[FF/Gift/OneShot] My Girl

Tittle : My Girl
Author : ninasomnia
Casts : Cho Kyuhyun, Lee Ahra (@kyu8823)
Lenght : oneshot
Genre : a fail romance
Disclaimer : this story based on a romance movie within Adam Sandler and Drew Barrymore as the casts. Yeah, that’s 50 first date. I didn’t do plagiarism, I even take a credit on those movie (?). And btw, I still do a make over on it. Respect me by giving your opinions. And for, Ahra. Sist, sorry for taking too much time for this story. And sorry for made a fail-fiction ;~~;. don’t hate me okay? *eh
Summary : Cho Kyuhyun is a member of a Korean Boy Band named Super Junior. And Lee Ahra is a college student that had a short-term-memory-loss. They fall in love, and then Ahra will forget him after she wake up.

♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥

“Aku ingin, suatu saat nanti aku punya kekasih yang mengenalku sebagai Cho Kyuhyun, laki-laki yang dicintainya sepenuh hati. Bukan seseorang yang ‘mengenalku’ sebagai anggota Super Junior. Aku hanya pria biasa, dan dengan begitu aku bisa merasakan kehidupan cinta yang biasa.”
Kyuhyun menutup ucapannya dengan bungkukkan kecil tanda hormat. Kemudian disusul tepukan riuh dari barisan penonton. Beberapa member Super Junior lain hanya bisa berdecak kagum. Tidak menyangka ucapan semanis dan sedalam itu keluar dari bibir Kyuhyun, magnae evil mereka. Pembawa acara mendekat ke arah Kyuhyun menepuk punggung Kyuhyun lembut sambil melontarkan beberapa kalimat pujian. Meski disela-sela itu sengaja dibubuhkan godaan-godaan kecil.
“Jadi, apakah kekasih yang kau inginkan itu sudah kau temukan?” pancing sang pembawa acara ingin tahu. Puluhan penonton terlihat begitu antusias mendengar pertanyaan provokasi ini. Terlihat dari pembesaran mata serta senyum yang tergambar di wajah mereka. Kyuhyun tersenyum, sembari menundukkan kepalanya. Menahan kamera menangkap semburat memerah yang mungkin muncul di wajahnya.
“Belum. Tapi aku yakin aku akan menemukannya. Gadis yang menatapku sebagai Cho Kyuhyun saja. Bukan dengan embel-embel lain.” ucapnya yakin. Kali ini tepukan lebih riuh daripada sebelumnya. Beberapa gadis bahkan berteriak senang saat mendengar kata ‘belum’ di awal permulaan jawabannya.
“Baiklah, kita doakan saja Kyuhyun-sshi bisa mendapatkan gadis impiannya itu.”
Acara berakhir tak lama setelah itu. Semua orang kembali ke aktivitas mereka. Kyuhyun menelusuri lorong, mencoba mencari sesuatu yang tidak sengaja ia jatuhkan di suatu tempat. Sebuah kenangan.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
Ponsel itu nyaris melekat pada tubuh Kyuhyun. Decakkan kecil penuh emosi terdengar jelas keluar berulang-ulang dari mulutnya. Baru sesaat setelah mendengar jawaban dari seberang dia menghentikan langkahnya.
“Hyung, mobilku rusak. Aku sekarang masih di jalan. Bagaimana ini?” Kyuhyun mengeluarkan semua yang menjadi ganjalannya. Emosinya memuncak seiring dengan sengatan matahari yang menerpanya. Tak ada penyamaran bearti. Hanya kacamata hitam dan masker yang tergenggam sempurna di tangannya.
“Baiklah. Aku akan mengirimkan alamatnya. Jemput aku, karena sepertinya aku tidak melihat ada angkutan lewat di sekitar sini.”
Dia menutup panggilan itu. Matanya beredar. Berusaha mencari tempat yang lebih baik, bisa menjadi tempat untuk sekedar berteduh dari halauan panas. Sampai kemudian matanya menemukan kedai kecil tepat beberapa meter di seberang jalan tempatnya berdiri saat ini. Dia memutuskan untuk berjalan ke tempat itu sembari menunggu seseorang menjemputnya.
Gemerincing lonceng yang tergantung tepat di balik pintu kedai menyambut kedatangan Kyuhyun. Matanya masih berusaha beradaptasi dengan keadaan di dalam kedai. Dua orang pengunjung dengan sepasang suami istri yang disimpulkannya sebagai sang pemilik kedai. Kyuhyun berjalan pelan menuju meja yang letaknya disudut kedai itu. Tempat yang sekiranya dianggap aman dari beberapa orang yang kemungkinan mengenalinya.
Kurang beberapa langkah sebelum dia mencapai tempat itu, seseorang menabraknya dan menumpahkan sesuatu ke arahnya. Tidak mengotori bajunya memang, namun cukup membuatnya merasakan percikan-percikan kecil air yang mengenai tubuhnya.
“Maaf tuan. Aku benar-benar tidak melihatmu. Maaf, benar-benar maaf.” Gadis itu meraih tisu dari dalam tasnya. Mengulurkan sembari menggosokkan lembut ke tempat dia tak sengaja menumpahkan minumannya tadi.
“Ah tidak apa-apa.” Kyuhyun meraih uluran tisu dari tangan gadis itu. Menggantikannya membersihkan bagian yang dianggapnya terkena noda minuman itu.
“Sekali lagi maaf tuan.” Gadis itu membungkukkan badannya rendah. Membuat Kyuhyun mau tak mau mendongakkan kepala untuk melihat gadis itu. Cantik. Itulah kesan yang didapatnya.
“Ah, aku baik-baik saja nona. Tidak perlu khawatir.” Tangan Kyuhyun meraih bahu gadis itu. Menegakkan tubuh gadis itu, membuatnya menghadap tepat ke arah Kyuhyun.
“Sekali lagi aku minta maaf. Oh iya, aku tidak pernah melihatmu disini?”
Kyuhyun tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan gadis itu. Dia merasa gadis ini gadis polos. Beberapa saat lalu merendah meminta maaf, tapi sekarang menyapa seperti layaknya teman lama. Tak berapa lama dia mengangguk singkat. Mengiyakan sesuatu.
“Ini pertama kalinya aku kesini. Mobilku rusak…” Kyuhyun menunjuk ke luar jendela tepat dimana mobilnya berada. “…dan aku perlu berteduh dari sengatan matahari.” lanjutnya.
“Oh. Kau memilih tempat yang tepat. Kedai milik paman Kim memang sangat nyaman untuk melepas penat. Oh iya, namaku Ahra. Lee Ahra. Kau?”
Kyuhyun mengernyitkan kening mendengar ucapan gadis itu. Apa penyamarannya cukup berhasil mengelabui gadis ini atau memang dia sedang terdampar di tempat dimana tak ada yang mengenal Super Junior?
Dia menarik kacamatanya. Melepaskannya karena sekiranya dianggap perlu. “Aku…”
Ucapannya terpotong saat dia mendengar teriakan dari mulut kecil gadis itu. “OMMONA… Kau Cho Kyuhyun Super Junior?”
Entah perasaan apa yang dirasakan Kyuhyun saat ini. Dia tersenyum meski tak yakin dengan senyuman itu sendiri. Di satu sisi dia senang kepopulerannya sedikit menolongnya. Meski di sisi lain, dia baru saja kehilangan impiannya. Gadis di hadapannya, yang sekiranya nyaris menjadi kandidat gadis impiannya, mendadak musnah saat dia menyebut nama Cho Kyuhyun Super Junior. Bukannya menunggu dia memperkenalkan diri.
“Ah, mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan artis sepertimu tuan.” Ahra memainkan kakinya sendiri. Wajahnya sedikit tertunduk. Kali ini dengan artian yang berbeda dari sebelumnya.
“Ah, terima kasih Ahra-sshi. Ngomong-ngomong apa kau mau menemaniku duduk terlebih dahulu?” tawar Kyuhyun kepada Ahra. Meski sedikit kecewa, Kyuhyun masih menaruh harapan gadis ini bisa menjadi gadis impiannya itu. Ahra mengangguk, lalu mengikuti Kyuhyun yang berjalan mendahuluinya ke meja yang dilirik Kyuhyun sedari tadi. Ahra memutuskan duduk di seberang Kyuhyun. Sedikit mendekat pada jendela, berbeda dengan Kyuhyun yang memilih menjauhi jendela.
Tak lama setelah itu bibi pemilik kedai mendekat ke arah mereka. Menanyakan pesanan Kyuhyun. Bibi itu sendiri mengenalnya. Meski tidak menyebutkan nama Super Junior, bibi itu yakin bahwa pelanggannya kali ini pernah menjadi bintang tamu salah satu acara favoritnya.
“Jadi nona, apa kau ini ELF?” tanya Kyuhyun sopan, sesaat setelah bibi itu beranjak meninggalkan mereka berdua.
“ELF? Apa itu?”
Kyuhyun kembali mengernyitkan keningnya. Gadis di hadapannya ini benar-benar penuh kejutan. “Everlasting Friends nona. Sebutan untuk fans Super Junior.”
Ahra tertawa renyah. Satu tangannya reflek beralih ke arah mulutnya. Menutupi tawanya, menjaga sedikit rasa sopan santun. Satu hal lagi yang membuat Kyuhyun jatuh ke pesonanya.
“Bukan. Aku ini fans SHINee. Bahkan aku tidak hafal beberapa member Super Junior.” ungkapnya jujur. Kyuhyun menundukkan kepala. Menahan rasa malu yang menjalari dirinya.
“Ah ye? Maaf Ahra-sshi. Aku tidak tahu.” Tangan Kyuhyun terkepal sempurna tepat di bawah meja. Mencoba menahan emosinya. Entah kenapa dia merasa menjadi seperti bukan dirinya saat ini. Padahal pada saat biasa dia akan meluapkan kalimat bernada kasar, meski dia tidak benar-benar bermaksud mengatakannya.
“Tidak apa-apa. Dan ngomong-ngomong kalian satu manajemen bukan?” cecar Ahra lagi. Kali ini Kyuhyun hanya mampu membulatkan mata tak percaya.
“Nde?” Kyuhyun mencoba meyakinkan pemikirannya. Belum sempat Ahra menjawab, pembicaraan mereka terhenti sementara. Tepat saat bibi pemilik kedai mengantarkan pesanannya.
“Terima kasih bibi.” ucap Kyuhyun sesaat setelah bibi itu selesai meletakkan minuman untuknya. Merasa tak dibutuhkan bibi itu segera undur diri dari pembicaraan itu.
“Ah maksudku, Super Junior dan SHINee. Bukankah kalian satu manajemen?”
Kyuhyun tak bisa menahan diri lagi. Gadis ini mengenalnya sebagai member Super Junior. Lalu mengaku kalau dia tak begitu hafal dengan member Super Junior. Dan sekarang, sepertinya sedang mencari alasan untuk memanfaatkan kedekatannya dengan juniornya satu manajemen, SHINee.
“Benar. Memangnya kenapa?” Kali ini nada bicara Kyuhyun mulai terdengar dingin. Dia meraih segelas ice chocolate di hadapannya. Meneguknya cepat. Berusaha menghilangkan dahaga yang dirasakan sedari tadi. Serta menahan dirinya dari emosi mengerikan.
“Ah, bisakah kau membantuku mendapatkan tanda tangan Onew oppa. Aku ini fans beratnya.” aku Ahra malu-malu. Tangan Ahra bermain-main dengan tali selempang tasnya. Senyuman tak pernah beranjak dari wajahnya. Membuat Kyuhyun merasa semakin berat untuk tidak mengabulkan keinginan bodoh itu.
“Kau bisa datang ke fansigning SHINee. Dengan begitu kau bisa mendapat tanda tangan O-NYU-OP-PA mu itu.” Kyuhyun sengaja menekankan ucapannya pada kata menjijikkan itu. Gadis ini, Lee Ahra memanggilnya Kyuhyun-sshi, bahkan tuan, sedang memanggil Onew yang notabenenya hanya juniornya dengan panggilan oppa. Cih.
“Ah masalah itu aku tidak yakin ayahku mengijinkan Kyuhyun-sshi. Jadi mungkin dengan dipertemukannya kita disini, itu sebagai jalan Tuhan agar aku bisa mendapatkan tanda tangan idolaku itu.”
Ucapan Ahra kali ini membuat Kyuhyun terhenyak. Dia bahkan nyaris tersedak udara yang dihirupnya sendiri kalau dia tidak berusaha menormalkan pernafasan di paru-parunya. “Jalan Tuhan? Ya! Lee Ahra. Bahkan kau membawa nama Tuhan hanya untuk mendapatkan tanda tangan oppamu itu. Aish, benar-benar kau ini….” Umpat Kyuhyun. Dia kembali meraih gelas dihadapannya. Menegaknya dengan satu tegukan. Menyisakan bongkahan-bongkahan kecil es di gelas yang digenggamnya ini.
“Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Memang penggemarmu tak pernah melakukan hal yang seperti kulakukan ini Kyuhyun-sshi? Bukankah Super Junior lebih senior daripada SHINee. Itu artinya penggemar kalian lebih banyak bukan?”
Kyuhyun mendengus keras. Dia angkat salah satu tangannya tinggi. Memberi isyarat kepada bibi pemilik kedai untuk memberinya segelas ice chocolate lagi. Kemudian kembali memfokuskan diri pada Ahra. Yang memasang ekspresi polos atau bodoh. Kyuhyun tak yakin pemikiran mana yang lebih benar.
“Tentu. Bahkan tak jarang penggemar kami meninggalkan negaranya dan memilih untuk tinggal di Korea.” Sindirnya. “Dan lagi, kenapa kau tidak sungkan menanyakan hal tidak sopan itu padaku nona Lee? Memang berapa umurmu?”
Ahra menyipitkan mata mendengar rentetan pertanyaan Kyuhyun. Dia juga tidak sakit hati mendengar sindiran pedas dari mulut laki-laki yang baru ditemuinya untuk pertama kali ini. “Bagian mana aku tidak sopan Kyuhyun-sshi? Kukira aku sudah menjaga nada bicaraku. Dan lagi, aku ini sudah dua puluh satu tahun.”
Kyuhyun menahan tawa. Sesaat kemudian gelas keduanya datang. Kali ini Kyuhyun hanya tersenyum seadanya mengisyaratkan ucapan terima kasih. “Kukira usiamu lebih cocok menjadi noona bagi adik-adikku itu Ahra-sshi.”
Kali ini giliran Ahra yang tak bisa menahan emosinya. Dengusan serta hembusan napas berat yang sarat kekesalan sengaja diperlihatkannya. Hilang sudah bayangan gadis manis yang sengaja ia bentuk sejak tadi. “Setidaknya aku masih memiliki dua oppa disana. Onew oppa dan Jonghyun oppa.”
“Dan kau memiliki tiga dongsaeng disana. Key, Minho, dan Taemin. Ingat itu Ahra -sshi.” Ucapan Kyuhyun kembali terdengar melecehkan. Sekali lagi, dia tidak benar-benar bermaksud berkata seperti itu.
“Apa salahnya? Aku suka dipanggil noona.” Bela Ahra tak terima. Yang kemudian dibalas Kyuhyun dengan tawa yang terdengar meremehkan.
“Lebih baik kau belajar menyukai Boyfriend nona. Usia mereka jauh di bawahmu. Mungkin kau bisa masuk daftar fans noona bagi mereka. Atau mungkin, ahjumma?”
Ahra mengepalkan tangannya. Emosinya benar-benar memuncak saat ini. Dia baru menyadari yang ada di hadapannya bukan manusia. Tapi setan.
“Terserah. Yang jelas, kau harus membantuku mendapatkan tanda tangan Lee Jinki!” tegas Ahra. Kyuhyun baru akan membuka mulutnya saat kemudian Ahra melanjutkan ucapannya. “Besok, di tempat ini, jam yang sama. Aku menunggu tanda tangan itu tuan Cho Kyuhyun. Dan sebagai balasannya aku akan mentraktirmu hari ini. Oh iya, aku permisi dulu tuan. Aku harus kembali ke kampus. Annyeong.”
Ahra meninggalkan Kyuhyun seorang diri. Kyuhyun masih berusaha mengikutinya dengan pandangannya. Melihat gadis itu membayar di kasir dan berbincang sebentar dengan bibi dan paman pemilik kedai.
Tangan Ahra sudah berhasil menarik pintu kedai itu lebar. Namun dia melepaskannya begitu saja, dan berjalan cepat kembali ke meja dimana Cho Kyuhyun berada. “Senang berkenalan denganmu, Kyuhyun oppa.” Ahra tersenyum. Kyuhyun berusaha menangkap nada cibiran yang mungkin terdengar dari ucapan Ahra itu. Tapi nyatanya, ucapan itu terdengar seperti ucapan tertulus yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dan entah sejak kapan, sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk selengkung senyuman penuh arti. Dan mungkin membuatnya terlihat bodoh.
Kyuhyun masih berusaha merekam kembali memori perbincangannya dengan gadis bernama Lee Ahra itu. Polos, menyebalkan, dan juga dingin. Namun entah kenapa baginya itu begitu indah. Saat kemudian sebuah panggilan menyadarkannya. Dia raih ponselnya, membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponselnya itu. Pandangannya teralih keluar kedai. Melihat seseorang yang dikenalinya sebagai salah satu staff Super Junior sudah menunggunya di sebuah mobil. Dan sebuah mobil derek bersiap membawa mobilnya.
Kyuhyun bangkit dari tempatnya. Membungkukkan badan ke pasangan suami istri itu. Tersenyum sembari mulutnya berkata terima kasih berulang kali. Kemudian berlari kecil kearah mobil staffnya itu.
“Hyung…” Panggilnya sesaat setelah dia melangkahkan kaki menyebrangi jalan.
“Ayo Kyuhyun-ah. Member sudah menunggumu. Kau terlambat gladi resik.” nada panik dari hyungnya menyadarkan Kyuhyun. Sudah saatnya dia kembali ke aktivitasnya.
Segera Kyuhyun masuk kedalaman mobil itu. Memasang sabuk pengaman tepat saat staff itu menginjak gas cepat. Membuat tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan. Namun bukan umpatan yang keluar dari mulutnya. Melainkan sebuah gumaman lembut penuh makna.
“Aku, akhirnya aku menemukan gadis itu.”
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
Kyuhyun mengecek jam diponselnya. Sudah kesekian kalinya untuk hari ini. Membuat member lain, yang kebetulan sedang tidak ada jadwal, bertanya-tanya apa yang sedang ditunggu adik mereka ini.
“Kyu, jamnya tidak akan bergerak ke angka satu secepat itu. Kalau kau mengeceknya setiap lima menit sekali, itu percuma. Kau harus bersabar menunggu tiga jam lagi.” Donghae mulai angkat suara. Dia cukup jengah dengan tindakan maknae yang satu ini.
“Nde? Darimana kalian tahu aku menunggu jam satu?”
Decakan terdengar bersahutan di ruangan itu. Kyuhyun mengedarkan pandangan dan mendapati Sungmin dan Donghae yang melakukannya. Disusul pertanyaan yang keluar dari bibir Eunhyuk.
“Memangnya apa yang kau tunggu Kyu? Bukankah kau membenci menunggu.”
“Benar. Hal luar biasa seorang Cho Kyuhyun mau menunggu sesuatu.” giliran Sungmin mengungkapkan pendapatnya. Bisa dilihat Kyuhyun mulai tak nyaman dengan rentetan opini yang dilancarkan hyung-hyungnya itu. Kyuhyun memilih bangkit dari sofa, beranjak pergi dari tempat itu. Kyuhyun melangkahkan kakinya santai memasuki kamarnya. Meninggalkan misteri yang berkembang di kalangan hyung-hyungnya.
Tangan Kyuhyun bergerak menelusuri ponselnya. Memasang alarm tepat pukul dua belas. Meski dia tahu untuk mencapai tempat kemarin, memerlukan waktu paling cepat satu setengah jam.
Kyuhyun lalu memutuskan beristirahat sejenak. Memejamkan mata sesaat, sembari menunggu pertemuan yang dinantinya itu.
“Aku tidak sabar bertemu denganmu Ahra-ya.” Tubuhnya sudah terbaring sempurna di atas teat tidurnya. Mengucapkan keyakinannya itu sembari memandangi foto juniornya, Onew, lengkap dengan tanda tangan yang ia sandarkan di meja kecil dekat ranjangnya. Selengkung senyuman terbentuk dengan segera di wajahnya. Dia baru sadar, sejak kemarin dia semakin intens untuk tersenyum. Terlebih saat mengingat gadisnya itu.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
Kyuhyun memukul pelan kemudinya beberapa kali. Berusaha melampiaskan emosinya. Jalanan yang terlalu ramai di hadapannya membuatnya tak bisa berhenti membuatnya tergesa-gesa. Matanya tak pernah berhenti mencuri pandang ke arah jam tangan kecoklatan yang melingkar sempurna di tangan kirinya. Melihat jarum yang bergerak cepat, seolah menghinanya yang sedang dikejar waktu, membuat emosinya jauh dari kata stabil.
“Ayolah. Aku tak ingin dia meninggalkanku karena keterlambatan bodoh ini.” Kyuhyun mulai mencoba pasrah. Dia sadar betul dengan emosi sama sekali tak membantu dia untuk lebih cepat sampai ke tempat itu.
Perlu empat puluh lima menit bagi Kyuhyun untuk keluar dari kemacetan lalu lintasan tadi. Yang mana berati Kyuhyun terlambat lebih dari satu jam dari waktu yang mereka tentukan. Foto dengan tanda tangan diselipkan ke dalam majalah yang sengaja ia bawa. Tak lupa sebelumnya Ia kembali memasang kacamata kehitaman dan menggunakan majalah tadi sebagai pengganti masker. Dia tak ingin menarik perhatian dengan menggunakan masker. Orang bodoh mana yang akan menggunakan masker disaat cuaca sepanas ini.
Dia mendorong pelan pintu kedai itu. Suara gemerincing lonceng kembali menyambutnya. Kali ini terdengar nyaman di telinganya. Bahkan sepertinya dia juga merindukan suara itu. Berbeda dari sebelumnya, kafe ini sedikit lebih ramai siang itu. Beberapa meja nyaris terisi penuh. Menyisakan dua meja kosong saja, dan salah satunya tempatnya kemarin.
Dia tersenyum, lalu mengambil posisi di meja itu. Sedikit bernapas lega para pengunjung tidak mengenalinya. Dia tak ingin acaranya hari ini berubah menjadi acara fa meeting dadakan. Tidak. Dia ingin hari ini menjadi kenangan lain dengan gadisnya.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Sebuah sapaan menyadarkannya. Membuatnya menurunkan sedikit kacamatanya agar orang itu bisa mengenalinya. “Aku kembali bibi.”
“Oh, Tuhan. Kau kembali nak. Ada yang bisa bibi bantu?” Raut bahagia tidak bisa disembunyikan bibi pemilik kedai. Dia tidak menyangka kedai kecilnya bisa didatangi Kyuhyun untuk kedua kalinya.
“Ah bibi, apa kau mengenal gadis yang kemarin duduk bersamamu?” tanya Kyuhyun langsung. Dia sudah mengedarkan mata beberapa kali dan belum mendapati keberadaan gadis itu di kedai ini. Pikiran bahwa gadis itu sudah pergi karena terlalu lama menunggu menghadangnya. Meski dia mencoba mengenyahkan pemikiran buruk itu.
Raut wajah bibi itu berubah seketika. Terlihat sedikit menyesal mendengar ucapan Kyuhyun tadi. “Apa kau sudah buat janji dengannya nak?” Tanya bibi itu tanpa berusaha mengindahkan pertanyaan Kyuhyun.
“Ah iya, dia kemarin menyuruhku untuk datang kesini hari ini. Memangnya ada apa bibi?” Rasa penasaran mulai melanda Kyuhyun. Bibi ini seperti menyembunyikan sesuatu.
“Kalau begitu tunggulah sebentar nak. Sebentar lagi dia pasti datang. Dan kau mau memesan apa anakku?”
“Ice chocolate.” jawab Kyuhyun yakin. Bibi itu beranjak kembali ke arah dapur. Menyiapkan pesanan Kyuhyun atau mungkin pesanan yang lain juga.
Sembari menunggu kedatangan gadis itu, Kyuhyun membolak-balikkan majalah yang dibawanya. Dia tidak begitu menyukai majalah sebenarnya. Hanya saja benda ini sepertinya mampu menolongnya dari rasa salah tingkah? Belum ada dua lembar yang ia nikmati, bunyi germerincing lonceng itu menyadarkannya. Cepat, Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Mencari tahu siapa tamu yang baru saja datang. Feelingnya kali ini tidak meleset. Itu Ahra, gadis yang ditunggu-tunggu.
Kyuhyun mengangkat tangannya ke atas. Melambai-lambaikannya beberapa kali sembari memanggil nama itu lembut. “Ahra-sshi. Disini.”
Gadis yang dipanggil itu mengernyitkan kening. Antara bingung dan kaget bercampur jadi satu. Namun dia tetap berjalan ke arah meja yang letaknya di sudut itu. Perasaannya mengatakan dia harus mencari tahu.
“Kau datang juga. Kukira aku yang terlambat. Ternyata itu kau nona Lee. Hahaha. Asal kau tahu, kau beruntung bisa membuat Cho Kyuhyun menunggu.” Kyuhyun tidak bangkit dari posisinya. Dia masih tetap terduduk, meski itu sedikit tidak sopan.
“Ah, apa kita saling mengenal?” tanya Ahra takut-takut.
“Nde?” Kyuhyun berusaha meyakinkan dirinya. Sekali lagi apa penyamaran ya sebegitu meyakinkan, sampai-sampai gadis ini tidak mengenalinya. Atau opsi kedua, gadis ini memiliki kemampuan otak di bawah rata-rata. Jadi terlalu sulit mencerna apa yang terjadi. Kyuhyun rasa opsi kedua lebih terbukti.
Kyuhyun melepas kacamatanya. Berharap gadis itu bisa mengenalinya dengan begitu. Dugaannya benar. Bahkan gadis itu langsung terduduk di kursi di hadapannya. Mulutnya terbuka sempurna, dengan kedua tangan yang menutupinya. Ekspresi yang selalu ditunjukkan orang yang terkejut karna sesuatu.
“Kau, Kyuhyun?”
Wajah Kyuhyun kembali cerah. Benar dugaannya gadis ini terlalu lama untuk menyadari penyamaran buruknya ini. “Benar sekali Ahra-sshi. Dan kau tahu, aku menunggumu lebih dari satu jam disini.”
Kyuhyun berbohong. Dia melakukannya hanya demi mengintimidasi Ahra dengan rasa bersalah.
“Menungguku? Tapi untuk apa seorang Cho Kyuhyun menungguku?” Ahra masih belum mengerti dengan situasi di hadapannya. Otaknya sedang berusaha keras memutar memori tentang Kyuhyun Super Junior, yang saat ini duduk di hadapannya. Meski justru rasa sakit kepala yang didapatnya dari ‘pemaksaan diri’ itu.
“Ya Lee Ahra! Jangan bilang kau lupa. Kau yang menyuruhku datang kesini kemarin. Aish, jincha.” Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Gadis dihadapannya cukup menyebalkan.
Ahra menggelengkan kepala lemah. Wajahnya tertunduk, penuh penyesalan. “Maaf. Aku lupa.”
Kyuhyun merasakan dadanya sesak. Dia menunggu sejak pagi, bahkan mengumpat selama di perjalanan tapi gadis ini semudah itu meminta maaf karena lupa. “Nona, bedakan lupa dan tidak ingat. Dari sudut pandangku sepertinya poin kedua yang terjadi padamu. Kau tidak berusaha mengingatnya.”
Ahra masih tetap tertunduk. Matanya terasa memanas. Sesuatu sepertinya memaksa untuk keluar dari matanya. Dan Ahra memutuskan untuk berjuang menahannya. Meski dengan menahan tangisan itu, rasa sakit justru berpindah ke dadanya. Untuk pertama kalinya dia tersinggung dengan ucapan orang lain.
“Ini ice chocolate-mu nak. Dan kau Ahra-ya, bibi sudah membuatkanmu susu pisang. Sedikit gula bukan?”
Sapaan itu membuat keheningan tercipta diantara Ahra dan Kyuhyun. Tak ada yang berusaha menjawab, bahkan menatap mata bibi itu. Sadar terjadi sesuatu, bibi itu menarik bahu Kyuhyun lembut. Membuat Kyuhyun terkesiap sembari menunjukkan reaksi yang mungkin bisa diartikan ‘ada-apa’.
Kyuhyun memilih mengikuti ajakan bibi itu. Matanya masih belum beralih dari Ahra. Sampai akhirnya bibi itu menghentikan tarikan di lengan Kyuhyun, saat dirasa posisi mereka sudah cukup jauh dari jangkauan pendengaran Ahra.
“Apa yang kau katakan pada Ahra nak?” tanya bibi pemilik kedai. Mata bibi itu mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Ke arah Ahra, namun dengan pandangan iba.
“Bibi, aku kesal padanya. Dia tidak ingat kemarin menyuruhku untuk datang kesini. Padahalerlu lebih dari dua jam untuk sampai tempat ini.”
Bibi itu mengembalikan pandangan ke arah Kyuhyun. Membuat Kyuhyun mau tak mau membalas tatapan itu. “Dia sakit nak.”
Kyuhyun tak begitu mengerti dengan ucapan bibi itu. Matanya menyipit, membuat ekspresi ‘meminta untuk diperjelas maksud ucapan itu’.
“Dia menderita short-term-memory-loss akut. Dia hanya Akan mengingat kejadian yang dia catat di buku kecilnya.” jelas bibi itu singkat. Kyuhyun berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bibi itu. Short term memory loss? Bukankah itu penyakit yang menyerang ingatan. Orang yang menderita penyakit itu akan kehilangan memori-memori jangka pendeknya. Dan itu menjadi sebuah alasan yang cukup kuat kenapa Ahra melupakan janjinya sendiri.
“Dia akan melupakan kejadian atau hal-hal lain, tepat setelah dia bangun tidur. Dan sejak saat dia menyadari itu, dia selalu menuliskan hal-hal yang dianggapnya penting. Mencegah terjadinya kelupaan itu?” tambah bibi itu.
“Yang dianggapnya penting?” ulang Kyuhyun.
Bibi itu menghela napas lembut. Menepuk bahu Kyuhyun, menenangkannya. “Jangan menarik kesimpulan sendiri. Bibi lihat kemarin kalian begitu menikmati obrolan kalian. Dan itu pertama kalinya bibi lihat Ahra sesenang itu. Atau lebih tepatnya pertama kali sejak kecelakaan itu.”
Ragu, Kyuhyun menanyakan hal lain. Meski dia sadar masalah ini sudah terseret ke hal-hal yang sifatnya pribadi. “Kecelakaan apa kalau saya boleh tahu?”
Bibi itu kembali mengalihkan pandangan ke arah Ahra. Menatap gadis yang sedang memainkan ponselnya sembari meminum susu pisangnya. Membuat senyuman kecil di wajah bibi pemilik kedai. Disusul tetesan air mata yang mengalir melewati pipinya. Cepat, dia gunakan punggung tangannya untuk menghalau air mata itu. Berbalik kembali menatap Kyuhyun. “Benar, dua tahun lalu gadis itu mengalami kecelakaan. Benturan keras di kepalanya semula hanya mengambil memorinya selama satu hari kecelakaannya itu. Lalu perlahan dia sulit menerima memori-memori baru yang masuk ke otaknya. Dan sekarang bahkan dia nyaris tidak bisa mengingat kejadian yang terjadi setelah kecelakaan itu untuk jangka panjang.”
Rasa bersalah mulai menjalari Kyuhyun. Ucapannya tadi pasti menyakitkan Ahra. “Apa bisa sembuh? Atau bahkan akan lebih parah?”
“Tidak untuk kesembuhan. Tapi bisa menghambat penjalaran penyakit itu dengan pengobatan yang selama ini dijalani. Dan bibi kira hal ini terjadi karna kami terlambat menyadarinya.”
Kyuhyun kembali mengeryitkan kening. Bibi ini terlalu sering memutar kata-kata. “Kami?”
“Aku dan suamiku satu-satunya keluarga Ahra yang tersisa. Orang tua Ahra meninggal pada kecelakaan itu.”
Kyuhyun menundukkan kepala. Menyesal mengangkat topik sensitif ini. Meski dia bersyukur, dia tahu dari orang lain tanpa perlu mengangkat topik ini di depannya Ahra nantinya. “Tunggu, tapi kemarin Ahra bilang dia takut ayahnya marah.”
Bibi itu hanya tersenyum. Membiarkan Kyuhyun menarik kesimpulannya sendiri. “Aku permisi nak. Suamiku membutuhkan bantuanku. Baik-baiklah dengan Ahra.”
Kyuhyun masih terpaku di tempatnya. Hingga beberapa saat kemudian dia menjentikkan jarinya. Baru mengerti maksud bibi tadi. Ahra nyaris tidak bisa mengingat kejadian yang terjadi setelah kecelakaan itu untuk jangka panjang. Itu artinya dia perlu diingatkan setiap hari kalau orang tuanya meninggal. “Ya Tuhan.”
Kyuhyun memutuskan kembali ke tempatnya duduk semula. Ahra sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu. “Maaf membuatmu menunggu lama.”
Ahra tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya lembut. “Tak apa. Oh iya, bisakah kau bantu menjelaskan bagaimana kita bisa saling kenal? Karena aku benar-benar lupa.”
Nada ketakutan tertangkap jelas dari cara berbicara Ahra. Membuat Kyuhyun sedikit merasa bersalah karena telah membentaknya tadi. Namun bukan raut penyesalan yang ditunjukkannya. Melainkan tawa segar yang sebenarnya sedikit ia paksakan. “Beruntung kau bertemu denganku nona Lee. Tuan baik hati yang mau menolongmu.”
Ahra tertawa. Dia menyimpulkan Kyuhyun sudah tak begitu marah padanya. Perbincangan ringan kembali terjalin di antara mereka. Dengan disertai nada menyindir seperti sebelumnya.
“Ah, Kyuhyun-sshi. Kau harus membantuku mendapatkan tanda tangan Onew oppa. Arra?”
Kyuhyun tersenyum. Dia menarik majalah yang dibawanya tadi. Menyembunyikannya di balik badannya. “Tentu saja. Aku akan membantumu. Asal kau membayarku dengan sesuatu.” Kyuhun mengedipkan matanya. Sengaja melakukannya demi menggoda Ahra.
Ahra menarik tangan nyata sendiri. Menutupi bagian dadanya. “Ya! Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak sudi menjual tubuhku.”
Kyuhyun menggulung majalahnya tadi. Memukulkannya tepat ke kepala Ahra. Membuatnya meringis menahan sakit. “Siapa yang berpikiran jorok. Aku hanya memintamu membayar pesananku.”
Ahra memamerkan sederetan giginya. Meringis menahan sakit, juga rasa malu. “Oke, oke. Besok kita bertemu lagi disini.”
Ahra bangkit. Seperti kemarin, Ahra yang terlebih dulu meninggalkan Kyuhyun.
“Tunggu, Ahra-ya.” tahan Kyuhyun. Ahra berbalik. Melemparkan pandangan tidak suka mendengar panggilan Kyuhyun itu.
“Jangan seenaknya memanggilku Ahra-ya. Itu hanya untuk teman dan keluargaku.” ancam Ahra penuh keyakinan. Kyuhyun hanya terkekeh pelan.
“Biasakan mendengarnya dari mulutku. Karena aku akan terus memanggilmu seperti itu.” cibir Kyuhyun. “Kenapa kau tidak mencatat janji kita Ahra-ya?” tambah Kyuhyun.
“Kalau kita berjodoh, tidak perlu mengingat dengan sebuah catatan. Seperti yang kau bilang, biasakanlah mengingatkanku dengan cerita versimu lagi. Aku akan menunggunya.”
Kyuhyun tersenyum. Ahra benar. Kenangan mereka tak perlu dicatat. Meski ingatan Ahra buruk, setidaknya dia yakin Ahra menyimpan ingatan untuknya secara terpisah, langsung di otaknya. Dan dia menyakinkan diri akan membangun ingatan itu mulai saat ini.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
Sudah dua minggu terakhir Kyuhyun mengunjungi kedai itu. Menjalani rutinitas perkenalan dengan Ahra. Menceritakan, atau lebih tepatnya memperdebatkan, hal-hal sepele. Tertawa melihat kepolosan gadis itu. Bahkan menahan kesal saat gadis itu berubah menyebalkan. Dia mulai menikmati hal itu.
“Kyu, kau sudah tidur?”
Kyuhyun menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tangannya meraba colokan lampu di dekatnya. “Belum hyung. Masuk saja.”
Leeteuk melangkahkan kaki perlahan mendekat ke arah ranjang Kyuhyun. Ekspresinya nampak sedikit serius. “Bagaimana jadwalmu Kyu. Padatkah?”
Leeteuk mencoba membangun pembicaraan. Kyuhyun menggeser tubuhnya. Memberikan sedikit tempat bagi hyungnya untuk sekedar mengistirahatkan diri sejenak. “Tidak. Bisa dibilang aku cukup free. Hyung sendiri, baru selesai syuting dengan MBC?”
Leeteuk duduk di tempat yang diberikan Kyuhyun. Menghembuskan napas teratur, sembari menghapus sedikit peluh yang mengalir di pelipisnya. “Benar. Acara itu mengalami kenaikan rating karena keikutsertaanku. Hahaha.”
“Mana ada seperti itu. Itu hanya orang iseng yang ingin tahu pernikahan seorang paman dengan seorang gadis yang lebih pantas menjadi keponakannya.”
“YA! Dasar kurang ajar!” Leeteuk memukul lengan Kyuhyun sedikit keras. Membuat sang empunya lengan mau tak mau menjauhkan diri sebelum terkena pukulan susulan lain.
“Ada yang mau kaubicarakan denganku hyung?” tanya Kyuhyun lugas. Leeteuk menganggukkan kepalanya paham. Dia mengerti kebiasaan adiknya ini. Tak terlalu menyukai basa-basi.
“Siapa gadis itu?”
Kyuhyun terkesiap mendengar pertanyaan hyungnya itu. Dia sadar tidak menyukai basa-basi. Tapi dengan mengangkat topik secepat ini sedikit mengejutkannya. Dirasakannya napasnya mulai terasa sesak. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Topik tentang Ahra entah kenapa selalu mengganggu sistem kerja tubuhnya.
“Maksudmu Ahra?” Kyuhyun tidak bisa berbohong pada leader Super Junior ini. Entah kenapa dia merasa hyungnya ini menjadi orang kedua yang bisa dipercaya setelah noonanya.
“Namanya Ahra? Apa dia cantik?” selidik Leeteuk.
“Cantik? Sedikit. Tapi masih banyak gadis yang jauh lebih cantik darinya.”
Leeteuk terkekeh mendengar jawaban adiknya ini. Benar-benar jawaban anak kecil. Leeteuk menahan diri untuk bertanya lagi. Entah kenapa dia merasa Kyuhyun akan melanjutkan ceritanya mengenai gadis itu tanpa menunggu pertanyaannya.
“Tapi setahuku, dia itu indah. Aku bahkan belum pernah menemukan keindahan sepertinya.”
Leeteuk menyipitkan mata. Tak mengerti maksud adiknya ini. Sepertinya benar kata pepatah, orang jatuh cinta mendeskripsikan setiap hal selalu dengan sudut pandang yang sulit dimengerti orang lain. “Maksudmu?”
“Keberadaannya. Aku merasa aku mulai terbiasa dengan keberadaanya di sekitarku hyung. Dia melengkapi hidupku. Dan lagi, caranya tertawa itu. Aku menyukainya. Membawaku tertawa bersamanya.”
“Uri maknae benar-benar sedang jatuh cinta.” Pukulan di bahu Kyuhyun beberapa kali membuatnya memalingkan wajah menatap hyungnya itu.
“Bukan. Aku tidak jatuh cinta. Aku baru merasakan apa itu kelemahan.” sanggah Kyuhyun. Leeteuk mencoba menelaah maksud dari ucapan Kyuhyun tadi. Tapi sepertinya itu di luar jangkauan otaknya.
“Kyu, kau membuatku bingung. Kelemahan apa maksudmu?” Leeteuk mulai terlihat tak sabar. Membuat Kyuhyun tertawa puas melihat ekspresi bodoh hyungnya itu.
“Kesempurnaannya, itulah kelemahanku hyung.”
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
“Tuan Cho, apa kau tidak lelah?” tanya Ahra tiba-tiba. Kyuhyun memangkukan dagunya ke tangan kanannya. Memposisikan diri dengan perbincangan yang dirasanya akan cukup menarik.
“Lelah? Tak begitu. Jadwalku tak begitu padat. Aku pernah menjalani yang jauh lebih padat dari saat ini.”
Ahra terkekeh lembut. Sekali lagi, menggunakan tangannya untuk menutupi tawa cantiknya itu. “Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, kau tidak lelah membuatku mengingatmu?”
Kyuhyun menarik diri. Kini punggungnya sudah bersandar sempurna, menyatu dengan kursi yang didudukinya. “Kenapa? Lagipula aku tidak pernah membuatmu mengingatku.”
“Tapi kau selalu membuat cerita untuk pertemuan pertama kita. Kau selalu bersikap, seolah-olah kita ditakdirkan untuk bertemu. Padahal kau tahu, setelah itu aku tidak akan mengingatnya.”
“Ahra-ya…” panggil Kyuhyun lembut. Ahra hanya mengangkat tangannya menghadap ke arah Kyuhyun. Memberi isyarat untuk tidak menyelanya.
“Pertemuan yang kau rancang selalu indah. Mobil mogok, menenangkan diri, kabur dari jadwal, kemudian datang ke kedai ini dan bertemu denganku. Setelah itu, aku akan meminta tanda tangan Onew padamu, dan sebagai imbalan aku mentraktirmu. Selalu seperti itu.”
Tubuh Kyuhyun menegang sempurna mendengar rentetan fakta yang keluar dari bibir Ahra itu. Tapi dia mencoba menahan diri. Saat ini belum waktunya untuk Kyuhyun menyela ucapan Ahra.
“Apa kau tidak lelah. Setidaknya saat melakukan pendekatan dengan gadis lain, kau tidak perlu berpura-pura seperti itu. Kau juga harus menyiapkan alasan yang berbeda supaya pembicaraan kita bisa menarik nantinya.”
“Siapa yang melakukan pendekatan?” nada bicara Kyuhyun terdengar meremehkan. Namun dia yakin itu intonasi yang tepat untuk mengajak Ahra sedikit berpikiran dingin. Dengan sedikit menggodanya.
“Ah… Syukurlah kalau kau hanya sekedar ingin berteman denganku. Setidaknya dengan begitu kau tidak perlu bersusah lagi. Maaf karna aku berpikir yang tidak-tidak.”
Kyuhyun mendengus keras. Napasnya memburu, menahan emosi. “Masih ada satu permintaan maaf lagi.”
“Nde?” Ahra membulatkan mata tak percaya. Apa dia pernah melakukan kesalahan pada Kyuhyun tanpa seingatnya.
“Kau menuduhku berpura-pura. Itu kesalahanmu yang lain.”
Ahra menatap Kyuhyun. Mencoba mengintimidasinya dengan tatapan itu.
“Aku tidak melakukan pendekatan padamu. Itu karna aku merasa tak perlu dekat denganmu untuk menjadikanmu kekasihku.”
Tangan Ahra terkepal sempurna. Menahan emosi mendengar jawaban yang meremehkan ya itu. Dia bukan perempuan gampangan, itulah yang ingin Ahra tegaskan.
“Dengan melihatmu tersenyum, aku merasa aku perlu melindungi senyuman itu. Caramu tertawa, aku juga ingin tawa itu hanya untukku.” ujar Kyuhyun santai.
“Egois!” balas Ahra. Membuat Kyuhyun terkekeh.
“Aku memang akan sangat egois jika berhubungan dengan masalah cinta Ahra-ya. Dan lagi, aku tidak pernah sekalipun berpura-pura. Baik itu padamu atau yang lain.”
Kyuhyun meraih tangan Ahra. Meremasnya lembut. Membuatnya saling bertautan satu sama lain. “Semua alasan itu, aku mengatakan apa adanya. Untuk apa aku berbohong demi meraih hati gadis impianku.”
Ahra menarik tangannya. Kepalanya berpaling ke arah lain. Dia cukup tersentuh dengan kata-kata Kyuhyun tadi. Namun bukan berarti, dia harus menyerah begitu saja. Dia ingin tahu kenapa Kyuhyun seakan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya.
“Bukankah kau pernah bilang, gadis impianmu itu gadis yang mengenalmu sebagai Cho Kyuhyun, pria yang dicintainya? Dan setiap aku bertemu denganmu, aku pasti hanya akan mengingatmu sebagai Kyuhyun Super Junior. Dan kau benci itukan?”
Airmata mulai mengalir dari sudut-sudut mata Ahra. Entah kenapa itu cukup membuat Kyuhyun merasa sesak di dadanya saat melihat itu. “Memang, dan kau sudah mendapatkannya setelah itu.”
“Maksudmu mendapatkannya? Aku tak begitu mengerti maksud ucapanmu tuan.” cecar Ahra ingin tahu. Suaranya sedikit serak. Efek dari tangisan kecilnya tadi.
Kyuhyun meraih tangan Ahra lagi. Kali ini lebih lembut dan terkesan menenangkan. “Saat kau bersamaku, itulah Cho Kyuhyun pria biasa yang kumaksud. Aku bebas menjadi diriku. Aku sering membaca imajinasi fans-fansku yang bilang saat bersama kekasihku, pasti kami hanya akan bermain game bersama. Jawabannya salah. Aku bahkan tak segan membuang game-ku kalau memang kau tak menyukainya. Lagipula bermain game itu sia-sia. Membuang waktu, padahal aku punya sesuatu yang jauh lebih indah.”
Ahra nyaris kehilangan kata-kata. Namun dia memilih untuk bersikap dingin lagi. “Dengan mempermainkanku?”
Kyuhyun menggeleng lembut. Dia memilih bersikap sedikit sabar saat ini. “Dengan mendengar ceritamu, melihat senyumanmu, lalu menikmati tawamu. Semua itu jauh lebih dari keinginanku Ahra-ya.”
Ahra menarik salah satu tangannya. Menutupi mulutnya, mencegah teriakan yang akan keluar dari mulutnya. Ini hal terindah yang pernah ia alami. “Kyuhyun….oppa.” panggilnya lirih.
Kyuhyun bangkit dari tempatnya. Tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya dengan Ahra. Memposisikan diri tepat di samping gadisnya itu.
“Ahra-ya, aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Dan akan seperti itu setiap harinya. Aku akan selalu jatuh cinta padamu.”
Ahra meraih tubuh Kyuhyun. Memeluknya erat. “Terima kasih oppa. Terima kasih karena mencintaiku. Terima kasih karena selalu jatuh cinta padaku. Dan terima kasih karena membuatku jatuh cinta padamu setiap harinya. Aku juga mencintaimu.”
Kyuhyun membalas pelukan itu. Senyuman bahagia tergambar di wajahnya. Gadis ini, akhirnya menjadi miliknya.
“Oh iya, bagaimana kau bisa mengingat semua yang kulakukan? Juga tentang gadis impianku itu?” tanya Kyuhyun, sesaat setelah melepaskan pelukan itu.
Ahra mengalungkan tangannya di lengan Kyuhyun. Bergelayut manja disana. Seolah dengan begitu dia bisa menegaskan pada dirinya sendiri bahwa Kyuhyun itu miliknya. “Bibi. Sudah tiga hari ini bibi melakukannya. Mengingatkanku setiap pagi. Menceritakan bagaimana kau menjadi bagian dari napasku.”
Kyuhyun menarik diri dari gelayutan Ahra. Membuat Ahra, yang nyaris menyenderkan seluruh tubuhnya, terhuyung, hampir terkena sudut meja. “Napas?”
Ahra menarik lagi lengan Kyuhyun. Melakukan hal yang serupa seperti sebelumnya. “Iya napas. Tanpa napas, aku tak akan pernah hidup. Seperti denganmu. Tanpamu, mungkin aku tidak akan hidup.”
“Jangan berkata seperti itu. Aku tidak suka Ahra-ya.”
Ahra tertawa renyah. Merasakan sebuah tangan mengelus rambutnya lembut. Penuh kasih sayang. “Aku mengerti. Tapi seperti itulah deskripsiku untukmu, tuan Cho.”
“Besok, saat kau terbangun dari tidurmu, apa kau akan melupakan momen ini? Melupakanku?” Kyuhyun memandang lurus ke depan. Entah kenapa sedikit sakit menanyakan fakta ini.
“Sayangnya, iya. Aku akan melupakan semua memori jangka pendek, sesaat setelah aku tidur.”
Raut wajah Kyuhyun berubah. Dia sebenarnya sudah tahu jawaban pertanyaannya itu. Namun entah kenapa hati kecilnya berharap akan ada jawaban lain. “Tapi, aku akan jatuh cinta saat kita bertemu. Kemudian aku terlupa, dan kemudian bertemu denganmu lagi. Dan jatuh cinta lagi. Seperti itu, sampai aku benar-benar bosan jatuh cinta padamu. Tapi sepertinya kau harus bersiap, karena aku tak akan pernah bosan untuk jatuh cinta. Terlebih denganmu, tuan Cho.”
Kyuhyun mendekatkan bibirnya ke kening Ahra. Menciumnya penuh rasa hati-hati. Seolah Ahra itu benda yang rapuh. Hatinya sedikit puas mendengar jawaban Ahra tadi. Itu jauh dari harapannya.
“Aku sangat mencintaimu, Ahra-ya. Sangat.”
Ahra hanya bisa menahan tawa mendengarnya. “Aku tahu Kyuhyun-ah. Asal kau tahu, aku jauh lebih mencintaimu.”
Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di wajah Ahra. Membuatnya mau tak mau menatap Kyuhyun. “Maybe you aren’t the most beautiful girl in the world. But thanks for your existence. For make my world more and more beautiful than ever.” Kyuhyun mendekatkan wajahnya. Matanya tertutup sendirinya, begitu juga dengan Ahra. Menua ikan bibirnya lembut di bibir Ahra. Ciuman pertama mereka, dan mungkin akan selalu menjadi ciuman yang pertama untuk setiap ciuman mereka. Hangat, dan indah.
♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥

17 thoughts on “[FF/Gift/OneShot] My Girl

  1. keren.. hehe.. ^^v
    btw, itu kan ahra ngalamin apa short term memory loss,
    wkt jadian ama kyu, bsk’a jgn2 lupa lagi klo kyu itu namja’a.. #plakk (?)
    hoho.. keren..keren.. (y)

  2. annyeong haseyo , dian imnida🙂
    aku new reader alias pembaca baru (?) alias baru nemuin blog ini , hehehe . bangawoyo~🙂

    aseli ceritanya manis banget , bikin hati jadi hangat😀
    ahra sama kyu oppa-nya so sweet banget . jadi pengen jadian sama kyu oppa juga #plak #ngayal tingkat dewa
    intinya fanfict-nya bagus ^^d *komen macam apa ini ? -____-*

  3. numpang baca yah thor !🙂
    Epep nya bagus thor.. Nyentuh banget.
    yah walaupun sii ahra bakaln lupa sama yang dialaminnya, tapi kan ada sii setan jelek aka kyuhyun #dibakar sparkyu
    Yang terus ngingetin🙂
    Author daebakk🙂
    Epep yang lain ditunggu ..😀

  4. Suka bgt !!! Keren >.<
    Eon our different world kapan nih ??? Padahal rame lhoo !!!!! Aku suka bgt ! Twilight tapi cewek yg jadi vampirenya !

  5. SESUATU banget deh nih FF, bikin nyesek gimana gitu (?)
    DAEBAK! DAEBAKK!! DAEBAKKK!!!
    Sumpeh Keren banget..!!!

    Ahra nya walaupun sakit tapi tetep berusaha nginget si Kyu
    Kyu nya walaupun tau Ahra sakit tetep Cint sama si Ahra

    Soo Sweet banget, kalo ampe di dunia nyata ada cerita kyk gini Keren banget deh..
    Pengen ngerasain Cinta kayak gini.. Tulus banget..

    Ah pokoknya nih FF Romantis banget deh, Extra Romance (?)
    Oiya thor FF ‘Our Different World’ kapan mau dilanjit.. Ceritanya seru banget
    kayak Twilight bedanya ini ceweknya yg jadi Vampire..

    Udah deh bercuap2(?)nya, moga author baca komen aku
    soalnya udah paling akhir ini komennya-,-
    Semoga dibaca sama authornya..*berdoa*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s