[FF/Sequel After The Night] It’s Over

Title : It’s Over (Sekuel After The Night)

Author : AraLee

Casts : Lee Hyukjae, Jang Jinhye

Genre : NC 17

Wooppsss hahaha ini sekuel yang diminta readers karena misteri kematian orang tua Hyukjae belum terungkap . well jujur aja ini bikinnya sungguh sangat ngebut. 3 hari di sela-sela ujian dan tugas kuliah jadi mohon maklumi jika kurang memuaskan.

WARNING!

Author tidak memusatkan cerita pada bagian yadong, jika kamu readers yang mencari part yadong, mungkin tidak perlu baca karena cerita ini sebagian besar hanya spoiler ^^

Selamat membaca . –AraLee-

 

Terlahir di sebuah keluarga yang bisa dikatakan di bawah miskin, hidup Jang Jinhye benar-benar tidak ada yang istimewa. Kecuali fakta bahwa ibunya, yang hampir seluruh warga kota tahu, adalah selingkuhan seorang pengusaha terkenal di kota itu yang membuat nama keluarganya terkenal, karena tercemar tentu saja. Ditambah lagi ayahnya seorang pemabuk berat yang hanya bisa merampas uang milik ibunya, yang tentu saja hasil dari perselingkuhannya, Jinhye sendiri juga heran kenapa Tuhan tega menitipkannya pada keluarga yang seperti ini.

Menghela napas Jinhye memandang wajah adiknya yang tertidur pulas. Hanya adiknya inilah yang membuatnya bertahan, walau ia tidak tahu apakah adiknya ini benar-benar adik se-ayahnya. Diliriknya jam dinding, dan ia terkesiap. Teringat olehnya tentang sesuatu, bergegas ia bangkit, mencium dahi adiknya dan berjalan sembunyi-sembunyi menuju pintu belakang rumah.

Berlari di sepanjang jalan, membuatnya mempunyai waktu untuk berpikir, pikiran yang sama, menyuarakan pertanyaan yang sama namun dengan hasil yang sama. Mengapa istri dari Tuan Lee tidak berusaha menyingkirkan ibunya? Perselingkuhan ibunya dan Tuan Lee sudah diketahui masyarakat umum, namun pihak keluarga, terutama Nyonya Lee sendiri tidak berbuat apa-apa, bahkan jikapun tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengusir keberadaan ibunya di sisi Tuan Lee, namun Nyonya Lee masih bertahan. Mempertahankan status lebih tepatnya.

Terkadang Jinhye sering mendengar bisikan warga, Nyonya Lee sudah setengah gila. Tertawa tanpa suara Jinhye yang masih berumur 14 tahun, walau cukup cerdas untuk anak seusianya, tetap saja tidak mengerti mengapa seseorang bisa menjadi gila karena suaminya berselingkuh. Bukankah lebih baik pergi dari rasa sakit? Jinhye mengedikkan bahunya.  Yang jelas kini ia tidak sedang ingin bertemu salah seorang dari mereka, baik ibunya, Tuan Lee ataupun Nyonya Lee.

Jinhye menyelinap di sebuah gudang tua, gudang yang merupakan milik keluarga Lee. Melewati jalan yang biasa ia lewati  untuk mencapai plafon bangunan itu. Tempat biasanya mengintai seseorang, bukan mengintai sebenarnya, lebih tepat dikatakan mengintip.

Setiap sebulan sekali sejak setengah tahun yang lalu, Jinhye mengetahui rutinitas ini. Rutinitas orang yang dikaguminya diam-diam. Anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Lee, Lee Hyukjae. Setiap sebulan sekali Hyukjae membawa perempuan, yang lebih sering wanita berbeda,dan melakukan hubungan yang seharusnya masih tabu dilakukan oleh anak berumur 18 tahun. Hanya saat ini, kesempatan Jinhye dapat melihat Hyukjae secara dekat, mendengarnya mendesah, suara desahan yang membuat Jinhye merinding dan merasakan sesuatu yang lain yang belum dapat Jinhye pahami.

Bingo! Hyukjae sedang melucuti pakaian gadis yang dibawanya. Membisikkan kata-kata indah kepada gadis itu yang Jinhye yakin pasti membuat gadis itu luluh, karena mendengarnya saja, walaupun Jinhye tahu itu bukan untuknya, membuatnya akan menuruti semua yang Hyukjae mau.

Jinhye melihatnya, ketika Hyukjae melumat bibir gadis itu, seolah ingin memakannya, kemudian ketika pemuda itu mencium setiap inci tubuh gadis itu yang ditanggapi dengan desahan keras, Jinhye justru ingin menghentikannya, menarik Hyukjae pergi menjauh, membawa pemuda itu ke sebuah tempat yang tidak ada orang lain, cukup hanya dirinya, dan pemuda itu.

Jinhye menggelengkan kepalanya. Imajinasi yang cukup liar, mengingat tidak pernah sekalipun Jinhye bertatapan langsung dengan Hyukjae, apalagi berbicara. Difokuskannya kembali kesadarannya, dilihatnya Hyukjae mencium leher gadis itu, yang entah kenapa Jinhye yakin, pemuda itu juga membisikkan kata-kata indah sementara tubuh bagian bawahnya berusaha memasuki alat vital si gadis. Hyukjae melakukannya dengan lembut, pelan, Jinhye sangat yakin gadis ini pasti terbuai oleh permainan Hyukjae, sama seperti gadis-gadis lain. Hanya sekali Jinhye melihat Hyukjae bertindak brutal pada seorang wanita, dan waktu itu ia yakin pemuda itu sedang mabuk.

Desahan, erangan terus terdengar dari kedua insane yang sedang melakukan penyatuan. Jinhye hanya memandangnya tanpa kedip, entah kenapa ia justru tersihir oleh wajah Hyukjae yang menampilkan ekspresi yang benar-benar memikatnya. Dan anehnya ia ingin, ekspresi itu hanya ditujukan kepadanya, tidak untuk gadis lain. Hingga ketika terdengar olehnya teriakan teredam, teriakan kepuasan, pikirnya, Jinhye memutuskan untuk pergi,. Sudah waktunya ia pergi.

***

Hyukjae melihat suatu gerakan dari sudut matanya, tanpa perlu menoleh ia tahu, anak perempuan satu-satunya keluarga Jang, lagi-lagi mengikutinya. Ia tahu dari sebulan yang lalu, ketika ditemukannya Jinhye terjatuh di sekitar gudang yang sering ia pakai untuk bermain-main bersama gadis-gadis yang mau diajaknya. Ketika ia akan membantu Jinhye, gadis itu justru berlari pergi, seolah takut.

Dasar anak pelacur murahan, sama saja seperti ibunya, ingin bercinta denganku huh? Pikirnya melecehkan.

Hyukjae memakai kembali baju-bajunya yang berserakan, juga membantu memakaikan pakaian  gadis yang baru saja disetubuhinya. Dikecupnya lembut bibir gadis ini, yang ia saja lupa siapa namanya, membisikkan kata-kata rayuan yang membuat gadis ini percaya padanya.

Tersenyum, Hyukjae menggandeng tangan gadis ini keluar gudang, mengantarnya pulang lalu ia sendiri kembali ke rumahnya.

Baru selangkah ia memasuki pintu depan rumahnya yang megah, sudah terdengar suara teriakan, raungan tangisan, semua bercampur aduk, Hyukjae mendecak kesal, ini sudah biasa baginya. Pasti ibunya kambuh lagi, mungkin memergoki ayahnya sedang berteriak memanggil nama perempuan jalang itu ketika mencapai klimaksnya. Ia sendiri heran, kenapa ibunya tidak memutuskan untuk bercerai, padahal ayahnya sudah terang-terangan berselingkuh dengan Jang Hyewoo.

Berjalan santai seolah tidak mendengar apapun Hyukjae menaiki tangga untuk mencapai kamarnya ketika kakak perempuannya, Sora, melihatnya dan berteriak histeris memanggilnya.

“LEE HYUKJAE !! APA-APAAN KAU CEPAT KEMARI DAN HENTIKAN EOMMA MELAKUKAN HAL BODOH!!”

Sedikit terkejut, Hyukjae berlari menghampiri kamar ibunya dimana kakaknya sedang berdiri di depan. Namun terlambat, tepat ketika Sora berteriak memanggil Hyukjae, ibunya telah mengiris nadi pergelangan tangannya. Shock, kedua bersaudara Lee terdiam melihat darah yang terus mengalir. Sekali lagi raungan teriakan dan tangisan membahana di rumah megah itu, Hyukjae bergegas membawa ibunya, berusaha menyelamatkan ibunya dengan secepat mungkin menyetir menuju rumah sakit terdekat.

Kritis, hanya itu kata dokter yang menjadi langganan keluarga Lee, hanya bergantung pada kemauan ibunya.

Hyukjae meninju tembok rumah sakit untuk meluapkan emosinya, kemudian dihampirinya kakaknya yang menangis tersedu-sedu.

“Kenapa eomma bisa seperti itu? Apa yang terjadi? Appa berulah lagi?”

Kakaknya masih belum menjawab, beberapa menit kemudian setelah tangisnya sedikit reda, terbata-bata ia mulai berbicara.

“Appa…. Pelacur itu…. Appa menghilang bersama pelacur itu….. meninggalkan eomma… meninggalkan kita semua….”

Terhenyak, Hyukjae berusaha mencerna kalimat noonanya.

“Maksud…. Menghilang? Bukankah appa sudah biasa tidak pulang?”

Noonanya mengangguk.

“Ya, tapi diam-diam, pengacara Park menyuruh bawahannya untuk mengawasi appa, kemanapun dia pergi, dan tadi siang pengacara Park menelepon, katanya mereka kehilangan jejak appa, bersama pelacur itu… sudah dua hari ini mereka mencari dan belum menemukan dimana appa dan wanita jalang itu.”

Sora kembali menangis.

“Wanita itu telah menculik appa kita….. menghancurkan keluarga kita……membuat eomma …eomma…. Usir keluarga mereka Hyukkie… jangan sampai keluarga mereka membawa bencana bagi keluarga kita…. Usir!!!” teriak Sora histeris.

Hyukjae memeluknya, sementara amarah menguasainya.

Memang seharusnya ia melakukannya sedari dulu, mengusir keluarga yang menjadi wabah penyakit itu.

“ya…aku akan mengusir mereka…”

***

Sebagai ahli waris keluarga Lee, di umurnya yang ke-18 Hyukjae sudah berhak untuk mengambil alih perusahaan ayahnya,beserta seluruh kekuasaannya. Namun sifat masih ingin bebas dan bermainnya membuatnya malas untuk ikut campur dalam kegiatan bisnis ayahnya.

lagipula masih ada appa”

Begitulah alasannya.

“Apakah ada syarat hukum tertentu tentang pengusiran warga kota?” Tanya Hyukjae pada pengacara Park.

Pengacara Park terdiam sejenak.

“Hmm.. sebenarnya sudah lama para polisi ingin menangkap Tuan Jang karena kelakuannya meresahkan warga kota, selain itu kedua anak lelakinya juga sering merampas uang anak-anak sekolah.”

Hyukjae memijat pelipis keningnya, memang harus diusir, pikirnya.

“Walau anak perempuan satu-satunya dan anak lelaki yang paling kecil tidak pernah melakukan kejahatan, yah kita bahkan jarang melihat mereka, ditambah lagi ayahmu yang,..”

Hyukjae mengangkat tangannya, menghentikan pengacara Park melanjutkan kalimatnya karena ia sudah tahu kelanjutannya.

Ya, ayahnya lah yang melarang polisi untuk menangkap keluarga Jang, lebih tepatnya si pemabuk dan kedua anak lelakinya.

“Jadi apakah anda benar-benar akan mengusir mereka? Berhubung anda adalah ahli waris terkuat keluarga Lee, untuk sementara sampai ayah anda kembali, anda berhak untuk melakukannya.”

Hyukjae kembali memijat pelipisnya.

Ia memang sudah muak kepada keluarga Jang, namun jika ia mengusir mereka, sedikit merasa bersalah kepada anak perempuan dan anak terakhir keluarga itu, mereka tidak bersalah apa-apa,  entah bagaimana nasib mereka nanti karena sekarang saja mereka sudah ditelantarkan oleh ayah ibunya.

Kemudian dering ponsel mengusiknya.

“Ya noona, wae geurae?”

Hanya tangis yang terdengar dari kakaknya sebelum kemudian kalimat yang terputus-putus berhasil membuat Hyukjae terpaku.

“Eomma…….. meninggal….?”

Shock melanda diri pemuda berumur 18 tahun itu, dan kemudian tekadnya berubah pasti.

“Panggil beberapa polisi bersama truk pengangkut barang. Suruh mereka ke rumah keluarga Jang.”

“Selarut ini?” Tanya pengacara Park melirik arloji tangannya. Pukul 11 malam.

“Aku tidak peduli, aku mau mereka secepatnya keluar dari kota ini.” Ujar Hyukjae dingin lalu keluar dari kantor ayahnya meninggalkan lelaki separuh baya yang menitikkan airmatanya tanpa Hyukjae sadari.

***

Lelah, baru saja Jinhye berhasil menidurkan adiknya. Dilihatnya jam kusam di dinding rumahnya. Hampir jam 11 malam.

Ibunya sudah tidak pulang beberapa hari terakhir, dan ia mendengar gossip, mereka menghilang, ya, ibunya dan Tuan Lee. Aneh baginya, menurutnya ibunya tidak akan seberani itu, kecuali jika memang Tuan Lee yang memaksanya, itu penuh resiko.

Jinhye mulai berbaring di sebelah adiknya, otaknya terlalu banyak berpikir, ia harus istirahat, bagaimanapun hanya ia yang bisa diandalkan oleh adiknya.

Baru sebentar rasanya ia terlelap, suara sirene polisi dan suara orang bertengkar di depan rumahnya berhasil membangunkannya.

Dan ia terkejut ketika polisi-polisi di kotanya menyerbu masuk, melemparkan setiap barang-barang di dalam rumahnya keluar rumah. Dilihatnya ayahnya yang mabuk bertengkar dengan seorang sheriff.

“Kalian tidak berhak mengusir kami! Apa hak kalian hah??! Ini rumah kami sendiri !!” teriak ayahnya.

Dan kemudian dada Jinhye berdesir melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil. Lee Hyukjae.

“Aku, aku berhak mengusir kalian.” Ujarnya sambil menatap dingin wajah ayah Jinhye.

Jinhye melihat ayahnya meludah, seolah jijik dengan perkataan Hyukjae, sementara Hyukjae balas memandang jijik.

“Kau, anak ingusan, tahu apa kau hah? Kau tidak berhak!!” teriak ayahnya.

“Kalau bukan karena ayahku yang dibutakan oleh istrimu, sudah dari dulu kau membusuk di  penjara bersama kedua anak lelakimu.” Ujar Hyukjae dingin.

Jinhye terkesiap. Ia tidak menyangka bahwa kedua kakak lelakinya kriminal, selama ini memang mereka jarang bertemu, Jinhye mengira kedua kakaknya bekerja.

“Kau yang pilih, keluar dari kota ini, dan aku tidak menuntutmu, atau kau pilih hidup di penjara di sisa hidupmu.”

Ayah Jinhye terdiam, seolah lemas, beliau berjalan terhuyung, bersandar pada badan truk.

“Pindahkan barang kalian ke atas truk, truk itu yang akan membawa kalian.” Ujar Hyukjae dingin tanpa menatap Jinhye.

Kesal, Jinhye menatap Hyukjae, setidaknya dia dan adiknya tidak bersalah dalam kasus ini.dan yang ia benci, mereka memperlakukan keluarganya seperti anjing, yang seolah bisa ditendang seenaknya.

Walau ia belum mengerti tentang harga diri, namun ia merasa sesuatu dalam dirinya telah diinjak-injak oleh pemuda ini.

Hyukjae balas menatapnya, dingin. Ini kali pertama mereka bertatapan. Degup jantung Jinhye bertambah cepat, namun ini bukan seperti biasanya ketika diam-diam ia mengikuti pemuda ini, amarah, yang kali ini menguasainya. Benci, ia ingin memukul wajah pemuda ini, namun ia tahu itu hanya akan memperburuk suasana.

Berusaha meredam emosinya, Jinhye memunguti barang-barangnya. Tanpa menyadari tatapan liar para polisi yang menatap sesuatu di balik gaun tidurnya yang tipis, ditambah lagi dengan sengaja lampu truk menyorot tepat ke arahnya.

Hyukjae tahu apa yang dilihat polisi-polisi itu, dan ia merasa jijik, kepada semuanya.

kau pasti sengaja memakai gaun tidur yang tipis untuk menggoda lelaki. Tch keturunan ibunya, sama saja.”

Sekali lagi Hyukjae menghampiri Jinhye.

“Aku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu dan keluargamu yang hina, lain kali jika aku melihat kalian lagi di kota ini, aku tidak segan untuk melenyapkan kalian dengan caraku sendiri, Jang Jinhye.”

Melanjutkan jalannya, tanpa memandang ke arah ayah Jinhye, Hyukjae memasuki mobilnya, menyetirnya meninggalkan keluarga Jang.

Jinhye hanya menatap benci ke arah mobil Hyukjae, suatu saat nanti ia akan kembali untuk membuat lelaki itu membayarnya.

Suara tangis adiknya menyadarkannya, benar adiknya, ia harus bertahan demi adiknya.

Dihampirinya adiknya, ditenangkannya, sampai kemudian ia melanjutkan memunguti barang-barangnya.

***

“Esoknya setelah kalian meninggalkan kota, mayat ayahku ditemukan, terkubur di tengah hutan, ditusuk, tepat di jantung. Semua menduga pelakunya adalah ibumu. Untung saja kalian sudah pergi dari kota karena kalau tidak mungkin aku sudah membabi buta membunuh keluargamu.” Cerita Hyukjae sambil tertawa miris.

Mereka sedang berusaha mencocokkan cerita masa lalunya dalam perjalanan menuju kantor polisi, menemui kakak Hyukjae, yang mungkin akan menjadi kunci jawaban kasus masa lalu mereka.

“Aneh, “ sambung Jinhye.

“ibuku bukanlah tipe orang yang berani melakukan hal seekstrim itu. Ia hanyalah wanita yang suka berlindung kepada pria yang dapat memberinya perlindungan penuh. Ayahmu,bisa memenuhinya, jadi mustahil ibuku membunuh ayahmu, resiko setelahnya lebih besar bukan?”

Hyukjae tertawa.

“Kami tidak peduli tentang bagaimana ibumu, kau sendiri tahu bagaimana reputasinya di mata warga. Yang kami tahu, ibumu membunuh ayahku setelah menerima uang yang cukup banyak, entah apa alasan yang diberikan ibumu untuk membujuk ayahku menyerahkan uangnya. Karena kata pengacara Park, pada hari itu ayahku mengambil uang dalam jumlah cukup besar, namun tidak memberitahukan alasannya kepada pengacara Park. “

Jinhye terdiam.

“Kenapa aku tidak tahu hal itu?” tanyanya.

“Apa? Kau kan sudah keluar kota waktu itu. Ohya ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengetahui perkembangan kasus?”

“Aku mencarinya, dari Koran-koran, aku kumpulkan semua informasi, namun yang satu itu, aku baru tahu sekarang.”

“Karena menurutku itu tidak penting, jadi pengacara Park hanya mengatakan kepadaku, tidak kepada polisi. Lagipula itu memang benar-benar tidak penting.”

“Hyukjae… bagaimana jika pengacara Park adalah pelakunya? Yang membunuh ayahmu?” Tanya Jinhye tiba-tiba. Entah kenapa ia berpikir semua cocok, bukti yang hilang itu adalah ini, semua informasi tidak saling terhubung dan seketika mendengar Hyukjae bercerita, semua menjadi jelas di kepalanya.

Hyukjae menepikan mobilnya.

“maksudmu?”

“Pengacara Park adalah pelakunya.”

Hyukjae tertawa.

“Jangan bercanda!” teriaknya gusar.

“Pengacara Park bekerja cukup lama di keluarga kami, tidak mungkin ia sendiri yang membunuh ayahku, itu mustahil.”

Jinhye menatap Hyukjae yang terlihat kacau, bergerak mendekat memeluknya pria itu dari samping.

“Kita dengarkan saja cerita kakakmu nanti, kalau aku salah, aku akan pergi dari kota ini, karena bagaimanapun kasus ini akan terungkap dan aku sudah tidak perlu lagi berada disini.” Ujar Jinhye.

Hyukjae balas memeluk Jinhye.

“salah atau benar, kau harus tetap tinggal di sini. Aku akan membunuhmu jika kau berani keluar selangkah pun dari kota ini.” Bisik nya ditanggapi dengan tawa Jinhye.

Hyukjae mencium bibir Jinhye, lembut tapi menggairahkan.

Jinhye mendorong pelan kepala Hyukjae,

“Jangan dilanjutkan lagi atau waktu kita akan terbuang.”

Hyukjae tersenyum.

“Setelah ini kita akan punya banyak waktu.” Ujarnya lalu melanjutkan menyetir ke kantor polisi.

***

Sora langsung histeris begitu melihat Hyukjae, memeluk adik satu-satunya, dan menangis meraung-raung. Sengaja Hyukjae melarang Jinhye untuk ikut masuk, berbahaya, baik bagi Jinhye sendiri maupun Sora.

“Noona…. Kenapa kau sampai melakukan itu?” Tanya Hyukjae lembut sambil mengusap rambut kakaknya. Dulu kakaknya bukanlah orang yang temperamental seperti ini, yah lagi-lagi satu peristiwa itu mengubah semua orang.

“Wanita itu…suruh wanita itu pergi…. Atau kita akan mati .. Hyukkie, kau tahu dia penyebab kematian orang tua kita, kau tahu kan… cepat usir dia!!” raung Sora.

Hyukjae memeluknya lagi, pasti kakaknya mengira Jinhye adalah ibunya.

Hyukjae menepuk-nepuk punggung Sora, sampai kemudian tangis wanita yang tidak pernah menikah itu mereda.

“Noona, bisakah kau mengatakan semua yang kau tahu kepadaku? Aku adikmu, satu-satunya keluargamu yang tersisa. Kenapa kau harus menanggungnya sendiri?”

Sora terdiam cukup lama, seolah asyik dengan alam pikirannya sendiri, kemudian dengan terbata-bata ia mulai bercerita…

#Flashback

Sora terbangun ketika didengarnya suara teriakan yang berasal dari kamar ibunya. Ia berpikir mungkin ibunya mulai lagi.

Ibunya mulai seperti itu, setengah gila setelah ayahnya terang-terangan berselingkuh dengan seorang pelacur. Terkadang ibunya menangis tersedu-sedu, tertawa, atau seprti sekarang berteriak walau tidak ada yang terjadi.

Sora hendak kembali meneruskan tidurnya ketika didengarnya ada suara pria di sela-sela teriakan ibunya. Tidak yakin, Ia menajamkan pendengarannya.

Memang ada suara pria.

Tumben appa pulang.” Gumamnya lalu perlahan bangkit dari tempat tidurnya.

Sora membuka pintu tepat ketika pria itu berteriak.

“AKU TERPAKSA HARUS MELENYAPKANNYA DEMI KAU, AKU MELAKUKANNYA.”

Dan seketika langkah Sora terhenti, itu bukan suara ayahnya, itu suara pengacara Park.

Siapa yang dilenyapkan? Apakah wanita murahan simpanan ayah? Oh baguslah akhirnya si pengganggu pergi juga. Tapi apa hubungan pengacara Park dengan ibunya? Kenapa mereka terlihat begitu dekat?

Sora mengintip dari pintu kamarnya, tepat ketika pengacara Park keluar dari kamar ibunya. Segera setelah bayangan pria setengah baya itu tidak kelihatan, Sora berjalan ke arah kamar ibunya, segera ia histeris. Dan tepat saat itu ibunya berusaha bunuh diri.

“Eomma!! Andwaeyo!! “ cegahnya.

“Mundur!! Mundur atau eomma akan mengirisnya !!”

Langkah Sora terhenti.

“Eomma…jebal andwaeyo…”

Ibunya kali ini lebih terlihat kacau daripada biasanya.

“eomma…” panggil Sora lirih.

“Tidak ada guna lagi untuk hidup!! Hahahahaha untuk apa hidup untuk apa !!”

Sora menggelengkan kepalanya, kenapa tiba-tiba ibunya berkata seperti itu? Bukankah pengacara Park bilang wanita murahan itu sudah dilenyapkan?

Tepat ketika itu ia mendengar langkah-langkah menaiki tangga. Adiknya, Hyukjae.

Ia berteriak memanggil Hyukjae dan dalam beberapa menit, keadaan berubah menjadi…sangat kacau.

***

Sora menghela napas panjang, dan melanjutkan ceritanya.

“Ketika aku membersihkan kamar eomma, aku menemukan, diary eomma.. didalamnya… “ Sora berhenti, lalu menatap Hyukjae.

“Eomma pernah menjalin affair dengan pengacara Park…”

Shock, Hyukjae menelan ludahnya dengan susah payah, semua fakta ini sungguh aneh dan dramatis.

Seorang petugas menyerahkan sebuah diary bersampul kulit kepada Hyukjae, Hyukjae membukanya, membaca halaman-halaman yang sudah ditandai, lagi-lagi ia terkejut.

Jadi, menurutnya, ayahnya yang terang-terangan berselingkuh itu termasuk usaha membalas kelakuan ibunya yang lebih dulu berselingkuh.

Menghela napas panjang, Hyukjae menatap Sora.

“lalu?”

“Kau tahu Hyukjae, pengacara Park bilang ia sudah melenyapkannya, wanita itu, pasti wanita itu sakit hati, dan dengan kejinya ia membunuh appa kita!”

Sekali lagi Sora meraung, bahkan mencakar tubuhnya sendiri hingga akhirnya petugas terpaksa memegangi kedua lengan Sora dan menyuntikkan penenang.

“Sepertinya kunjungan anda kepada kakak anda hanya bisa sampai sini.” Ujar sheriff.

Hyukjae keluar, disambut oleh Jinhye yang juga mendengar percakapan Lee bersaudara dari ruangan lain.

Jinhye mengelus pundak Hyukjae, berusaha mengurangi beban pria itu walau ia tahu itu mustahil.

Hyukjae memegang tangan Jinhye, menggandengnya berjalan menuju ruangan sheriff.

“Jadi apakah anda sudah menemukan titik terang dari semua ini?” Tanya Hyukjae ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan dengan sheriff.

“Entahlah… tapi untuk sementara ini Jang Hyewoo masih menjadi tersangka utama, sementara itu ada tersangka lain yang juga kami curigai..namun..”

“siapa? Pengacara Park?” Tanya Hyukjae memastikan.

Sheriff itu mengangguk.

“Ibuku tidak bersalah. Ia pernah meneleponku, sebenarnya aku yang meneleponnya di tempat persembunyiannya, berkata bahwa ia dijadikan sebagai buronan, atau orang itu juga akan membunuhnya.”

Hyukjae memandangnya heran.

“Kenapa kau tidak bilang kepadaku?”

Jinhye tersenyum meminta maaf.

“Aku rasa hal itu sia-sia jika tersangka utama adalah ibuku, aku menunggu hingga muncul calon tersangka lain.”

Sheriff berdehem untuk mengembalikan perhatian kedua orang di depannya kepadanya.

“Yah.. sepertinya kita mempunyai tersangka baru. Kami akan berusaha mengusut hingga..”

Ucapan sheriff terpotong oleh dering telepon.

“Maaf.” Ujar Sheriff itu lalu mengangkat telepon untuknya.

Sekilas ekspresi Sheriif berubah menjadi ekspresi keterkejutan, namun kemudian berubah kembali menjadi serius sebelum akhirnya ia memerintahkan anak buahnya untuk penyelidikan lebih lanjut dan kemudian menutup teleponnya.

Sheriff itu menatap Hyukjae dan Jinhye bergantian.

“Sepertinya kasus kita terhenti disini, baru saja anak buahku menelepon, pengacara Park, tersangka baru kita, bunuh diri dengan menempak kepalanya sendiri.”

Keduanya, baik Jinhye maupun Hyukjae, shock, akan perkembangan kasus mereka yang sangat cepat.

“Jadi pengacara Park sudah…”

“Meninggal benar sekali Tuan Lee, dan ngomong-ngomong ia meninggalkan surat, yang berisi pengakuan ia telah membunuh ayah anda. Sepertinya ia benar-benar mencintai ibu anda.”

Hyukjae mengangguk ini semua cukup.

“Aku serahkan kasus ini pada anda, dan tolong bebaskan kakakku, aku akan memperkerjakan seorang perawat untuk menemaninya dan merawatnya di rumah.”

Sheriff hanya tersenyum,

“ Anda dapat mengandalkan saya.”

Hyukjae menggandeng Jinhye yang masih belum pulih dari rasa shocknya.

“Jadi kau tidak perlu keluar dari kota ini bukan, karena kau benar.” Ujar Hyukjae sewaktu membukakan pintu untuk Jinhye.

Hyukjae menghela napas panjang.

Semua telah berakhir.

Hyukjae memasang seat beltnya ketika dilihatnya Jinhye masih seperti belum sadar.

Direngkuhnya wajah Jinhye diciumnya perlahan.

Diusapnya lembut bibir Jinhye dengan bibirnya sebelum kemudian dilumatnya ganas.

Jinhye terkejut dengan serangan tiba-tiba Hyukjae, ia hanya bisa mengerang.

Digigitnya bibir Jinhye agar lidahnya bisa masuk dan menyusuri rongga mulut Jinhye.

“Ermmhh..” desah Jinhye yang tanpa sadar melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Hyukjae.

Hyukjae melepaskan kembali seatbelt nya dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya yang lain menahan kepala Jinhye.

Keduanya saling memainkan lidah milik lawannya, membelit, menghisap.

Tangan Hyukjae mengusap punggung Jinhye yang perlahan mengusap perut datar milik wanita itu. Usapan Hyukjae kemudian berpindah, meremas lembut sebelah dada Jinhye yang disambut oleh erangan pelan di sela-sela ciuman mereka.

Bibir Hyukjae melepas bibir Jinhye, mengusap leher Jinhye dengan bibirnya, mengecupnya pelan.

Jinhye kembali mendesah.

Hyukjae menatap wajah Jinhye. Cantik.

Muka Jinhye memerah, seolah malu telah mengerang dan mendesah padahal mereka masih di dalam mobil yang terparkir.

Hyukjae tersenyum.

“Kenapa? Kau semakin cantik kalau mendesah seperti tadi.” Ujarnya menggoda Jinhye.

Jinhye merespon dengan pukulan pelan di lengan Hyukjae lalu memalingkan muka.

Hyukjae memegang dagu Jinhye, mengarahkan gadis itu untuk menatapnya.

“Aku masih tidak percaya bahwa ini semua sudah berakhir… aku masih marah kepada ibumu, karena dia penyebab kehancuran keluargaku. Seharusnya aku juga marah padamu, membencimu, seperti dulu. Entah kenapa sekarang itu terasa berat.”

Jinhye tersenyum.

“Aku juga seharusnya membencimu, kau yang mengusirku dari kota ini seperti anjing, manusia tidak berperasaan, pikirku waktu itu. Entahlah, mungkin sudah jadi takdir kita untuk saling terpikat?”

Jinhye mengusap pipi Hyukjae pelan. Hyukjae tersenyum jahil.

“Sepertinya aku terpikat pada desahanmu.” Ujarnya memasang kembali seatbeltnya sebelum menyadari bahwa Jinhye memelototinya karena perkataannya.

“Apa? Memang benar, apalagi desahanmu tadi malam. Ahh ohh hyukkie faster ahh… ya! Appo!”

Jinhye mencubit lengan Hyukjae.

Hyukjae meringis kesakitan.

“Aku tidak seperti itu.” Ujar Jinhye kemudian melipat tangannya di depan dada.

Cengiran jahil muncul di wajah Hyukjae.

“Nanti malam aku akan merekamnya, agar kau percaya.”

“YA!”

***

Mohon jangan minta sekuel lagi, karena bikin ini aja author bingung NC nya mesti di bagian mana -_-v Maaf juga alurnya terkesan terlalu cepat karena emang bikinnya buru-buru haha.

Cerita ini banyak yang author ubah dari novel aslinya, maklum udah 6 tahun yang lalu jadi banyak part yang author lupa. Sekali lagi author minta maaf apabila FF ini di luar harapan readers, terutama bagian yadong. Karena author,walaupun imajinasi yadongnya liar tapi untuk merangkainya menjadi susunan kalimat itu sulit. Author sering kagum sama author lain yang bisa bikin bagian yadong dengan sangat “indah” LOL. Sampai sekian aja cuap-cuap nya -_-v gomapseumnida m(_ _)m

51 thoughts on “[FF/Sequel After The Night] It’s Over

  1. Kalau di 2 part sebelumnya cerita ini selalu buat penasaran. Nah kalau di part ini terjelaskan semua akar permasalahannya. Terlihat rumit waktu awalnya, ternyata ayahnya berselingkuh untuk membalas ibunya hyuk yang sudah selingku terlebih dahulu ya.

    Ehh, kalau pas jinhye ngintip hyuk dibuat full nc bagus kayaknya. Tapi begini juga ok.

    Selesai. Ditunggu karya selanjutnya.

    Love loan masih gantuuuuung tuh.

  2. sorry thor baru bisa coment disini^^
    ceritanya bagus gak keduga duga hehehe DAEBAK !!
    SEQUEL YAH THOR PELISSSSSSS SEQUEL ㅠㅠㅠㅠ

  3. Singjat padat dan jelas, cuma tolong dijelasin dong thor dari yg mereka ketemu masih salah paham jadi deket prosesnya, jadi semacam side story thor~
    makasih

  4. Akhirnya ϑι̥ part ini semuanya udah jelasss
    Yaaaah Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ dah Ъќ Ά̲̣̥​ϑǎ̜̣̍​ sequelnya lagi thorr
    Padahal seru banget nich

  5. aaaaaah akhr’e terungkap sdah ap yg t’jadi d masa lalu..
    Bneran thor aq ska ska ska bgt ama ff in…
    D tggu ff seru yg lain’e y thor…

  6. Kisah cinta mereka rumit ya;””” kasian kalo diliat dari masa lalu keluarga mereka;”””
    Sora eonnie, cepet sembuh ne;”””
    Thor, mungkin aku durhaka nih, aku mau minta sequel lagi masa-_- yang mereka udah nikah dong thor, punya anak, terus sora eonnie nya udah gak depresi lagi…

  7. Ooohhh , trnyata yg bunuh ayahnya hyukie tuh pngacara park , gaa nyangka sama sx , dan trnyata yg bikin ayah hyukie selingkuh itu karna ibunya duluan slingkuh toh , akhirnya trjawab semua deh ,🙂

  8. okehh author ini sudah cukup memuaskan, ending konfliknya kurang greget sih sebenernya. Tapi ga apa apa😀 #maaf author
    d tunggu story yg lain .😀

  9. Ah akhirnya kejawab juga yg jadi bikin aku penasaran,hmmm jadi pngacara park to biang keladinya,
    bagus thor ceritanya ya meski memang kecepetan sih,tapi yo wis lah yg penting keren ceritanya daebak lagi,terus semangat ya thor kalo boleh sih ada sequel lagi hehehe/modus
    hwaiting thor

  10. Wah akhirnya semua sdh terungkap fakta2 kebenaran kasus ini yg sblmnya menjelekkan nama oemma nya Jinhye, ternyata Pengacara Park pelaku nya dan semua ini ia lakukan krn ia mencintai mendiang oemma nya Hyukjae oppa

  11. ah keren bgt ff nya🙂

    emang bener cinta bisa ngalahin segalanya😀 mau masa lalu jinhye sama eunhyuk kaya gimana pun tetep aja kalau cinta mah cinta😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s