[FF/Oneshot/Nc17] Trouble Maker (Super Junior’s Version)

Author : AraLee

Title : Trouble Maker (Super Junior’s Version)

Cast : Lee Hyukjae, Lee Ahra (OC), Cho Kyuhyun

Genre : Romance, angst, tragedy, violence, AU

Rating : nc 17

Disclaimer : FF ini dibuat berdasarkan MV trouble maker yang diedit seperlunya (?) semoga kejadiannya tidak begitu benaar adanya. Segala alur yag dibuat berdasarkan imajinasi author dari MV tersebut *sayang kenapa MV  nya pake Hyunseung T,T*

Thanks to : Shindong hyung , tisa , @hwaeji / @ShinsFriend yang udah ngebikinin poster setiap FF aku hahahaha i love u pull~~

Note : FF ini pernah dipublish di blog author

WARNING !!

Do not copy this story, setiap komen dan like akan dihargai author untuk merevisi FF selanjutnya.

Mereka bertemu dalam koridor hotel, saling menahan tatapan satu sama lain.

Jika ada lelaki yang menarik perhatianmu, jika dia juga menatapmu, maka tahanlah tatapanmu selama beberapa detik.

Sampai kemudian mereka saling melewati, tatapan itu masih terus bertahan.

***

“Permisi, apa tempat ini sudah ada orang?” tanya seorang namja dengan suaranya yang renyah.

Gadis itu mendongak, tersenyum.

“Apa kau melihat ada orang?” tanya gadis itu balik.

Namja itu ikut tersenyum.

“Itu berarti aku boleh duduk?”

Belum gadis itu menjawab namja itu sudah mendahuluinya dengan duduk manis.

“Lee Hyukjae, boleh tahu namamu agasshi?” tanya namja yang bernama Hyukjae itu sembari mengulurkan tangannya.

Gadis itu mengangkat tangannya untuk menutupi tawanya.

“Apa kau sedang berusaha merayuku , Hyukjae-ssi?” tanya gadis itu sambil mengerlingkan sebelah matanya diiringi cengiran lebar Hyukjae.

Gadis itu menyambut uluran tangan Hyukjae.

“Lee Ahra.” Ujar gadis itu.

“Kenapa seorang gadis cantik sepertimu duduk sendiri? Ini sudah hampir larut malam, bukan? Orang bisa berpikir yang tidak-tidak tentangmu.”

Ahra menutup buku yang dibacanya, menunjukkan sedikit rasa tersinggung dalam gerakannya.

“Jadi apa kau juga menganggapku seperti anggapan orang terhadap gadis yang duduk sendiri malam-malam, Hyukjae-ssi? Karena itu kau menghampiriku? Maaf saja aku bukan gadis yang seperti itu, permisi.”

Ahra membereskan barang-barangnya, namun ketika ia hendak berdiri Hyukjae menahan tangannya.

“Aku tidak bermaksud menyinggungmu, mianhae, aku hanya butuh teman bicara dan kulihat kau sedang senggang, tapi jika karena ucapanku tadi membuatmu sibuk, aku tidak akan menahanmu.”

Ahra menatap Hyukjae tajam, namun kemudian tatapannya melunak.

“Aku tidak suka candaanmu yang seperti itu Hyukjae-ssi.” Ujar Ahra lalu kembali duduk.

Hyukjae tersenyum lega.

“Aku janji tidak akan ada yang kedua kali.” Sahut Hyukjae.

Ahra mengangkat sebelah alisnya.

“Sepertinya kau sangat yakin kita akan mengobrol untuk yang kedua kali.”

Lagi, Hyukjae tersenyum.

Imut, itu kesan yang didapat Ahra, seakan membuatnya untuk ikut tersenyum.

“Tidak hanya dua kali atau tiga kali, tapi beratus-ratus kali.” Jawab Hyukjae yakin.

“Rasa percaya diri yang mengagumkan.” Gumam Ahra sedikit melecehkan namun hanya disambut cengiran dari Hyukjae.

“Jadi Ahra-ssi, apakah sekarang kita berteman?” tanya Hyukjae.

Ahra menatap Hyukjae lekat, tampan, gumamnya dalam hati.

Tidak tampan seperti pandangan orang umum, namun Hyukjae mempunyai kelebihan yang lain.

Sorot matanya tajam, bisa berarti dia adalah orang yang tidak mudah menyerah, garis rahangnya tajam, menimbulka kesan tersendiri ditambah lagi bibir Hyukjae yang..

“Apa yang kau lihat agasshi?” tanya Hyukjae membuyarkan bayangan Ahra.

Refleks, Ahra menggelengkan kepalanya.

“Geureom… Kita berteman.”

***

“Bagaimana dengan target? kau tahu deadline mu semakin sempit.”

“Ne, arrasseo.. Aku sedang mencari celahnya. Kau tahu sendiri membunuh sesama assassin itu sulit.”

“Menurutku tidak sesulit itu, tembak saja dia ketika kalian sedang bercinta, mudah kan?”

“Kau gila !! Aku tidak akan bercinta dengan siapapun selain..selain..”

“..denganku?”

Orang di seberang tertawa keras.

“Aku hanya bercanda, jagi… Jalankan saja, kau tahu sendiri apa resikonya jika sampai gagal, aku bahkan tidak bisa menolongmu..”

Terdiam, lalu terdengar helaan napas panjang.

“Aku tidak akan gagal.”

***

“Ahra-ya!!” seru Hyukjae tepat ketika Ahra menutup pintu kamar hotelnya.

Ahra menoleh lalu tersenyum.

Berteman dengan Hyukjae membuat hari-harinya ceria. Pria itu selalu berhasil membuatnya tertawa, tersenyum minimal.

“Kau mau kemana?” tanya Hyukjae setelah dekat.

“Makan. Kau sudah makan?”

Hyukjae tersenyum lebar.

“Kalau begitu ikut aku, kajja!”

Hyukjae menarik tangan Ahra, menggandengnya untuk berjalan tepat di sisi Hyukjae.

“Aku tidak akan kabur, tenang saja, jadi kau boleh melepaskan tanganku Hyukjae-ssi..”

Hyukjae menoleh.

“Aku hanya ingin memastikan diriku bahwa kau aman berjalan bersamaku, Ahra-ya..”

Tersentuh, itu yang dirasakan Ahra.

Baru Ahra akan bertanya mereka akan menuju kemana, sebuah dekorasi ruangan yang mengagumkan membuatnya terdiam.

“Kau menyukainya?” tanya Hyukjae sambil menggiring Ahra untuk duduk.

“Apa…yang…”

Hyukjae hanya tersenyum, lalu ketika dia menoleh ke tempat para pemain musik duduk, musik klasik yang terdengar romantis perlahan mengalun merdu.

Terkejut, ini yang kali ini dirasakan Ahra.

Hyukjae memegang kedua tangan Ahra.

“Aku lebih suka mendengar pendapatmu, apa kau memilih mendengarnya sekarang atau kau harus mengisi perutmu dulu?”

“Apa yang mesti kudengar?” tanya Ahra berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Hyukjae.

“Kau pilih makan dulu atau makan nanti?” Hyukjae kembali bertanya.

Ahra terdiam, menimbang pilihan mana yang dirasanya menguntungkannya.

“Nanti, aku ingin mendengar apapun yang ingin kau katakan terlebih dulu.” Jawb Ahra.

Hyukjae mendecak.

“Sudah kuduga kau adalah wanita yang cerdas, dengan begitu keuntungan ada di pihakmu ck..”

Ahra  tersenyum.

“Jigeum marhaebwa..” ujar Ahra dengan suara sok memerintah.

Dan raut wajah Hyukjae berubah, lebih serius, menatap Ahra tepat ke manik mata, entah kenapa itu membuat Ahra sedikit berdebar. Ahra tahu ia tidak boleh merasakan itu, tapi ia tidak bisa menahan debaran jantungnya.

“Ahra-ya… Aku tahu ini terdengar mustahil. Kau boleh menganggapku rendahan, playboy atau apapun julukan yang ingin kau sematkan kepadaku. Tapi..”

Hyukjae berhenti untuk menarik napas panjang.

“Sejak pertama kali melihatmu sampai kemudian berkenalan denganmu aku sudah mempunyai perasaan khusus padamu.”  Ujar Hyukjae cepat daam satu tarikan napas.

Ahra mengangkat sebelah alisnya.

“Kau berkata cepat sekali seperti penyanyi rap, aku tidak bisa menangkap satu kata pun.” Ujar Ahra lalu tersenyum geli. Ia sangat menikmati ekspresi Hyukjae saat ini. Yang terlihat seperti gugup, tidak seperti pembawaan dirinya yang biasanya santai.

Hyukjae kembali menarik napas panjang.

“Aku mencintaimu.. apa kau mau menjadi.. ah tidak.. apa aku boleh menjadi kekasihmu?”

***

“Bukankah itu bagus?” ujar suara di seberang memecah keheningan.

“Apa maksudmu bagus?”

“Itu akan lebih mudah bagimu untuk membunuhnya. Itu yang menjadi target misimu kan?”

Ahra mendecak kesal. Laki-laki ini memang sangat tidak berperasaan.

“Tapi..”

“Atau kau telah jatuh cinta pada targetmu sendiri hmm? Sudah bisa menduakanku rupanya.” Potong pria itu.

Jika sekarang mereka bertatap muka dan bukannya bicara lewat telepon, Ahra sudah pasti akan memukul pria ini.

“Aku akan membunuhnya, sebelum deadline. Kau puas?”

Tertawa.

“Aku menanti hasil yang menggembirakan,Honey..”

***

“Hyukkie…” desah Ahra di sela ciumannya dengan Hyukjae.

Tangannya meremas rambut pirang kekuningan milik Hyukjae, sementara tangan Hyukjae mengelus punggung Ahra.

Lembut, Hyukjae melahap bibir Ahra, mengulumnya.

Ciuman ini bukan yang pertama kali untuk mereka, namun tiap kali melakukan ini mereka selalu menginginkan lebih dari yang biasa mereka lakukan.

Jemari Ahra menuruni pundak Hyukjae pelan, mengelus dada bidang Hyukjae yang tidak tertutupi sehelai benang pun.

“Eerrrmmmhhh..” geram Hyukjae menikmati sentuhan jemari Ahra.

Ciuman mereka bertambah panas, Hyukjae menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Ahra, mencari-cari lidah mungil gadis itu untuk mengajaknya bertukar saliva.

Baru ketika Hyukjae akan meremas pantat Ahra, ponselnya berdering.

Dengan enggan Hyukjae melepaskan ciumannya, nada yang berdering adalah nada khusus yang sengaja ia pasang untuk panggilan dari orang-orang tertentu.

Ahra menahan kepala Hyukjae, kembali mendekatkannya dengan kepalanya agar ia mudah untuk mencium Hyukjae.

Hyukjae mengecupnya sekilas.

“Sebentar…” bisik Hyukjae yang disambut erangan kekecewaan Ahra.

Hyukjae tertawa kecil lalu berdiri agak jauh untuk mengangkat teleponnya.

Ahra tidak tahu siapa yang menelepon dan apa yang dibicarakan karena Hyukjae hanya menjawab singkat dan didominasi dengan kata ‘ne’ atau ‘ aniyo’.

“Nuguseyo?” tanya Ahra.

Hyukjae kembali menghampiri Ahra, menyambut ciuman gadis itu sebelum menjawab pertanyaannya.

“Aku ada urusan sebentar, orang tadi ingin bertemu denganku. Dia berada di lobi hotel ini, kau mau kembali ke kamarmu atau menunggu di sini hmm?” tanya Hyukjae sembari mencium semua lekuk wajah Ahra, dahi, mata, hidung, pipi dan dagu, sengaja dilewatkannya bibir Ahra.

“Berapa lama?” tanya Ahra sambil menahan pipi Hyukjae dan kembali melumat bibir Hyukjae.

Hyukjae menyambutnya, cukup lama mereka berpagutan panas sebelum Hyukjae kembali menyudahi ciuman mereka.

“Aku segera kembali, tunggulah disini, arrasseo?”

Hyukjae berdiri, memakai kemeja dan jasnya. Ahra ikut bangun, membantunya memakaikan dasi.

“Haruskah berpakaian formal seperti ini hanya untuk pertemuan singkat di lobi hotel?” tanya Ahra, sedikit sindiran terdengar dalam suaranya.

Hyukjae tersenyum lalu mengecup bibir Ahra.

“Aku ingin kau di sini saat aku kembali.” Ujar Hyukjae lalu meninggalkan kamar.

Ahra bergegas mengunci pintu kamar Hyukjae, bukan apa-apa tapi ini kesempatannya untuk merusak senjata Hyukjae. Menurut informasi yang ia dapat, spesialisasi Hyukjae adalah senjata api.

Ahra menggeledah seluruh kamar Hyukjae, mendapati beberapa jenis senjata api yang menurutnya langka di pasaran.

Ahra bersiul pelan lalu kembali mengerjakan tugasnya, beberapa peluru ia kosongkan, beberapa bagian senjata ia rusak  agar tidak bisa terpasang, beberapa sengaja tidak ia pasang safety-nya-ia berharap Hyukjae adalah orang yang ceroboh sehingga tidak mengecek safety-nya apakah sudah terpasang atau belum-

Satu lagi pistol jenis revolver ia temukan di laci tempat underwear Hyukjae.

Ahra tersenyum, sepertinya lebih baik membawa pistol ini.

Memang resiko tinggi jika Hyukjae tahu salah satu senjatanya hilang, namun Ahra menggantinya dengan pistol jenis lain, berharap Hyukjae lupa senjata jenis apa yang diletakkannya di laci underwear.

Bergegas ia mengembalikan semua senjata yang sudah dirusaknya tersebut ke tempatnya semula, lalu membuka pintu kamar hyukjae, kembali ke kamarnya untuk menyimpan revolver.

Ahra sedikit terhenyak heran ketika membuka kamarnya gordennya sedikit tersingkap, seolah ada orang yang baru saja keluar dari kamarnya lewat jendela.

Menyiagakan revolver yang dibawanya, Ahra berjalan mendekati jendela. Diperiksanya semua sudut namun tidak ada orang di luar, sama sekali.

“Mungkin paranoidku kambuh..” gumamnya pelan tidak yakin.

Ahra menyimpan revolvernya di bawah bantal tempat tidurnya agar mudah diambil. Diperiksanya seluruh sudut ruangan kamarnya, mencari tahu apakah ada yang hilang atau berpindah.

Ahra tidak menemukan adanya keanehan pada kamarnya, ia pun bernapas lega.

Dilihatnya laptop yang menampilkan kamar Hyukjae, dimana ia memasang penyadap dan kamera tersembunyi, ia terkejut, Hyukjae sudah kembali. Ia harus segera kembali ke sana sebelum Hyukjae tahu isi kamarnya.

“Darimana saja? Kubilang kau harus ada di sini saat aku kembali.” Hyukjae menatap Ahra dingin.

Ahra hanya tersenyum, berjalan pelan berusaha mengeluarkan aura seksi sebelum akhirnya ia mengalungkan kedua lengannya di leher Hyukjae.

“Aku tidak berselingkuh kalau itu yang kau takutkan.” Ujar Ahra.

Hyukjae langsung menyambar bibir Ahra, mengulumnya, menghisapnya dengan kuat sampai terdengar suara decakan erotis. Tangannya meremas kedua pantat Ahra dengan keras menyebabkan gadis itu melenguh dalam ciumannya.

“Kau hanya boleh menjadi milikku, selamanya.” Geram Hyukjae lalu kembali melahap bibir Ahra lebih ganas.

***

“Kuharap kau tidak lupa besok adalah deadlinemu. Apa kau yakin sanggup menyelesaikannya sendiri? Yakin tidak membutuhkan bantuanku?”

Ahra menoleh ke kursi kemudi, menatap tajam orang yang sudah beberapa hari ini berinteraksi dengannya hanya lewat telepon, yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri, Cho kyuhyun.

“Tidak bisakah kita membicarakan hal lain saat kita hanya berdua? Selalu saja misi yang kau bicarakan, aku bosan.”

Kyuhyun tertawa.

“Hal lain seperti apa yang ingin kau bicarakan berdua denganku?”

Ahra mendecak kesal, sedikit kecewa dengan pria yang telah ia pilih karena pria itu sama sekali tidak pernah memahami perasaannya sebagai wanita.

“Ne, arrasseo, lain kali kita akan membicarakan hal yang hanya ingin kau bicarakan denganku. Untuk sekarang kurasa kau harus berkonsentrasi pada misimu karena kita sudah berada di depan hotelmu, agasshi..”

Ahra tidak menjawab, tangannya terulur untuk membuka pintu mobil ketika tangan Kyuhyun memalingkan wajah Ahra lalu menciumnya lembut.

Shock yang dirasakan Ahra cukup lama, pria ini tidak pernah menciumnya lebih dulu, selalu ia yang memulai ciuman.

Namun ketika Ahra ingin membalas ciuman itu, Kyuhyun mengakhirinya sepihak.

Selintas ditangkap Ahra tatapan sendu yang jarang ditunjukkan Kyuhyun, tapi sedetik kemudian tatapan itu kembali dingin, ekspresi datar yang biasa ditunjukkan Kyuhyun.

“Semoga berhasil, jagi..” bisik Kyuhyun tepat sebelum Ahra menutup pintu mobil.

Ahra bahkan tidak yakin apa Kyuhyun benar mengatakannnya ataukah hanya pikiran alam bawah sadarnya yang menginginkan Kyuhyun mengatakan kalimat itu.

Dan di kejauhan seseorang menatapnya dengan tatapan sendu.

***

Ahra terkejut mendapati Hyukjae berdiri di depan kamarnya.

Untung, pikirnya, semua peralatan untuk menyadap sudah dibereskannya dan disimpannya.

Lebih cepat lebih baik, bukankah begitu?

Ahra berkesimpulan untuk menghabisi Hyukjae hari ini.

“Hyukkie!! Kau menungguku?” tanya Ahra dengan senyum lebar.

Sedetik Ahra merasa Hyukjae menatapnya dingin sebelum akhirnya cengiran lebar khas Hyukjae membuatnya ragu.

Ahra memeluk Hyukjae lalu dengan cekatan membuka kunci pintu kamarnya. Mendorong Hyukjae ke dalam memasuki kamarnya.

Ahra berjalan mendekati Hyukjae dengan langkah seduktif.

“Kenapa? Tatapanmu mengerikan, tahu?”

Hyukjae mengelus pipi Ahra, sengaja dijauhkannya bibirnya ketika Ahra hendak menciumnya.

“Kau tidak mau menciumku lagi?” tanya Ahra.

Hyukjae tersenyum.

“Siapa bilang?”

Dan tanpa diduga Hyukjae mengecup leher Ahra, membuat gadis itu mendesah pelan.

Tangan Hyukjae bergerak mengelus perut Ahra, gadis itu sedikit menggelinjang.

“Hyukkie..” desah Ahra memanggil namanya.

Hyukjae menjawab dengan kuluman bibirnya di leher Ahra.

Kedua tangan Ahra mengangkat kepala Hyukjae, kecupan-kecupan ringan ia daratkan ke bibir Hyukjae sebelum kemudian memulai ciuman panas.

Hyukjae membalas, ia lebih tertarik untuk mengeksplor tubuh Ahra yang lain.

Kebiasaan Ahra memakai rok mini menguntungkannya, tangannya menyusup ke balik roknya, mengelus paha Ahra. Ketika tangannya ingin bergerak lebih, tangan Ahra menahannya, mengeluarkannya dari balik roknya.

Hyukjae tersenyum dalam ciumannya, gadis ini belum mengijinkannya, pikirnya.

Namun sedetik kemudian Hyukjae melepas ciumannya, dan mengumpat keras.

Ahra tidak mengijinkannya berbuat lebih, namun gadis itu telah berbuat lebih kepadanya.

Entah sejak kapan resleting celananya telah terbuka dan jemari Ahra dengan lihai mengelus alat vitalnya yang mulai bangkit.

“Ahra-yaaa..” desahnya merasa kewalahan dengan kenikmatan yang diberikan Ahra.

Ahra meremas junior Hyukjae perlahan, lalu menyambar bibir Hyukjae, membiarkan pria itu melampiaskan dendamnya pada bibirnya.

Tangan Hyukjae ingin menyentuh tubuh Ahra, namun Hyukjae sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya. Dan perlahan Ahra menjauh darinya.

Ahra tersenyum, namun bukan senyum yang biasa ditunjukkan kepadanya, senyum ini lebih dingin, lebih terasa kejam.

“Menikmati servis terakhir dariku, Tuan Lee? Aku sungguh minta maaf tidak bisa memuaskanmu, mungkin nanti kalau kita bertemu di dimensi lain.” Ujar Ahra dingin.

Hyukjae balas menatapnya tajam ia tahu ini akan segera tiba, namun ia tidak menyangka gadis ini ternyata melakukannya dengan lebih cepat.

Ahra mengambil bensin yang sudah dari dulu ia siapkan untuk misi ini, disiramnya bensin itu ke sekeliling Hyukjae, mencipratkannya sedikit ke badan Hyukjae.

“Aku tahu kau tidak mau melakukan ini, nona Lee.” Ucap Hyukjae, cukup untuk menghentikan Ahra untuk menyalakan api.

“Seperti yang aku katakan padamu dulu, kepercayaan dirimu sangat tinggi Lee Hyukjae, tapi aku penasaran dengan argumenmu tentang itu. Marhaebwa.”

Ahra memainkan korek api di tangannya, menyalakannya-mematikannya.

“Kau mencintaiku, sedikit, walau kau lebih mencintai namja itu, yang mengantarmu dengan mobil tadi.”

Ucapan itu berhasil membuat Ahra terkejut sebentar. Bagaimana mungkin Hyukjae tahu mengenai Kyuhyun.

“Kau terkejut aku tahu soal itu? Aku tahu kau keberatan dengan misi ini Ahra-ya..”

Suara Hyukjae melunak.

“Aku juga bisa membunuhmu saat ini.” Hyukjae mengambil revolver yag dulu disimpan Ahra di bawah bantalnya.

Baboya ! Ahra mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Bergegas dinyalakan apinya.

“Aku memiliki misi yang sama sepertimu, membunuhmu. Tapi aku tidak akan melakukannya, tidak jika itu membuatku kehilangan gadis yang aku cintai.”

Terkejut, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya, Ahra menatap Hyukjae.

“Aku tidak mencintaimu Tuan Lee, dan aku tahu kau pun begitu jadi jangan berusaha membujukku untuk tidak membunuhmu !” teriak Ahra sembari mengacungkan korek apinya, siap untuk menjatuhkannya kapan saja.

Hyukjae menatap Ahra lembut.

“Bunuh aku, tapi itu akan membuatmu menyesal, kau mencintaiku, aku tahu itu, aku bisa merasakannya dari setiap ciumanmu, tatapanmu, walau kau mungkin tidak menyadarinya. Hentikan ini semua, lepaskan aku dan aku akan melindungimu, kita akan berjuang bersama.”

Ahra menurunkan korek apinya sedikit, menimbang perkataan Hyukjae.

“Aku…”

Tiba-tiba pintu terbuka.

“ANDWAE!!!” teriak Hyukjae bersamaan dengan bunyi tembakan pistol.

Hyukjae melihatnya, ketika tubuh gadis yang dicintainya terhuyung dan jatuh dengan mata yang menatapnya nanar. Gadis itu bahkan tidak sempat melihat siapa yang telah mengakhiri hidupnya.

“KAU!! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA!! BUKANKAH KAU INI KEKASIHNYA HAH?!!” teriak Hyukjae frustasi.

Air mata kesedihan dan keringat amarah bercampur membasahi wajahnya.

Orang yang diajak bicara olehnya,tidak lain adalah Cho Kyuhyun, hanya tersenyum sinis.

“Dalam misi tidak boleh menyinggung hubungan asmara, itu aturan utama. Misiku adalah membunuhnya.”

Hyukjae menatap Kyuhyun tajam.

“Kenapa? Kau jatuh cinta kepadanya? Sayang sekali cintanya hanya untukku.”

“Kau laki-laki busuk!” umpat Hyukjae.

Kyuhyun hanya tertawa meremehkan.

“Itu hanyalah sebaris kalimat yang diucapkan oleh perempuan, Lee Hyukjae.. Kau tenang saja, sebentar lagi kau akan bergabung dengannya. Titip salamku untuknya.”

Hyukjae menodongkan pistolnya ke arah Kyuhyun tepat ketika Kyuhyun juga menodongkan pistolnya.

“Hmph… Kita lihat pisau siapa yang lebih tajam” ujar Kyuhyun mengutip kalimat ungkapan.

DORR!!!!

***

Ia bergerak mendekati tubuh gadis yang sudah tidak bernyawa itu lagi.

Digendongnya tubuh gadis itu ke ranjang, dielusnya pipi gadis itu.

Dingin, itu kesan yang didapatnya.

“Jeongmal mianhae…”

Sebutir airmata jatuh menetesi pipi gadis diikuti tetesan selanjutnya.

“Aku benar-benar mencintaimu, maaf aku tidak pernah menunjukkannya, aku tidak berharap kau memaafkan perbuatanku ini…”

Untuk kali ini ia melepas topeng dinginnya, membiarkan emosinya meluap, ia, Cho Kyuhyun, untuk pertama kali menangis karena kehilangan.

Kyuhyun mencium bibir Ahra yang sudah membiru dengan lembut, seolah ia tidak pernah menghargai sebuah ciuman sebelumnya.

Dan setelahnya ia mengarahkan pistolnya ke kepalanya sendiri.

Tersenyum pada jasad Ahra sebelum akhirnya menarik pelatuknya sendiri.

DORR!!!

***

“Ini target misimu selanjutnya.”

Kyuhyun menyerahkan map coklat kepada Ahra. Gadis itu membukanya, didapatinya selembar foto dengan wajah asing.

“Dia orang korea kan?” tanya Ahra.

Tampan, lanjutnya dalam benaknya.

“Kau bisa melihat data-data tentangnya di dalamnya. Waktumu satu minggu.”

“Kenapa bukan kau saja yang membunuhnya? Pasti bisa kau lakukan dengan cepat kan? Lagipula kenapa dia harus dibunuh?” tanya Ahra lagi.

“Misimu hanya untuk membunuhnya, bukan untuk bertanya, arrasseo?”

sementara itu di tempat lain pada waktu yang sama…

Hyukjae mengamati foto yang diberikan atasannya.

“Dua foto ini.. gadis yang sama?” tanyanya.

“Ya, dalam menjalankan misi terkadang ia harus menyamar seperti itu, kau tidak akan mengenalinya jika dia berpakaian biasa bukan?”

Hyukjae mengamati kedua foto gadis itu, cantik, pikirnya.

“Kenapa aku harus membunuhnya?” tanya Hyukjae.

“Kenapa? Apa kau tertarik padanya? Dia bukan tipemu kan, Hyuk-ah?”

Diam,

“Yang jelas misimu hanya untuk melenyapkannya, waktumu hanya satu minggu. Arrasseo?”

Keduanya, Ahra maupun Hyukjae, di tempat yang berbeda, mengangguk bersamaan.

“Ne, algaesseo..”

***

47 thoughts on “[FF/Oneshot/Nc17] Trouble Maker (Super Junior’s Version)

  1. Pingback: Trouble Maker (Super Junior’s Version) « Korean NC's

  2. debakk..akhirnya ga ketebak kyu jg bnh diri.yah…mati smua dong. …

    tp msh g ngerti kenapa hyuk hrs ngebunuh ahra. padahal klo di before story kan target utamanya kyuhyun.

  3. Keren bgt.!
    Kyaa~
    plg suka sama ff yg genre na bgni >.<
    tp tragis ya, mati smua T.T

    Eh2, nie wp pribadi ya thor?
    Baru nemu nie wp deh..
    *w na ajh yg dusun =="

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s