[FF] That Place, I give it up ! (Sequel The Promise)


Author : ninanino a.k.a. ninasomnia

Genre : romantic, sad ending

Cast :

  • Park Soonhee
  • Lee Sungmin a.k.a. Sungmin Super Junior
  • other Super Junior’s members

Backsong : 8eight – Farewell is Coming (I use the translation here to make my story feel ‘alive’) =))

***

READ-COMMENT-NO COPY-ING🙂


I love you

Don’t leave me

Without you, I am nothing

Please don’t do this to me

How can you just leave me like this

***

Ia bekerja keras malam ini. Raut wajahnya berbeda dari biasanya. Sedikit lebih serius. Senyuman itu, sesuatu yang hampir membuatku lupa akan kenyataan yang terjadi pada diriku, tetap ia sunggingkan tulus sekali. Benar-benar sempurna. Atau aku bisa menyebutnya alasanku hidup.

Ia sudah berdiri dari tempatnya. Ikut bertepuk tangan riuh dengan beberapa orang lainnya. Sengaja aku mengikutinya. Berdiri tepat disampingnya.

Flashback

“Soonhee-ya. Kenapa kau selalu mengikutiku?”

Waeyo oppa? Kau tidak suka?” Aku mengerucutkan bibirku. Membuat kedua pipiku semakin menggembung. Aku yakin wajahku terlihat sangat aneh saat ini.

Anni.” Ia menggelengkan kepalanya pelan. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga mampu mendorong tubuhku tersorong ke samping. “Ya! Kenapa oppa mendorongku? Oppa sengaja?”

Ia tertawa ringan. Lalu membalikkan tubuhnya tepat di hadapanku. “Inilah maksudku Park Soonhee. Kenapa kau selalu berdiri di sampingku? Bukan di depan atau di belakangku.”

Aku menarik napas ringan. Pertanyaan bodoh.

“Karena aku ingin melihat diri oppa yang seutuhnya.”

Nde?” Ia mengernyitkan kepala bingung. Memaksaku mau tak mau menjelaskan pernyataan tadi.

“Saat aku berdiri di sampingmu, itulah saat-saat paling bahagia dalam hidupku. Aku bisa melihat oppa tersenyum, tertawa, menangis, eh meski aku tak tahu apa aku pernah melihat oppa menangis. Dengan berdiri di sampingmu, itu membuatku percaya bahwa oppa nyata.”

“Hahaha. Kau itu ada-ada saja Park Soonhee.”

Oppa~ aku serius. Saat aku berdiri di sampingmu, aku merasa menemukan kembali oksigenku. Seluruh rasa sedih atau apapun seakan hilang saat posisi disampingmu itu aku yang mengisi.”

Dia meraih tubuhku. Menariknya ke dalam dadanya. “Oppa, apapun yang terjadi aku akan mempertahankan diriku tepat di samping oppa. Maaf, kalau itu mengganggu. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan posisi itu begitu saja. Tidak akan pernah.”

Flashback end.

Semua orang mendekatinya. Menghiraukan keberadaanku di sampingnya. Meski aku sendiri tak yakin, apa mereka tahu keberadaanku itu.

Zhùhè. Super Junior M is the BEST.” Teriakan itu terdengar semakin riuh. Membuatku (mau tak mau) ikut menepukkan tangan hampa. Memaksa ikut larut ke dalam kebahagiaan ini walau tak sepenuhnya tahu apa yang dimaksud dengan bahagia itu.

“Sungmin hyung, setelah acara ini kita makan di luar bersama member ya? Merayakan kesuksesan kita.” Kulihat ia sekilas. Matanya mengatakan ia tidak bisa. Tapi senyuman itu menolaknya melakukan hal itu. Menyakiti hati saudaranya, yang saat ini tengah berbahagia.

Mian Siwon-nie. Aku sebenarnya ingin, tapi sepertinya aku akan langsung ke hotel. Aku… merasa tidak enak badan.”

Hyung, kau sakit?” Aku mengerjabkan mata tak percaya. Pertanyaan Cho Kyuhyun tadi membuatku khawatir. Dia sakit. Dan bahkan aku tidak menyadarinya.

Anni. Hanya ingin beristirahat.” Sanggahannya tak lantas membuatku tenang. Kulangkahkan kakiku semakin mendekat mereka. Memutuskan mengambil resiko kehilangan dia dalam jarak pandang terbaikku dan menerobos sekumpulan laki-laki yang disebutnya saudaranya itu.

Gwenchana. Aku baik-baik saja.” Ia menepuk bahu beberapa member. Aku tidak yakin siapa, karna aku tak bisa melihat hal itu dengan jelas. Ya, lebih baik aku langsung mengikutinya ke hotel daripada mencari tahu siapa saja yang terkena tepukan lembut tangan Sungmin oppa tadi.

***

Brak.

Gebrakan gelas itu memang tak begitu keras. Namun cukup mengagetkanku sesaat. Meski aku sendiri sebenarnya tak mempunyai alibi kuat kenapa aku terkejut. Bahkan jantungpun aku tak punya.

Sungmin oppa kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya. Sudah gelas kedelapan. Aku memang tak seahli dia dalam menilai sebuah wine, namun aku berani bersumpah ia pasti sudah sedikit mabuk saat ini.

Kucoba meraih gelas. Mencegah agar ia tak meminumnya. Bodoh. Hanya ada udara hampa yang teraih. Aku memang tidak bisa menyentuh sesuatu.

“Kumohon hentikan.” Ia melanjutkan lagi. Kini masuk ke gelas ke sembilan. Gelas yang semula kosong, kembali memerah karna wine itu.

“Kumohon, Sungminnie oppa.” Kali ini aku sudah tidak tahan. Emosiku sudah cukup memuncak. Meski aku sendiri tak yakin apakah aku masih memiliki emosi dalam kehidupan baruku ini.

Gelas itu berhenti berayun. Perlahan ia meletakkan kembali gelas itu.

“Kau tidak berusaha menahanku?”

Aku membelalakan mata tak percaya. Sudah lebih dari lima tahun aku di sampingnya. Selalu tanpa pernah sekalipun meninggalkan posisi itu. Dan ini pertama kalinya ia bergumam sendiri. Aku tidak terlalu mengerti apa maksud perkataannya tadi.

Oppa, apa maksudmu? Siapa yang tidak mau menahanmu?” Kalau saja saat ini aku diberi kekuatan lebih, mungkin aku bisa menanyakan hal itu langsung padanya. Tanpa perlu ikut bergumam sendiri seperti ini.

“Kau.. tidak suka kebiasaanku minum kan? Kau.. benci kalau aku mabukkan? Kenapa tidak menahanku, Park Soonhee? Wae?”

Tangannya yang sudah mengepal keras ia gebrakkan beberapa kali ke meja bar. Sudut-sudut jarinya mulai mengeluarkan bau anyir yang cukup menyeruak hebat. Aku memang tak terlalu terganggu. Organ-organ tubuhku sudah mati lagipula. Tapi tidak dengan hatiku. Cukup sakit melihatnya seperti ini.

“Kumohon hentikan. Aku sudah memohonmu. Jadi sekarang hentikan.”

***

I knew it the minute you opened the door and came in

Because I know within a second by just looking at your expression

Your tensed voice, as if you have something to say

I know what you were going to say to me

I didn’t want to hear it, I wanted to push the moment away

I kept distracting you with useless stories

I evade your lips and act like I don’t know

I try to change the topic but I already know

“Apa yang terjadi? Kenapa kamar Sungmin hyung berantakan?”

“YA! LEE HYUKJAE. Mana kami tahu. Sedari acara tadi kamikan bersamu. Bodoh.” Donghae oppa mengepalkan kedua tangannya kesal. Aku tahu sebenarnya dia hanya sedikit cemburu pasangannya lebih memperhatikan orang lain daripada dirinya. Konyol memang. Namun aku suka hal itu.

“Hae-ya. Aku kan hanya khawatir. Akhir-akhir ini, dia berbeda.” Suaranya lirih sekali. Nyaris tak terdengar. Aku menatap mata member bergantian. Tawa riang yang semula mereka nampakkan saat melihat emosi Donghae oppa, langsung menghilang begitu saja.

“Maksudmu hyung? Aku tidak mengerti.” Kyuhyun mencoba menyela. Pertanyaannya hampir sama dengan apa yang kupikirkan saat ini.

“Kurasa, ia merindukannya.” Merasa hal ini masih ada hubungannya denganku, kulangkahkan kaki pelan ke arah mereka. Mencoba mencari tahu maksud itu. “Park Soonhee. Cinta pertama Sungmin hyung.”

Aku menjatuhkan diriku ke lantai. Sedikit tidak mampu menahan diriku sendiri. Kalau saja aku masih bisa menangis, mungkin aku sudah menangis saat ini. Kalau saja mereka tahu aku masih disini, tentu hasilnya tak akan seperti ini. Kalau saja, aku masih hidup.

***

The end is coming, the last of it is here

The tears that I must get used to are beginning to flow

Words that I used only for you

But they’re all useless now

I know that and still say it, I love you

“Waktumu sudah habis Park Soonhee.”

Suara misterius itu kembali muncul. Sudah hampir sepuluh kali aku mendengarnya. Benar-benar cukup mengganggu dan membuatku sedikit takut.

“Suara itu muncul lagi. Dan kekuatanku semakin melemah. Apa ini saling berkaitan?” Gumamanku terhenti tepat saat kudengar suara berisik di belakangku. Inilah yang aku tak suka. Saat aku disibukkan sesuatu, aku pasti melupakan posisi di samping Sungmin oppa itu. Dan selalu itu yang kutakutkan selamanya.

Hyung, kau sedang apa? Mau kubantu?” Sungmin oppa tersenyum tenang. Menggelengkan kepalanya pelan. Menolak tawaran dari Eunhyuk oppa sopan. Tanpa bermaksud menyakitinya.

“Itu…” Kulihat tangan Eunhyuk oppa menunjuk sesuatu yang digenggam erat Sungmin oppa. Kubungkukkan badanku, berusaha ikut ambil bagian, melihat benda itu.

“Iya. Ini jimat yang pernah kuberikan pada Soonhee dulu.” Hampir saja aku terjungkal dari posisiku. Terlalu senang karna ini pertama kalinya ia menyebut namaku di depan orang lain. Benar, semenjak aku meninggal dia sama sekali tidak menyebut namaku. Mungkinkah, aku memang tidak pernah ada di hatinya?

“Aku berencana membuangnya.” lanjut Sungmin oppa lagi.

“MWO?!? ANDWE!!!” Teriakan kami –Eunhyuk oppa dan aku- bersamaan. Ya, walaupun faktanya hanya terdengar suara Eunhyuk oppa seorang diri.

“Tidak boleh. Kau tidak boleh membuangnya hyung.” Aku mengangguk. Berusaha meneriakkan beberapa kalimat persetujuan. Mendukung ucapan Eunhyuk oppa barusan.

“Sudah saatnya aku melupakannya. Tempat di sampingku, sudah terlalu lama kosong Eunhyuk-kie.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Tidak oppa. Tempat itu tidak pernah kosong. Tak akan pernah.”

Ketakutanku terjawab sudah. Dia, benar-benar melupakanku. Lalu, apa lagi tujuan hidupku kalau oksigen-ku saja sudah tidak bisa memberikan bagiannya.

***

Even if it makes sense now, there is no meaning to it

Words of my love for you

No matter how hard I scream it, your ears don’t hear it

Stop talking, even if my heart speaks to you

It keeps repeating the same words

Hyung, gwenchanayo?” Eunhyuk oppa menempatkan diri tepat di sampingnya. Mencoba membaca ke dalam sorot mata lemahnya itu.

Anni.” Sedikit terkejut saat mendengar ucapannya. Kami menempatkan diri kami masing-masing. Kami tahu, Sungmin oppa bukan tipe orang yang terbuka. Namun saat ia percaya pada sesuatu, ia akan mempercayakan hal apapun yang ia miliki.

“Ceritakan saja hyung. Aku siap mendengarnya.” Eunhyuk oppa tersenyum hangat. Berusaha meyakinkannya, bahwa saat ini ia siap dipercaya.

Na do.” sambungku lirih, cukup menyedihkan kedengarannya.

***

Even if you tell me to stop

Even if you try to stand up and leave me behind

Even if you leave

I hold you back and tell you I love you like the fool I am

Even if I cry, you have to smile

I try my best to erase your expression full of annoyance

“Dia sudah tenang disana Hyukkie-ya. Aku yakin itu.”

Nde. Aku tahu hyung. Aku yakin akan hal itu.” Eunhyuk merapatkan tubuhnya di samping Sungmin oppa. Meraih tubuh lemah itu ke pelukannya. Memberi sedikit kenyamanan, yang tak bisa aku berikan saat ini.

Aku menangis hampa, meski tak yakin tangisan bahagia atau…

“Sekali ini, kubiarkan tempat di sampingmu itu oppa. Tapi, kalau kau memintaku menyerahkan tempat itu, aku minta maaf. Aku tidak bisa.

***

The end is coming, the last of it is here

The tears that I must get used to are beginning to flow

Words that I used only for you

But they’re all useless now

“Aku sudah menyuruh manajer hyung membuang jimat itu.” Seluruh member menghentikan kegiatan mereka. Beberapa dari mereka langsung mengalihkan tatapannya ke arah Sungmin oppa. Berusaha mencari fakta, bahwa ini hanya bagian dari bahan candaannya.

“Aku tidak bercanda.” Sekali lagi ia tersenyum. Senyuman yang mampu membuat gadis-gadis di luar sana berteriak histeris seakan akal sehat mereka telah menghilang. Meski aku sadar, senyumannya memang mampu mengalihkan segalanya.

“Benar, dia sudah membuangnya. Satu-satunya kenangan di antara kami sudah ia buang.” Kupaksakan diri tersenyum. Sesuatu hal lain yang sepertinya sia-sia belaka. Dia, sedang berusaha menggantikan posisiku di sampingnya.

Aku melangkah menjauh meninggalkan tempat itu. Separuh dari jiwaku mengatakan, tempat itu –tempat di sampinnya- bukan lagi tempatku. Sudah saatnya, orang lain menempatinya.

***

Love is leaving, my love is leaving me

A one and only love for me

He’s throwing me away

No matter how hard the tears flow, I don’t feel embarrassment

I repeat the same words

I love you

I’m sorry, don’t hold me back

Aku melihat senyuman itu. Aku tidak yakin, apakah ini hanya perasaanku atau apa, tapi ia terlihat lebih bahagia. Apa benar, seberat itukah bebannya saat aku disampingnya?

“Aku… menemukan kembali oksigenku Eunhyuk-ah.” Dia merentangkan tangannya lebar. Seolah mengusir siapapun yang ada di sampingnya. Termasuk, aku.

“Aku melepaskan dia. Dan saat ini aku memutuskan, mencari orang yang tepat untuk berdiri di sampingku.”

Sekali lagi, pertahananku runtuh. Tak mampu lagi mengontrol tubuhku ini. Aku tersungkur di belakangnya. Menangisi kebodohan dan keegoisanku itu.

“Kalau memang kau lebih bahagia seperti ini, aku rela.”

***

Waktuku habis. Aku pernah berjanji pada Tuhan, aku akan selalu disampingnya sampai aku berkata ‘Aku lelah berdiri disampingnya’. Namun kenyataanya berbeda. Aku tidak lelah. Sama sekali. Dialah yang lelah karena bayanganku. Dia lelah dengan merasakan keberadaanku. Dia lelah, hanya dengan adanya aku di sampingnya.

Menangis?

Kalau saja aku diijinkan melakukannya di kehidupan baruku ini, aku tak bisa menghitung lagi sudah berapa tisu yang kuhabiskan untuk mengeringkan mataku.

Marah?

Kalau saja aku masih bisa merasakan hal itu, saat ini mungkin aku tidak akan semenyedihkan ini.

Aku tahu, di luar sana ada ratusan bahkan ribuan gadis menginginkan posisiku. Berada di samping Lee Sungmin, tanpa pernah terpisah sedetikpun. Melihatnya tertawa, tersenyum, semua hal yang ada di dirinya.

Merasakan setiap hembusan napasnya, yang mereka percaya mampu membunuh mereka setiap saat. Aku yakin mereka menginginkan posisiku ini.

Namun saat ini, aku memilih melepaskannya. Sama seperti ia melepaskanku.

“Semua orang iri denganku, ingin menjadi orang yang berdiri di sampingmu. Tapi aku tidak yakin. Aku mungkin egois, namun melihat kenyataan mereka bisa dengan nyata mencintaimu membuatku iri. Apa gunanya kalau aku bisa disampingmu, tapi kau tak menyadarinya. Kau bahkan, tak melihatku.”

Mataku memanas. Butiran-butiran kristal kurasakan mengalir lembut di pipiku. Tuhan~ kau beri kesempatan aku menangis? Untuk pertama dan terakhir kalinya. Terima kasih Tuhan.

“Sungmin oppa, berbahagialah. Jangan buat aku menyesal menyerahkan tempat di sampingmu itu begitu saja. Annyeong, Lee Sungmin.”

I love you

Even without me

Without you, I’m

I hope you’re happy

It’s nothing

I’m sorry

I love you

Please meet a nice woman

Forget how bad I was to you

I love you, I love you

*END*


		

7 thoughts on “[FF] That Place, I give it up ! (Sequel The Promise)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s