[BIRTHDAY GIFT-for @shyfly3424 -/ONESHOT] BLIND

Title : Blind

Rating : PG13

Genre : Romance, angst. AU

Long story : Oneshot

Casts : Henry Lau

Kim Jongwoon

Park Soohee –Jungsoo’s sister-

Park jungsoo

Lee Hyukjae

Lee Donghae

Lee Ahra –Hyukjae’s sister-

Lee Jinhyo –Donghae’s sister-

Disclaimer : Cerita ini murni buatan sendiri –dibantu temen sejawat author @vie0404 i love u boo :*- dalam rangka sebagai hadiah ulang tahun untuk hyung tersayang @shyfly3424

Happy birthday hyung, i know its too late, but better late than never right?? Hope u like it🙂 -from maknae @GaemsGyu-

Thanks too : @Vie0404 yg udah mau nyiptain ide-ide FF yg kadang segar kadang busuk (?) ngebantu author dalam berimaaajinasi *ala spongebob*

@ShinsFriend hyung yang udah  ikut berpartisipasi menyumbangkan poster FF, sumpah keren banget !! sebagai ungkapan terima kasih karakter hyung ada di FF ini walau Cuma nongol bentar sama kayak authornya hahahaha

 

WARNING !!

cerita FF ini kemungkinan besar tidak nyambung, diulang, TIDAK NYAMBUNG, karena dipaksakan menjadi satu cerpen dan waktu terbatas (?). namun berhubung ini adalah kerja keras author berhari-hari auhtor berharap readers berkenan memberikan saran dan kritik yang membangun dan diharap dengan sangat untuk tidak melakukan tindakan plagiat. Terima kasih

 

 

Gaun panjang ini benar-benar merepotkan, aku harap ini tidak akan menyulitkanku nanti ketika aku berjalan ke altar.

Astaga itu akan menjadi kenangan yang sangat memalukan jika aku sampai terjatuh di acara pernikahanku sendiri.

Aku menghela napas, memandangi wajah cantik seorang gadis di cermin.

Itu aku, kata suara di dalam kepalaku, ya aku tahu, tapi itu tidak seperti aku, apakah aku pantas bersanding dengannya??

“Soohee-ya.. sudah saatnya..”

Lagi-lagi aku menarik napas panjang.

Aku harus bisa, acara ini harus berjalan lancar.

Perlahan aku berjalan menggandeng tangan appaku, berjalan menuju altar, menemui pria tampan yang akan menjadi suamiku sampai akhir hidupku.

Kedengarannya hiperbolis memang, tapi aku lebih memilih menjadi janda seumur hidup daripada harus hidup bersama lelaki lain.

Pria tampan itu menoleh, menatapku, aku bisa merasakan degup jantungku yang semakin kencang.

Astaga dia benar-benar manusia yang sempurna.

Dia tersenyum padaku, mengulurkan sebelah tangannya kepada appaku untuk mengambil alih.

“Henry… ” bisikku.

“Soohee-ya, ayo bangun…” ujarnya lembut.

Aku mengernyitkan kening, kenapa dia berkata seperti itu?

Henry mengulang perkataannya lagi sembari mengguncangkan badanku.

Astaga kenapa sih dia ini?

***

“Soohee-ya !! ireona !! kau ini bisa-bisanya kau tidur menjelang acara pernikahanmu sendiri !!” ucap seorang namja sedikit keras kepada seorang gadis yang memakai gaun pengantin.

Gadis itu membuka matanya perlahan, terkejut, kepalanya menoleh kesana kemari.

“Apa yang kau cari? Atau siapa?” tanya namja itu, Park Jungsoo, kakak gadis itu.

Murung, seolah menyadari kenyataan yang ada, Soohee hanya menghela napas.

“Eobseoyo..” desahnya pelan.

Soohee berharap mimpinya menjadi kenyataan, menikah dengan satu-satunya pria yang ia cintai adalah impiannya sejak kecil.

Jungsoo hanya memegang bahu adiknya, kebiasaannya untuk mengacak rambut Soohee ditahannya mengingat riasan rambut membutuhkan waktu hampir 2 jam.

“Kau pasti bisa mencintainya, Jongwoon adalah namja yang baik.”

Soohee hanya mengulas senyum yang sedikit dipaksakan.

“Hyung gawat !!” Teriak Hyukjae yang tiba-tiba seolah mendobrak pintu kamar rias Soohee.

Adik dan kakak menoleh bersamaan, mengerutkan dahi penasaran terhadap apa yang telah terjadi sampai membuat seorang Hyukjae yang santai menjadi seperti itu.

“Wae geurae? Kau tidak seharusnya datang kesini, tempatmu ada di kursi penonton.” ujar Jungsoo.

“Ah itu nanti saja, Kyuhyunnie baru saja menerima telepon, Henry, hyung, Henry kecelakaan, nyawanya sudah tidak bisa..” Hyukjae berhenti, menatap Soohee seolah teringat sesuatu.

Namun gadis itu tidak balas menatapnya, matanya menatap kosong, ekspresinya tidak jelas dibaca.

Satu kata terucap pelan dari bibir Soohee.

“Henry…”

Dan kemudian kegelapan pekat mengambil alih kesadarannya.

***

“Soohee-ya.. Gwaenchana?”

Perlahan gadis yang dipanggil Soohee itu membuka matanya.

Yang pertama kali dilihatnya adalah siluet wajah eommanya yang basah oleh airmata dan menatapnya khawatir.

Kemudian tertangkap oleh pandangannya, oppanya Jungsoo, di sisinya yang lain, menangis.

“Aku… apa yang..”

Baru ia akan bertanya tentang apa yang sudah terjadi sehingga membuatnya pingsan dan membuat semuanya cemas namun ingatan baru menghantamnya kuat.

“Henry ..” desisnya.

Semua yang di ruangan itu menahan napas, tegang menanti reaksi Soohee selanjutnya.

“Dia ada di rumah sakit, kau mau melihatnya?” tanya seseorang memecah keheningan.

Soohee, untuk pertama kalinya menyadari keberadaan orang itu, orang yang seharusnya sudah menjadi suaminya saat ini.

“Jong..Jongwoon-oppa… Per..pernikahan..”

“Jangan dipikirkan, aku sudah mengatasinya.” Potong Jongwoon sembari tersenyum, senyum khasnya yang membuat wajahnya semakin tampan. Soohee mungkin mencintainya, mungkin jika eksistensi Henry menghilang dari ingatannya.

“Mianhae..” ujar Soohee pelan.

Bagaimanapun ia merasa bersalah kepada Jongwoon, ini memang pernikahan yang dipaksakan namun Jongwoon tidak pernah memaksanya, namja itu justru menentangnya keras mengetahui bahwa Soohee telah berpacaran dengan teman yang telah dianggapnya sebagai dongsaengnya sendiri, Henry.

Namun jika orang tua sudah berkehendak, apalagi kedua belah pihak, maka sebagai anak mereka hanya bisa pasrah.

“Kurasa dengan kondisimu kau lebih baik istirahat saja..” ujar Jongwoon. Dari suaranya terselip nada cemas.

Soohee menggeleng kuat.

“Aku harus melihatnya, aku yakin itu bukan Henry! Henry baik-baik saja, aku yakin !”

“Soohee-ya..”

“Jangan halangi aku oppa! Eomma dan appa sudah menentang hubunganku dengannya, apa oppa juga akan ikut menentang tindakanku yang ingin menemuinya?!”

Jungsoo memalingkan muka, tidak sanggup mengatakan fakta yang sesungguhnya.

Eomma Soohee, justru menangis lebih keras, menyesali keputusannya dan suaminya, mungkin.

“Soohee-ya… Henry sudah meninggal..”

Semua terpaku. Soohee yang mendengarnya, dan yang lain yang menanti teriakan emosi atau reaksi hiperbolis dari gadis itu.

Jongwoon yang mengatakannya, menatap Soohee penuh iba.

“Soohee..” panggil Jongwoon lembut, namun gadis itu menatapnya kosong.

Lalu suara tawa keluar dari mulutnya.

“Jongwoon-oppa itu sama sekali tidak lucu, aku tidak menyukainya!!”

Soohee bergegas turun dari ranjang, berjalan terhuyung masih tertawa.

“Henry tidak mungkin meninggal.. hahahaha dia tidak mungkin meninggalkanku.. aku tahu itu hahaha Jongwoon-oppa benar-benar tidak punya selera humor, humornya sama sekali tidak lucu..”

Soohee jatuh terduduk, masih tertawa yang dipaksakan.

Jongwoon berusaha menolong Soohee namun tangan Jungsoo menahannya, memberi isyarat dengan gelengan kepala agar tidak mengganggu Soohee.

“Henry pasti masih hidup… dia pasti sedang menungguku.. Aku harus cepat datang..Aku harus cepat….”

Soohee menangis, meratap, suaranya yang menyayat membuat yang lain seolah merasakan apa yang gadis itu rasakan.

Jongwoon hanya bisa menatapnya, ia ingin meringankan beban gadis itu, ia ingin agar dia saja yang menanggungnya, atau jika saja gadis itu menyukainya, ia takkan pernah membuat gadis itu tersakiti. Namun ia tahu sangat tahu, yang diinginkan gadis itu bukanlah dirinya, namun Henry, eksistensi yang sudah melebur dengan jiwanya yang terenggut paksa oleh sebuah tragedi.

***

3 months later

“Soohee-ya…” panggil Jongwoon.

Soohee menoleh, tatapannya garang.
“Jika oppa sekali lagi menyuruhku untuk berhenti mencari Henry, lebih baik aku mencarinya sendiri!”

Jongwoon tersenyum.

“Aku tidak akan menyuruhmu melakukan itu, tapi kau harus menuruti perintahku yang ini. Kau tahu, perutku sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi saat ini, apa kau mau bertanggung jawab kalau aku terbaring di rumah sakit karena menemanimu tapi tidak terurus dan tanpa terima kasih?”

Soohee mengerucutkan bibirnya.

Jongwoon telah menemaninya selama 3 bulan ini. Menemaninya mencari sosok yang orang lain yakini sudah tiada.

Soohee yakin, Henry, belahan hatinya, bagaimanapun masih hidup.

Tidak hanya sekali Jongwoon menganjurkannya untuk berhenti, namun ia tidak akan menyerah, tidak, sebelum perasaan hatinya padam, walau begitu Jongwoon tidak pernah tidak berada di sisinya, menemaninya.

Pernah ia menimbang untuk menyerah dan beralih untuk mencoba mencintai Jongwoon, tapi itu sulit mengingat selisih umur mereka yang terpaut cukup jauh, jongwoon hanya lebih muda setahun dari Jungsoo, oppanya. Maka ia hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, sulit merasakannya sebagai cinta, cinta seperti yang ia rasakan kepada Henry..

Soohee mendesah.

“Baiklah, oppa ingin makan apa, biar aku temani.” Ujar Soohee

“Mwo? Kau tega membiarkanku makan sendiri? Aku akan terlihat sebagai namja kejam yang membiarkan seorang gadis yang telah menemaninya makan kelaparan.” Ujar Jongwoon dengan tampang sok seriusnya.

Tapi ketika Jongwoon menoleh ke sebelahnya tempat seharusnya Soohee berjalan, gadis itu menghilang.

Jongwoon menoleh ke belakang, didapatinya Soohee menatap kosong, tatapan terkejut. Jongwoon menghampirinya.
“Soohee? Gwaenchana?”

Pelan, Soohee menatapnya.

“Henry..” ucaap Soohee yang lebih berupa bisikan.

Jongwoon mengerutkan dahinya.

“Henry!! Henry masih hidup! Dia disini!”

Soohee berbalik, berteriak memanggil Henry dan mengejar sosok yang Jongwoon tidak bahkan tidak yakin apakah itu nyata atau khayalan gadis itu. Namun Jongwoon mengikuti gadis itu, berlari dengan langkah lebih lebar sehingga dalam sekejap ia bisa menyusul gadis itu

Apapun akan ia lakukan untuk menyenangkan gadis itu, walaupun itu membuatnya terluka.

***

Jongwoon mengejar Soohee, dia bilang dia melihat Henry, Jongwoon hampir yakin Soohee hanya berhalusinasi. Ini bukan yang pertama kalinya, sering dalam perjalanan mencari Henry ia berkata telah melihatnya, namun ketika orang itu terkejar, bukan hanya Jongwoon namun Soohee itu juga menyadari kalau ia hanya berhalusinasi.

Soohee menghentikan seorang lelaki yang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita berambut panjang.

Jogwoon menghela napas panjang, siap melihat raut wajah kekecewaan Soohee.

“Henry!!! Omona!! Jeongmal bogosipheoyo!!”

Jongwoon mendongak, melihat raut wajah senang milik Soohee. Sudah lama ia tidak melihat wajah Soohee sesenang itu. Jongwoon menatap wajah lelaki itu, dan ia tahu kali ini gadis itu benar.

“Bagaimana mungkin dia masih hidup sementara jasadnya sudah menjadi abu?” desis Jongwoon.

Soohee memeluk Henry dengan erat, melepaskan semua kerinduan dan cintanya kepada namja itu.

Namun Jongwoon menangkap dari ekspresi Henry, ekspresi keheranan, seolah ia tidak mengenal gadis yang sedang memeluknya.

Henry mendorong Soohee pelan, memaksa gadis itu menghentikan aksi pelukannya.

“Jwoisong hamnida, nuguseyo?”

Shock, itu yang dirasakan Soohee dan Jongwoon.

“Henry, kau jangan bercanda, kau tahu aku sudah mencarimu selama tiga bulan ini. Orang lain tidak percaya kau masih hidup, mereka bersikeras menghentikanku, berkata kalau kau sudah meninggal. Tapi aku yakin kau masih hidup, kenyataannya lihat, aku menemukanmu!!” ujar Soohee dengan wajah yang masih berseri-seri, namun dalam hatinya ia memendam ketakutan melihat respon Henry.

“Henry? Mianhamnida nona, namaku bukan Henry, aku Myungdae.”

Hening.

“a…apa…jangan bercanda, itu sama sekali tidak lucu Mr. Henry Lau!” sergah Soohee.

Jongwoon memegang tangan Soohee, seolah menahan agar gadis itu tidak melakukan tindakan ekstrem.

Gadis yang bersama Henry beringsut maju, menggandeng lengan namja itu dengan mesra, seolah menyatakan bahwa mereka mempunyai hubungan khusus yang tidak bisa dipisahkan.

“Honey, siapa gadis ini? Kau mengenalnya?” tanya gadis itu dengan nada manja yang dibuat-buat.

Henry menggeleng, tapi  tatapannya tidak lepas dari Soohee yang menatapnya nanar.

Ada yang salah, pikirnya.

Henry tahu ia tidak mengingatnya, gadis itu entah siapa tiba-tiba datang lalu memeluknya. Tapi hatinya menolak mengakuinya. Sudut hatinya yang paling dalam merasa ia sangat mengenalnya.

“Kurasa mantan kekasih gadis ini berwajah mirip denganku, dan dia… meninggal? Aku turut berduka cita nona, tapi sekali lagi, aku bukanlah dia. Permisi.”

Henry berbalik.

“Andwae!! Kumohon jangan katakan itu, jebal, jangan berkata kau bukan Henry, aku tahu kau Henry!! Henry kumohon, kembalilah…” Suara Soohee bergetar.

Jongwoon masih menahan tangan Soohee yang hendak menyusul Henry yang terus berjalan tanpa menoleh.

“Lepaskan!! Aku mau mengejar Henry!! Oppa lepaskan aku!!” teriak Soohee, ia tidak peduli lagi orang-orang menatapnya heran atau bahkan menganggapnya sudah gila, yang ia tahu hanya bahwa belahan hatinya masih hidup, dan ia harus mendapatkannya kembali.

“Bukan, ia bukan Henry Soohee-ya, itu Myungdae, dia sendiri tidak mengenalmu, kau jangan seperti ini, kumohon…”

Jongwoon memeluk Soohee, yang masih terus meronta berusaha melepaskan diri di pelukannya.

“Dia Henry!! Dia pasti Henry!! Aku tidak mungkin salah kumohon lepaskan aku, aku tidak mau kehilangan dia lagi !!!”

Jongwoon masih memeluknya erat. Merasakan kesakitan yang lebih dalam melihat orang yang dia cintai tersakiti.

“Jongwoon-oppa? Ada apa? Kenapa Soohee histeris begitu?”

Jongwoon menoleh, melihat Ahra bersama Hyukjae menghampirinya.

“Aku mau menyusul Henry kumohon lepaskan aku !!” teriak Soohee.

“Nanti aku ceritakan, sekarang bisakah kalian… Aigoo!! Soohee!!!”

***

“Jadi, dia bertemu dengan pria yang berwajah mirip Henry? Tapi itu bukan Henry? “

Tanya Hyukjae memastikan.

Jongwoon mengangguk.

Soohee yang pingsan tiba-tiba membuatnya sangat kerepotan, ia tidak tahu harus mengarang cerita apa sehingga ia memilih mengatakan semuanya.

“Tapi terlalu mirip kalau berbeda orang, menurutku lebih mungkin kalau…”

“Henry amnesia ?” tanya Ahra memotong perkataan jongwoon.

“Lebih mungkin seperti itu.” Sahut Jongwoon.

Hening, masing-masing mempunyai pikiran sendiri.

“Rasanya pasti sakit, mendengar berita kematian kekasih sendiri, mencarinya berbulan-bulan, tapi setelah ketemu orang itu tidak mengingatnya, bahkan berjalan bersama gadis lain… Aku tidak bisa membayangkan kalau Minho-ku seperti itu.” Ucap Jinhyo pelan memecah keheningan. Donghae mengelus rambut adiknya perlahan.

“Minho tidak akan meninggalkanmu.” Ujar Donghae.

“Bukankah Jongwoon-oppa yang lebih merasakan sakit?”

Semua menoleh ke arah Ahra.

“A..apa maksudmu Ahra-ya?” tanya Jongwoon sedikit gagap.

Gadis ini sedikit ditakutinya, dengan watak yang mengingatkannya pada karakter Kyuhyun, yang dingin dan tanpa basa-basi.

“Jangan berpura-pura, aku tahu oppa menyukai Soohee, atau bahkan sudah sampai taraf mencintai?”

Telak, berhasil membuat Jongwoon terdiam.

Sekarang perhatian semua orang sukses teralih pada Jongwoon.

Jongwoon mengalihkan pandangan, tidak mau menjawab pertanyaan yang sebenarnya kalimat retoris dari adik kesayangan Hyukjae itu.

“Tapi kalau Jungsoo-hyung tahu…”

“Dia sudah tahu.” Ujar Jongwoon memotong perkataan Donghae dengan nada lelah.

“Jinjja? Bagaimana dia bisa tahu?” tanya Hyukjae.

Jongwoon hanya menatapnya.

“Aku akan melihat keadaan Soohee.”

“Dia hanya berusaha menutupi lukanya dari yang lain, dia hanya ingin menanggungnya sendiri.” Ujar Ahra setelah Jongwoon pergi yang dibalas cubitan dari Hyukjae.

“Sebaiknya kau jangan mengatakan apa-apa lagi.” Ujar Hyukjae.

***

“Hyung, apa kau melihat apa yang kulihat?” tanya Hyukjae.

Jungsoo yang ditanya hanya terpaku menatap sebuah wajah familiar yang kini berjalan mendatanginya.

“Anyyeong haseyo, kalian teman Kim ahjussi? Terima kasih telah datang di acara pertunanganku.”

Baik Jungsoo maupun Hyukjae hanya bisa bengong menatap sang pembicara.

“Henry?” tanya Jungsoo.

Henry hanya mengernyitkan dahi.

“Mian hamnida? Namaku Myungdae, bukan Henry.”

“Ani, ani, kami yakin kau adalah Henry, kau jangan bercanda, aku bisa memaafkanmu kalau kau bertunangan dengan gadis lain dan bukannya adikku, tapi aku tidak bisa memaafkanmu kalau kau berpura-pura tidak mengenal kami. Bagaimana kau bisa hidup astaga kami kira kau sudah meninggal, polisi sudah menemukan jasadmu yang terbakar hangus.”

Henry memundurkan langkahnya, menjaga jarak dari kedua orang yang dirasanya asing.

“Aku…tidak mengerti apa yang kalian katakan.. Mian hamnida, aku harus ke tempat lain.” Ujar Henry lalu terburu-buru berjalan meninggalkan Jungsoo dan Hyukjae, mengantisipasi adanya interupsi.

“Henry? Sudah dua kali ini aku dianggap sebagai Henry, apa aku memang…. Henry?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Sakit, itu jawaban dari kepala Henry. Otaknya tidak mengijinkannya untuk mengingat, belum saatnya.

***

“Sudah kubilang aku tidak mau ikut kalian !!! Kalau Kim-ahjussi sampai tahu…”

“Beliau yang memberikan ijin pada kami, Henry..” ujar Jungsoo pelan.

Henry terdiam.

“Kumohon, hanya tiga hari, tolong turutilah permintaan kami, lebih dari itu kami tidak akan mengganggumu lagi jika kau keberatan dengan kehadiran kami.”  Ucap Jungsoo lagi.

Henry menghela napas panjang.

“Baiklah, jika itu bisa menghentikan kalian untuk menggangguku seumur hidup. Tapi satu hal, jangan panggil aku Henry.”

Jungsoo tersenyum.

Itu bukanlah hal yang memberatkan Entah kenapa ia yakin kalau perkataan Henry barusan hanya bertahan sementara. Henry pasti akan mengingat semuanya. Pasti.

“Kita kemana?” tanya Henry ketika mobil yang mereka naiki memasuki sebuah bangunan seperti apartemen.

“Dorm, mungkin kau tidak ingat, tapi dulu disinilah tempatmu tinggal.” Sahut Hyukjae cepat.

“Mwo?! Kenapa kalian bisa..”

“Ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu, kau hanya perlu melihat-lihat dan mengajukan pertanyaan, tapi kami tidak mengijinkanmu untuk melakukan penolakan dalam bentuk apapun.” Ucap Jungsoo lalu membukakan pintu untuk Henry.

Henry berjalan dalam diam mengikuti Hyukjae dan Jungsoo benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang apa, bagaimana dan mengapa.

Mereka memasuki sebuah ruangan, dimana ketika Henry masuk , semua terdiam, seperti kaset CD yang berhenti berputar. Keadaaan menjadi hening.

“Kenapa kau bawa dia kemari, Hyung? Bukankah itu hanya akan menyakiti Soohee? Untung Soohee tidak disini.” Ujar seseorang, Henry ingat dia pernah bertemu pria itu, dan Soohee? Apakah itu nama gadis yang waktu itu? Jadi benar gadis itu ada sesuatu dengannya?

“Kami sudah membahas ini kemarin, memang waktu kau tidak ada, tapi kami sepakat untuk mencoba mengingatkan Henry, mian, maksudku Justin, pada masa lalunya. Jika dia tidak bisa ingat, yah.. yang penting kita sudah berusaha.”

Henry tidak mendengarkan, ia sibuk mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

Diamatinya wajah-wajah yang balik menatapnya penuh minat, salah satu dari mereka tersenyum kepadanya yang dibalasnya canggung.

“Kau mungkin lupa, kita harus berkenalan dari awal lagi. Aku Donghae. Apa kau sehat err aku tidak terbiasa memanggilmu dengan nama barumu Henry”

“Sudah kubilang aku bukan..”

Henry terdiam, kali ini bukan karena ada yang menyelanya, namun karena ada yang menarik perhatiannya.

Foto-foto itu, banyak terdapat foto dirinya.

Henry berjalan mendekati, mengangkat salah satu foto, di foto itu ia tersenyum lebar sambil merangkul orang-orang yang baru saja ia temui. Ia merasa di foto itu ia sangat bahagia.

PYARR!!!

Semua terkejut ketika Henry menjatuhkan pigura foto yang ia pegang, diikuti dengan pingsannya Henry.

“Henry!!!”

Samar, namun Henry yakin seorang gadis lah yang berteriak memanggil namanya.

***

“Soohee-ya.. tenang saja, Henry baik-baik saja, sebentar lagi dia pasti sadar.” Ujar Jongwoon lembut.

“Kenapa… Kenapa oppa tidak memberitahuku kalau Henry di sini?”

Jongwoon hanya diam, pedih.

“Hyung! Henry sudah sadar!” teriak Hyukjae dari dalam kamar.

Soohee menatap Jongwoon. Jongwoon balas menatapnya, lalu tersenyum.

“Kau pasti ingin bertemu dengannya kan?  Kajja..”

***

“Henry? Gwaenchana? Apa yang kau rasakan?”

Henry membuka matanya perlahan.

Dilihatnya wajah Jungsoo.

“Hyung…?”

Terbelalak, desisan shock, lalu seolah diberi tanda dengungan keheranan terdengar.

“Kau…ingat aku?” tanya Jungsoo ragu.

Henry tertawa.

“Ya tapi aku heran apakah kalau tidak pakai make up wajahmu setua ini hyung? Setahuku wajahmu tidak setua ini. Ah, Donghae-hyung, wajahmu juga semakin tua. Kenapa dengan kalian ini, cepat sekali tua.”

Shock kembali mendominasi ruangan.

“Wae? Kenapa wajah kalian seperti itu?” tanya Henry.

Serentak semua menghela napas panjang dan memasang senyum palsu.

“Henry?” panggil seseorang lirih dari belakang kerumunan.

Seorang gadis berjalan menyeruak kerumunan.

Henry menatapnya bingung, tidak asing, tapi ia lupa siapa.

“Nuguseyo?” tanya Henry.

Gadis itu membelalakkan matanya, mustahil.

“Ah aku ingat, kau adik Jungsoo hyung kan ? Sudah lama tidak bertemu, apa kabar?”

***

Sakit, semakin sakit. Jika ada cara untuk melepaskan rasa sakit ini mungkin lebih baik aku melakukannya.
Aku sudah berusaha, selalu berusaha, namun dia selalu melupakanku.
Aku yang berusaha untuk selalu mendampinginya, namun keberadaanku dilupakan.
Menyerah, pasrah, itu adalah pilihan yang harus kulakukan.

***

“Oppa !!”

Jungsoo tersenyum, membentangkan kedua tangannya, menyambut satu-satunya adik kesayangan ke dalam pelukannya.

“Kau senang bersama Henry?”

Soohee menunjukkan raut wajah cemberut.

“Aku benci dia, bisa-bisanya dia mempermainkanku dengan berpura-pura melupakanku!”

“Bukan hanya kau, tapi semua juga ditipunya kan? Oya, dimana dia? Kenapa tidak mampir ke rumah?”

“Dia bilang dia sedang ada urusan, ah ya, aku mau pergi lagi, Cuma sebentar, aku pergi dulu oppa !”

“Ya! Kau mau kemana?” teriak jungsoo pada Soohee yang semakin menjauh.

“Ke rumah Jongwoon-oppa!! Sudah lama aku tidak melihatnya!” Soohee balas teriak.

Jungsoo ingin menghentikannya, namun dibiarkannya Soohee pergi, jika gadis itu kembali, ada tanggung jawab baru yang ditanggungnya.

***

Anyyeong Soohee-ya ^^

Kurasa kau membaca ini setelah aku di London, benar?

Bukannya aku ingin pergi tanpa pamit, tapi maafkan aku karena kelemahanku, aku tidak sanggup berpamitan denganmu.

Aku akan kembali ke Korea, walau aku tidak tahu kapan.

Aku juga tidak tahu apakah kau tahu, namun satu hal yang belum sempat aku katakan padamu selain kalimat perpisahan adalah.. bahwa aku menyayangimu Soohee-ya.

Aku tidak berani mengucapkan kata C- itu, aku menyayangimu, bukan sayang seperti yang kau rasakan pada Jungsoo-hyung, tapi sama seperti rasa sayang yag kau rasakan kepada Henry.

Tidak perlu minta maaf, aku yang terlalu naif, Soohee-ya

Aku sangat tahu betapa kau sangat sangat sangat mencintai Henry, itu adlah kelemahanku yang lain, aku tidak sanggup menyingkirkan pesonamu kk ^^

Kau ingat saat kau minta ijin padaku untuk pergi bersama Henry dua hari? Saat itu sebenarnya aku ingin mengajakmu ke London, aku ingin bertindak egois, menginginkan agar kau hanya menjadi milikku, membuatmu berpaling padaku, namun dengan wajah polosmu kau meminta ijin padaKU , aku yang tidak mempunyai hubungan apa-apa denganmu, oke, mungkin kita pernah akan menjadi suami-istri, namun sama saja itu tidak ada hubungan, bagaimana mungkin aku bisa menolak permintaanmu?

Bukankah cinta penuh pengorbanan? Aku sudah berkorban untuk cintaku, namun aku tidak menyesal. Yang aku inginkan adalah kebahagiaanmu seutuhnya. Suatu saat nanti jika kita bertemu, itu berarti aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri.

Bilang Henry, aku akan membunuhnya jika dia menyakitimu.

Dari seseorang yang selalu mendukungmu

Jongwoon

***

Jungsoo memeluk Soohee erat, berusaha menenangkan gadis itu, gadis yang kehilangan salah satu penopangnya.

“Uljima Soohee-ya, ini sudah menjadi keputusannya…”

“Jongwoon-oppa..Mianhae…”

***

14 thoughts on “[BIRTHDAY GIFT-for @shyfly3424 -/ONESHOT] BLIND

  1. annyeon ara-ya.. Aku reader baru di sini.

    Huweeeeee… Kenapa nasib suami aku ngenes bgt di sini… ;A;
    aku kira endingnya bakal ama ecung, tp ternyata ama henry lagi. Yah, ecung ama aku aja lah ya #plak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s