[FF NC /21/ scene 1] After The Night

Cast : Lee Hyukjae, Jang Jinhye

Genre : Yadong 21, Romance

Note : Ff ini diadaptasi dari novel Linda Howard dengan judul yg sama, jadi buat readers yg pernah baca jangan heran ^^

Sebenarnya ini cerita oneshot

Cuma berhubung kepanjangan dijadiin 2shot muheheheh. Enjoy!! Jgn lupa kritik saran. Jangan plagiat yah🙂

 

 

 

Sorot tajam lampu truk yang akan mengangkut barang-barang keluarga itu membuat Hyukjae melihatnya, apa yang ada di balik gaun tipis itu.

Tubuh itu, ia akui cukup seksi untuk ukuran gadis umur 14 tahun, tapi dirinya justru merasa jijik.

Gadis itu, dilihat dari sudut pandang manapun, mengingatkannya pada perempuan jalang yang telah menyebabkan kematian kedua orang tuanya, yang tidak lain adalah ibu gadis itu.

Gadis itu menatapnya, tatapan marah, kecewa dan benci. Aneh memang karena sebelumnya tatapan dari gadis itu adalah tatapan memuja.

Hyukjae tahu betul soal itu, dan sekarang ia merasa terhina telah dipuja oleh anak pelacur.

Hyukjae berjalan mendekatinya, mendesis pelan di dekat gadis itu.

“Aku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu dan keluargamu yang hina, lain kali jika aku melihat kalian lagi di kota ini, aku tidak segan untuk melenyapkan kalian dengan caraku sendiri, Jang Jinhye.”

***

Jinhye menatap gedung megah di hadapannya. Setelah sekian lama, ia tidak tahu apa yang ia lakukan ini benar ataukah salah.

Jinhye menghela napas panjang.

Ia harus melakukannya, ia tidak mungkin terus lari dari masa lalunya.

Jinhye mengambil langkah mantap, digerakkannya kedua kakinya di lantai marmer kantor itu, menemui seseorang dari masa lalunya yang membuat hatinya terluka sampai dalam.

Jinhye berani melakukannya karena ia yakin, ia bukanlah gadis cilik berumur 14 tahun yang terjerat pada pesona pemuda umur 18 tahun itu lagi.

Jang Jinhye, tidak akan jatuh pada pesona seorang Lee Hyukjae lagi.

Jinhye mengangguk mantap.

Sampai kemudian sedetik setelah ia membuka pintu ruangan tempat pria itu bekerja, ia menyangkalnya sendiri.

Jinhye melihatnya, garis rahang yang tegas, sorot mata yang tajam saat menatapnya, dan bibirnya yang menurutnya… tebal dan seksi (kata aak donghae sih gitu) pria itu tetap mempesonanya sampai sekarang.

Jinhye mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya dari imajinasinya yang hampir melampaui batas.

“Ada apa kau kembali?” tanya Hyukjae dingin.

Jinhye menatap Hyukjae, pose pria itu berubah, sedikit menunjukkan kuasanya.

“Kau mengijinkan bawahanmu untuk mendengarkan percakapan kita?” tanya Jinhye.

Hyukjae mendengus.

“Masuk, duduk sesukamu.” ujae Hyukjae dingin.

Jinhye menurutinya, ia menduduki salah satu kursi empuk tepat di hadapan Hyukjae. Namun Hyukjae justru berdiri, menjauhinya, bahkan menolak untuk menatapnya lagi seolah pria itu benar-benar jijik akan dirinya.

Satu lagi luka menggores hati jinhye cukup dalam.

“Aku hanya ingin membersihkan nama ibuku, ibuku tidak bersalah.”

“Ibumu sudah kotor, buat apa dibersihkan, itu hanya akan membuang waktu.” sahut Hyukjae cepat.

Jinhye berusaha untuk meredam gejolak emosinya yang anehnya bercampur dengan gairah. Antara sadar dan tidak, Hyukjae benar-benar mempesonanya.

Walaupun dirinya hanya bisa menatap punggung tegap pria itu, ia merasa ingin memeluknya dari belakang.

Apalagi kini, Hyukjae berbalik menghadapnya, bahkan berjalan menghampirinya, Jinhye mati-matian menenangkan degup jantungnya.

Hyukjae duduk di atas meja kerjanya, tepat di depan Jinhye, lagi-lagi ingin menunjukkan kekuasaannya di depan wanita itu.

“Aku sarankan kau cepat pergi dari kota ini.” ujar Hyukjae pelan tapi dalam.

Jinhye masih mengatur kata-kata yang anehnya kali ini sulit tersusun dalam otaknya, matanya menentang tatapan Hyukjae.

Hyukjae melengos, menolak adu pandang dengan Jinhye.

“Sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu?” tanya Hyukjae tiba-tiba.

Jinhye membelalakkan matanya.

“Mwoya?”

Hyukjae kembali menatap Jinhye, kali ini tatapan meremehkan.

“Berapa yang mereka bayar untuk satu malam? Aku bias membayarmu lebih dari itu kalau kau..”

Suara tamparan memutus ucapan Hyukjae.

Sorot mata tajam merasa terhina dan raut muka marah begitu jelas tergambar pada diri Jinhye.

“Aku akan membuktikan kalau ibuku tidak bersalah dan aku tidak akan pergi dari kota ini sebelum itu terbukti jelas siapa yang bersalah. Maaf telah mengganggumu, Hyukjae-ssi.”

Jinhye berdiri, meninggalkan Hyukjae yang masih termangu tanpa menoleh menatap pria itu lagi.

Dan ketika ia menutup pintu ruangan itu, ia baru bisa bernapas lega.

Bahkan di saat amarah menguasainya tadi, ia merasa ingin berciuman panas bahkan bercinta dengan pria itu!! Jinhye benar-benar heran dengan dirinya.

“Jang Jinhye, ada apa dengan dirimu?!” bisiknya kesal pada dirinya sendiri.

***

Hyukjae masih termangu cukup lama.

Ia heran, benar-benar terkejut ketika mendapati Jinhye yang membuka pintu kantornya.

Awalnya ia mengira Jang Hyewoo yang datang menemuinya, perempuan jalang yang telah merusak keluarganya. Namun pikiran logis lebih menguasai otaknya. Jang Hyewoo tidak mungkin terlihat muda, dan yang paling penting, tidak mungkin akan sebegitu menggoda dirinya.

Lekuk tubuh gadis itu, bagaimanapun, memancing jiwa kelaki-lakiannya.

“Ada apa kau kembali?” tanyanya, berusaha untuk mengontrol semua emosinya.

Ketika Jinhye menjawab pertanyaannya, Hyukjae mendengus, bahkan suara wanita itu sudah cukup untuk membangkitkan birahinya.

“Masuk, duduklah sesukamu.” ujar Hyukjae dingin.

Dan ia menangkapnya, langkah-langkah yang menurutnya seksi, ketika Jinhye berjalan, ia hampir membulatkan tekad untuk meniduri wanita ini dan akan membuatnya bernasib sama seperti ayahnya dan Hyewoo.

Sialnya wanita ini begitu cerdas, memilih duduk tepat di hadapannya, mengujinya agar melihat benda kembar indah miliknya yang menggantung seolah meminta Hyukjae untuk menjamahnya.

Hyukjae berdiri, menjauhinya, ia benar-benar bekerja keras untuk mengontrol hawa nafsunya.

Mereka berbicara, mendengar, namun pikiran Hyukjae beberapa kali diselingi oleh pikiran ingin membawa wanita itu ke tempat tidur.

Bahkan ketika sakit yang seharusnya ia rasakan waktu Jinhye menamparnya, ia justru merasakan getaran ketika kulit mereka bersentuhan.

Ia bahkan sampai mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak langsung menindih tubuh Jinhye di atas meja kerjanya, ketika melihat rona marah di wajah Jinhye yang membuat wanita itu kelihatan lebih seksi di matanya.

Hyukjae menggelengkan kepalanya cepat, berusaha mengusir bayangan Jinhye di pikirannya.

“Kau tidak perlu menjadi seperti ayahmu, Lee hyukjae.” bisiknya pada dirinya sendiri.

Setelah 10 tahun, ia tidak menyangka Jang Jinhye akan menjadi cobaan terberat dalam hidupnya.

***

Ingatan dirinya 10 tahun yang lalu masih terbayang jelas.

Bagaimana ibunya menjadi sampah masyarakat, melegalitas tubuhnya menjadi santapan pria untuk mendapatkan kenikmatan materi, juga ayahnya yang tidak berguna yang kerjanya hanya mabuk-mabukan.

Jinhye ingat bagaimana ia dan adiknya sendirian di rumah menahan lapar. Mengingat adiknya, ia hanya bisa menangis.

8 tahun yang lalu, tepat dua tahun setelah Hyukjae mengusir keluarga mereka, adiknya meninggal karena typhus. Dan ia, tidak ada yang bisa ia lakukan waktu itu untuk mempertahankan nyawa adiknya. Orang-orang memandangnya sebelah mata ketika ia kalang kabut mencari pertolongan untuk adiknya.

Dan saat itu, Jinhye benar-benar tahu apa arti kesendirian.

Jinhye menghentikan mobilnya di depan supermarket, bahan-bahan makanan di rumahnya sudah hampir habis.

Tetapi ia tidak menyangka, tepat ketika ia menutup pintu mobilnya, sebuah tangan kekar menariknya.

Lee Hyukjae.

Hyukjae membawanya ke mobilnya, menyuruhnya masuk dengan bahasa isyarat. Jinhye mematuhinya, ia ingin tahu apalagi yang akan dilakukan Hyukjae untuk mengusirnya dari kota ini.

Namun lagi-lagi, ketika Hyukjae dengan mantap menjalankan mobilnya, Jinhye menyadari ia telah membuat keputusan yang salah.

Berada satu mobil dengan Hyukjae justru membuatnya dapat menghirup aroma maskulin dari pria itu. Aroma yang seksi, membuatnya bergairah.

Jinhye merasa kesulitan bernapas, digigitnya bibir bawahnya dan dicengkramnya jok mobil yang ia duduki untuk menahan birahinya.

Diliriknya Hyukjae , mata pria itu menatap tajam lurus ke jalanan, dan dari samping semakin terlihat jelas garis rahangnya.

Jinhye juga menyadari Hyukjae melepas dua kancing teratas kemejanya, membuatnya ingin menghambur ke pelukan pria itu.

Jinhye memalingkan wajahnya.

Ia tidak pernah merasakan gairah seksual hanya dengan menatap seorang pria, tidak juga dengan almarhum suaminya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu.

Selama dua tahun ia tidak tertarik berhubungan seksual dengan pria manapun, namun kali ini, desakan seksual benar-benar membuatnya gila. Hanya pada seorang Lee Hyukjae.

Jinhye memejamkan mata, berkonsentrasi untuk menghalau gairahnya dengan berdoa.

“Demi tuhan ada apa dengan diriku ! “ gumamnya dalam hati.

Tepat saat itu Hyukjae mengumpat, dan ia tidak peduli pada alasan pria itu mengumpat dan bersumpah untuk tidak menatapnya saat ini jika ia masih ingin untuk mempertahankan harga dirinya.

“ Sial, aku membuat keputusan yang salah. “  umpat Hyukjae dalam hati.

Ia berencana membawa Jinhye ke suatu restoran untuk berbicara, namun kini ia terjebak ke dalam hawa nafsunya.

Hyukjae bisa menghirupnya, aroma feminisme yang menguar dari tubuh Jinhye. Mati-matian ia berkonsentrasi menyetir agar tidak bertindak gila, dengan memaksa Jinhye untuk bercinta dengannya di dalam mobil misalnya.

Tapi sepertinya wanita itu justru mengujinya, diam-diam menatapnya dengan tatapan seolah minta diterkam. Hyukjae mengumpat. Ia bersumpah, dalam hatinya, jika sekali lagi ia menemukan Jinhye menatapnya, ia akan mempersetankan logika.

Untungnya, Jinhye tidak pernah lagi menoleh menatapnya sampai mereka tiba di tempat tujuan mereka.

Hyukjae menyuruhnya turun dengan bahasa isyarat.

Ia berjalan mendahului Jinhye, memasuki sebuah restoran, memilih meja yang berada paling ujung agar tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka. Didukung oleh kondisi restoran yang sepi, ia tahu, ia telah memilih posisi yang strategis.

“ Aku mendengar dari anak buahku, kau berusaha memasuki rumah lama keluarga kami.” Ujar Hyukaje langsung tepat setelah Jinhye duduk, Jinhye hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Hyukjae melanjutkan,

“ Kau tidak akan menemukan apa-apa disana, polisi sudah memeriksa seluruh sudut rumah dan membawa semua bukti-bukti.”

Jinhye mendengarnya jelas, namun perhatiannya, terbagi. Dengan posisi berhadapan seperti ini, Jinhye dapat melihat kedua tulang selangka Hyukjae  yang menonjol. Itu membuatnya terlihat sangat seksi, menambah satu lagi keunggulan pria ini di mata Jinhye.

Hyukjae mengulurkan sebuah kartu nama.

“ Itu kartu namaku, kalau kau sudah siap pergi dari kota ini, aku bisa membantu untuk membelikanmu rumah di kota lain atau ……”

“ Aku punya cukup banyak uang tanpa bantuanmu. “ potong Jinhye tajam.

Hyukjae mendengus.

“ Aku tahu kau seorang pengusaha restoran yang cukup sukses di kota lain.”

Walau Cuma sekilas, wajah Jinhye menunjukan keterkejutan ketika Hyukjae mengatakannya.  Dan Hyukjae menangkapnya, ekspresi keterkejutan Jinhye, membuat otot pipinya tertarik, membentuk seringaian kecil.

“ Kau heran kenapa aku bisa tahu? Kalau aku mau, aku bisa tahu semua jejak hidupmu sejak kau meninggalkan kota ini sampai sekarang kau duduk di hadapanku. Bawa saja kartu namaku, di kota ini, hanya aku yang dengan baik hatinya mau menolong putri pelacur. Jika kau belum tahu, seluruh kota sudah memandangmu rendah. Lebih baik kau cepat pergi.”

Hyukjae berdiri, berbalik untuk berjalan meninggalkan Jinhye, namun baru selangkah ia berhenti.

“ Ah, aku lupa, sekali lagi aku menemukanmu berkeliaran di dekat rumah lamaku, aku tidak akan segan-segan lagi.”

Hyukjae menunggu respon Jinhye, namun Jinhye hanya balas menatapnya tajam seolah menantang.

“ Pesan makanan yang kau mau, mereka akan memasukkannya ke dalam tagihanku.” Ujar Hyukjae terakhir kali lalu meninggalkan Jinhye.

“ Dia benar-benar melecehkanku!” ujar Jinhye geram. Diremasnya kartu nama yang diberikan Hyukjae dan akan dibuangnya, namun sedetik kemudian, ia mengurungkan niatnya. Entah kenapa ia merasa akan membutuhkan kartu nama itu.

“ Siapa yang akan menambah tagihanmu Lee Hyujae.” Desis Jinhye kesal lalu berjalan keluar restoran.

Dan lagi-lagi ia merasa dicurangi Hyukjae, Hyukjae yang membawanya kemari, mobilnya terparkir di depan supermarket yang jauh dari sini.

“ Sialan kau Lee Hyukjae!!!” umpat Jinhye.

***

“ Ck buktinya kurang….” Desis Jinhye pelan.

Ia kembali membaca dokumen-dokumen tentang semua hal yang berhasil dikumpulkannya. Tapi itu terlalu sedikit dan tidak meyakinkan. Otaknya kembali berpikir keras, namun kemudian telinganya menangkap suatu bunyi. Jinhye menajamkan pendengarannya.

Sebelum ini Jinhye tidak percaya akan hal-hal gaib, baginya semua cerita orang tentang hantu adalah omong kosong.

Terdengar bunyi lagi. Degup jantung Jinhye bertambah cepat.

Buru-buru ia mengambil ponselnya, menekan nomor seseorang dan hampir saja menekan tombol dial ketika dilihatnya keluarga tikus berlari melintasi ruang tamu tempatnya duduk.

“ Oh sialan, tikus-tikus itu…. Sepertinya aku harus memanggil petugas pembasmi tikus besok.”

Jinhye menghela napas, tapi kemudian ia tercenung karna menyadari beberapa detik yang lalu ia hampir saja menelpon Hyukjae.

“ Omona …. Bisa-bisanya aku mau menelpon pria sialan itu? Ck!! Jangan pernah terulang lagi Jang Jinhye!!”

***

Jinhye memandang sebuah bangunan tua. Bangunan itu, ia tahu betul dulunya sangat megah dan indah.

“ Sayang sekali harus berakhir seperti ini.” Gumamnya.

Kali ini ia berhasil menyelinap ke rumah lama keluarga Lee.

Jinhye mencoba membuka pintu depan, terkunci.  Tentu saja ia sudah menduganya. Begitu juga dengan pintu-pintu lain.

Jinhye kemudian teringat dulu, ia sering melihat Hyukjae keluar masuk sembunyi dari sebuah jendela.

“ Apakah…….”

Jinhye berharap, jendela itu tidak terkunci.

“ Bingo!” serunya pelan ketika berhasil membuka jendela yang dimaksud.

Namun ketika ia hendak memanjat masuk, sepasang tangan kuat merengkuhnya dari belakang.

“ Sudah aku bilang, kalau aku menemukanmu berkeliaran, aku tidak akan segan-segan lagi, Jang Jinhye.” Desis seseorang.

Jinhye mengenal suara itu, suara yang berhasil memicu birahi seksualnya.

Napasnya sedikit terengah karna punggungnya menempel pada dada Hyukjae, juga karna hembusan napas panas yang mengenai tengkuknya.

Hyukjae menggendongnya, berjalan cepat, membuka pintu rumah itu, dan menendangnya agar menutup. Jinhye hanya terdiam, otaknya kaku, ia seolah terhipnotis oleh pesona Hyukjae.

Hyukjae membawa Jinhye ke sebuah kamar.

Ditendangnya sprei berdebu, dilemparnya tubuh Jinhye ke atas ranjang yang polos tanpa sprei.

“  Kau yang mengujiku, sudah lama aku menahannya, aku tak mau tahu lagi.” Desis Hyukjae cepat.

Gairahnya benar-benar tidak tertahankan lagi.

Diciumnya Jinhye dengan ganas yang dibalas tak kalah panasnya dari wanita itu. Jinhye justru mengalungkan kedua lengannya pada leher Hyukjae, menarik kepala pria itu agar mencumbuinya lebih dalam.

Dengan kasar dan tidak sabar Hyukjae melepas semua  pakaian Jinhye.

Dilepasnya ciumannya, dengan cepat dilepasnya semua bajunya.

Jinhye hanya menatapnya, namun tatapan itu seolah memanggil Hyukjae untuk mendekatinya lagi, menyentuhnya, menjamahnya.

Hyukjae kembali menindih Jinhye, berciuman panas. Dan kini, ketika panas tubuh mereka menyatu tanpa terhalang, keduanya menggeliat. Berusaha mendekatkan diri satu sama lain.

Hyukjae tahu Jinhye sangat bergairah saat ini, dimana saja ia menyentuh, wanita itu menggeliat, mendesah.

Alat kejantanan Hyukjae sudah benar-benar menegang saat ini, tidak sabar menanti sebuah penyatuan.

“ Ohh… PPalli…” desah Jinhye.

Dirinya benar-benar terbakar nafsu, tidak peduli lagi akan fakta bahwa Hyukjae adalah musuhnya. Ia menginginkan Hyukjae memasuki dirinya, penyatuan tubuh mereka berdua.

Hyukjae menggesek-gesekan alat vitalnya pada alat vital Jinhye.

“ Ahh….” Desah nikmat mereka berdua.

Dan seketika Hyukjae memasukkan alat kelaminnya dengan kasar.

“Akh !!” jerit Jinhye.

Jinhye menjerit bukan karena kesakitan, namun karena nikmat yang telah ia nantikan.

Seharusnya ia merasakan sakit, namun hasrat lebih menguasainya, serangan dari Hyukjae barusan benar-beanr menantangnya.

Jinhye menggerakkan pinggulnya cepat, mengejar puncak kenikmatan dari aktivitas penyatuan ini.

Tak mau kalah, Hyukjae menggerakkan pinggulnya berlawanan arah, menghujamkan penisnya sampai batas, merangsang titik-titik sensitif Jinhye lainnya dengan jemari, tangan dan kulit bibirnya.

Keduanya mendesah, bergerak brutal, hingga tak lama hasil yang tunggu akhirnya datang.

Semburan sperma Hyukjae membuat Jinhye melenguh panjang.

Keduanya terengah, tidak menyangka sensasi yang mereka dapat di luar imajinasi liar mereka selama ini.

Keduanya masih terdiam sampai kemudian masing-masing mulai melepaskan diri.

Jinhye tersenyum, ia tidak tahu, Hyukjae benar-benar memikatnya, namun..

“Jadi ini alasan ayahku lebih memilih Hyewoo, rasanya benar-benar…wow..”

Senyum Jinhye memudar.

Lelaki ini membuainya, membuatnya terbang, dan seketika Hyukjae menjatuhkannya dengan satu kalimat itu.

“Aku telah membuat kesalahan besar malam ini, tapi aku yakin, ini yang pertama maupun terakhir kalinya!” ucap Jinhye geram sembari memungut pakaiannya yang berserakan dan dipakainya.

Hyukjae menatap heran.

“Kau kenapa?”

Jinhye hanya menatap dengan dengusan.

Hyukjae menahan lengan Jinhye ketika melihatnya bergerak mendekati pintu.

“Wae geurae?” tanya Hyukjae.

Jinhye menampar Hyukjae , membuat cekalan pria itu terlepas.

“Jangan pernah samakan aku dengan ibuku yang berhubungan dengan ayahmu! Malam ini aku lengah, tapi kau boleh yakin, bahwa kejadian tadi tidak akan pernah terulang lagi! Kau brengsek, Lee Hyukjae!!”

Jinhye berbalik, berjalan cepat-cepat meninggalkan Hyukjae yang masih tercengang.

Hyukjae mengumpat.

ia tahu, ia telah salah bicara, bukan maksudnya untuk menyinggung profesi ibu Jinhye yang notabene adalah seorang pelacur.

Hyukjae mendecak kesal.

Ia menginginkan wanita itu, tidak hanya tubuhnya,namun seluruh keberadaan Jinhye, Hyukjae menginginkannya.

Dan ia tahu betul Jinhye juga menginginkannya.

Hyukjae tersenyum.

“Kau pasti akan kudapatkan, Jang Jinhye.”

Ia tidak peduli lagi akan fakta lama bahwa ibu Jinhye, Hyewoo, telah membunuh ayahnya, dan merupakan penyebab utama alasan ibunya gantung diri.

***

 

-to be continued-

53 thoughts on “[FF NC /21/ scene 1] After The Night

  1. setelah diadakan penelusuran yang mendalam..ternyata ff ini sudah ada teaser sebelumnya….
    makanya oas keluar saya eran aja kayak pernah baca walopun gak ending…ternyata itu teasernya….
    belum pernah baca novelnya..ini aja cukup deh…ditunggu kelanjutannya

  2. annyeong eonni,,
    nae new reader
    kim chaerin imnida *calon wifey LeeTeuk oppa* /plak
    DAEBAK ^^
    QaQ nyangka benci jadi cinta
    one Question :
    minta library dunk
    biar lbh mudah klo mw cari ff

  3. annyeong eonni,,
    nae new reader
    kim chaerin imnida *yeosaeng Wookppa ‘n calon wifey LeeTeuk oppa* /plak
    DAEBAK ^^
    QaQ nyangka benci jadi cinta
    one Question :
    minta library dunk
    biar lbh mudah klo mw cari ff

  4. Huwooooo sukaaaaa XDD haha
    dari awal baca udah deg2an gak nentu gini (?)😄
    Dua2nya sama punya ‘perasaan’ yg sama, tapi karena ada ‘masalah’ jadi kayak musuh.
    Daebaaak author~ waiting for the next scene😛

  5. Woww..entah ini komen k’brpa yg muncul (==’) brharap ni koment masuk#derita ol lwat hape..#

    cuma mau bilang dtunggu lanjutannya#plakk..
    Jinhye jjang !!

  6. hii onnie aku reader baru..
    salam kenal.. ^^
    aku suka critanya, alurnya, dan keyadongannyan..
    hihi..
    walopun nggak di jelasin scr detail kok mreka bs ktemu dll, tp critanya keren.. alurnya jg keren.. hihi..

  7. Seru cerita.a, karakter.a kuat. Awal.a sdkit bingung knp hyukjae benci sama jinhae, yg mlibatkan para sesepuh (¿)
    but over all, neomu joahae

  8. Aku pernah baja 5thn yg lalu versi barat….buku novel biasa……beda namanya aja….terakhir nanti ada rmah terbakar ketika sang pemeran wanita setelah bercinta dngn sang pemeran utama lelaki ha……mudah mudahan gak sama….daebak….

  9. Anyyeong aku new readers, apriliya imnida :^
    aku ijin baca2 ff di sini ya thor..

    Mereka ber dua saling menyukai tapi karna ada masalah di masa lalu ya jadi gini? penasaran lanjut tan nya?

  10. aku serasa pernah baca ff ini tapi lupa lagi udah ninggalin jejak atau belum jadi sekalian aja sekarang ninggalin jejak #serasa gak ngehargain authornya kalau gak ninggalin jejak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s