[FF/Gift for @ryeong_9] someday..

Title : Someday

Main Cast : Ryeowook

Lee Daehee

Other casts : Lee Ahra

Yesung

Kyuhyun

BS : mungkin someday – super junior pas juga kaliya hahaha

Note : FF ini sebenernya udah mulai dibikin pas bulan maret cuman author sibuk kuliah buat ngetik FF udah males hehehe jadi baru bisa diselesain sekarang pas liburan hari pertama ^^v

FF ini sebagai gift buat “ryeowook” yang paling author sayang setelah ryeowook asli wkwk @ryeong_9 ini ff request an km sebagai hadiah ultah yang telat banget. Mungkin ga sesuai mau km maaf juga banyak kekurangannya heheh

Happy belated birthday and i love you ! –“kyuhyun”

 

“Wookie..”

Seorang namja yang berproporsi tubuh chubby menoleh, lalu memberikan senyuman cute andalannya.

“Nae, Daehee??”

“eng.. ada yang ingin aku sampaikan..”

Kim Ryeowook memberikan perhatian sepenuhnya pada gadis itu.

“Bisa kita bicara di tempat lain?”

Kerutan muncul di dahi Ryeowook, menandakan dirinya sedang heran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.

“Memangnya tidak bisa kita bicara di sini? Sebentar lagi aku ada kursus menyanyi, mianhae..”

Raut wajah Daehee sekilas menunjukkan kekecewaan namun sedetik berubah memaksakan senyum.

“Gwaenchana, kalau begitu lain kali saja.. eung.. aku pulang dulu, kau berjuanglah untuk kursusmu.”

Kembali, namja itu menampilkan senyuman cute nya.

“Nae~ hati-hati pulangnya..”

Gadis itu kembali tersenyum lalu membalikkan badannya, menghela napas panjang.

***

“Daehee..”

“Hmm?”

“Daehee~~~”

“Mwoya..”

Ryeowook menghela napas, gadis ini benar-benar tidak mau mengalihkan pandangannya dari komik yang sedang dibacanya.

“Daehee, ada yang ingin aku diskusikan.”

Lagi-lagi hanya dijawab gumaman, Ryeowook pun mengambil paksa komik yang sedang dibaca Daehee.

“Yak! igen mwoya ?!!”

Daehee berkacak pinggang, dan berusaha menampilkan raut wajah terseram yang dipunyainya.

“Ada yang ingin aku diskusikan, jebal~~??” ujar Ryeowook dengan menampilkan tingkah aegyonya.

Daehee menghela napas, iya tahu kelemahan terbesarnya adalah aegyo Kim Ryeowook.

“Arra.. Arra.. Apa yang ingin kau diskusikan?”

“Eng.. itu.. eh kau yakin rumahmu kosong? cuma kita ?” tanya Ryeowook sedikit gugup.

Daehee menatapnya curiga.

“Kalau kau sampai macam-macam aku bisa membunuhmu kapan saja.”

“Omo~ bukan itu Daehee-ya, aku cuma takut ada yang dengar pembicaraan kita”

Daehee mendecak kesal.

“Memangnya apa yang ingin kau..”

“Aku suka kakakmu.”

Terkejut, berharap ia salah mendengar, Daehee memberanikan dirinya untuk bertanya.

“A..apa tadi yang kau bilang?”

“Aku suka kakakmu, Lee Ahra..”

Ryeowook menundukkan wajahnya berharap Daehee tidak melihat semburat merah di kedua pipi chubbynya tanpa menyadari bahwa titik air bening hampir menetes di mata gadis itu.

Daehee bangkit dari duduk, berjalan cepat menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

“Ya~~ Daehee-ya, kau marah ?”

Daehee mengabaikannya, meninggalkan Ryeowook yang masih memandanginya dengan wajah heran.

“Daehee gwaenchana??” tanya Ryeowook sambil mengetuk pintu kamar mandi setelah 10 menit Daehee tidak kunjung keluar.

Daehee membuka pintu kamar mandi, memegang perutnya berakting seolah ia mengalami sakit perut akut.

“Wae geurae?” tanya Ryeowook lagi, bagaimanapun kini menjadi tanggung jawabnya menjaga Daehee selama tidak ada orang di rumah Daehee.

“Ani, mungkin karena belum makan…” jawab Daehee.

“Oh, kalau begitu biar aku yang memasak, kau istirahat saja dulu.”

Daehee mengangguk, memandang punggung Ryeowook yang berjalan meninggalkan kamarnya.

“Kenapa harus kakakku?” bisik Daehee pelan pada dirinya sendiri.

***

“Yang tadi.. tolong jangan beritahu siapa-siapa ya..” ujar Ryeowook memecah keheningan.

Daehee mendongak dari mangkuk nasinya.

“Soal apa?”

Semburat merah kembali muncul di kedua pipi Ryeowook. Imut, itu kesan yang didapat Daehee.

“Soal aku…yang… suka pada kakakmu..”

Bersamaan dengan meluncurnya kata-kata itu dari mulut Ryeowook, nafsu makan Daehee menguap.

“Oh.. ya… tentu..”

Daehee meletakkan sumpitnya.

“Kenapa berhenti? Kau harus makan banyak Daehee-ya..”

Daehee tidak menatap Ryeowook.

“Kenapa kau bisa suka kakakku?” tanyanya tiba-tiba.

Warna merah semakin mendominasi pipi Ryeowook.

“Eh..eng itu..aku juga tidak tahu,.. sulit dijelaskan..”

Keheningan kembali merayap.

“Aku sudah selesai makan, aku mau istirahat dulu, kau kalau mau pulang pulanglah, biar nanti aku bereskan meja makan.”

Tanpa menunggu jawaban Ryeowook, Daehee kembali ke kamarnya.

Ryeowook menghela napas panjang.

“Mungkin dia terlalu sayang kakaknya… Mungkin aku tidak pantas untuk kakaknya.”

***

Katakan sekarang atau kau akan menyesal selamanya.

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Daehee beberapa hari ini.

Lagi-lagi ia menghela napas.

“Daehee-ya !! apa yang kau lakukan? mendesah seperti orang tua saja.”

Daehee mencubit lengan Ryeowook.

“Yah!! Aku bukan orang tua.. Aku hanya sedang.. berpikir..”

“Aha! Kau pasti memikirkan namja. Geurae?? Ah Daehee-ku sudah besar rupanya.”

Cubitan kembali bersarang di lengan Ryeowook yang disertai suara mengaduh.

“Appayo.. ”

Daehee memalingkan muka, lagi-lagi Ryeowook menunjukkan ekspresi yang menjadi titik lemah Daehee.

“Arrasseo, aku hanya bercanda, apa yang kau pikirkan Daehee-ya?”

Ryeowook memberikan senyuman manis, ia tidak ingin Daehee sedih ataupun marah kepadanya.

Ia merasa Daehee sudah seperti adik kandungnya sendiri yang mesti ia lindungi dan ia bahagiakan.

Daehee menghela napasnya.

“Aku… ada yang ingin aku bicarakan denganmu..”

Ryeowook membulatkan matanya.

“Bukankah kita sedang bicara saat ini?” tanya Ryeowook sambil tersenyum.

“Aish.. bukan itu.. aku..”

“Ryeowook-ah.. bisa kau bantu aku dulu?” Seorang gadis menginterupsi pembicraan mereka.

“Nae? Bisa kau tunggu? Aku sedang ada pembicaraan penting dengan Daehee.” jawab Ryeowook namun langsung disanggah Daehee.

“Ani, ani, silahkan,kita bisa membicarakannya lain kali.” ujarnya sembari tersenyum.

Ryeowook menatapnya heran, kemudian mengangkat kedua bahunya.

“Baiklah kalau begitu aku tinggal dulu.”

Lagi-lagi Daehee hanya bisa menatap punggung Ryeowook yang menjauh dengan helaan napas panjang.

***

Kutunggu sepulang sekolah

Singkat. itu isi pesan dari Daehee. Ryeowook tersenyum, apakah gadis ini sudah mengetahui rencananya?

Senyum Ryeowook mengembang melihat siluet gadis yang sepertinya sudah lama menunggunya, namun anehnya wajah gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesal, justru sepertinya … tegang?

“Bukankah seharusnya aku yang merasa tegang?” gumam Ryeowook pada dirinya sendiri.

“Menungguku lama?” tanya Ryeowook.

Biasanya gadis itu akan mengeluarkan serentetan kata-kata makian atau gaung kemarahan tapi gadis itu hanya menggeleng kalem.

Ryeowook mengernyitkan dahinya.

“Gwaenchana?” tanyanya.

Daehee mengangguk cepat-cepat.

“Hmm…aku..”

Keduanya bicara pada saat bersamaan dan berhenti pada saat yang bersamaan juga.

Ryeowook tersenyum.

“Kau duluan”

Daehee menggeleng pelan, kau saja, kau cepat sekali lupa apa yang mau kau bilang.”

“Hmm… begini aku…”

Daehee menunggu,

“Aku mau mengutarakan perasaanku pada kakakmu.”

Satu kalimat, hanya satu kalimat tapi cukup membuat Daehee sedikit limbung.

“Gwaenchana?” tanya Ryeowook cemas sambil memegangi lengan Daehee.

Daehee menepisnya pelan.

“Mungkin hanya kecapekan, aku mau pulang.”

Daehee berbalik, menyeret paksa kakinya yang seakan mati rasa meninggalkan tempat itu.

Tapi kemudian ia berbalik.

“Oh iya, aku doakan kau sukses, semoga berhasil, aku lihat kalian cukup dekat akhir-akhir ini, hwaiting!” ucap Daehee sembari memberikan senyuman lebar, senyuman palsu tentunya.

Ryeowook membalasnya dengan senyuman tulus.

“Cepat sembuh Daehee-ya, gomawo atas dukungannya..”

Daehee mengangguk lalu berbalik, menghela napas yang akhir-akhir ini menjadi kegiatan favoritnya lalu kembali memaksa kakinnya berjalan.

***

Wajah sumringah Ryeowook yang mendatanginya justru seperti pukulan berat bagi Daehee. Ia mencoba tersenyum.

“Bagaimana?” tanyanya, sebenarnya sulit sekali untuk berbicara pada kondisinya saat ini.

Senyum Ryeowook semakin mengembang yang sebenarnya justru menambah goresan luka di hati Daehee.

“Awalnya dia seperti ragu mengingat dia lebih tua dua tahun dari aku tapi aku berhasil meyakinkannya.”

“Lalu?” tanya Daehee sedikit enggan, dia sudah tahu jawabannya, ia hanya ingin menghormati sahabatnya.

Ryeowook tersenyum lalu memeluknya.

“Aku diterima!! Omona.. aku senang sekali Daehee-ya..”

Daehee tersenyum pahit.

“Chukhae..” ujarnya pelan.

Yang di pikirannya saat ini adalah bagaimana ia harus bersikap di depan kakaknya. Ia sama sekali tidak membenci kakaknya saat ini, ia hanya enggan bertatap muka, apakah itu jahat? Mungkin jahat karena kakaknya tidak tahu apa-apa. Lalu apakah dia harus membenci Ryeowook?

Lebih mustahil lagi untuk membenci orang yang dicintainya secara tiba-tiba.

“Aku harus pergi, aku ada janji dengan Ahra noona. ” ujar Ryeowook. Daehee hanya membalasnya dengan senyum lemah.

“Anyyeong Daehee, kau cepat pulang. ” ujar Ryeowook lalu mencubit pipi Daehee pelan dan berlalu.

***

Sendiri. Akhir-akhir ini Daehee selalu terlihat sendiri. Padahal sekarang adalah masa-masa terakhirnya sebelum kelulusan.

Lusa adalah hari kelulusan, seharusnya ia ceria, namun yang terlihat hanya wajah tanpa ekspresinya.

Daehee menyusuri koridor sekolahnya, seakan tenggelam dengan memorinya tentang apa yang pernah ia lakukan di sana.

“Sebentar lagi… sebentar lagi kita akan berpisah..” gumamnya pelan sembari mengusap dinding koridor.

“Daehee!!” panggil seseorang yang suaranya sudah sangat familiar di telinga Daehee.

Daehee menoleh.

“Ya?”

“Besok kau ada acara?” tanya Ryeowook

“Kenapa?” tanya Daehee.

“Aku mau beli baju untuk kelulusan, kau bisa menemaniku?” tanya Ryeowook.

“Hanya kita berdua yang pergi? Kenapa kau tidak mengajak kakakku?”

“Besok dia sibuk dengan urusan kampusnya, lagipula, lusa kita sudah kelulusan, ayo kita menghabiskan waktu bersama!!”

Daehee tersenyum.

“Ne.. ” jawabnya sembari mengangguk.

mungkin pergi untuk yang terakhir kali bukan hal yang buruk”

***

“Kau melihat Daehee??” tanya Ryeowook kepada seorang yeoja yang diketahuinya teman Daehee.

Pertanyaan itu diajukannya belasan kali kepada belasan orang yang sekiranya mengenal yeoja yang sedang ia cari.

Gadis itu menggeleng, tanda ia benar tidak bertemu Daehee.

Ryeowook mendecak kesal.

Ini hari kelulusan, dimana dia berada.

Sebelumnya ia masih melihatnya dalam upacara kelulusan, namun seusai upacara gadis itu seolah lenyap.

Ryeowook mengedarkan pandang ke sekeliling, berharap melihat siluet Daehee di antara kerumunan murid yang merayakan kelulusan.

Namun perhatiannya teralih dengan adanya panggilan masuk di ponselnya. Nada dering khusus, yang sengaja ia pasang untuk kekasihnya.

“Nae chagi?” tanyanya.

“Ah arrasseo, aku segera kesana.” Ujar Ryeowook lalu menutup teleponnya.

Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya, berharap melihat siluet Daehee yang terakhir kali sebelum ia pergi. Namun ia hanya bisa mendesah kecewa.

Ryeowook berjalan pelan keluar sekolah, tersenyum pada orang-orang yang dengan riang menyapanya.

“Wae geurae?” tanya Ryeowook ketika sudah bertemu dengan kekasihnya di tempat mereka biasa bertemu.

“Kita putus saja.” Ujar Ahra.

Seketika Ryeowook membeku.

“w..wae??” tanyanya.

“Yang kau cintai sebenarnya bukan aku. Kau mungkin hanya mengagumiku, tidak lebih. Dari awal sebenarnya aku tahu, aku hanya mengujimu apa kau bisa cepat menyadari perasaanmu yang sesungguhnya namun ternyata kau tidak menyadarinya.”

Ryeowook memandang Ahra dengan tampang bingung.

“A..aku tidak mengerti…”katanya kemudian.

Ahra menghela napas.

“Yang kau cintai sebenarnya justru adikku, Daehee. Dia yang selalu kau perhatikan, yang selalu kau lindungi. Tidakkah kau sadar kau justru terus menceritakan tentang Daehee bila kita sedang bersama? Kukira kau menyadarinya, ternyata kau butuh disadarkan.”

Ryeowook terdiam, berusaha mencerna kalimat Ahra. Namun diamnya Ryeowook dirasakan cukup lama bagi Ahra.

“Kalau begitu aku pulang, maafkan aku tapi hubungan kita tidak bisa diteruskan, aku tidak bisa terus melukai perasaan adikku sendiri.”

Ahra bangkit dari duduknya, hampir berjalan meninggalkan Ryeowook ketika suara pemuda 16 tahun itu menahannya.

“Melukai perasaan adikmu? Maksudmu apakah Daehee…”

Ahra mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, meletakkannya di depan Ryeowook.

“Itu adalah buku harian Daehee, kurasa kau harus membacanya.”

Ryeowook mengambilnya pelan, memandanginya.

Baru selangkah Ahra berjalan, lagi-lagi Ryeowook menahannya

“Jadi dimana Daehee sekarang?”

Ahra berbalik, menatap Ryeowook tidak percaya.

“Daehee tidak memberitahumu?”

***

Napas Ryeowook memburu, mengedarkan pandang ke segala penjuru, berharap menemukan siluet Daehee.

“Ia akan pergi ke Inggris, melanjutkan studinya di sana. Kebetulan ada saudara kami yang di sana jadi appa dan omma setuju. Kukira dia memberitahumu mengingat hubungan kalian berdua sangat dekat. Dia pergi hari ini, sebelum ke sini aku sempat mengantarnya ke bandara. Kurasa 15 menit lagi pesawatnya akan berangkat.”

Ryeowook mendecak kesal, kesal terhadap dirinya sendiri, terhadap kebodohannya.

Gadis ideal yang sebenarnya ia cari-cari justru yang selalu berada di dekatnya, namun ia tidak menyadarinya. Ia juga tidak menyadari perasaannya pada gadis itu.

Ia masih berusaha mencari daehee di antara kerumunan orang di bandara sampai kemudian terdengar pengumuman pesawat yang menuju Inggris akan lepas landas.

Seketika seluruh tubuhnya lemas, tanpa disadarinya air matanya menetes. Dihiraukannya pandangan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan heran campur kasihan.

“Daehee-ya.. jeongmal mianhae.. aku harap suatu hari nanti kita dapat bertemu lagi.. mianhae.. mianhae..” bisiknya dalam tangis.

***

7 years later

“Hyung apa kau melihat sejenis agenda milikku? Tadi aku meletakkannya di atas meja tapi entah kenapa aku tidak bisa menemukannya.” Tanya Ryeowook kepada yesung yang sedang duduk di sofa santai, menonton TV dengan member Super Junior yang paling muda, Kyuhyun.

“Ah.. tidak aku tidak melihatnya.” Jawab Yesung tanpa melihat Ryeowook.

“Aigoo.. kalau begitu diman…” pandangan Ryeowook berhenti pada buku yang sedang Kyuhyun baca.

“Kyuhyunnie.. apa itu agenda yang sedang aku cari? Ya! Neo jinjja!!”

Ryeowook merebut paksa agenda itu, wajahnya merah padam menahan malu dan marah.

Kyuhyun terkekeh.

“Mian, ku kira itu milikmu jadi iseng saja aku baca.”

Ryeowook mendengus, berjalan ke kamarnya.

“Siapa itu Lee Daehee? Mantan pacar?” tanya Kyuhyun.

Ryeowook berbalik, menatap Kyuhyun tajam.

“Arrasseo.. aku tidak akan menanyakan apapun.”ujar Kyuhyun kembali terkekeh.

Ryeowook berjalan kembali ke kamarnya namun kemudian ia berbalik tepat ketika ia akan membuka pintu kamarnya.

“Lee Daehee adalah orang yang sangat berarti untukku.” Ujarnya lalu masuk kamarnya.

Benar, bahkan sampai sekarang ia masih mengharapkan agar dapat bertemu dengan Daehee lagi.

Ryeowook mengelus buku harian Daehee, kembali membayanginya bayangan dimana mereka bermain bersama sampai dering telepon membuyarkannya.

“Yeobseoyo?”

“kim Ryeowook?”

Ryeowook membeku, ini suaranya, suara yang ia rindukan selama tujuh tahun terakhir, suara gadis yang mungkin tanpa sadar telah ditunggunya, gadis yang sangat ingin dia temui.

“Lee….. Daehee?”

***

10 thoughts on “[FF/Gift for @ryeong_9] someday..

  1. *jeng* *jeng* setelah bongkar” , akhirnya nemu juga yg castnya ryeowook *horeee*

    sekian lama ~ #abaikan

    nice story thor😀
    #tidaktahumaucommentapaanlagi #ninggalinjejaksekalian

    kalau bisa diperbanyak story yang castnya ryeowook ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s