[Ahra – Donghae Scene] Officially Missing You

Casts :

  • Lee Ahra
  • Lee Donghae
  • Cho Kyuhyun
  • Han Kihyun
  • Lee Hyukjae
  • Shin Yeonhee

Author : ninasomnia a.k.a. ninanino

Summary : It’s about an idea that come from girl named Kihyun. She wants exchange dates between them. Those’re supposed to be Donghae and Yeonhee, Kyuhyun and Ahra, and last Eunhyuk and Kihyun. But everything that un-usual, sometimes really enjoyable and also…different. Get it?

________________________________________________________________________________

morning beauty ^^

bagaimana tidurmu? nyenyakkah? kkkk ^^

sender : donghae lee

Ahra masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Meski dia belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya, dia yakin dengan apa yang dilihatnya di ponselnya.

Secepat mungkin dia menggeser jari-jarinya. Tangannya sudah gatal untuk bersegera membalasnya.

Matanya memeriksa kembali susunan kata yang diselesaikannya. Memastikan bahwa pesan yang akan dikirimnya kembali ke kekasih temannya ini cukup mewakili keterkejutannya.

to : donghae lee

Oppa, kukira kau salah mengirimkan pesan. ini Ahra, bukan Yeonhee.

Baru saat Ahra menyingkap selimutnya, sebuah raungan dari ponselnya kembali mengusik ketenangan paginya. Setidaknya begitulah pemikirannya. Matanya terfokus pada nama yang tertera disana. ‘donghae lee‘. Tanpa sadar,tenggorokannya memberondong serentetan suara terbatuk-batuk. Memastikan suaranya baik-baik saja mungkin.

“Halo.” bukanya pelan. Dia masih sedikit takut sebenarnya. Mungkin karna insiden pesan singkat menggelikan tadi.

Morning beauty~”

Ahra meraih sandaran tempat tidurnya. Seakan dengan begitu bisa menahan dirinya ke kamar mandi, memuntahkan sesuatu. “Donghae oppa?”

“Iya.”

Ahra mendengus. Sepertinya orang di seberang sana belum menyadari sepenuhnya ucapannya tadi pertanyaan, bukan panggilan. “Maksudku, apa ini kau, Donghae oppa?”

Suara tawa ringan menyambutnya. “Tentu saja, Ahra-ya. Ah tunggu, jangan bilang kau lupa dengan ide bertukar pasangan itu?”

Deg. Ahra kembali tersadar. Menepuk jidatnya cukup keras. Menghasilkan bekas memerah di bagian tubuhnya itu. “Ah iya. Maaf oppa, aku lupa.”

“Sudah kuduga. Pantas saja kau membalas ‘morning text‘-ku seperti itu. Ah, kau ada rencana apa pagi ini beauty?”

“Tidak ada sepertinya. Hari ini aku free. Bagaimana denganmu oppa?”

“Hanya ada latihan pagi ini. Akan selesai pukul sebelas. Setelah itu aku akan menjemputmu. Kita makan siang bersama. Bagaimana?” tawaran Donghae sedikit menarik Ahra. Makan siang?

“Ah oke. Jemput aku sebelum jam dua belas tepat. Aku akan bersiap nanti.”

Ahra berjalan ke arah meja belajarnya. Melirik jam kecil di sudut meja itu. Saat ini masih pukul 7.30. Terlalu pagi untuk melakukan sebuah panggilan. Setidaknya itu yang dikenalnya selama ini.

“Oke beauty. Sampai bertemu.”

Oppa— Tunggu.” Ahra memotong ucapan Donghae, tepat sebelum laki-laki itu menutup panggilan. “Bisakah berhenti memanggilku beauty? Itu sedikit menggelikan kau tahu.”

Sekali lagi Donghae tertawa renyah sekali. Kata-kata Ahra benar-benar bukan seperti Ahra yang dikenalnya selama ini. Bukan Ahra yang keras, seperti yang dipikirkannya. “Kalau begitu, kau mau kupanggil apa?”

“Ahra. Ahra saja cukup.”

“Ya! Kalau begitu apa bedanya aku dengan yang lain? Aku ingin ada yang spesial.” sanggah Donghae. Ahra mendengus pelan. Sikap keras kepala Donghae mulai keluar sepertinya.

“Tapi kita hanya pasangan satu minggu oppa. Untuk apa ada panggilan yang spesial.”

Donghae lebih melembutkan suaranya. Gadis di seberang telepon ini sepertinya benar-benar tidak bisa bersikap seperti layaknya gadis lain. Efek dari terlalu lama bergaul dengan Cho Kyuhyun, setidaknya itulah yang berputar di otaknya.

“Tetap saja, mau itu satu minggu, satu hari, atau bahkan satu menit sekalipun kita tetap sepasang kekasih saat ini Lee Ahra. Dan aku ingin ada yang spesial selama kau menjadi kekasihku.”

Ahra menghembuskan napas berat. Pikirannya membayang ke kekasihnya yang sebenarnya. “Tapi Kyuhyun memanggilku begitu.”

“Jangan samakan aku dengan magnae kurang ajar itu. Sebenarnya dia memiliki panggilan spesial untukmu. Kau hanya, tidak menyadarinya saja.”

Dahi Ahra membentuk kerutan rapi. Menunjukkan keterkejutan dengan ucapan Donghae tadi. Setahunya Kyuhyun tak pernah memiliki sesuatu yang spesial.

Gadis bodoh, bukankah hanya dia yang memanggilmu begitu?”

Ahra menganggukkan kepalanya pasrah. Sebagian otaknya membenarkan ucapan Donghae itu.

“Walaupun terdengar mencela, tapi dia melakukannya Ahra-ya. Dia memanggilmu dengan panggilan spesial. Yang mungkin tidak sembarang orang memanggilmu seperti itu.”

Entah kenapa Ahra merasa jantungnya bekerja lebih cepat dari seharusnya. Dia sadar ucapan Donghae itu tak pernah sekalipun dipikirkannya. Gadis bodoh? Selama ini dia merasa itu hinaan dari seorang Cho Kyuhyun. Tapi benarkah itu sesuatu yang spesial?

“Ah, bukan oppa. Dia hanya mengejekku. Tidak ada yang spesial.” sanggahnya. Tapi jauh di lubuk hatinya dia tak semudah itu melepaskan pemikiran bodoh ini. Gadis bodoh? Spesial?

“Terserah apa katamu. Kujemput kau sebelum jam dua belas. Dan aku mau kau sudah menentukan panggilan apa yang harus kita lakukan seminggu ke depan. Aku tutup teleponnya.”

Ahra mendengus. Menjauhkan telepon itu dari wajahnya, lalu melemparnya asal ke arah ranjang. Sekali lagi ia disibukkan dengan pemikiran panggilan spesial tadi.

“Argh, ini benar-benar menggelikan. Untuk apa harus ada panggilan spesial. Memang Kihyun dan Yeonhee melakukannya? Babo.”

^^^^^^^^^^^^^^^^

Donghae berhenti di depan sebuah cermin. Memastikan penampilannya sudah benar-benar sempurna. Dia akan menjalani perannya sebagai kekasih Ahra mulai saat ini.

Tangannya menyapu bahu kanan jasnya. Seolah dengan begitu bisa menghilangkan debu-debu yang mungkin di dapatnya dari ruang latihan.

“Rapi sekali, ada fanmeeting?” sebuah suara membuatnya menghentikan aktivitasnya. Memilih berbalik dan memastikan orang yang mengganggunya itu Choi Siwon.

“Ah Siwon-nie, Kyu-nie— kalian disini?”

Kyuhyun menyipitkan matanya. Dia merasa tak begitu tertarik dengan perbincangan ini sebenarnya. Setidaknya game konsol di tangannya lebih membutuhkan perhatian darinya saat ini.

“Kau ada jadwal?” tanya Siwon, mengacuhkan pertanyaan Donghae sebelumnya.

Donghae mengendikkan bahunya malas. “Tidak ada. Tapi aku ada kencan spesial hari ini.”

“Dengan Yeonhee?”

Ia tersenyum sekadarnya. Menepuk bahu Siwon sedikit keras. “Ahra. Ah aku pergi dulu. Bye.”

Kyuhyun mendongakkan kepala mendengar nama kekasihnya keluar dari bibir Donghae. Siwon sendiri masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. ‘Donghae dan Ahra?’ batinnya.

“Donghae hyung—” panggil Kyuhyun lemah. Siwon mengikuti arah pandangan Kyuhyun. “—jangan terlalu percaya diri dengan penampilanmu. Asal kau tahu saja, kau itu bukan tipe idaman Lee Ahra. Mengerti?”

Wajah Donghae mengulas selengkung senyuman. Kalimat yang dikatakan Kyuhyun membuatnya sadar sesuatu. Adik kesayangannya itu benar-benar menyayangi Ahra.

“Aku tahu. Karna itu, aku akan mencoba menjadi keinginannya. Aku pergi.”

Kyuhyun menatap pasrah sosok yang kian menjauh dari pandangannya. Menghentikannya kemudian saat sadar ada mata yang memandang ke arahnya. Meminta penjelasan.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan Siwon hyung.”

^^^^^^^^^^^

Donghae baru berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Ahra tepat saat gadis itu sudah mendahuluinya.

“Ya! Beauty, kenapa kau turun duluan?”

Ahra terkesiap. Memasang ekspresi yang sulit digambarkan. “Aku? Kukira oppa yang turun duluan.”

Donghae terkekeh. Dia mulai sadar satu hal. Gadis ini terlalu lama tidak merasakan sebuah perhatian dalam artian yang sesungguhnya. Atau mungkin tidak pernah merasakannya sama sekali. Tak lama dia sudah berdiri di samping gadis itu. Menggamit lengannya lembut, membimbing masuk ke restoran favoritnya.

Sebuah meja telah dipesan Donghae sebelumnya. Donghae menarik salah satu kursi. Membiarkan Ahra duduk di atasnya. “Terima kasih oppa.”

Donghae tersenyum. Lalu mendorong kursi itu pelan. Sesaat kemudian dia sudah menduduki kursi di hadapannya. Tangannya tak begitu saja diam. Dia meraih tangan Ahra.

Oppa~”

Wae sweetheart?” Matanya menatap Ahra tulus. Setidaknya itulah yang bisa disimpulkan saat ini.

“Terlalu banyak panggilan. Aku tidak suka. Sudah kubilang panggil saja aku Ahra.”

Donghae menggeleng lemah. “Tidak bisa. Kalau maumu begitu, bagaimana dengan Raa Baby?”

Ahra menggembungkan mulutnya. Bereaksi seakan-akan sedang memperjuangkan isi perutnya yang mendesak keluar. “Raa Baby? Ya oppa, itu bahkan lebih menjijikkan daripada sweetheart atau beauty tadi.”

“Hahahaha. Oke, mulai detik ini aku akan memanggilmu Raa Baby. Suka atau tidak.”

Ahra meraih garpu di hadapannya. Seakan bersiap melemparkan benda tajam itu kapan saja. “YA!?!”

“Oh ya, tadi sebelum berangkat aku sempat bertemu Kyuhyun. Dia, sepertinya lupa dengan rencana bertukar pasangan ini.”

Ahra menahan tindakannya tadi. Berniat membatalkannya begitu mendengar nama kekasihnya disebut. Entah kenapa dia menjadi sedikit lesu saat ini. “Sudah kuduga.” ucapnya lemah.

“Aku kasihan dengan Kihyun. Dia terlalu sering merasakan perhatian dari kakakku, bagaimana jadinya jika dia merasakan seberapa cueknya Kyuhyun itu.”

Pelan Donghae menarik tangannya dari Ahra. Menatap gadis itu lembut untuk kesekian kalinya. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai penilaiannya pada gadis ini. Dan sekarang dia sepertinya melihat Lee Ahra yang sesungguhnya.

“Aku bisa merasakannya, kau peduli pada teman dan kekasihmu.” Penilaiannya bukan tanpa dasar. Tapi disini dia bersyukur. Sosok gadis menyebalkan itu sudah terhapus dari pikirannya.

“Terserahlah apa katamu.”

Donghae mengangkat salah satu tangannya. Bersiap memanggil pelayan untuk menyiapkan hidangan mereka. Wajahnya menahan senyuman itu. Dia hanya terlalu senang, melihat sosok Ahra yang baru. Ahra yang sederhana.

^^^^^^^^^^^

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Donghae oppa.”

Ahra membungkukkan badannya malas. Sebenarnya ini yang dinantikannya sejak dulu. Seseorang yang mengajaknya makan siang di restoran mewah, menjemputnya, membukakan pintu untuknya, dan bahkan turun dari mobilnya hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja sebelum masuk ke rumahnya. Benar-benar kencan makan siang impiannya.

“Kau yakin tidak mau kita berjalan-jalan dulu?”

Ahra menggeleng lemah. Rencana Donghae sebenarnya juga menjadi kencan impiannya yang lain. Hanya saja saat ini dia merasa malas. Mungkin karna makanan di restoran tadi tidak sesuai seleranya, begitu pikirnya. “Tidak, terima kasih. Oppa pulang saja, istirahatlah. Jarang-jarangkan Super Junior mendapatkan libur?”

“Tapi aku akan menemanimu kalau kau mau—”

Ahra menyela ucapan Donghae sebelum dia berhasil menyelesaikannya. “Sudahlah oppa. Aku tidak menginginkannya saat ini.”

Donghae menunduk lemah. Berjalan kembali ke arah mobilnya tak bersemangat. Ahra mulai sadar dia melukai Donghae dari ucapannya tadi. “Oppa, tunggu!”

Donghae menghentikan langkahnya, namun belum memutuskan berbalik. Ini pertama kalinya ada perempuan mengabaikan ajakannya. Atau mungkin dia bisa menyimpulkan Ahra memang bukan perempuan biasa.

“Besok malam ada acara makan malam di rumah. Kukira karna aku tidak bisa mengajak Kyuhyun, jadi apakah kau mau mendampingiku?”

Pertanyaan Ahra sukses membuat Donghae kembali ke dirinya. Dia berbalik menatap penuh harapan ke arah gadis itu. “Siapa saja yang hadir?”

“Hanya keluarga inti. Aku, Sora eonnie, Hyukjae oppa dan kedua orang tuaku. Makan malam sederhana. Bagaimana?” Ahra memainkan jari-jarinya. Dia sedikit ragu dengan ‘first move’-nya ini.

Dilihatnya Donghae mengernyitkan kening. Seolah memikirkan ajakannya itu. “Ada syaratnya.”

“Syarat?” tanya Ahra tak percaya. Mencoba memastikan apa yang didengarnya.

Donghae mengangguk manja. Ahra sendiri sedang berjuang menahan diri melihat sifat kekanakan Donghae itu. Entah kenapa dia yang membenci orang melakukan aksi manja, saat ini justru tak ingin hal itu berakhir.

“Iya. Kau harus menelponku malam ini.”

“Hanya itu?” Ahra meremehkan syarat yang diberikan Donghae. Menghubungi Donghae bukan hal yang sulit. Setidaknya dia bukan Kihyun yang miskin pulsa.

“Tidak semudah itu Raa Baby~ kau menelponku untuk mengucapkan ‘selamat malam sweetheart‘. Itulah tugasmu.”

Ahra bergidik membayangkan syarat yang diajukan Donghae. Dia bisa saja menolak dan melempar tasnya ke kepala Donghae, sehingga otak yang kemungkinan bergeser dari tempatnya itu bisa kembali. Tapi itu diurungkannya. Sisi lain darinya mengatakan panggilan sayang dalam hubungan itu adalah kewajaran. Atau bahkan keharusan. Apa salahnya mencoba.

“Oke. Aku akan menghubungimu nanti. Hati-hati di jalan—”

Donghae menatap takjub ke arah Ahra. Dia tak menyangka gadis di hadapannya akan langsung menerima syarat konyol darinya. Tapi dia bersyukur. Setidaknya saat ini dia tidak akan merasakan kekerasan fisik yang mungkin bisa melayang padanya kapan saja.

Kemudian bibirnya menarik seulas senyuman. Tangannya berayun, membentuk sebuah lambaian perpisahan. Selanjutnya berjalan memutar, memasuki mobilnya.

“—sweetheart.” lanjut Ahra setengah berteriak.

Donghae menghentikan tindakannya, tepat saat dia mendengar suara Ahra. Membiarkan pintu mobilnya setengah terbuka, menunda dirinya untuk masuk ke dalamnya. Dia bisa melihat jelas munculnya semburat memerah di kedua pipi Ahra. Sesaat kemudian pandangannya mengikuti sosok Ahra yang berlari masuk ke dalam rumahnya. Kemudian menghilang seiring dengan gebrakan pintu besar rumah itu.

Dirasakannya pula wajah memanas. Entah untuk apa dia sendiri juga tidak yakin. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Gejala-gejala yang aneh muncul hanya dari reaksi panggilan ‘sweetheart’ itu.

“Sial, kenapa aku jadi mati gaya seperti ini.” umpatnya lemah. Lalu perlahan merundukkan tubuhnya ke belakang kemudi. Menyegerakan diri beranjak dari tempat itu.

“Lebih baik aku segera pergi dari tempat ini. Atau aku akan melakukan tindakan di luar kontrol seperti ini lagi.”

Di dalam rumah, Ahra masih memegangi dada sebelah kirinya. Napasnya sedikit memburu, terlebih saat otaknya merekam kembali peristiwa yang terjadi beberapa saat lalu itu.

Tangannya yang lain beranjak memukuli kepalanya lemah beberapa kali. Bukan bermaksud menyakiti bagian tubuhnya tentu saja.

“Bodoh bodoh bodoh! Kenapa aku harus memanggilnya seperti itu? Bukannya menundanya untuk nanti malam? Dasar bodoh kau Lee Ahra!” Serangkaian umpatan keluar bersamaan dengan insiden pemukulan itu.

“Tunggu!” ucapnya tiba-tiba. Ahra merilekskan tubuhnya. Berjalan ke arah jendela. Memastikan apakah orang yang mengantarnya tadi masih di luar atau sudah pergi meninggalkan pelataran rumahnya.

Ahra menghembuskan napasnya lega. Tepat setelah melihat tak ada lagi sedan putih yang terparkir di depan rumahnya. “Syukurlah dia sudah pergi.”

Ahra berusaha mengenyahkan pikirannya tentang peristiwa-peristiwa tadi. Kembali menjadi dirinya yang sebelumnya.

“YA! UNTUK APA AKU HARUS MERASA SALAH TINGKAH! DIAKAN BUKAN KEKASIHKU!” jeritnya kesal. Beberapa kali dia menghentak-hentakkan kakinya keras. Tangannya mengacak rambutnya sedikit frustasi.

“LEE AHRA! Berhenti berteriak. Ayahmu sedang tidur siang!” teriak ibunya entah yang kemungkinan dari kamar tidur orang tuanya, tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Ow…ow…”

^^^^^^^^^^^

Ahra menarik poni tipisnya ke belakang. Menjepitnya dengan jepitan rambut yang sengaja ia siapkan. Tidak berapa lama dia mengulas sebuah senyuman. Puas dengan hasil kerja sederhananya. “Tidak begitu buruk.” komentarnya singkat, melihat penampilannya.

Diraihnya ponsel tipis miliknya. Memastikan tidak ada panggilan yang masuk ke nomornya. ‘Apa dia terlambat?’

“Ahra-ya.”

Dia bereaksi dengan teriakan itu. Mematut dirinya sekali lagi, kemudian berlari kecil menuruni anak tangga. “Iya, bu. Tunggu sebentar.”

Langkahnya terhenti di saat ia mencapai meja makan. Berbagai hidangan tersaji di hadapannya. Tak perlu meragukannya, Ahra tahu ini semua masakan ibunya.

“Ada yang bisa kubantu eomma?” Dia mencoba menawarkan diri. Kepalanya sengaja diulurkan, melongok ke arah dapur. Belum sempat terjawab, sosok yang dikenalnya dua puluh satu tahun belakangan itu muncul dari arah dapur. Wajahnya yang cantik, dengan penampilan keibuan. Sangat kontras dengan dirinya.

“Hubungi saja kekasihmu. Sebentar lagi acara makan malam kita mulai.”

Ahra menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian berjalan ke arah ruang tamu. Mencari keheningan sebelum menghubungi kekasihnya itu.

Setelah menemukan namanya, Ahra segera menekan bagian ponselnya yang menampakkan tanda panggil. Menunggu beberapa saat, dengan sedikit kegugupan tentunya, sampai nada panggil menyahut dari seberang ponselnya.

Saat nada panggil kedua yang didengarkannya, Ahra menghentikan panggilannya.

“Babo! Kenapa aku malah menghubungi pria muka tua itu? Seharusnya aku menghubungi Donghae oppa. Ya Tuhan, dia pasti senang sekali mendapat missed call dariku. Babo! Babo! Babo!”

Dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Memukuli kepalanya sendiri, menyadari kebodohannya. Tepat saat dia melakukannya, ketukan terdengar dari arah pintu.

“Hyukjae oppa?”

Dia beranjak tepat saat ibunya berteriak menyuruhnya membuka pintu. Melihat siapa yang datang.

“Hyukjae oppa, Yeonhee.” sapanya tepat sesaat setelah dia membuka pintunya. Kali ini dia tidak terlalu terkejut. Ingatannya sudah kembali. Perjanjian tidak boleh mengadakan kontak dengan kekasih masing-masing, rupanya sampai juga ke acara rutin keluarganya.

Hyukjae masuk ke dalam rumah, mendahului Yeonhee. Melepas mantelnya dan menggantungkannya di tempat yang disediakan di rumahnya ini. Kemudian membantu Yeonhee juga untuk melakukannya. “Apa kami terlambat?”

“Tidak. Acaranya belum mulai.” balas Ahra malas. Dia kembali terfokus pada ponselnya. Bersiap mengetikkan sederetan kata yang tidak terlalu berlebihan. Entah kenapa terselip rasa bersalah padanya. Dia akan mengirim pesan pada Donghae, di saat Yeonhee berdiri di hadapannya. Ganjil? Tentu. Rasanya seperti berkhianat pada sahabatnya itu.

Baru saat dia melihat ada laporan pesan terkirim di ponselnya, ketukan itu kembali terdengar olehnya. Matanya beredar sebentar. Melihat kakak dan sahabatnya sedang menyapa orang tuanya di belakang.

Ahra sedikit terkejut melihat sosok yang berdiri di balik pintu. Wajahnya tertutup sebuket bunga mawar —mungkin, dia tidak begitu mengenal bunga. Beberapa detik kemudian buket itu terulur ke arahnya. Membuatnya menyunggingkan senyuman saat melihat pelakunya. Sadar atau tidak, dua hari terakhir dia jadi terlalu rajin tersenyum.

“Good night Raa Baby~ kau menungguku?”

Ahra mencubit lengan Donghae manja. Entah sejak kapan dia memutuskan melakukan tindakan seperti itu. Itu terjadi begitu saja. “Jangan berlebihan. Ayo masuk.” perintahnya malas. Ahra meninggalkan Donghae yang masih berdiri di depan pintu. Dia tidak ingin menunggu sampai semburat memerah di wajahnya muncul lagi. Tidak untuk kali ini.

Dilihatnya keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Ayahnya, ibunya, Hyukjae yang mengambil tempat di samping ibunya. Di sisi lain sudah ada Sora dan Yeonhee. Menyisakan tiga kursi yang ada disana. Dia memilih menempatkan diri di samping Yeonhee. Membiarkan Donghae duduk di samping Hyukjae, kakaknya.

“Ahra-ya, mana Kyu-nie?” tanya ibunya lembut. Ahra yang saat itu sedang berusaha meneguk minumannya, harus berjuang lebih berat lagi. Kali ini dia harus menutupi rasa tersedak karna keterkejutan dengan pertanyaan ibunya itu.

“Ah—itu, Kyuhyun dia—” Ahra memberikan tatapan iba ke arah Eunhyuk. Meminta bantuan alasan dari kakaknya.

Eunhyuk melihatnya. Memutuskan untuk membantu adiknya itu. “Kyuhyun ada jadwal eomma. Dia tidak bisa datang hari ini.”

“Oh begitu. Tapi eomma senang, Yeonhee dan Donghae datang hari ini.”

“Nde, eommonim.” sahut Yeonhee dan Donghae bersamaan. Setelah melakukan itu, keduanya saling mencuri pandang.

“Ya sudah, ayah kita mulai saja makan malamnya.” Ibu Ahra memberi sinyal pada suaminya untuk segera memimpin doa. Untuk selanjutnya memulai acara makan malam itu.

Semuanya berjalan lancar saat itu. Sesekali tuan Lee menasehati ketiga putra putrinya. Dan tentu saja, Hyukjae dan Ahra justru membuatnya menjadi candaan. Lalu nyonya Lee akan sedikit menggertak kedua anak bungsunya itu. Yeonhee dan Donghae sesekali tertawa renyah melihat keakraban di meja makan itu. Benar-benar suasana kekeluargaan yang hangat.

^^^^^^^^^^^

Raa baby~

maaf aku tidak bisa menemanimu tiga hari ke depan, sweetheart. jaga dirimu baik-baik. jangan berlebihan merindukanku. kkkk ^^

sender : donghae lee

Ahra menyandarkan dagunya ke atas meja. Untuk kesekian kalinya dia mendesah berat. Dia mengulang membaca pesan yang masuk ke ponselnya lima jam yang lalu itu. Sudah sembilan kali lebih tepatnya dia melakukannya.

“Kenapa harus disaat aku mulai terbiasa dengannya?”

Dering di ponselnya cukup mengusik ketenangannya. Meski begitu, dalam hatinya dia berharap itu Donghae. Dan jantungnya terasa akan menghentikan kerjanya saat ini. Tepat saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.

“Do-donghae?” bisiknya lembut. Teman sebangkunya sedikit terganggu. Tapi sepertinya dia lebih memilih mengabaikan Ahra dengan dunianya sendiri.

Takut-takut dia mengangkat panggilan itu. Tentu dengan pikiran penuh, topik apa yang harus ia bicarakan nanti. Bagaimana jika Donghae mulai merayunya. Sedangkan dirinya mulai terbiasa dengan rayuan-rayuan dari Donghae.

“Yeboseyo—” bukanya lirih. Nyaris seperti gumaman.

Suara dari seberang ponselnya justru terdengar tertawa ringan. “Kenapa tidak membalas pesanku?”

Ahra mencuri pandangan ke arah teman sebelahnya. Takut kalau-kalau dia mendengar pembicaraannya dengan Donghae Super Junior. “Ah, memangnya aku harus membalas seperti apa? Kau sudah pergi bukan?”

Tawa lain kembali menyeruak. Bukan tawa yang mengejek, seperti yang selama ini dilayangkan Kyuhyun padanya. Suara tawa kali ini lebih terdengar bersahabat dan— berharga.

“Raa baby~ kau ini polos sekali. Tentu saja kau harus membalas sesuai isi hatimu. Apapun itu.” suara Donghae terdengar manja. Namun sepertinya dua hari bersama laki-laki itu, membuat Ahra terbiasa. Tidak lagi mengalami gejala mual-mual atau kelainan isi perut lain.

“Dan isi hatiku mengatakan tak ada yang perlu dibalas.” tegasnya terkesan dingin.

Ahra membalikkan tubuhnya. Membelakangi temannya tadi, meski tetap berhati-hati dengan suaranya. “Raa baby~ kau yakin hanya itu saja yang ada di hatimu?”

Gadis itu memainkan ujung rambutnya. Pertanyaan Donghae membuatnya ragu. Apa benar isi hatinya hanya ingin mengatakan itu.

“Oke, aku sudah dipanggil PD-nim. Aku tutup teleponnya.” tambah Donghae.

“Tunggu,—” Ahra reflek menggigit bibir bawahnya. Mencoba menenangkan diri dari apa yang akan diucapkannya. Dia hanya akan mengucapkan ini sekali seumur hidupnya mungkin, jadi dia benar-benar berjuang menenangkan dirinya. “—jaga dirimu. Aku pasti merindukanmu, sweetheart.”

Ahra menjauhkan ponsel. Sembari menutup panggilan itu tentu saja. Setelah mengatakan hal tadi, rasa mual itu kembali muncul. Ada penyesalan dalam dirinya. Meski yang disesali bukan hanya itu.

Wajahnya cenderung datar. Tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakannya. Tanpa sadar dia mulai bergumam sendiri. “Kenapa harus Donghae oppa? Kenapa aku tidak bisa mengatakan itu pada pria muka tua itu?”

“Ahra-ssi, kau berbicara sendiri?”

^^^^^^^^^^^

Donghae masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Gadis brutal itu sudah sedikit melunak sekarang. Dia bahkan sudah bisa mengakui perasaannya. Perkembangan yang cukup bagus.

Diputuskannya untuk memberi tahukan hal ini pada adiknya. Memberi tahu bahwa dirinya berhasil mengubah perangai Lee Ahra. Baru saja dia menemukan nama kontak adiknya, Donghae memutuskan membatalkannya. Ini tidak benar, begitu pikirnya. Dia merasa seperti sedang berselingkuh di belakang adiknya.

Diletakkannya kembali ponselnya. Sesaat kemudian menampakkan foto dirinya dengan seorang gadis, yang sengaja dijadikan latar belakang layar di ponselnya.

“Princess, aku merindukanmu.” Tanpa sadar jemarinya mengelus wajah yang terpampang di ponselnya itu. Rasa sesak yang dirasakannya beberapa saat lalu kembali. Kali ini tentu lebih sakit. Karna yang dirindukannya benar-benar kekasihnya. “Jaga dirimu princess.”

^^^^^^^^^^^

“Eonnie, Ahra eonnie!”

Ahra membalikkan badannya. Suara itu cukup dikenalnya. “Kihyun-ah, apa yang kau lakukan disini?”

Dilihatnya gadis itu menyodorkan sesuatu. Bekal makan siang mungkin. Meski dugaannya belum cukup membuat dirinya yakin dengan itu. “Apa ini?” tanyanya ingin tahu.

“Kue. Aku memasaknya sendiri.” ungkapnya bangga. Ahra mendengus. Beranjak ke arah bangku terdekat. Tentu dengan diikuti Kihyun di belakangnya.

“Untuk oppa?”

Kihyun menggeleng lembut. “Untuk paman dan bibi. Sampaikan permintaan maafku ya, jebal.”

Ahra membuka kotak makan seukuran tas pinggang itu. Berbagai macam kue tertata rapi di dalamnya. Dari penampilannya saja Ahra yakin kue-kue ini pasti memiliki rasa luar biasa. Lagipula selama ini kue bikinan Kihyun tak pernah mengecewakan dirinya dan keluarganya.

“Kihyun-ah, apa Kyuhyun sudah pernah merasakan kue buatanmu?” Ahra mulai menaruh curiga disini. Keluarga Ahra sudah sering merasakan kue buatan Kihyun. Ibu dan ayahnya menyukainya. Begitu juga dengannya dan kedua kakaknya. Bahkan menurut Hyukjae, dia jatuh cinta saat melihat gadis itu membuat kue. Sangat berbanding terbalik jika mendengar pengakuannya yang mengatakan dia tidak bisa memasak apapun.

“Tentu. Dia yang membantuku membuat kue ini.”

Ada rasa tidak terima di diri Ahra saat mendengar jawaban Kihyun. “Di-dia membantumu? Pria muka tua itu bisa membantu apa? Bukannya dia benci dapur?”

“Hahahaha. Kau cemburu ya eonnie?” Kihyun menggodanya. Ini yang tidak disukainya. Gadis tengik sialan ini menggodanya.

“Ya! Gadis tengik, aku memintamu bercerita. Bukan menggodaku.”

Gertakannya langsung menampakkan hasil. Ahra tahu benar Kihyun takut padanya. Sangat takut mungkin.

“Iya eonnie. Dia menemaniku karna dia sendiri yang memintanya. Dia bilang dia bosan. Kekasihmu itu menyebalkan, tapi sebenarnya baik eonnie. Aku menyesal kenapa aku tidak menemukannya lebih dulu.”

Sebuah pukulan melayang tepat ke puncak kepala Kihyun. Ahra yang sedikit lebih tinggi dari Kihyun bisa melakukan itu dengan mudah. Kihyun sedikit meringis menahan sakit. Meski dia tak cukup berani untuk mengaduh kesakitan.

“Jaga bicaramu. Aku bisa saja menyuruh kakakku memutuskanmu.”

“Tak perlu kau suruh, dia juga akan memutuskanku.” ucap Kihyun lemah. Ahra sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tapi dugaannya, sedang ada masalah diantara keduanya. Dan bukan urusannya untuk ikut campur disini.

Ada keheningan setelah itu. Ahra sendiri belum berniat undur diri dari sana. Ada puluhan bahkan ratusan pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada sosok dihadapannya itu. Dan semuanya menyangkut Kyuhyun. Meski disamarkan dengan hal-hal lain. Dia hanya terlalu bingung bagaimana mengatasi perasaannya sendiri.

“Eonnie, kau tidak ada kelas?”

Ahra menggeleng. Menatap Kihyun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tahu gadis ini masih ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Bagaimana dengan Donghae oppa? Dia baik padamu bukan?”

“Tentu. Dia baik. Terlalu baik malah. Tapi aku tidak suka sifatnya yang berlebihan.” ungkapnya jujur. Dia mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan.

“Berlebihan? Bukannya dia itu mendekati tipe ‘Prince Charming’-mu?”

Ahra mendengus kesal. Tapi tetap menjawab. Baginya ini saat untuk berbagi perasaannya yang sebenarnya pada orang lain. “Mungkin dulu iya. Tapi tidak untuk sekarang. Ada seseorang yang memperdulikan kita setiap saat itu membuat kita terasa istimewa. Tapi dalam hubungan bukan keistimewaan yang kita cari. Kenyamanan lebih dari segalanya. Percuma diperlakukan istimewa tapi kita tak nyaman dengan itu.”

Kihyun tersenyum. Menepuk bahu sahabatnya itu beberapa kali. “Aku suka jawabanmu eonnie. Dan kau sudah mendapatkan kenyamanan itu selama ini bukan? Dan sekarang, kau merindukannya.”

Ahra mengangguk lemah. Kihyun sudah tahu yang sebenarnya. Dia tidak berniat menutup-nutupi lagi.

“Kyuhyun oppa juga nyaman denganmu. Dia juga tidak mengijinkan gadis lain menempati tempatmu di hatinya.”

Ahra mengernyitkan dahi tak mengerti. “Darimana kau tahu?”

“Sikapnya. Dia menyayangimu. Sangat menyayangimu sampai terlalu takut untuk menunjukkannya padamu. Dia takut jika dia menunjukkannya padamu hanya akan membuat eonnie melihatnya sama seperti melihat laki-laki lain. Dia menyayangimu dengan cara berbeda. Eonnie, kau beruntung mendapatkan kekasih seperti dia.”

Kihyun menahan air matanya jatuh. Meski dia tak bisa mengontrol matanya yang sudah mulai terlihat berair. Ahra sendiri sedang memikirkan ucapan Kihyun. Apa benar Kyuhyun tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya karna takut. Pikirannya sedang penuh saat ini. Belum lagi rasa rindunya pada Kyuhyun.

“Apa kau pernah berpikir dia mempesona?”

Kihyun tertegun dengan pertanyaan Ahra ini. Ini bukan pertanyaan biasa. “Selalu. Memangnya ada saat dimana dia tidak mempesona?”

Pukulan lain mendarat di tubuhnya. Meski kali ini bagian pahanya yang terkena. “Aku serius, Han Kihyun.”

“Baiklah aku serius. Ada. Itu saat dimana dia menutup matanya. Sewaktu bernyanyi. Dia berhasil merubah dirinya. Menjadi manusia paling mempesona yang pernah ada.”

Ahra mendengarkan penjelasan Kihyun itu. Menurutnya itu pengakuan terjujur dari sekian banyak komentar yang pernah didengar dari fans-fans Kyuhyun selama ini. Memorinya perlahan merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi saat Kyuhyun melakukan itu di depannya. Bernyanyi dengan mata tertutup. Suaranya yang merdu akan membimbingnya ikut memejamkan mata. Benar-benar hal yang membuatnya jatuh cinta untuk yang keseribu kalinya pada orang yang sama. Kyuhyun.

“Kau, jatuh cinta padanya?” tanyanya takut. Kihyun hanya mendongak, menatap Ahra tak percaya.

“Tentu tidak. Memangnya aku punya cukup nyali melakukan itu? Hahaha.”

“Mungkin kau perempuan pertama yang tidak jatuh cinta saat melihatnya melakukan itu dihadapanmu.”

Kihyun tertegun. Apa benar dia yakin dengan ucapannya itu. Dia tidak jatuh cinta pada Kyuhyun, kekasih sahabatnya. Bagaimana jika Ahra benar? Bagaimana jika dia jatuh cinta pada Kyuhyun?

“Eonnie, sekalipun aku jatuh cinta padanya, jangan khawatir. Dia milikmu. Takdir akan tetap membawanya padamu. Sudah, aku pergi dulu. Aku ada kelas. Salam buat keluargamu. Annyeong.”

Ahra menatap kepergian Kihyun. Punggungnya kian menjauh di lorong kampusnya itu. Perlahan menghilang, seiring dengan jarak yang kian besar antara dirinya dengan sosok itu.

“Terima kasih, Kihyun-ah.”

^^^^^^^^^^^

Kepala Ahra sudah menempel sempurna dengan meja di kamarnya. Tatapannya kosong. Sudah dua jam dia berkonsentrasi membaca materi filsafat di hadapannya, tetap saja baginya itu tak menarik.

Tiba-tiba pikirannya melayang kembali ke pertemuannya dengan Kihyun tadi. Dan dia rasa Kihyun benar. Dia sangat merindukan kekasihnya, Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah…aku merindukanmu.” desahnya. Ada rasa sesak melingkupinya saat ini. Bahkan saat Kyuhyun sibuk dengan promo Super Junior M di Taiwan beberapa waktu lalu, dia tidak sesakit ini.

Ponselnya bergetar. Meski malas, dia tetap membukanya. Dari Donghae. Seseorang yang seharusnya menjadi fokus utamanya saat ini.

Raa baby~

maaf aku masih harus berada disini beberapa hari lagi. Benar-benar maaf ^^~

sender: donghae lee

Dia mendengus kesal. Melemparkan ponselnya sembarangan, hingga menimbulkan bunyi yang cukup khas. Diabaikannya hal itu. Dia marah saat ini. Meski sebenarnya dia bukan marah karna Donghae tidak ada bersamanya saat ini. Dia justru bersyukur ‘kekasih’-nya itu tidak disekitarnya saat ini. Setidaknya dia tidak akan meluapkan emosinya tidak bisa bertemu Kyuhyun pada orang yang tidak tepat.

Ketukan pintu terdengar menginterupsi kesunyiannya itu. “Siapa?” teriaknya malas. Masih dengan kepala yang menyatu dengan mejanya.

“Hyukjae. Boleh aku masuk Ahra-ya?”

Ahra beranjak bangkit. Dia putar anak kunci yang masih menggantung sempurna di tempatnya. Kemudian di tariknya kenop pintu kamarnya itu, lalu diikuti menarik badan pintu masuk ke dalam.

Ahra mendahului laki-laki itu. Dia kembali ke tempatnya semula. Yang masih disusul dengan peletakan kepala di tempat yang masih hangat itu.

“Ada apa?” tanyanya malas. Selama ini hubungan dia dengan Hyukjae sangat dekat. Namun semenjak kakaknya itu menjadi artis, intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang. Membuatnya sedikit sungkan saat berdua saja dengan kakaknya itu.

“Kau dan Donghae baik-baik saja?”

Ahra mengendikkan bahunya pasrah. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Atau memang tak ada jawaban untuk pertanyaan ini. Bukankah memang tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dengan Donghae?

“Manajer hyung menghubungiku. Dia bilang Donghae baru pulang dari Taiwan Minggu pagi. Kau yakin tidak apa-apa?”

Dia bangkit dari kegiatannya tadi. Di tatapnya kakaknya itu dengan pandangan tidak-mengerti. Meski kemudian dia justru mendapatkan pandangan lain. Ada kantung mata yang menghiasi mata indah kakaknya itu. Mata yang sama seperti miliknya, namun dengan bagian yang sedikit menghitam di bawahnya. Seketat itukah jadwal Super Junior?

“Aku tidak apa-apa. Harusnya yang kau tanyakan padaku itu Kyuhyun, bukan Donghae.” tegas Ahra. Eunhyuk tersentak mendengar penegasan adiknya ini. Dia tak menyangka adiknya sesensitif ini dengan topik Kyuhyun Donghae.

“Aku kan hanya bertanya. Aku hanya tak mau adikku kesepian.” Hyukjae bangkit dari tempatnya. Bersiap keluar dari kamar adiknya itu, namun berhasil di tahan Ahra dengan sebuah panggilan.

“Oppa, tunggu—” Hyukjae berbalik. Meski kesal, dia tetap menunggu adiknya melanjutkan perkataannya. “—tadi siang aku bertemu dengannya. Dia titip pesan untukmu.”

“He? Yeonhee juga bilang dia melihatmu. Tapi dia tidak yakin kau melihatnya juga. Ah, aku akan memberi tahunya.”

Ahra mengernyitkan dahinya kaget. “Yeonhee? Yang kumaksud disini Kihyun.”

Hyukjae terlihat kelabakan. Entah kenapa dia bisa sebodoh itu. Alih-alih membenarkan kesalahannya, dia justru memilih melanjutkan perjalanan keluar kamar adiknya itu. “Oppa!”

Hyukjae menahan langkahnya. Namun tidak berbalik seperti sebelumnya.

“Waktu satu minggu bukan untuk merubah hati dan perasaanmu. Meski kadang menyebalkan, kalau kau menyakiti gadis sialan itu, aku tidak segan untuk menghajarmu.”

Hyukjae tersenyum getir. Lalu menutup pintu kamar Ahra itu. Membiarkan Ahra kembali dalam kesendiriannya seperti sebelumnya.

^^^^^^^^^^^

Raa baby~

aku akan menjemputmu. hari terakhir harus kita buat spesial. oke ~^^

sender: donghae lee

Ahra menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Dia melangkah malas keluar dari kelasnya. Benar saja, hari ini hari terakhir pertukaran pasangan itu. Ada rasa tidak rela sekaligus bahagia di hatinya saat ini. Entah untuk alasan apa, dia tidak berani mencari tahunya.

Perlu waktu sepuluh menit untuk sampai ke gerbang utama kampusnya. Sedan putih yang selama beberapa waktu belakangan akrab dengannya, sudah menyambutnya. Siluet sang pemilik bisa tergambar jelas, meski jaraknya masih puluhan meter dari tempatnya berdiri saat ini. Dia memutuskan berlari kecil, lalu membuka pintu di depan, tepat di samping kursi pengemudi.

“Menunggu lama?” bukanya sesaat setelah memasuki mobil itu. Tangan kanannya meraih sabuk pengaman. Memasangnya sebelum mobil itu berjalan.

“Aku juga baru tiba. Bagaimana Seoul tanpa Lee Donghae?”

Mobil itu sudah mulai berjalan perlahan keluar dari pelataran kampus Ahra. Ahra sendiri masih melemparkan pandangan sengit ke arah ‘kekasih berjangka’-nya ini. “Seoul terlihat lebih baik tanpamu.” sindirnya.

“Raa baby, kau marah?” Raut wajah Donghae mulai berubah khawatir. Dia merindukan gadis ini, tapi justru disambut dengan sindiran semacam itu.

“Untuk apa?”

“Karna aku tinggal di Taiwan lebih dari tiga hari. Maaf, aku tidak bisa membatalkan kontrak. Aku juga ingin pulang cepat.” Donghae berusaha menjelaskan pada Ahra. Matanya tak pernah lepas dari Ahra dan jalanan di depannya. Kedua hal yang menjadi fokus utamanya saat ini.

“Saat pertemuan malam ini, aku jadi satu-satunya orang yang memiliki intensitas hubungan dengan ‘kekasih’-nya paling sedikit. Kalau itu Kyuhyun, aku mungkin tak akan mempermasalahkannya.” tegas Ahra, jelas sekali penuh emosi. Sebenarnya dia berpikir ini sedikit kekanakan. Tapi dia tak tahu harus menyalahkan siapa lagi. Dari dulu dia ingin memiliki kekasih romantis. Dan impiannya musnah saat pria ini ke Taiwan. Meninggalkannya demi pekerjaan. Dan lebih buruknya lagi, tanpa kabar berita.

“Maaf Raa baby~ maaf. Bagaimana aku bisa menebusnya? Katakan saja padaku.”

“Kembalikan saja aku pada Kyuhyun.”

Setelah itu Ahra memilih diam. Begitu juga dengan Donghae. Dia sudah pernah mendengar ini dari Hyukjae. Saat Ahra marah, lebih baik diamkan saja. Jangan paksa untuk dimaafkan olehnya. Itu pelajaran yang pernah didapatkannya.

Ahra sendiri sibuk dengan pikirannya. Ucapan terakhirnya benar-benar diluar dugaan. Dia meminta dikembalikan pada Kyuhyun. Sejak pertemuannya dengan Kihyun beberapa waktu lalu, dia merasa bertemu dengan Kyuhyun adalah anugrah. Dia saja yang tak pernah menyadari itu.

^^^^^^^^^^^

Donghae memutuskan mengantarkan Ahra langsung ke rumahnya. Tawaran makan siang di rumah keluarga Lee ditolaknya. Dia tahu Ahra menghindarinya. Dia lalu memacu mobilnya ke suatu tempat.

Sesampainya Donghae di tempat itu, dia memilih langsung ke tempat kesukaannya. Dia sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari tempatnya berada sekarang. Dia tak mau mengambil resiko dikenali penggemar-penggemarnya. Dan lagi tempat tujuannya ini tempat umum. Kemungkinan hal itu terjadi semakin besar tentunya.

Kurang beberapa langkah lagi dia akan mencapai bagian taman favoritnya. Bangku kecil di bawah pohon, tepat menghadap ke arah danau. Ini mungkin baru ketiga kalinya dia kesini. Tapi dia sudah mendeklarasikan tempat ini adalah favoritnya.

Beberapa saat setelah dia mengambil tempat di bangku itu, dirasakannya sebuah tepukan mengisyaratkannya untuk berbalik. Sedikit takut, kalau-kalau itu salah satu penggemarnya yang kemungkinan mengikutinya sampai kesini.

“Donghae oppa.” suaranya yang khas langsung disambut helaan napas lega Donghae. Dia hafal betul dengan tipikal suara itu. Memilih berbalik, sembari menggeser tubuhnya sedikit menyamping. Memberi tempat untuk orang yang baru datang itu.

“Kihyun-ah.”

Gadis itu mengumbar senyumannya. Kemudian mengambil tempat di sampingnya, seakan tahu isyarat yang baru saja ditunjukkannya secara tidak langsung itu. “Sendiri?”

Donghae mengangguk. Pandangannya kembali terfokus pada danau di hadapannya. Pikirannya melayang bebas. Mencoba mengabaikan hiruk pikuk yang sedikit ramai di sekitar taman itu. Maklum saja, ini hari Minggu. Banyak orang sengaja melakukan aktivitas luar ruangan di taman ini.

“Kau sendiri?” Donghae memutuskan membalik keadaan setelah dirasakan ada keheningan yang tercipta diantara mereka. Dia menangkap pandangan gadis di sampingnya sedang mengulum bibirnya. Membentuk senyuman lain yang terkesan lucu untuk dilihatnya.

“Iya. Hanya berjalan-jalan ringan.” balas Kihyun singkat. Sekali lagi keheningan kembali tercipta. Donghae sendiri sudah kehabisan akal untuk mencoba memecahkannya. Berbagai pertanyaan sebenarnya sudah siap ia layangkan pada sosok gadis pecicilan itu. Namun entah kenapa, ada rasa sungkan yang sedikit mengganjal hatinya.

“Ada yang ingin kau tanyakan?”

Donghae membulatkan bibirnya. Menatap Kihyun dengan pandangan tak percaya. “Apa maksudmu?”

“Tanyakan saja. Ahra eonnie juga melakukannya padaku. Kemarin.”

Donghae mengangguk lemah. “Kau sudah bertemu Eunhyuk-kie?”

Kihyun menggeleng. Sekali lagi, senyuman itu belum ia tanggalkan dari wajahnya.

“Yeonhee?”

Sekali lagi gerakan kepala menyambut pertanyaan Donghae itu. Masih dengan artian yang sama dengan pertanyaan sebelumnya.

“Tapi aku pernah melihat keduanya.” lanjut Kihyun, mengundang rasa penasaran Donghae.

“Maksudmu?”

Kihyun kembali mengulum bibirnya. “Kau tahu jelas maksudku.”

“Lalu kenapa?”

“Kenapa apanya?” tanya Kihyun tak mengerti.

“Kau tahu jelas maksudku.”

Kali ini Kihyun tertawa ringan. Donghae menyindirnya. Mencoba membalikkan keadaan. “Karna aku menyayangi mereka.”

“Itu juga kurasakan. Tapi tidak harus mengorbankan perasaan kita bukan?” Nada bicara Donghae meninggi. Kentara sekali ada luapan emosi terselip di dalamnya.

“Lalu apa? Kita harus mengorbankan perasaan mereka?” Ada sindiran yang sengaja Kihyun selipkan disana. Dia bukan tipikal orang yang bisa menyindir dengan bebas. Dia cenderung tipe orang dengan rasa sensitivitas tinggi.

Kali ini giliran Donghae menggelengkan kepalanya. Dia tersadar, ini bukan kesalahan Kihyun. Tidak seharusnya dia menyalahkan Kihyun disini.

Perlahan Donghae menarik napas beberapa kali secara teratur. Dia akan membiarkan topik itu. Ini bukan saatnya. Perjanjiannya dengan Kihyun, mereka baru akan mengangkat topik tentang ‘Yeonhee dan Eunhyuk’ ini setelah acara bertukar pasangan ini selesai. Itu artinya dia harus menunggu sampai malam ini.

“Bagaimana dengan Kyuhyun? Dia baik padamu bukan?”

Semangat Kihyun kembali muncul. Untuk pertama kalinya ada topik mengenai laki-laki lain yang lebih menggodanya dibandingkan pembicaraan mengenai Eunhyuk, kekasihnya.

“Sangat baik. Kami bahkan berteman baik sekarang.” ungkapnya bangga.

Donghae mengernyit. Ada rasa tak percaya mendengar pengakuan Kihyun itu. Setahunya selama ini, Kyuhyun sangat membenci Kihyun. Katanya Kihyun selalu membawa aura menyebalkan. Seperti yang dimiliki Yesung. Hanya saja milik Kihyun lebih kuat.

“Kau yakin orang yang kau kencani itu Kyuhyun Super Junior?”

Pertanyaan itu dibalas dengan pukulan keras di lengan Donghae. Disusul umpatan kecil dari bibir Kihyun tentunya. “Sialan. Memangnya Kyuhyun mana lagi yang kukenal.”

“Bukankah dia—” Donghae menahan ucapannya. Dia takut jika meneruskannya justru akan ada salah ucapan disini. Sekali lagi, gadis ini orangnya cenderung perasa.

“Membenciku? Iya, dulu. Tapi semenjak aku masuk rumah sakit, dia jadi merasa bersalah padaku.”

“Kau masuk rumah sakit? Kapan?”

“Seminggu belakangan.”

Mata Donghae menyipit. “Belakangan? Memangnya berapa kali kau masuk rumah sakit?” Tak lupa diselipkan nada bercanda disini. Dugaannya Kihyun sengaja membuat lelucon tentang dirinya sendiri.

“Dua kali. Lalu, bagaimana denganmu dan Ahra? Kalian baik bukan?”

Pertanyaan Kihyun yang terakhir menghilangkan ekspresi yang sebelumnya terbentuk di wajah Donghae. Perlahan dia menggelengkan kepala lemah. Diikuti kepala yang tertunduk.

“Ceritakan padaku!”

“Aku terlalu sibuk dengan jadwal syuting lima hari belakangan. Kami hanya berkencan dua kali. Dan sepertinya dia marah dengan itu. Kau tahukan, dia ingin memiliki kencan luar biasa romantis. Dan dia mengharapkan itu dariku.”

Kihyun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tangannya menepuk punggung Donghae beberapa kali. Seolah dengan tindakannya itu bisa membuat pria itu kembali bersemangat. “Padahal aku sudah mengecek semua jadwal kalian bertiga untuk seminggu ini.” lirihnya.

“Jadwal kali ini sedikit mendadak. Entahlah, Ahra pasti sangat membenciku saat ini.” ucapan Donghae terdengar pasrah. Seakan dia tak tahu lagi apa yang mesti diperbuatnya.

Kihyun menggeleng. Lengkap dengan senyuman di wajahnya. “Bukan itu. Dia sama sekali tidak membencimu. Bahkan tidak untuk sekedar marah padamu?”

“Bohong.” tandasnya keras kepala. Tentu saja keyakinannya ini disambut dengan pukulan lain di bagian tubuhnya. Kali ini paha Donghae yang menjadi sasaran Kihyun.

“Terserah kalau kau tidak percaya. Dia hanya cemburu tahu.”

“Cemburu? Padaku?”

Kihyun kembali melayangkan pukulan ke paha Donghae. Sepertinya berbincang dengan pria disampingnya itu memang menguras kesabaran. “Pada Kyuhyun babo. Dia juga merindukan kekasihnya itu.”

Senyuman Donghae kembali. Dia cukup bahagia mendengar berita itu. “Syukurlah. Dia juga sudah berubah. Ahra bukan hanya gadis dengan watak keras. Dia gadis sederhana. Dan juga indah.”

“Are you fall for her?”

“Of course not. I have Yeonhee, why I have to ask for another girl?” Donghae berkata dengan sedikit menyombongkan diri. Membuat Kihyun tertawa puas sekali. Setelah itu obrolan mereka berlanjut. Kihyun cenderung menutup diri. Membiarkan Donghae menguasai alam bawah sadarnya dengan alur cerita akan kisah dirinya dan Ahra.

“Mungkin jika aku lebih dulu mengenal Ahra daripada Yeonhee, aku akan jatuh ke pelukan adik Eunhyuk-kie itu.”

Ucapan Donghae menyibukkan pikiran Kihyun. Mungkin? Sayangnya tidak ada kemungkinan seperti itu. Takdir sudah menghadapkan semuanya pada mereka. Ahra milik Kyuhyun. Dan sudah seharusnya seperti itu. Sekalipun kemungkinan itu terjadi, pada akhirnya akan tetap sama. Ahra ditakdirkan hanya untuk Kyuhyun. Bukan orang lain.

^^^^^^^^^^^^^^^^

Ahra merapikan terusan biru muda yang dipinjamnya dari kakaknya, Lee Sora. Sesekali dia memutar tubuhnya. Memastikan tidak ada bagian dari baju itu yang tertekuk ataupun terlipat tak beraturan. Setelah dirasa yakin, dia berjalan kembali ke arah ranjang. Sepasang sepatu dengan warna abu-abu sudah menyambutnya disana. Dipakainya sepatu itu. Kemudian berjalan kembali ke arah cermin besar yang sedari tadi membantunya mempersiapkan diri itu.

“Sempurna.” Ada decakkan yang keluar dari bibirnya sendiri. Sedikit tak menyangka hasil kerja sederhananya bisa berubah sesempurna ini.

Raungan klakson akhirnya menghentikan kegiatan memuja diri itu. Ahra melangkahkan kakinya setengah berlari. Sembari tangannya meraih tas tangan yang sengaja kakaknya pilihkan untuknya. Tentu dengan warna senada dengan sepatunya tadi.

“Kemana?”

Ahra masih terus berlari kecil. Meski dia tahu sedikit keterlambatan sebenarnya tidak menjadi masalah. Dia memilih menjawab pertanyaan ibunya itu sembari berlalu. “Aku ada makan malam. Pulang sedikit terlambat. Aku pergi eomma.”

Ahra baru saja menutup pintu utama di rumahnya itu saat melihat pria dengan setelah jas berwarna biru tua berusaha membuka pagar rumahnya.

“Tidak perlu masuk. Kita sudah terlambat.” Kali ini Ahra berusaha mengontrol ucapannya. Dia tak mau lagi terdengar ketus. Setidaknya tidak untuk terakhir kali dia menjabat sebagai ‘wanita spesial’ pria di hadapannya itu.

Donghae hanya mengangguk. Dia menunggu Ahra yang sedang berjalan ke arahnya. Dalam hatinya dia bergumam melihat gadis itu. Ahra sangat cantik malam ini. Terusan yang dipakainya, dipadu dengan sepatu hak tinggi itu, semuanya itu seakan-akan memang diciptakan khusus untuk memperindah gadis itu. Kemudian selengkung senyuman muncul di wajahnya. Bukan karna pikiran kotor. Tiba-tiba saja dia membayangkan bagaimana jadinya kalau Kyuhyun melihat Ahra yang seperti ini.

“Berangkat sekarang?”

Donghae tersentak dari lamunannya. Dia sampai tak sadar Ahra sudah berdiri beberapa langkah saja di depannya. Kemudian dia berjalan ke arah sisi penumpang. Membukakan pintu untuk gadis itu.

“Terima kasih, sweetheart.”

Raut keterkejutan itu kembali tercipta di wajah Donghae. Meski kali ini dia lebih bisa mengontrolnya. Kemudian dia berjalan memutari mobilnya. Menuju ke bagian kemudi, bersiap membawa dirinya dan Ahra ke tempat mereka ditunggu yang lainnya.

Selama di perjalanan sesekali Donghae mulai memancing pembicaraan. Kemudian Ahra menimpali dengan penuh semangat. Berbanding terbalik dengan Ahra yang tadi pagi ditemuinya.

Tak sampai tiga puluh menit, mereka sudah sampai di depan sebuah restoran bergaya Eropa klasik. Pengunjung sedikit ramai, kebanyakan diantara mereka adalah keluarga.

Sekali lagi Donghae memperlakukan Ahra selembut mungkin. Membukakan gadis itu pintu, lalu menggamit tangan Ahra dilengannya. Sesaat setelah mereka masuk, beberapa raut wajah penuh rasa tak percaya tersirat diantara para pengunjung. Belum lagi suara decakan kagum diantara mereka. Donghae dan Ahra saat itu memang terlihat sempurna, satu sama lain.

Meja khusus sudah dipersiapkan Kihyun jauh-jauh hari. Berada di ruang dengan privasi tinggi. Mereka berdua, yang notabene-nya sudah dikenali oleh salah satu pelayan, langsung saja diantarkan ke ruangan itu. Berada di lantai dua, dengan pemandangan menghadap ke arah kota. Ruangan itu tertutup kaca satu arah. Dimana saat di dalamnya, mereka bisa dengan bebas memandang ke luar tanpa takut privatisasi itu hilang. Di dalamnya sudah berkumpul empat orang yang sudah menunggu kedatangan mereka.

Meja bundar, sama seperti pertemuan sebelumnya, sudah dikelilingi sosok-sosok itu. Sama seperti Ahra dan Donghae, empat orang itu juga berpakaian semi formal.

“Maaf, kami terlambat.” Begitulah kiranya kalimat pertama yang meluncur dari mulut Donghae. Dilihatnya dua kursi kosong, yang tentu saja berdampingan. Terletak diantara kursi Yeonhee dan Kyuhyun, Donghae tak yakin bisa menahan tawanya. Kihyun menyiapkan ini semua. Bahkan susunan kursi diatur sedemikian hingga.

“Kami juga baru memesan.” Kali ini giliran Eunhyuk yang angkat bicara.

Donghae sudah mencapai kursi itu. Ditariknya tempat di samping Kyuhyun, bermaksud memberikannya pada Ahra. Ahra hanya melemparkan senyuman tipis sebagai ucapan terima kasih. Lengkap dengan tingkah lakunya yang selaras dengan penampilan cantiknya.

Donghae lalu memposisikan dirinya sendiri. Matanya sejenak menangkap raut wajah Kyuhyun yang berubah mengerikan. Lengkap dengan seringaian andalannya itu. Namun Donghae hanya bisa mengulum senyumnya. Dia tahu pasti maknae yang satu ini cemburu melihat perlakuannya pada Ahra tadi.

Beberapa detik kemudian, Donghae sadar akan hal lain. Kekasihnya juga ada disini. Dan dia ingin melihat juga reaksi kekasihnya dengan hal yang terjadi beberapa saat lalu itu. Belum juga dia berhasil melakukannya, sebuah bisikan tepat terdengar di telinganya.

“Tak perlu melakukan itu oppa. Kalian hanya pasangan pura-pura.”

Donghae hafal betul siapa pemilik suara lembut itu. Jangankan mendengarnya, desahan napas yang tercipta diantara kata-katanya itu dia sudah tahu pasti merujuk kepada siapa. Yeonhee. Gadis yang amat sangat dicintainya.

Donghae memasang ekspresi penuh penyesalan. Kekasihnya cemburu, dan tidak seharusnya dia membuat gadis itu merasa seperti itu. “Maaf. Aku hanya bersikap seperti seharusnya.”

Ucapan maaf Donghae itu hanya dibalas dengan desahan napas yang cukup keras. Pelakunya masih sama, Yeonhee. “Lupakan.”

Selanjutnya Kihyun menguasai keadaan. Berbicara lantang dengan suaranya yang mengerikan itu. Sesekali melemparkan lelucon yang terkesan jauh dari kata lucu. Namun dia tetap saja melakukannya.

Selanjutnya hanya ada pertukaran pengalaman selama menjadi kekasih satu sama lain. Sekali lagi Kihyun menguasai cerita. Gadis itu tanpa malu-malu menceritakan semua pengalamannya. Meski sepertinya dia sengaja menghilangkan bagian rumah sakit yang diceritakannya padaku pagi ini.

“Selanjutnya, ada yang mau berbicara?”

Donghae mengamati keadaan sekitar. Tak ada yang bersuara. Semuanya belum ada yang tertarik dengan tawaran Kihyun itu. Sampai akhirnya dia putuskan untuk berdiri dari kursinya. Berdetam dua atau tiga kali.

“Aku mau minta maaf pada Lee Ahra.” akunya lugas. Semua pandangan itu kini mengarah padanya. Lengkap dengan sorotan mata tak percaya. “Maaf karna meninggalkanmu seorang diri. Maaf karna menjadi pasangan yang buruk. Maaf karna aku tak pernah ada di saat kau membutuhkanmu. Dan maaf untuk semua hal yang kau ingin aku melakukannya, tapi aku tidak pernah melakukan itu. Maaf, Raa baby~”

Raut wajah Kyuhyun dan Yeonhee berubah. Seiring dengan mulut mereka yang berubah membulat, menandakan keterkejutan dengan apa yang baru saja didengarnya.

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha menahan tawa mendengar panggilan yang diciptakan Donghae untuk adiknya itu. “Raa baby?” gumamnya lirih. Yang kemudian mendapat balasan pukulan dari Kihyun.

“Ssttt—” Kihyun menempelkan telunjuknya di depan bibirnya. Memberi isyarat pada kekasihnya itu untuk tidak mengeluarkan suara-suara. Tidak untuk saat ini.

“Ahra-ya, benar-benar maaf. Aku tidak bisa menjadi kekasih sesuai keinginanmu.” ucap Donghae lirih. Namun bisa dipastikan semua yang ada di meja itu bisa mendengarnya. Ahra hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Dia menerima permintaan maaf tertulus yang pernah didapatkannya dari seseorang. “Kyuhyun-ah, kau mendapatkan kekasih luar biasa. Dia gadis yang baik. Jaga Ahra. Jangan sakiti dia! Mengerti?”

Kedua ujung bibir Kyuhyun tertarik menjauh. Membentuk senyuman bahagia. Meski tetap saja terdengar dengusan diantaranya. “Aku tahu hyung. Sangat sangat tahu.”

^^^^^^^^^^^

enough this chapter. sorry if I made it misserable. Next story will be Kihyun and Kyuhyun’s. hahahahaha, I hope I can publish it soon. SEE YA~!!!

 

real story >> here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s