maksudnya.

“Kudengar salah satu van Super Junior mengalami kecelakaan. Tapi katanya tidak ada member yang mengendarainya. Hanya beberapa staffmu. Aku juga tidak yakin.” Tubuhku mematung mendengar penjelasan tadi. Siapa maksudnya? Dan kenapa tak ada seorangpun yang menghubungiku?

Aku berpamitan cepat ke arah sunbaeku itu. Lalu segera menyambar mantel tebalku. Berlari ke arah mobilku berada. Sial. Hari ini aku datang ke tempat ini seorang diri. Tanpa staff ataupun manajer hyung.

Kutekan panggilan cepat yang ada di ponselku. Dan nyatanya, ponselku masih dalam keadaan mati setelah panggilan terakhir siang tadi. Jangan-jangan, saat itu Sungmin hyung dan Ahra mencoba menghubungiku karena hal itu? Tunggu, Ahra-kan salah satu staff Super Junior? Aish, tidak. Tidak mungkin dia yang jadi korban.

Aku sudah di dalam mobil. Meskipun aku sadar saat ini bukan saat yang baik bagiku untuk menyetir sendiri, tapi nyatanya aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Hari ini syuting sangat tertutup. Jadi aku tidak bisa bertanya pada ELF, seperti yang dulu pernah dilakukan Leeteuk hyung.

Berkali-kali kuhubungi para member. Namun sepertinya badai salju cukup menghancurkan jaringan hari ini. Semuanya tidak bisa tersambung. Kutekan speed dial nomor satu. Menghubungi dia saat ini, mungkin bisa menjadi satu-satunya alternatif.

Benar saja. Dengan segera kudengar nada sambung tanda aku bisa menghubunginya. Aku melambatkan laju mobilku. Berusaha agak ke tepi agar aku bisa mendengar jelas saat ia mengangkat panggilanku tadi. Panggilan pertama tak ada jawaban. Sedikit membuat emosiku semakin memuncak.

“Lee Ahra! Kalau kau tak mengangkat teleponku saat ini juga, aku tak segan untuk tidak memaafkanmu selama-lamanya.”

“Yoboseyo. Kyuhyun-ah. Mobilku mendadak berhenti karna injakan cepat kakiku. Tubuhku sedikit melemas. Aku menghubungi ponselnya, kenapa malah Eunhyuk hyung yang mengangkat? Jangan bilang…

“Kyuhyun-ah… Kau dimana? Kami semua sudah di rumah sakit. Bahkan Ryeowook-kie langsung datang dari Incheon. Kau kemana saja Kyuhyun-nie? Kami membutuhkanmu disini.” Suaranya terdengar lelah. Aku tahu. Dan saat ini aku juga merasakannya.

“Dimana dia, hyung? Kenapa kau yang menjawab panggilanku, Lee Hyukjae? Mana dia? SURUH ADIKMU ITU YANG BERBICARA PADAKU SEKARANG!”

“Kyuhyun-ah, kau kesini saja dulu. Kami akan menceritakannya nanti.”

Tanganku mengepal. Kesimpulan bodoh kutarik begitu saja. Entahlah,aku berharap kesimpulan ini salah dan hanya dugaan bodohku. “Berikan ponsel ini padanya Tuan Lee. Atau aku tidak segan untuk memukulmu saat kita bertemu nanti.”

Suara helaan napas Eunhyuk hyung terdengar cukup jelas. Bulu kudukku mulai berdiri. Sepertinya yang kutakutkan terjadi.

“Kalau saja Kyuhyun-ah. Aku lebih memilih kau memukulku selamanya daripada melihatnya seperti ini.” Genggaman ponselku melemas. Pandanganku sedikit agak kabur. Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Yang jelas, saat ini aku menyesal.

Flashback end.

Kulihat beberapa orang menunggu penuh harap di salah satu sudut lobi rumah sakit. Meski tidak terlihat jelas, aku mengenal siluet-siluet tubuh itu. Mereka, saudaraku.

“Siapa yang di dalam? Apa yang terjadi? Katakan padaku ini hanya bercanda! KATAKAN!” Aku mencengkram kerah baju Siwon hyung. Seseorang yang paling dekat, dan yang pertama menyadari kedatanganku.

Pertahananku runtuh. Pemikiran bodohku dulu yang mengatakan airmataku terlalu berharga ditunjukkan dihadapannya sirna sudah. Kalau memang dengan aku menangis bisa membuatnya tersadar, aku bahkan rela mengorban diri menangis seumur hidupku. Jika itu mampu membuatnya kembali di sampingku. Lee Ahra kumohon padamu.

Kurasakan seseorang memapah tubuhku. Mendudukkanku tepat di kursi yang tersedia di ruang tunggu itu. Seorang lain dengan segera menyodorkan segelas air putih ke hadapanku. Aku sendiri terlalu sibuk dengan penyesalanku, tanpa sempat menghiraukan hal-hal kecil tadi.

“Kenapa?” Suaraku terdengar begitu serak. Aku sendiri menenggelamkan wajahku diantara kedua tanganku. Seolah dengan menyembunyikannya, bisa membuat kekesalanku menghilang.

“Kyuhyun-ah, bersabarlah. Doakan saja yang terbaik untuk dia.” Tubuhku menegang. Sedikit emosi karna bukan hal itu yang ingin kudengar saat ini. Tidak cukupkah aku bersabar ? Aku ingin kepastian tentang keadaannya. Bukan hanya harapan yang tak kutahu ujungnya itu.

Kurasakan sebuah tangan meremas bahuku cukup keras. Hal kecil yang mampu membuat tangisanku sedikit menyusut. “T-tapi.. d-dia ?”

“Tenanglah Kyu.”

Aku sudah bangkit dari posisiku. Membuat sebagian member yang semula mengelilingiku menciut. Takut aku meluapkan emosiku berlebihan. Tatapan mataku terhenti saat menangkap beberapa pasang mata tepat di depan tempatku semula. Sorot mata lelah dan khawatir nampak jelas terlihat. Belum lagi gesture yang menandakan betapa cemasnya mereka saat ini.

“Teuki hyung, Sungmin hyung.” Kupanggil nama mereka lirih. Pandangan itu benar-benar kosong. Aku tahu saat mereka sedikit terkejut mendengar suaraku tadi.

“Kyuhyun-ah, gwenchana. Dia pasti bisa melewati ini semua.” Sekali lagi pertahananku roboh. Tepat di hadapan sosok kakak, leader, dan ayah bagiku ini. “Hyung, apa yang terjadi? Sebenarnya dia kenapa?”

***

Kulihat eommonim dan abeonim berjalan keluar dari ruangan dokter. Wajah eommonim nampak sedikit menyedihkan. Tubuhnya yang melemah itu harus ditambah dengan kenyataan seperti ini. Sora noona berjalan menghampiri mereka. Membantu abeonim memapah beliau. Eunhyuk hyung lebih menyedihkan. Berusaha tegar, namun aku tahu saat ini dia sangat terguncang.

Abeonim, bagaimana?” hati-hati Siwon bertanya. Saat ini sepertinya hanya dia yang bisa kami andalkan. Dia yang paling tegar diantara kami.

“Dokter belum berani memutuskan apapun. Tunggu sampai dia sadar dulu.”

Sekali lagi ini yang kubenci. Disaat seperti ini, mereka malah menyuruh kita menunggu. Tak tahukah dokter bodoh itu, saat ini gadisku sedang bertarung antara hidup matinya didalam dan dia malah menyuruh kami MENUNGGU.

Abeoniem, apa kami bisa menemuinya?” pertanyaan Leeteuk hyung benar-benar sesuai dengan apa yang ingin kutanyakan. Kami menunggu beliau menjawab. Namun justru isakan yang keluar dari mulut eommonim. Yang aku sendiri tak mengerti kenapa.

“Sayangnya belum. Kondisinya sangat lemah.”

Aku tertunduk untuk beberapa saat. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menangis. Bodoh memang, tak ada hal lain yang lebih bermanfaatkah?

“Kyuhyun-ah. Apa filming-mu sudah selesai?”

Aku menatap iba orang yang bertanya padaku itu. Aku tahu, ia tak bermaksud untuk melupakan kejadian ini. Hanya berusaha membuatku sedikit terlepas dari perasaan khawatir. Menghiburku mungkin.

“Sudah. Siwon-nie hyung, apa kau bisa menceritakan padaku apa yang terjadi?”

Siwon menarik tubuhku lembut. Membawaku duduk di kursi panjang lobi ini. Aku menurut. Bukan semata-mata karena kesabaran. Lebih ke arah keingintahuan. Hening beberapa saat. Siwon hyung sedang mengatur posisi duduknya. Menyerongkan sedikit, agar bisa melihat jelas ke arahku.

“Tadi pagi, ada surat kaleng di kirim ke dorm.” Aku mengernyitkan dahiku bingung. Bagaimana surat kaleng bisa menyusup ke sana? Bukankah manajer hyung memberikan penjagaan ekstra tentang hal itu?

“Siwon-nie hyung, apa maksudmu? Jangan berbelit-belit kumohon.” Aku mencoba menahan amarahku. Kutahan diriku agar tidak berteriak menghardiknya. Sepertinya, para member memang merahasiakan hal ini dari orang tua Ahra.

“Surat itu masuk ke tumpukan surat di lantai sebelas. Karena penasaran, Ahra membukanya. Dan disitu tertulis, bahwa si pengirim ingin mencelakaimu di lokasi filming.” Siwon menarik napas dalam. Menahan pembicaraannya untuk beberapa saat.

“La-lalu?”

“Karena panik, Ahra pergi menyusulmu. Dia mencoba menghubungimu dan tidak tersambung. Dan bodohnya, dia tidak mengenakan sabuk pengamannya saat itu. Kecelakaan tunggal padahal. Tapi kondisinya, justru separah itu.”

“Jadi, ini karena dia mau memberi tahuku soal surat kaleng sialan itu?” Siwon menganggukkan kepala pasrah. Kentara sekali dia juga cukup lelah dengan ini semua.

“Apa aku bisa melihat suratnya?”

“Sayangnya, kami tidak memilikinya. Hanya Sungmin hyung yang sempat melihatnya sepintas. Surat itu dibawa Ahra dan kami belum menemukannya.”

“Apa kalian yakin, kecelakaan Ahra itu kecelakaan tunggal?”

Siwon menggelengkan kepalanya lemah. Kentara sekali dia menyesali ketidak tahuan tentang hal ini. Aku sadar. Saat ini semua mengkhawatirkannya. Bahkan terlalu mencemaskannya. Aku bangkit dari dudukku. Kurasa Siwon tidak begitu menyadarinya. Dia masih menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah.

Aku berjalan hampa ke arah ruangannya. Menatap sosok yang terbaring tak berdaya hanya dari jendela pembatas ini. Berbagai alat-alat yang aku sendiri tak begitu tahu namanya, tertanam di tubuhnya. Ragu apakah alat itu akan menolongnya atau malah menyakitinya.

“Bertahanlah Ahra-ya. Kau masih berhutang janji padaku. Kau ingat?”

Flashback

“Ahra-ya. Dimana PSP-ku?”

Dia menggelengkan kepalanya pasrah. Mengerucutkan bibirnya. Lucu memang. Dan terkadang membuatku ingin menggodanya.

“Lee Ahra, kau kupekerjakan sebagai asistenku agar kau mengurusi kebutuhanku. Bisa-bisa aku memecatmu kalau kerjamu tak becus. Menyesal aku menerima rekomendasi tentangmu dari Eunhyuk hyung. Dasar monyet nepotisme.”

“Cho Kyuhyun sialan. Jangan salahkan oppa-ku. Dia terlalu baik kau kotori dengan ucapan terkutukmu itu.” Dia membanting beberapa kostum panggungku. Melemparnya ke sembarang tempat begitu saja. Aku heran, akhir-akhir ini dia sering emosi tanpa alasan. Padahal maksudku hanya mengajaknya bercanda.

“Lee Ahra, sebenarnya ada masalah apa? Kau marah padaku?”

Anni. Memangnya untuk apa aku marah padamu?” Aku tersenyum meremehkan. Apa kau tak tahu, Lee Ahra, di wajahmu itu jelas sekali kau sedang marah padaku.

“Entahlah. Mungkin kau cemburu mendengar gosipku akhir-akhir ini.”

Pletak.

“Cho Kyuhyun sialan. Kau sudah gila ya? Untuk apa aku cemburu pada berita murahan tentang kau dan Song Qian-mu itu.” Aku tersenyum puas. Kau lihatkan, jelas sekali kau cemburu saat ini Lee Ahra.

“Song Qian? Bahkan aku tidak menyebut namanya tadi. Hahaha. Sudahlah mengaku saja kau cemburu padaku.” Dia mengepalkan tangannya. Kentara sekali dia cukup tersinggung. Aku masih ingin menggodanya. Tapi sepertinya saat ini dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

“Sebenarnya, aku menyukai saat kau cemburu padaku seperti ini Lee Ahra. Kau tahu, karna aku juga cemburu saat melihatmu terlalu dekat dengan pria lain. Bahkan Eunhyuk hyung.”

Wajahnya memerah. Tak lagi seemosi tadi. Mungkin sudah lebih baik. “Babo. Eunhyuk oppa itukan oppa-ku.”

Aku berjalan mendekatinya. Mengacak rambutnya lembut. Lalu menunduk sedikit. Mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Cantik. Kesan itulah yang kudapat.

“Tetaplah seperti itu. Cemburu padaku. Berjanjilah Lee Ahra. Atau aku tidak segan membunuh dirimu.”

“CHO KYUHYUN SIALAN!!!”

Flashback end.

“Kyu…” Aku menghapus cepat butiran kristal yang mulai kurasakan di pipiku. Aish, untuk apa aku menangis.

“Apa kau baik-baik saja?” Kupaksakan diri sedikit tersenyum. Lalu menganggukkan kepala lemah. Begitu tak bersemangat.

“Ini.” Aku menerima uluran dari tangannya. Sebuah kertas yang terlipat begitu rapi. Apa ini?

“Surat.” Aku mengernyitkan dahi. Apa ini surat kaleng itu?

“Bukan. Ini bukan surat kaleng itu. Ini, surat permintaan maaf darinya untukmu.” Jelas Eunhyuk hyung singkat. Sepertinya dia bisa menebak pikiranku saat ini.

“Dia, hanya bermaksud menolong laki-laki itu. Mereka tidak ada hubungan apa-apa.” Aku menghembuskan napas berat. Sebelum kemudian Eunhyuk melanjutkan ceritanya. “Bahkan laki-laki yang dipeluknya saat itu, dia masih saudara jauh kami.”

Aku menatapnya tak percaya. Tapi kenapa ia tak menjelaskan kesalah pahaman itu sejak dulu. Kenapa ia membiarkan masalah kami berlarut-larut seperti ini?

“Maaf. Dia melarangku Kyu. Dia bilang, dia yang akan menjelaskannya sendiri. Lagipula kalau aku menjelaskannya padamu, apa kau yakin akan mendengarkannya? Kau lupa, kau sering menyindirku monyet nepotisme. Kau pasti akan menuduhku membelanya.” Ia tersenyum. Aku yakin ia terpaksa melakukannya saat ini. Ini bukan senyumannya. Ini bukan senyuman kesukaanku dari seorang Lee Hyukjae.

“Tapi saat kau membiarkannya, kau membuat adikmu seperti ini hyung.”

***

“Kyuhyun-sshi. Kyuhyun-sshi. Ireonna. Bangunlah Kyuhyun-sshi.”

Aku mengerjabkan mataku. Menggeliatkan tubuhku sambil berusaha mengumpulkan kesadaranku. Mataku menangkap baju yang melekat pada tubuhku. Baju yang sama. Apa itu artinya, ini memang kejadian sebenarnya?

“Kyuhyun-sshi, hari ini aku yang akan membantu perkerjaanmu. Dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan.” Kukernyitkan dahiku tak mengerti. Masih belum sepenuhnya sadar dengan ucapan gadis di hadapanku, Jin Hyoseong.

“Apa dia masih belum sadar?” ucapku lirih, nyaris tanpa suara.

Nde?”

Anniyo, noona. Ah, aku mau ke rumah sakit setelah ini.” Aku bangkit dari tempatku. Berjalan malas keluar kamarku.

“Memang siapa yang sakit Kyuhyun-sshi? Tapi kau bisa tetap ke rumah sakit kok. Jadwalmu kosong sampai jam delapan malam ini.”

“Lee Ahra. Bukankah kau menggantikannya karena dia masih terbaring di rumah sakit?” Apa-apaan coordi noona yang satu ini? Kenapa dia kurang koordinasi seperti ini? Jangan bilang ia tidak tahu tentang ini.

“Dia sakit apa? Dia bahkan ada di luar sedang sarapan dengan Eunhyuk-sshi.” Aku menatapnya tak percaya. Mencoba mencari tahu dari sorot matanya. Ucapannya barusan, apa benar?

Aku berlari cepat menerobos keluar. Menuju ke dapur. Satu-satunya tempat yang mungkin berpeluang besar –menurut penjabaran coordi noona tadi- dimana ia berada.

“Ahra-ya.” Aku menarik tubuhnya. Mendekapnya erat, seolah tak mau lagi melepaskannya.

“Cho Kyuhyun, kau tidak apa-apakan? Kau, sudah mau berbicara denganku?”

Kulirik sekitar kami. Eunhyuk hyung, Sungmin hyung, dan Ryeowook-ie menarik diri. Beranjak dari tempat itu, memberi kami sedikit privasi.

“Kupikir, aku akan kehilanganmu.” Bisikku lembut, tepat di telinganya.

“Kalau begitu, jangan dipikirkan.” Perlahan aku melepaskan pelukan itu. Menikmati setiap lekuk wajahnya yang menurutku sempurna itu. Dengan melihatmu seperti ini saja, aku bahagia Ahra-ya.

“Kau tahu Cho Kyuhyun, aku tak akan menyia-siakan kau begitu saja. Jadi terserah kalau kau marah padaku, aku tetap tidak akan melepaskanmu. Lagipula, bukankah cemburu itu salah satu perjanjian kita?” Aku terkekeh pelan. Lalu menariknya kembali ke dalam pelukan. Momen seperti ini, terlalu berharga untuk disia-siakan.

“Terima kasih telah menjaga janjimu, nona Lee.”

“Dan terima kasih telah memaafkanku, tuan Cho.”

“Siapa yang bilang aku memaafkanmu?” Dia mendorong tubuhku cepat. Heran, darimana dia belajar reflex sebaik itu.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau tadi langsung memelukku di depan para member?” aku tersenyum sesaat. Mengingat mimpi bodohku tadi. Meski lebih bersyukur, itu hanya sekedar mimpi.

“Apapun yang terjadi, jangan berhenti memperhatikanku, cemburu padaku, melihatku. Dan satu lagi, berhenti membuatku khawatir. Kau tahu, seberapa berharganya dirimu bagiku.”

Dia memelukku. Pelukan hangat, yang mungkin sedikit berbeda dari pelukan kami yang biasa.

“Aku akan mengingat itu tuan Cho.” Lagi-lagi aku dibuat tersenyum bangga olehnya. Lee Ahra, segala tentangmu kenapa bisa membuatku seperti ini?

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi?”

“Eh itu, karena aku bermimpi kau sekarat.”

“CHO KYUHYUN SIALAN!!!”

***

11 thoughts on “How Precious You Are..!!

  1. tunggu sebentar,, jadi sebenarnya yang awal cerita tadi itu mimpi,,, tp mamang kyu lagi marah sama ahra,,, daebak,, nice ff author…

  2. WOW
    WOW
    WOW

    DAEBAK_

    ff`x bgs bgt, sdikit mikir_

    SAAALLUT deh. . .

    Paaast bkl lbh serrrrrru lg klo ahraa`x dganti sm aku_
    #muppeeeng abiiiss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s