[FF/Introduction] Our Different World

Adoption : Twilight Saga

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Ahra

Read, Comment, Do not Copy without permission ^^

Lee Ahra’s POV

Sakit!! Tubuhku sakit!!! panas!! tidak!! seseorang tolong hentikan!! bunuh saja aku!! kumohon!!!
Aku tidak tahu kenapa, aku hanya merasa di dalam kegelapan ini api besar yang tidak kelihatan membakarku,memusnahkan organ-organ dalamku.
Aku mencoba berteriak, tapi aku merasa tidak ada yang mendengarku.
Kalaupun ada, mereka membiarkanku terbakar.
Tidak…..kumohon…langsung bunuh saja aku…..jangan siksa aku….
pelan tapi pasti api yang membakarku perlahan-lahan redup, sebagai gantinya degup jantungku yang tadinya cepat berubah pelan.
Lalu api padam bersamaan dengan degup jantung terakhirku.
Apa aku sudah mati?
————————————————————————————————————————————————————————————————–

Aku mencoba untuk membuka mata.
Dan saat itu juga aku langsung menutupnya kembali, cahanya terlalu terang, terlalu menusuk.
“matikan lampunya.” bisik seseorang pada yang lain.
Aku tahu itu bisikan, tapi aku tidak mengerti kenapa aku bisa mendengarnya.
Ketika aku memusatkan konsentrasi pada pendengaranku, banyak suara yang ku dengar.
Suara desahan napas yang tegas, bunyi serangga terbang, bunyi semut berjalan…
Ada apa ini?
“bukalah matamu perlahan-lahan.” ujar seseorang yang aku yakin ditujukan untukku.
Ku ikuti kata-katanya.
Setidaknya cahayanya tidak terlalu menusuk.
Aku membiasakan diri dengan keadaan ini, aku mencoba menghirup napas dalam-dalam.
Ada yang salah.
Aku tidak membutuhkan udara, aku tidak perlu bernapas, tapi aku menyukainya.
Orang di dekatku bergerak sedikit membuatku berkonsentrasi menatapnya untuk pertama kali.
Pria, aku menduga umurnya pertengahan 20 tahunan, garis rahangnya tegas, kulitnya pucat seolah tidak pernah terkena sinar matahari, tapi matanya memancarkan kelembutan kontras dengan warna mata sipitnya yang semerah darah.
Aku bergidik sedikit.
“bagaimana perasaanmu?” tanya orang di belakangnya.
Pria juga, tapi lebih tua, aku tidak bisa memperkirakan dengan jelas, wajahnya masih terlihat muda, tapi rambutnya sudah banyak uban.
Wajahnya juga pucat, dengan warna mata yang sama dengan pria sebelumnya.
Baru ku sadari aku tidak mendengar detak jantung mereka.
Apa artinya ini?
“siapa kalian?” tanyaku.
Tapi sedetik kemudian aku terkejut.
Itu bukan suaraku! Suaraku besar tidak melengking merdu seperti tadi.
Pria yang pertama duduk di tepi ranjangku.
“aku Lee Joongwoo, dia ayahku Lee Hyunsoo,kami yang mengubahmu.”
Apa? Mengubahku? Apa maksudnya? Memangnya aku Power Ranger yang bisa berubah atau apa?
“aku tidak mengerti” bisikku lirih dengan suara yang bukan suaraku.
“kau ingat siapa namamu?” tanya Lee Joongwoo mengabaikan perkataanku.
“aku…”
Siapa namaku? Hei, aku tidak ingat namaku sendiri?
Aku berusaha memeras otakku.
“tidak usah dipaksa, itu wajar. Mulai sekarang namamu Lee Ahra, kau akan menjadi bagian dari keluarga kami. Anggap saja aku kakakmu dan dia ayahmu”
Aku menatapnya bingung.
Lee Joongwoo mendesah.
“Kau adalah vampir.”
Aku membelalak.
“aku apa?”
“vampir. Kau, aku, dan ayahku…”
“tapi…”
Aku berusaha membantahnya.
Aku tidak percaya vampir benar-benar ada.
Dan sekarang aku menjadi vampir? Makhluk legenda yang belum ada kepastian tentang keberadaannya?
“dengarkan aku.” ujar Lee Hyunsoo.
Suaranya berbeda dengan Lee Joongwoo, lebih berat dan dalam, mengandung kewibawaan dalam suaranya.
“Pesawat yang kau tumpangi terjatuh di pegunungan, semuanya tewas kurasa, tapi Joongwoo menemukanmu 1 km dari tempat terjatuhnya pesawat, detak jantungmu sangat lemah. Jujur saja aku ingin membiarkanmu mati seperti korban lain, tapi Joongwoo ingin kau diselamatkan, dalam artian….kami mengubahmu.”
“aku melihat kau berusaha untuk tetap hidup, kau berusaha menyelamatkan dirimu” imbuh Joongwoo.
Aku berusaha mencerna perkataan mereka.
“jadi aku ini vampir?”
Aku menelan ludah dengan susah payah, sama susahnya untuk menerima kenyataan ini.
Mereka mengangguk.
“dan namamu Lee Ahra, umurmu 19 tahun.” ujar Hyunsoo.
“Bukankah vampir menghisap darah manusia?” pertanyaan yang sudah daritadi ku tahan akhirnya meluncur juga.
“memang begitu takdir makhluk yang bernama vampir seperti kita ini, tapi aku dan Joongwoo berhasil mengatasinya. Awalnya kami mencari darah donor, tapi kita semua tahu darah donor terbatas, dan kami menggantinya dengan darah binatang.” jelas Hyunsoo.
“Darah binatang? Tapi aku rasa itu sangat tidak memuaskan?” tanyaku lagi.
Hyunsoo dan Joongwoo berpandangan.
“darimana kau tahu? Kau seharusnya tidak ingat apa-apa tentang kehidupan manusiamu.” ucap Joongwoo heran.
Aku sendiri bingung.
“entahlah.. itu… hanya terbersit di pikiranku begitu saja.”
“ya…memang darah binatang sama sekali tidak memuaskan, ibaratnya jika kau masih ingat nafsu manusiamu, ketika kau ingin makan daging tapi kau dipaksa makan sayur.” jawab Hyunsoo.
“Tapi kami terus berusaha dan akhirnya kami bisa.” ujar Joongwoo.
“apakah…vampir cuma kalian?” tanyaku lagi.
“Tidak, aku tidak tahu berapa banyak komunitas kami, tapi yang hidup seperti ini kurasa hanya kami. Mereka rata-rata menjauhi pemukiman manusia, nomaden, individual.” jelas Hyunsoo.
Aku ingin bertanya lagi, tapi entah kenapa kerongkonganku serasa panas membakar.
Aku menyentuh tenggorokanku, tidak ada api, tapi sangat panas rasanya.
Hyunsoo mengangguk seolah paham. Lalu mengirimkan bahasa isyarat ke Joongwoo yang direspon dengan langkah menjauh.
“kau haus.” ujarnya.
“aku apa?” tanyaku.
“kau haus…kau butuh darah.” jelasnya seolah dia sedang berbicara kepada anak kecil.
Joongwoo kembali membawa sekantung darah.
Entah kenapa air liurku menetes.
Aku bisa merasakan aroma darah itu. Tanpa sadar aku mencecap lidahku.
“untuk sementara kau bisa minum darah donor ini, tapi kau juga harus belajar untuk mengendalikan nafsumu, kau akan belajar untuk minum darah hewan. arrasseo?”
Aku mengangguk tak sabar.
Entah kenapa darah itu terlihat sangat lezat bagiku.
Joongwoo menyodorkannya kepadaku, buru-buru aku menggigit ujungnya dan langsung meminumnya sampai habis.
Dahagaku masih belum terpuaskan.
“aku masih haus” ujarku.
“kendalikan dirimu.” ujar Hyunsoo.
Aku diam, berusaha mengendalikan walau dorongan untuk mencari darah sangatlah kuat.
“bagaimana jika dia aku ajak berburu sekarang? cepat atau lambat dia harus belajar untuk itu.” ujar Joongwoo.
Hyunsoo terlihat berpikir sejenak. lalu ia mengangguk.
“ikut aku.” ujar Joongwoo sembari berjalan cepat.
Buru-buru aku turun dan berusaha menyusulnya.
Betapa kagetnya aku ketika aku justru mendahuluinya.
Joongwoo tertawa.
“Aku lupa memberitahumu..” ujarnya menjajari langkahku.
“Ketika kau berubah….semua ikut berubah.. Kau tidak mendengar degup jantungmu bukan? Itu karena kau hidup tapi kau mati. Semua indramu berubah lebih tajam daripada sebelumnya. Kau bisa mendengar suara ikan berenang di danau sebelah sana?” tanyanya sambil menunjuk sebuah genangan air yang berada sekitar 50km dari tempatku berada sekarang.
Aku berkonsentrasi ke danau itu.
“mm…kurasa….kurasa aku mendengarnya.” ujarku.
“dan apakah kau mencium banyak bau darah di hutan itu?” tanyanya lagi.
“mm.. tapi baunya tidak begitu menarik minatku, berbeda dengan yang aku minum tadi.”
Joongwoo tertawa kecil
“Kau akan cepat mengerti.” ujarnya lalu melesat pergi.
Aku berlari menyusulnya.

———————————————————————————————————————————————–

Aku belajar dengan cepat di bawah bimbingan Hyunsoo-appa dan Joongwoo-oppa.
Aku tidak mengerti apa itu kasih sayang, tapi hanya kata itu yang tepat untuk mengatakan ini.
mereka menyayangiku seperti keluarga mereka sendiri.
Dengan cepat mereka mengajariku untuk bertingkah layaknya manusia biasa karena kami harus berbaur dengan manusia.
Jongwoo-oppa seorang dosen yang mengajar di sebuah universitas terkenal di Seoul. Aku pernah bertanya berapa umurnya, tapi ia hanya menjawab dengan tawa.
“yang jelas aku lebih cocok menjadi kakek buyutmu daripada oppamu” guraunya.
Sejak itu aku tidak pernah bertanya lagi, karena mereka akan selalu memberitahuku apa saja jika mereka memang berharap aku tahu.
Aku sedang berjalan menuju tempat Hyunsoo-appa bekerja. Appa bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit terbesar di Seoul.
Aku pernah bertanya padanya apakah orang-orang tidak pernah menyadari identitasnya, apalagi sebagai dokter intensitasnya bersentuhan dengan manusia lebih sering dibanding dosen.
Appa hanya tersenyum.
“orang-orang memilih untuk tidak peduli.” jawabnya.
Jarak rumahku dengan rumah sakit tempat appa bekerja lumayan jauh, tapi aku tidak ingin menggunakan transportasi umum.
Aku lebih suka berjalan kaki, karena aku tidak bisa merasakan capek, selain itu aku suka menghirup bau darah orang-orang.
Sebenarnya Joongwoo-oppa melarangku, dia belum yakin aku bisa mengendalikan diriku, tapi appa lebih bijaksana, membiarkanku untuk melakukan sesuatu dengan risiko yang harus ku tanggung sendiri, ya, jika aku menghisap darah mereka di tempat ramai seperti sekarang ini, orang-orang akan tahu aku ini apa, sebagai hukumannya vampir-vampir lain akan menghabisiku.
Aku bergidik mengingatnya.
Joongwoo-oppa dan Hyunsoo-appa bahkan tidak bisa melindungiku.
Itu sudah menjadi peraturan tidak tertulis dari dunia vampir.
Lamunanku berhenti ketika terdengar teriakan.
Kenapa itu ya? Kenapa mereka berkerumun dan berteriak-teriak seperti itu?
Aku mendekati kerumunan.
Selain karena penasaran juga karena tertarik bau darah yang sangat memikatku.
Aroma darah dari masing-masing orang memang berbeda-beda.
Kadang aku menghirup aroma darah yang menggiurkan dari seorang wanita, dan terkadang juga aroma darah yang memuakkan dari seorang wanita lain.
Aroma darah yang ini berbeda….aku tidak mengerti, tapi aroma ini seolah membiusku, menerbitkan air liurku.
“ah..ssi pal… terlalu ramai…aku tidak bisa melihat..” desahku.
Aku melihat di sebelahnya ada restoran berlantai dua, aku pun masuk ke sana, secepatnya bergerak ke atapnya.
Dari atas aku melihat sepertinya ada pemotretan boyband.
Aku tidak mengenali mereka, tidak dengan ingatan vampirku.
Pandanganku terhenti pada sesosok namja.
Aku tahu ingatan manusiaku telah musnah.
Aku bahkan tidak bisa mengingat namaku.
Tapi aku mengenalinya.tubuh yang sama.
“cho kyuhyun..” bisikku.
Tepat saat itu ia memandangku.
Ketika dia menoleh ke arah lain aku buru-buru pergi.

Cho Kyuhyun’s POV

Aku merasa ada yang mengamatiku dari atap restoran di sebelahku.
Aku mendongak, sedikit terkejut mendapati seorang gadis berdiri di sana.
Aneh sekali, bagaimana caranya pergi ke atas sana?
“kyu, kita harus mengulang yang barusan, gambarnya kurang bagus.” ujar Sungmin-hyung
Aku mengalihkan tatapan ke Sungmin-hyung sekilas.
“oh baiklah.”
Tatapanku kembali ke atap restoran tadi, tapi gadis itu tidak ada.
Aneh sekali, cepat sekali perginya.
Aku memandang pintu keluar, siapa tahu gadis itu keluar.
“kau sedang apa? ayo cepat!”
Teukie-hyung menyeretku.
Gadis yang aneh.
Kulitnya lebih pucat daripada aku, ataukah mungkin hanya karena pengaruh cahaya matahari?
Ah entahlah.

10 thoughts on “[FF/Introduction] Our Different World

  1. Huaaaaa , cerita tentang vampir???
    Eh? Ini si cewenya yang jadi vampir?
    Aku kira yang bakal jadi vampire itu Kyu😀 #ternyata.aku.salah.duga
    Kayaknya seru nih ^^d
    Tapi ini baru prolog aja kan? Ga sabar nunggu chapter selanjutnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s