[HyukToria/Oneshot FF] Please Don’t Say Good Bye

casts : Lee Hyukjae, Victoria Fx

Genre : Romantic (?)

Statements : i made this cause i want not to entertaint readers ._.v

based on F.I.X MV with the same title

Do not bash or plagiat

-Bisakah kita bertemu?-

Victoria membacanya sekilas, teks message dari kekasihnya, Lee Hyukjae.

“Vic, cepatlah, pemotretanmu akan segera dimulai. Setelah itu kau harus segera pergi ke lokasi syuting.”

Victoria tersenyum kepada manajernya.

“Arrasseo.”

Seketika ia menghela napas panjang sepeninggal manajernya, diketikannya balasan singkat.

-Mianhae, hari ini jadwalku penuh mungkin besok aku akan menemuimu. (T T)-

Sudah beberapa hari ini ia bahkan tidak menelepon Hyukjae, atau bahkan mengangkat telepon darinya.

Bulan ini benar-benar bulan yang sangat sibuk untuknya. Terakhir kali ia bertemu Hyukjae beberapa minggu yang lalu ah ia bahkan tidak dapat mengingatnya dengan baik karena waktu itu ia juga hanya bertemu sebentar.

Victoria menghela napas lagi, ia beranjak untuk kembali bekerja ketika ponselnya kembali berbunyi, balasan dari kekasihnya.

-arrasseo, kita bisa bertemu lain kali~ fokus saja pada pekerjaanmu, hwaiting viccie !! saranghae ^-^-

Victoria tersenyum, ia merindukan kekasihnya.

***

Beberapa hari stelah itu pun Ia masih belum bisa bertemu kekasihnya, pesan singkat, email apalagi telepon, jarang sekali ia sempat membalasnya atau mengangkatnya.

Pikirannya hanya penuh bagaimana pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik, mendapatkan kepuasan dari orang-orang yang kemudian akan mengangkat pamornya sebagai artis.

Waktunya memikirkan Hyukjae hanya ketika ia akan berangkat tidur. Sejenak dalam pikirannya terbersit bahwa ia ingin menemui pria itu pada keesokan harinya sebelum ia terlelap. Dan ketika ia terbangun ia lupa akan keinginannya, kembali pada rutinitasnya yang padat.

Dering ponsel membuyarkan lamunannya, kini ia di tengah istirahat makan siang di lokasi syuting.

Tersenyum melihat di layar ponselnya siapa yang sedang menunggunya untuk menjawab telepon.

“Yeobseoyo oppa~? Jeongmal bogosiepo~” ujar Victoria sembari tersenyum lebar.

Lama tidak terdengar jawaban dari seberang membuat Victoria cemas.

“Oppa? Kau masih di situ? Gwaenchana?” tanyanya.

Terdengar helaan napas, menandakan bahwa penelepon sedari tadi mendengarkannya.

“Hari ini… bisakah kau meluangkan waktu sebentar saja? Aku benar-benar ingin bertemu.”

Lelah, itu dapat Victoria rasakan mendengar suara Hyukjae.

Sejenak otaknya berpikir keras tentang jadwal pekerjaannya hari ini.

“Sepertinya nanti malam aku lumayan senggang, aku akan meneleponmu ketika aku sudah free. Gwaenchana? “

“Arrasseo, kalau begitu lanjutkan saja pekerjaanmu, jangan lupa makan aku tidak mau kau sakit.”

“Ne, oppa juga.. “

Victoria hendak menutup telepon ketika didengarnya suara Hyukjae yang masih memanggilnya.

“Viccie?”

“Ah ne oppa?”

“aku………….. ah nanti saja kalau kita bertemu. Sudah ya aku tutup dulu, jaga dirimu, sampai nanti.”

Victoria termenung. Ia penasaran dengan apa yang batal Hyukjae katakan. Lagi, Hyukjae tidak suka jika ia memanggilnya dengan oppa, ia akan merajuk, memaksa Victoria untuk berhenti memanggilnya oppa.

Namun barusan, beberapa kali Victoria memanggilnya oppa namun tidak sekalipun Hyukjae memarahinya.

“Waeyo…” gumamnya heran.

***

Victoria mendesah. Berulang kali ia melihat arloji di tangannya, gelisah.

“Kenapa kau terlihat gelisah seperti ini?” tanya manajernya.

“Bisakah kita pulang sekarang? Aku ada pertemuan dengan seseorang.”

Manajernya menggeleng.

“Kita harus menunggu sutradara untuk membahas syutingmu lebih lanjut, kenapa? Siapa yang ingin kau temui? Bilang saja padanya bertemu besok.”

“Aish, dia orang yang penting bagiku, aku sudah lama  tidak bisa bertemu dengannya.”

Manajernya hanya mengedikkan bahu, seolah tidak ingin ikut campur pada masalah pribadi Victoria.

Waktu menunjukkan tepah tengah malam ketika Victoria menyelesaikan pekerjaannya.

“Aigoo.. dia pasti marah padaku..” gumamnya.

Ia mengecek ponselnya, tidak ada sms ataupun telepon.

“Dia pasti benar-benar marah..”

Dengan cepat ditekannya tombol-tombol angka yang sudah dihafalnya.

“Hyukjae..” sapanya cepat ketika teleponnya diangkat.

“Hmm??’

“Maaf aku ..”

“Banyak pekerjaan aku tahu, gwaenchana..”

“Jeongmal mianhae… apakah sekarang kita bisa…”

“Aku sedang siaran di radio.” Potong Hyukjae singkat.

“Kalau begitu aku akan ke sana.”

“Tidak usah.”

“Geundae…”

“Kau pulang saja, istirahatlah, sudah malam. Maaf aku siaran dulu. Anyyeong.”

Sebelum Victoria sempat membalas perkataannya Hyukjae menutup telepon.

Mendesah lagi Victoria menatap suram ponselnya.

“Dia benar-benar marah.. aku harus bertemu dengannya besok.”

***

“ada apa denganmu hari ini? Kau terlihat bersemangat, bahkan tidak ada kesalahan dalam aktingmu.”

Victoria tersenyum.

“Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat, tinggal satu scene lagi aku selesai dan boleh pergi kan?” tanya Victoria lalu sedikit merapikan make up nya.

“Hmm.. tapi jangan lupa nanti malam kau harus latihan untuk persiapan album baru.”

Victoria mengangguk.

Scene terakhir benar-benar ia lakukan dengan baik. Bergegas dirapikannya barang-barangnya, memberi salam pada setiap kru yang ditemuinya.

“Kau akan pergi?” tanya manajernya.

Victoria mengangguk.

“Mau aku antar?”

“aniyo, aku membawa mobil sendiri tadi. Kalau begitu sampai jumpa.”

Victoria berjalan sedikit tergesa ke mobilnya.

Membayangkan bagaimana nanti reaksi Hyukjae yang melihatnya secara tiba-tiba, ia tersenyum.

“Qiannie?”

Victoria menoleh.

“Sungmin oppa? Apa yang kau lakukan di sini?” Victoria menatap Sungmin heran.

“Oh aku sedang ada sedikit urusan. Kau sedang syuting ya?” tanya Sungmin.

“Iya tapi aku sudah menyelesaikannya, sekarang aku akan menemui Hyukjae. Apa oppa tahu Hyukjae ada dimana sekarang?”

Sungmin menatapnya heran.

“Apa maksudmu? Jangan bilang kau tidak tahu. Tidak mungkin Hyukjae tidak memberitahumu kan?”

Victoria terdiam, perasaannya tidak enak terhadap kalimat Sungmin barusan.

“Memberi….tahu soal…apa?” tanya Victoria takut-takut.

“Omona.. jadi dia benar-benar tidak memberitahumu? Hyukjae……”

***

Victoria mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, baru pertama kali ini dia menyetir gila-gilaan.

Pikirannya kacau, kalimat terakhir yang ia dengar dari Sungmin seolah pukulan yang besar.

Mau menyesal juga percuma, ia berusaha mengejar waktu ah tidak, waktu tidak dapat dikejar..

“Kumohon waktu berhentilah…”

Namun ia sendiri tahu itu mustahil. Ditambahnya kecepatan mobilnya dan hampir saja ia menabrak mobil di depannya.

”Hyukjae akan pergi ke luar negeri, dia mendapat pekerjaan kalau tidak salah di Los Angeles. Aku tidak tahu sampai kapan karena dia tidak memberitahuku, aku kira dia pasti memberitahumu.”

“Argh!!” teriak Victoria kesal pada dirinya sendiri.

Mungkin ini yang ingin dibicarakan Hyukjae, ia terus meminta ingin bertemu, namun tidak disanggupinya karena urusan pekerjaan.

Victoria seketika berlari ketika ia sampai di airport. Mencari sosok kekasihnya yang sudah lama tidak ia temui.

“Hyukjae eoddiga..” gumamnya cemas.

Beberapa orang memergokinya, mengetahuinya kalau ia adalah seorang artis meskipun penyamarannya lengkap. Namun ia tidak bisa berhenti.

Di pikirannya hanya untuk menemukan Hyukjae.

Dan ia menemukannya, sosok itu, sosok yang ia rindukan, sosok yang telah ia abaikan, berjalan pelan menuju ruang tunggu keberangkatan internasional.

“LEE HYUKJAE!!” teriaknya. Dihiraukannya orang-orang yang menatapnya heran.

Namun orang yang diteriakinya tidak menoleh.

Mendecak kesal Victoria berlari cepat menghampirinya, menepuk pundaknya.

Hyukjae menatapnya, terkejut.

“Kau..akan…meninggalkanku…begitu saja?” Victoria berusaha berbicara di sela sela ia mengatur napasnya.

“Viccie, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sibuk?”

Victoria manatapnya, wajah yang sama, wajah yang ia sayangi, namun kini wajah itu terlihat lelah, tak ada senyum gusi yang sangat ia sukai.

“Bogosiepo…”ucap Victoria lirih. Air matanya menetes.

“Ya.. uljima… kenapa kau menangis? Maafkan aku, aku tahu seharusnya aku memberitahumu namun beberapa kali aku minta bertemu kau selalu tidak bisa. Aku takut jika aku meneleponmu hanya untuk memberitahumu soal ini  akan mengganggu pekerjaanmu. Kau sangat sibuk akhir-akhir ini bukan?” Hyukjae ,menghapus airmata Victoria dengan kedua ibu jarinya.

“Paboya… kalau begitu kau lebih suka aku tidak tahu kepergianmu? Aku kehilanganmu tanpa aku tahu?”

“Kupikir… pekerjaanmu lebih penting. Karena itu aku tidak mau mengganggumu..”

Tidak dapat menahan dirinya Victoria memeluk Hyukjae. Menangis.

“Ya! Ya! Apa yang kau lakukan astaga banyak orang melihat kita bagaimana kalau kau sampai terlibat kasus denganku.”

“Aku tidak peduli..Bukankah ini yang terakhir…”

Perih ketika ia sendiri mengucapkannya. Yang terakhir, ia tidak akan melihatnya lagi entah untuk waktu berapa lama.

Hyukjae balas memeluknya.

“Mianhae…”

Victoria melepaskan diri dari pelukan Hyukjae, menggenggam tangan Hyukjae.

“Apakah kau akan menghubungiku selama di sana?”

“Itu…”

Hyukjae terlihat kebingungan untuk menjawabnya.

“Hyukjae kau tidak akan bilang bahwa kita benar-benar akan…. Tolong jangan katakan…”

Sekuat tenaga Victoria berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

Hyukjae menghela napas.

“Kurasa memang harus begitu Viccie… aku tidak tahu kapan aku akan kembali… kau juga sebaiknya fokus pada pekerjaanmu. Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi dan jika pada saat itu perasaan kita masih sama mungkin kita bisa mengaturnya. Tapi jika saat itu salah satu dari kita ataupun kita berdua sama-sama berubah… kita tahu apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Terdiam, namun masih menggenggam erat tangan Hyukjae, Victoria berusaha menata perasaannya yang hancur.

“Kau… mengerti kan? “

Victoria mengangguk pelan. Bagaimanapun ia juga telah salah, mengabaikan Hyukjae dan lebih mementingkan pekerjaan hingga untuk bertemu pun tidak bisa.

“Aku tidak menyalahkanmu Viccie..” ujar Hyukjae seolah dapat membaca pikiran Victoria.

Sekali lagi Victoria hanya mengangguk.

“Hyukjae? Apa yang kau lakukan? Ayo cepat sekarang waktunya kita masuk pesawat.” Ujar seseorang yang tiba-tiba datang dari dalam ruang tunggu.

“Ah ne hyung.. aku akan menyusul.”

Hyukjae menatap Victoria yang masuh menundukkan kepalanya.

“Aku harus pergi… maafkan aku.. “bisik Hyukjae lalu berjalan hendak memasuki ruang tunggu namun tangannya masih ditahan Victoria.

Victoria mengangkat mukanya, menatap Hyukjae dengan nanar. Ingin Hyukjae memeluknya sekali lagi namun itu dapat mengurungkan keputusannya untuk pergi.

Perlahan Victoria melepaskan genggamannya, membiarkan Hyukjae pergi dengan menatap punggungnya.

Dan ketika bayangan Hyukjae memudar pertahannya jebol.

Semua kenangannya bersama Hyukjae membanjiri pikirannya. Saat mereka tertawa bersama, saat mereka saling menjahili satu sama lain, atau ketika salah satu dari mereka mempunyai masalah dan pihak satunya memberi support.

Ia merindukan masa itu.

Entah sejak kapan ia mulai menangis ia tidak peduli, ia bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang terus melihatnya.

Berjalan lunglai otaknya memanggil satu nama. Lee Hyukjae.

Bisakah waktu kembali? Ia ingin kembali ke masa mereka masih bersama, ia ingin mengulang lagi waktu yang selama ini dihabiskannya untuk bekerja yang bahkan tidak sempat semenit pun meluangkannya untuk Hyukjae.

“Waktu kembalilah….”

***

“Tadi.. kekasihmu?”

Hyukjae menoleh ke orang yang mengajaknya bicara, sekaligus orang yang mengajaknya bekerja di luar negeri.

Ia memberi anggukan singkat.

“Kalian tidak apa-apa?”

Hyukjae menghela napas.

Ia masih sangat menyayangi Victoria, namun akhir-akhir ini gadisnya berubah. Ia tidak mau menyalahkannya karena itu memang sudah menjadi resiko kekasih artis.

Namun ia sendiri tidak bisa terus menerus diabaikan.

Kenangan-kenangan saat mereka masih bersama datang membanjiri pikiran Hyukjae.

Dan seketika air matanya menetes mengingat wajah sendu Victoria yang menatapnya nanar.

“Kau masih menyayanginya ya.. kalau begitu kenapa kau memutuskan untuk pergi?”

“Entahlah… mungkin ini yang terbaik bagi kami berdua.” Jawab Hyukjae pelan.

Hyukjae menatap keluar jendela, terakhir melihat siluet kota tempatnya selama ini tinggal.

Meninggalkan keluarga, teman-temannya ……… dan kenangan bersama kekasihnya.

***

“Kau mau kemana? Akhir-akhir ini cepat sekali kau menghilang setelah pekerjaanmu selesai”  ucap manajernya heran melihat Victoria bergegas membereskan barang-barangnya .

Victoria hanya memberi senyuman singkat.

Bergegas ia menuju mobilnya, memacunya ke arah bandara.

Tidak mungkin ia akan menjawab, pergi ke bandara untuk menanti kepulangan seseorang yang entah kapan akan datang bukan?

Victoria selalu menyempatkan waktunya mengunjungi bandara seusai pekerjaannya, menunggu siluet seseorang muncul hingga waktu untuk pekerjaan selanjutnya tiba baru ia akan pergi.

Victoria duduk di tempat favoritnya, tempat yang tidak begitu banyak orang akan memperhatikannya namun ia dapat melihat dengan jelas orang-orang yang baru turun dari pesawat.

Ia tidak tahu apakah ini akan berguna, sudah 2 minggu ia seperti ini namun orang yang ditunggunya tidak pernah datang atau memberi kabar.

“Aku merindukanmu Lee Hyukjae..” gumamnya.

Hampir saja ia kembali menangis sebelum akhirnya ponselnya berdering.

“Yeobseoyo? Ah Sungmin Oppa, waeyo? Ke sana? Perayaan ulang tahun? Sekarang? Ah ne… aniyo aku tidak sibuk, baiklah aku ke sana.”

Victoria memutuskan telepon, memandang teleponnya sebentar sebelum kembali menyimpannya ke dalam tasnya.

Sejenak ia berdiri, mengamati orang-orang yang baru saja turun dari pesawat. Dan mendesah.

Ia pun meutuskan untuk pergi, memenuhi permintaan Sungmin yang memintanya untuk datang.

“Viccie?”

Victoria berhenti. Panggilan ini, suara ini..

“Tidak mungkin…” bisiknya pada dirinya sendiri.

Victoria berbalik dan cukup terkejut.

Orang yang selama ini ditunggunya, orang yang selama ini dirindukannya kini ada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyukjae.

Victoria masih terpaku.

“Hyu…Hyukjae?”

Hyukjae tersenyum, senyum yang memperlihatkan gusinya, senyum yang sangat Victoria sukai.

“Ya, ini aku. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau di sini? Kau tidak menungguku kan?” tanya Hyukjae setengah bercanda.

Victoria menggeleng.

“Aku menunggumu” ujarnya pelan.

“kenapa bisa? Aku bahkan tidak memberitahu siapa-siapa tentang kepulanganku hari ini.”

Victoria menatap Hyukjae lekat.

“aku menunggumu setiap hari. Menunggu kalau-kalau kau akan pulang… seperti hari ini..”

Hyukjae terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Victoria rela menyisihkan waktunya hanya untuk menanti seperti orang bodoh di bandara, menanti kepulangannya.

“Bagaimana jika aku tidak kembali hari ini? Bagaimana jika aku kembali tahun depan? Atau dua tahun lagi atau entah kapan?”

Victoria tidak langsung menjawab, ditatapnya wajah Hyukjae yang menampilkan ekspresi serius.

“Aku akan tetap menunggumu Hyukjae…”

“Jika memang begitu aku akan menunggumu” lanjut Victoria.

Hyukjae memeluknya, mengecup puncak kepala Victoria.

“Ayo pulang..” ajak Hyukjae menggandeng tangan Victoria.

Menghapus air matanya yang tibatiba jatuh dengansebelah tangannya yang bebas Victoria tersenyum.

Ia mendapatkannya kembali, orang yang dikasihinya.

Waktu memang tidak dapat kembali, namun ia dapat memperbaiki kesalahannya di waktu yang akan datang.

“Hyukjae..”

“Hmm?”

“Jangan pernah tinggalkan aku lagi…”

Hyukjae terkekeh pelan.

“Entahlah, tapi aku tidak berjanji, pekerjaanku masih menunggu di Los Angeles.”

Victoria terdiam. Melihat ekspresi sedih di wajah Victoria Hyukjae tertawa.

“Aku berbohong, pekerjaanku dipindah kembali ke seoul.” Ujarnya lalu menjulurkan lidahnya dan berlari mendahului Victoria.

Victoria terpaku sejenak berusaha mencerna perkataan Hyukjae.

“Ya! Lee Hyukjae !”

***

Its just a Fan Fiction which born from my imagination. Although it based from real story. Not Real story lol

I know we are only Roleplayers but thanks cz ever came to fill my life.

Ilysm Buffalo Chicmonk –PSQA-

 

12 thoughts on “[HyukToria/Oneshot FF] Please Don’t Say Good Bye

  1. hyuktoria??? sempat salah kepikirannya kyutoria ato khuntoria… hahaha
    tapi puasss…. keren banget ceritanya
    dipikir2 cocok juga mereka berdua

    saya bacanya pas lagi antri nie…..nahan nangissss….huaaa…keren

    keep writing

  2. onnie, aku ga pernah baca ff hyuktoria, diliat2 mereka serasi juga.. ceritanya so sweet banget sedih :((((( ada ya cewe yng rela nunggu di bandara setiap hari. keep writing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s