[FF/Part 1] Love’s Loan

Author : Ara Lee

Casts : Lee Sungmin

Song Saehee

Genre : Yadong 17, romance

Note

ini murni fiktif karangan author tanpa plagiat dari sumber manapun. jadi tolong jangan ada yang plagiat juga ya ^^

boleh copy asal ijin author dan disertai credit siapa authornya🙂

sedikit penjelasan soal judul maksudnya bukan cinta yang dipinjamkan (love for loan) tapi cinta karena pinjaman (love cause loan) (?) begitulah -.-v

Happy reading ~

Comment lebih bagus ^^

 

 

 

Saehee menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Kini ia benar-benar sendirian. Sekarang ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Matanya memandang ke sekeliling, interior rumahnya tertata apik. Tentu saja, ayahnya bahkan sampai menyuruh desainer terkenal untuk menata ruangan rumahnya. Namun semua itu kini percuma.

Untuk apa rumah sebesar ini dan seindah ini interiornya jika ia hanya tinggal sendiri.

“Hanya orang bodoh yang tinggal di rumah sebesar ini sendirian “ gumam Saehee lalu mendengus menertawai ayahnya.

Sejak ibunya meninggal lima tahun lalu ia memang tidak tinggal bersama ayahnya, ia memilih tinggal sendiri di apartemen kecil di dekat kampusnya.

Orangtuanya tidak bercerai, tidak, ibunya bahkan sangat menyayangi ayahnya. Namun tidak begitu dengan ayahnya, entah kenapa sejak perusahaannya menjadi besar sikap ayahnya terhadap ibunya maupun dirinya berubah.

Beliau tidak lagi menjadi ayah yang menyenangkan, sosok ayah yang bila pada hari liburnya rela meluangkan waktunya hanya untuk menjadi kuda tunggangan bagi anaknya.

Song Saehee tidak lagi mengenal ayahnya sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Harus aku apakan rumah ini?” desisnya.

Ia sedang mempertimbangkan untuk menjual rumah peninggalan ayahnya ini ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

“pasti dari relasi ayah yang ingin melayat.”

Saehee bangkit dari duduknya, menghapus bekas air mata di wajahnya yang ia sendiri bingung kenapa ia masih menangisi kematian ayah yang sudah lama tidak dianggapnya.

”Ah maaf, tapi jasad ayah sudah …”

“Anda kerabat  Tuan Song Hyunsoo?”

Saehee mengernyitkan dahinya.

Kedua orang pria di depannya memakai jas rapi, ia mengira kedua orang itu datang untuk melayat.

“Ya, aku anaknya. Siapa kalian?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Saehee namun salah satu dari pria itu mengeluarkan selembar amplop dari saku jasnya.

“Ada titipan untuk anda.” Ujarnya singkat lalu menyerahkan amplop tersebut.

Saehee menerima dengan banyak pertanyaan di benaknya.

“kalau begitu kami permisi.”

Saehee hanya mengangguk sopan lalu kembali mengamati amplop di tangannya.

“Jangan-jangan ini surat warisan.” Gumamnya.

Duduk nyaman di sofa besar , Saehee kemudian membuka amplop tersebut.

Yang terhormat kerabat Tuan Song

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Song Hyunsoo. Namun hal ini tidak dapat mengubah tenggat waktu yang telah diatur dalam perjanjian antar perusahaan.

Sesuai perjanjian, besok hari terakhir untuk membayar hutang sebesar 1 milyar won. kami tunggu kedatangan anda untuk membayar hutang esok hari .

Salam hormat,

Direktur Lee

Saehee mendecakkan lidahnya berulang kali.

“satu milyar won? dasar gila ia kira semudah itu apa uang sebesar itu didapatkan?”

Ia sendiri heran untuk apa ayahnya berhutang dengan jumlah yang sangat besar. Sepengetahuannya ayahnya hidup senang dengan uang yang dihasilkan sendiri dari perusahaannya.

Ia tidak pernah mengetahui jika ayahnya berhutang, tentu saja bagaimana mungkin ia bisa tahu jika mengobrol dengan ayahnya saja sangat jarang dilakukannya jika tidak terpaksa.

Kesal, Saehee merobek kertas itu.

“Bukannya dapat warisan, ah tidak aku mendapat warisan, warisan hutang. Seperti aku peduli saja, yang berhutang ayahku, bukan aku, dan beliau sudah tidak ada. Bukan urusanku kalau ternyata beliau belum melunasi hutangnya.” Desisnya.

Ia mengemasi pakaiannya, dengan segera meninggalkan rumah besar yang kini tidak ada penghuninya itu.

***

“Aku turut berduka cita, maaf aku tidak bisa menemanimu waktu pemakaman, aku sedang di desa mengunjungi nenekku. Gwaenchana?”

Saehee menoleh, menatap wajah teman baiknya yang sedang balik menatapnya dengan wajah cemas. Saehee tersenyum.

“Gwaenchana, banyak karyawan ayah yang datang membantu.”

‘Oh syukurlah kalau begitu.. tidak ada hal buruk yang terjadi kan?” tanya ahra lagi.

Saehee menatapnya lekat, apa Ahra tahu kalau ia sebenarnya sedang melarikan diri dari masalah?

“Mungkin…”

“Apa?”

Saehee menggeleng, Ahra tidak perlu mengetahuinya, lagipula orang-orang itu tidak akan menemukannya.

“Tidak apa-apa, aku hanya bingung mau aku apakan rumah ayahku yang besar itu.”

“Kenapa kau tidak pindah ke rumah ayahmu saja? Daripada kau tinggal di apartemen sempit itu. Lebih enak tinggal di rumah besar itu.”

Saehee tertawa.

“Siapa yang mau tinggal sendirian di rumah sebesar itu? Bagaimana kalau ada perampok malam-malam? Kau tidak khawatir padaku?“

“Kau kan gadis kuat, perampok pasti takut padamu.”

“Kau kira aku superhero.”

Keduanya tertawa, lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kau sudah dapatkan pekerjaan baru?” tanya Ahra.

Saehee menggeleng.

“kenapa kau tidak datang ke perusahaan ayahmu? Disana pasti kau langsung diangkat menjadi direktur.”

“Ya!”

Saehee mendorong kepala Ahra pelan.

“ish, kenapa kau mendorong kepalaku??” Ahra menatap Saehee kesal.

“Empat tahun aku hidup tanpa mengandalkan ayahku, kenapa saat beliau sudah tiada aku harus mengandalkannya??”

Ahra menghela napas. Saehee memang dari dulu keras kepala jika sudah menyangkut hubungannya dengan ayahnya.

“Kau tahu, kurasa kau terlalu keras bersikap pada ayahmu. Kau tidak menyesal?”

“untuk apa aku menyesal?”

Ahra menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku harus pergi, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Ujar Ahra sembari bangkit dari duduk.

“Hmm, sampai jumpa lagi.”

“Nde, jaga dirimu.”

Ahra menatap Saehee, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun ia memilih untuk meninggalkan tempat itu, meninggalkan Saehee yang kembali merenung.

“Aku tidak bisa begini terus, aku harus mencari pekerjaan.”

Saehee pun bangkit, membayar pesanannya,namun ketika ia keluar dari kafe beberapa orang pria berpakaian rapi menghadangnya.

“Song Saehee?” tanya seorang dari mereka.

Saehee merasakan firasat buruk, seketika ia berusaha melarikan diri, namun mereka lebih cekatan.

Saehee digiring menuju mobil mewah, dipaksa masuk meski ia sudah meronta ingin melepaskan diri namun usahanya gagal, orang-orang itu sepertinya sudah terbiasa menghadapi tingkahnya, tingkah orang yang ingin melarikan diri.

“Apa-apaan ini?? Kenapa aku diculik seperti ini!” teriaknya ketika mobil sudah melaju.

Tidak ada yang bersedia menjawab pertanyaanya, orang-orang itu hanya menatapnya dingin, mengawasinya seolah ia mangsa  yang sewaktu-waktu dapat kabur.

Saehee sengaja menghembuskan napasnya keras-keras, ia menyerah, memilih melihat siapa yang telah berani membawanya pergi secara paksa seperti ini.

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah gedung megah. Saehee mengenalinya, waktu kecil ia sering mendatanginya bersama ayahnya. Namun ia tidak ingat siapa yang didatangi ayahnya.

“Kau akan bertemu dengan direktur Lee.” Ujar seseorang yang langsung menyeretnya keluar dari mobil dan memasuki gedung itu.

Tubuh Saehee sudah lemas setelah mendengar dua kata itu.

“Masuklah, ketuk pintunya terlebih dulu.”

Saehee menatap nanar ruangan di depannya.

Ia bingung bagaimana ia harus melepaskan diri dari masalah yang disebabkan ayahnya. Uang satu milyar won, jika ia yang harus melunasinya, darimana ia mendapatkan uang itu dalam waktu singkat? Harta warisan ayahnya ia yakin pasti tidak dapat melunasi bahkan hanya setengahnya.

Saehee menghela napas panjang, bagaimanapun kini ia mesti menghadapinya.

Saehee mengetok pintu ruangan yang disebutkan.

“Masuk.” Sahut seseorang dari dalam ruangan.

Suaranya terdengar nyaring, bukan tipe suara pria tua yang dalam dan berat.

Mungkin masih muda, pikirnya lalu membuka ruangan itu.

Tepat dugaannya, orang yang sedang duduk di belakang meja, yang sedang menekuni pekerjaannya, ia menaksir usianya sepantaran dirinya. Ini bisa diatasi, pikirnya lalu tersenyum kecil.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu Nona Song? Ada yang lucu?” Pria itu mendongakkan kepalanya, menatapnya dengan sorotan mata tajam, kontras dengan wajahnya yang justru kelihatan imut.

Saehee terpaku sejenak, entah kenapa ia seperti pernah melihat wajah pria ini.

“Duduk.” Ujar pria yang dipanggil Direktur Lee ini.

Saehee menyeret kakinya untuk duduk di kursi tepat di depannya.

“Kudengar kau berusaha melarikan diri ketika dalam perjalanan kemari.”

“Ah itu…”

“Tidak perlu kau jawab, aku rasa semua orang pasti juga akan melakukan hal sama jika mereka tidak mempunyai uang untuk melunasi hutangnya dalam jumlah besar, benar begitu?”

Direktur Lee kembali menatap Saehee dan tersenyum, entah kenapa Saehee ikut tersenyum seketika melihat senyumnya. Namun senyum pria itu dengan cepat memudar dan kembali menatapnya tajam.

“jadi bagaimana kau akan melunasi hutang ayahmu? Aku sudah mengakuisisi semua saham ayahmu, ditambah dengan rumah dan villanya aku sita, kau hanya harus membayar setengahnya.”

Saehee menatapnya tidak percaya.

“Anda…. menyita harta ayahku? Semuanya?”

Direktur Lee mendengus.

“Sesuai perjanjian ayahmu. Baca ini.”

Pria itu menyodorkan sebuah dokumen. Saehee membacanya, benar ternyata ayahnya telah berhutang sebesar satu milyar won, dan jika dalam tenggat waktu yang ditentukan ia tidak dapat membayarnya maka semua saham dan aset yang dimilikinya akan berpindah tangan untuk melunasi hutangnya.

“Jadi aku tidak mungkin telah salah bertindak bukan, Nona Song?”

Saehee terdiam.

“Aku tidak mau melunasinya.” Ujar saehee kemudian.

“Maaf?”

“Selama empat tahun aku hidup sendiri tanpa ayahku, kenapa aku yang harus menanggungnya?”

Pria itu memandangnya tanpa ekspresi, lalu tersenyum.

“Aku tidak mengenal pertanyaan itu Nona Song, itu tidak menjadi urusanku, yang aku tahu kau harus melunasi setengah dari hutang ayahmu yang tersisa.”

Saehee melirik papan nama, Lee Sungmin.

“Arrasseo, aku akan melunasinya. Kalau begitu aku permisi, Sungmin-ssi.” Ujar Saehee tajam lalu meninggalkan kantor Sungmin.

“Kau tidak bisa melunasinya secepat itu Saehee-ya, kau juga tidak bisa melarikan diri dariku.” Gumam Sungmin setelah Saehee pergi.

***

Saehee berjalan tanpa tujuan hingga kemudian waktu memberitahunya bahwa ia harus pulang.

Berjalan cepat mencapai apartemennya ia langsung menguncinya, bergerak cepat mengemasi pakaiannya, membawa barang-barang penting yang sekiranya tidak bisa ia tinggalkan.

Napasnya terengah, perlahan tanpa membuat keributan ia berjalan pergi dari apartemennya.

Ketika ia mencapai jalannya jalannya menjadi lebih cepat, matanya dengan liar menatap sekelilingnya, takut akan pandangan orang-orang yang di matanya terlihat mencurigainya, terlihat seolah menuduhnya telah melakukan kejahatan.

“Aku tidak sedang melakukan kejahatan, atau telah melakukan. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku dari masalah yang bukan milikku.” Gumamnya lebih pada menenangkan dirinya sendiri.

Namun kemudian langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, berdiri dengan tenangnya, Lee Sungmin sembari menyedekapkan kedua tangannya, memandangnya dingin.

“Ingin melarikan diri?” tanyanya dengan suara rendah namun dapat didengar Saehee.

Saehee berbalik, namun lagi-lagi ia terhenti. Ia telah dikepung.

Sungmin berjalan pelan, mendekati Saehee.

“Kau takut Song Saehee?”

Saehee berbalik, menentang tatapan Sungmin.

“Aku hanya ingin menenangkan diriku! Aku tidak melarikan diri! Bukankah aku sudah bilang padamu aku akan melunasinya? Sepertinya justru kau yang takut aku tidak akan membayarnya Tuan Lee !”

Sungmin tersenyum sinis, melirik barang bawaan Saehee yang memang terlihat seperti akan melarikan diri.

“kau tidak akan kemana-mana. Kita bicara di tempat lain, bagaimana jika…. di apartemenmu? Tidak jauh dari sini bukan?”

Sungmin memberi isyarat pada anak buahnya, mengambil alih bawaan Saehee. Lalu memberi isyarat Saehee untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Sungmin.

“Begini lebih baik Nona Song, tanpa perlawanan. Aku lebih mudah memberi keringanan pada orang yang tidak memberontak.” Ujar Sungmin lalu tersenyum manis.

Jangan tertipu pada senyum manisnya Song Saehee, madu beracun. Bisiknya pada dirinya sendiri.

“Aku  ingin kau datang ke kantorku besok pagi.”

Saehee menatapnya penuh tanya namun Sungmin tidak menatapnya.

“Untuk apa aku ke sana pagi-pagi? Aku belum ada uang untuk membayarnya.”

“Aku tahu. Tetap saja kau harus datang ke sana pagi-pagi. Pukul 8 tepat, jangan sampai terlambat.”

Saehee mendengus.

“Bagaimana jika aku pergi ke sana tepat waktu namun kau belum ada.”

“Aku ada di kantorku. Ah di sini apartemenmu? Kontras sekali dengan rumah ayahmu..”

Saehee mengabaikannya, segera ia keluar dari mobil yang membawanya.

“Ah satu lagi Nona Song.”

Kepala Sungmin menyembul dari sela jendela mobilnya.

“Pakai pakaian formal, kau tahu, blazer dan rok. Selamat malam.”

Sungmin tersenyum, melambaikan tangannya seperti anak kecil sebelum akhirnya mobilnya melaju meninggalkan halaman apartemen Saehee.

“Dia iblis bertampang anak kecil.”

***

Saehee mengibaskan tangannya pada roknya berusaha merapikannya sebelum mengetuk pintu ruangan yang baru kemarin ia datangi.

“Masuk.” Tak diragukan lagi itu suara Lee Sungmin.

Sedikit heran Saehee membuka pintu. Tak biasanya seorang pimpinan datang sepagi itu bahkan sebagian karyawannya masih belum datang.

Sungmin memandangnya, beberapa detik sebelum akhirnya mengenalinya.

“Oh Kau. Duduklah.” Ujarnya.

“Kau tentu bingung kenapa aku menyuruhmu datang sepagi ini dan memakai pakaian seformal ini. Langsung saja, aku ingin kau bekerja. Menjadi bawahanku.”

Saehee memandang Sungmin tidak percaya.

“Bawahanmu??”

Sungmin mengangguk.

“Bawahanku secara langsung, dengan kata lain…Sekretaris pribadiku. Kebetulan beberapa hari yang lalu sekretarisku mengundurkan diri, jadi aku terpaksa harus mencari penggantinya. Lahgipula aku tahu kau tidak sedang terikat dengan suatu pekerjaan. Dengan ini kau dapat melunasi hutang ayahmu. Dalam tiga tahun, kau dapat melunasinya jika kau bisa memuaskanku dengan pekerjaanmu.”

Saehee terdiam.

“Aku tidak mau.’ Ujar Saehee kemudian.

Sungmin menunjukkan ekspresi keterkejutan, namun hanya sekejap lalu kembali memasang senyum manisnya. Saehee mulai merasa senyum yang ditunjukkan ini biasa digunakannya untuk melunakkan orang-orang yang tidak menuruti perintahnya, senyum yang digunakan untuk meluluskan segala permintannya.

“Aku tidak melihat alasan yang merugikanmu di sini.”

Saehee mendengus pelan.

“Menjadi sekretaris pribadimu sama saja aku hanya menjadi budakmu yang mesti mengikutimu ke sana ke mari. Yang selalu menuruti semua kata-katamu. Aku tidak mau. Dalam tiga tahun kau bilang? Lalu kau kira dalam tiga tahun itu aku tidak makan? Tidak butuh barang-barang? Enak saja.”

Sungmin tertawa kecil.

“ternyata pemikiranmu sesederhana itu. Tentu saja aku sudah memikirkannya, lima puluh ribu won per bulan, itu gaji yang bisa kau terima per bulan dari total gajimu. Aku sudah mengestimasi segala kebutuhan hidup dan untuk orang sepertimu aku kira sejumlah itu dapat menutupi semua kebutuhanmu, kecuali jika…. kau wanita yang suka menghamburkan uangmu maaf sekali Nona Song, kau harus menahannya.”

Sungmin kembali menekuni pekerjaannya, berpura-pura mengabaikan Saehee yang terdiam, kelihatan berpikir keras.

Pria ini angkuh, namun peduli. Pria ini ingin ia melunasi hutang ayahnya, namun juga membantunya mendapatkan pekerjaan.

Jika ia mengambilnya maka ia mendapatkan dua hal sekaligus, mencicil hutang ayahnya dan mendapatkan pekerjaan. Namun egonya berkata lain, ia tidak terima menjadi budak pria ini.

Saehee mengamati sungmin, menerka-nerka seperti apa orangnya terhadap bawahannya.

“Kenapa menatapku seperti itu,Nona Song? Kau takut aku akan menyiksamu ketika kau menjadi bawahanku nanti?” sungmin meliriknya sekilas.

Saehee membuang muka.

“Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak mau.”

Kali ini Sungmin benar-benar mengalihkan perhatiannya pada Saehee.

Tersenyum manis, ia kembali berkata

“Baiklah aku tidak memaksa, tapi ku harap kau memikirkannya lagi, penawaran ini keuntungannya ada padamu kalau kau mau melihatnya. Aku tunggu keputusanmu besok.”

Saehee berdiri, menatap Sungmin dingin.

“Tidak perlu, aku tidak akan datang lagi.” Ujarrnya lalu meninggalkan ruangan itu.

***

“Jadi… kau siap bekerja hari ini, Nona Song?” tanya Sungmin sambil menahan senyumnya.

Sudah ia duga bahwa Saehee akan kembali untuk menerima tawaran darinya.

Tanpa melihat wajah Sungmin Saehee mengiyakan.

“Ya, tapi aku ada beberapa syarat.”

“Katakan, jika aku dapat menoleransinya maka akan aku penuhi.”

Saehee menatap Sungmin sekilas lalu membuang muka.

“Ada saat-saat tertentu yang aku tidak ingin diganggu, waktu makan siang misalnya ataupun juga hari libur.”

“Hanya itu?”

“eng.. untuk sementara aku rasa itu dulu jika nanti menyusul..”

“Tidak ada lain kali Nona, tapi tenang saja, aku tidak akan mengeksploitasimu jika itu yang kau takutkan.”

Saehee mengambil napas panjang.

“baiklah, aku setuju kalau begitu.”

Sungmin tersenyum manis, lalu mengulurkan tangannya.

“Senang bekerja sama denganmu, Nona Song. Dan selamat datang di perusahaanku. Aku mengharapkan yang terbaik darimu.”

Saehee menyambut uluran tangan Sungmin dengan enggan.

“Jadi apa pekerjaanku sekarang?”

Sungmin kembali menekuni kertas-kertas kerja di atas mejanya, menjawab dengan sedikit acuh.

“duduklah di mejamu, di sana kau dapat menemukan buku panduan. Tentu saja itu tidak berpengaruh banyak pada aktivitas sehari-hari, kuharap kau dapat beradaptasi.”

Saehee menunggu perkataan Sungmin selanjutnya, namun pria itu hanya menundukkan kepalanya, serius menekuni pekerjaannya. Jadi Saehee memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya.

“Selamat bekerja.” Ujar Sungmin ketika Saehee menutup pintu ruangannya.

“Hwaiting Song Saehee.” Bisik Saehee pada dirinya sendiri.

Hari pertama dapat dilewati Saehee dengan aman, tidak begitu banyak pekerjaan Sekretaris yang menyulitkannya. Menerima telepon, dan mencatat jadwal Sungmin untuk hari selanjutnya.

Namun beberapa hari kemudian sudah dapat terlihat beratnya pekerjaannya. Terkadang bahkan Saehee harus menggunakan kedua telinganya untuk menerima telepon di saat yang bersamaan. ia mulai kewalahan dengan pekerjaan barunya hanya dalam waktu singkat.

Saehee menghela napas panjang, akhirnya setidaknya ia bisa memakan bekalnya di waktu makan siangnya.

Namun baru ia membuka kotak bekalnya, Sungmin keluar dari ruangannya.

“Ikut aku, sekarang ada meeting penting.”

‘Tapi sekarang waktu makan siang, kau ingat persyaratanku waktu itu kan?”

“Yang terpenting, kau harus ikut denganku sekarang.”

Saehee menutup kembali kotak bekalnya dengan keras. Dengan langkah cepat namun sambil menggerutu ia menyusul Sungmin.

***

“Besok kau ikut aku ke luar kota.”

Saehee terpaku menatap Sungmin.

“Ke..keluar kota???”

“Untuk tiga hari aku ada urusan, sebagai sekretaris pribadiku kau tentu tahu bahwa kau harus ikut denganku bukan?”

“Tapi…”

Sungmin melirik Saehee.

“Ah..arrasseo…”

Tidak ada gunanya melawan perintah Sungmin, karena apapun yang dimintanya pasti harus dilaksanakan tidak peduli dalam keadaan sukarela maupun terpaksa.

“Bagus, nanti malam pukul 9 kau akan langsung dijemput ke bandara.”

“kau bilang besok…..”

“Kita berangkat nanti malam.”

Saehee mendesah lalu mengangguk pelan.

***

“Kenapa aku harus duduk di sebelahmu?” tanya Saehee ketika mereka berdua di dalam pesawat.

“Kenapa kau harus bertanya hal yang tidak penting seperti itu? Duduk.”

Saehee menurutinya, ia duduk di sebelah jendela, menikmati (?) pemandangan malam.

“Apa menariknya melihat ke luar jendela? Hanya hitam.” Ucap Sungmin. Saehee hanya membalasnya dengan tatapan sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya, membiarkan pikirannya melayang.

Sungmin hanya diam sembari menekuni laptopnya, memperbaiki laporan untuk pertemuan besok. Dan kemudian perhatiannya terusik ketika tubuh Saehee bergerak tidak nyaman.

Dilihatnya mata Saehee terpejam.

“Cepat sekali tidurnya.” Gumam Sungmin lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Namun hanya sebentar, ia langsung menutup laptopnya, menyimpannya kembali ke dalam tasnya.Dilihatnya wajah Saehee dan ia tersenyum.

Sungmin menarik lengan Saehee pelan, menarik agar tubuh dan kepala Saehee bersandar padanya. Ditahannya kepala Saehee dengan tangannya. Kepala Sungmin juga ikut bersandar pada kepala Saehee *bisa bayangin kaga?*

“Igen mwoya??” desis Saehee yang terbangun atas tingkah Sungmin, berusaha melepaskan diri namun tangan Sungmin dengan kuat menahan kepalanya.

“Tidurlah.” Jawab Sungmin singkat.

Saehee kembali berusaha menjauh dari Sungmin namun gagal, akhirnya ia hanya menyender pasrah, kembali menerawang sembari sesekali muncul dalam pikirannya kenapa Lee Sungmin melakukan hal-hal aneh, seperti sekarang ini misalnya.

Terlalu lelah berpikir, Saehee kembali terlelap. Sungmin tersenyum mengetahui gadis di sebelahnya tertidur.

“Tanpa disuruh pun aku akan melindunginya, ahjussi…”

***

68 thoughts on “[FF/Part 1] Love’s Loan

  1. Annyeongie~
    FFnya bagus. kata katanya ngalir gitu aja.
    belum terasa klimaks di part ini, tapi ga masalah. masih awal.
    saran, alurnya lambat aja thor.
    enggak usah terburu buru.
    biar ngalir gitu aja.

    agak udah bisa nebak sih gmna ceritanya.
    tapi semoga lain daripada yang terpikir deh.

    kkk~
    suka deh karakter Ming disini.
    dingin perhatian gitu.
    hahaha..

    keep writing ya thor.

  2. hi, newbie here..
    Stlah bca ffmu after this night d koreannc, jd search dn ktmu blog ini..

    Hutang dan intrik bisnis yah? Menarik. Bygin muka unyu2 sungmin oppa yng brperilaku cool. Ok pokoknya.

  3. Authorrr jebaallll ini mana lnjutannya?
    Sungmiinn…aku padamu..hahaha
    Sneng bgt ada ffmu yg sperti ini..
    Yahh..scene sungmin galak2 byakin dong..kkkk biar agak2 romantis (?) Gtu…
    keep fighting ya!

  4. wah critanya kren,sbnrnya sungmin oppa tuh baik ya d sini cma ada yg d rahasiakan dech kyknya bner g cinggu?pnasaran dech next partnya cinggu

  5. Diawal” crta’a itu mnrik bget thor…
    Aq smpt kira yg jd direktur Lee itu Lee Donghae tp trnyata Lee Sungmin, tp eh ap mksd’a yg “tanpa disuruh pun aq akan menjaga’a ahjushi?”
    waoooo….pnsrn bget nih
    cpet y lnjutin’a thor, pnsrn bgeeet….

  6. Ffnya bagus.
    Dari teaser aja udah bikin penasaran,
    yg ini malah bikin makin penasaran,
    aku jarang baca ff tentang sungmin, tapi waktu baca ini, ternyata bagus.

  7. huwee. . Keren !! Tapi menurut q,Sungmin harus’e lebih kejam sama si saehee thor. Biar feelnya lebiH DAPET.

    Ada yad0ngnya gak thor ? Ada ya. .please. . Heheh

  8. pertama baca part 2nya, udah berasa bgt feelnya~ langsung ga sabar pengen baaca part 1nya~ ternyata part ini bner” ngefly😄 Karakter sungmin yg kaya gni bner” aku tnggu”!!! PART 3 SECEPATNYA THOR!!!😀 D.A.E.B.A.K

  9. Next part juseyooooo
    banyak kalimat yg kurang efektif nih chingu terutama di awal yg dialog saehee
    lebih enak kalo kalimat nya “satu milyar won? Dasar gila. Dia kira semudah itu mendapatkan uang satu milyar won?”
    di perbaiki lg yaaa
    annyeong!

    • bukan kurang efektif, author suka permainan kata, kalo pake kalimat yang kamu saranin itu justru pemborosan kata “satu milyar won” dua kali dalam satu ucapan? ^^

  10. bagus thor,crta’e sderhana tp feel’e dpt bgt..
    Wjah sungmin yg pnuh aegyo skrg hrus aq byangin jdi cwo cool cukup menguras imajinasi hehehe…

  11. Suka banget ceritanya, penasaran buat part selanjutnya..
    Pertama kali baca FF maincast Lee Sungmin, keren ternyata..
    Komen apalagi ya, ahh, karakter Saehee jg menarik sedikit pemberontak tapi penurut..

  12. ehemmm gimana yahh?? Ff’nya bagus alurnya juga .
    Umin lumayan romantis lahh tapi tegas juga(?). Hahha nice ff pokoknya😀
    aku suka

  13. Jangan2 Saehee sbtlnya ditolong sama Sungmin oppa tp dia blg kalau Appa nya Saehee pny hutang shg pihak keluarga hrs membayarnys, mgk dgn cara menjadikan Saehee sbg sekretaris pribadi Sungmin oppa dpt melindungi dan menjaga Saehee dgn baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s