[FF/ONESHOT] Gone…

casts : Lee Hyukjae, Victoria Song

Genre : romance

 

FF dibuat sebagai peringatan “anniversary”

sebelumnya bikin tapi kehapus sebelum di save -_,- alhasil ngetik lagi tapi inspirasi ga dateng dateng akhirnya ya sks (sistem kebut semalam) 

banyak kekurangan ,pasti, tapi mungkin di lain hari akan diperbaiki author.

sekian.

 

When you are not here i feel nothing …

 

for you, chicmonk

 

Victoria berjalan menuju teras rumahnya sembari membawa segelas jus jeruk kesukaan suaminya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suaminya berbisik dalam keremangan.

“I miss you…”

Victoria melihat sekelilingnya, tidak ada siapapun.

“Siapa yang kau rindukan?” tanyanya pada suaminya sembari mengangsurkan jus jeruknya.

Suaminya hanya tersenyum menampilkan gusinya sebagai ciri khasnya lalu menghabiskan jus nya.

“Siapa?” Tanya Victoria lagi.

“Menurutmu?”

“Bukan aku?”

Lee Hyukjae kembali tersenyum.

“Tentu saja bukan, kita selalu bertemu setiap hari bagaimana mungkin aku merindukanmu?”

Victoria terdiam.

Tetapi aku selalu merindukanmu, setiap hari, bahkan pada saat kita berbicara seperti ini.

“Mau kemana?” Tanya Hyukjae ketika dilihatnya istrinya beranjak masuk rumah.

Victoria tidak menjawab, meneruskan langkahnya menjauhi suaminya. Namun langkahnya terhenti ketika sepasang lengan memeluknya.

“Kau marah?” Tanya Hyukjae.

“Tidak.” Jawab Victoria singkat.

“Kau marah.. hahaha kau ingin aku merindukanmu?” Tanya Hyukjae lagi sembari mencium tengkuk istrinya. Biasanya jika ia melakukan itu istrinya akan mendesah kecil, lalu berbalik menghadapnya dan menunjukkan wajah marahnya namun setelah itu mereka akan kembali bercanda dan tak jarang ‘bermain’ sampai lewat tengah malam.

Namun sepertinya kali ini hal itu tidak akan terjadi.

Victoria mendorongnya pelan melepaskan diri.

“Ya! Kau kenapa? Aku hanya bercanda tapi begitu saja kau langsung marah! Apa maumu? Aku lelah! Aku hanya ingin beristirahat di rumah, bukannya bertengkar tentang hal sepele seperti ini.” Sembur Hyukjae sembari menarik kasar lengan Victoria.

Victoria menghentakkan kaki, wajahnya memerah karena emosi, air mata berkumpul di kedua matanya, memantulkan bayangan wajah Hyukjae.

“Kau kira aku senang? Aku kira kau bahkan tidak lagi peduli padaku.. kau tidak lagi memberiku sapaan pagi hari, kau tidak lagi berpamitan kepadaku ketika kau pergi kerja, kau juga tidak pernah lagi meneleponku di sela waktu kerja hanya untuk menanyakan apakah aku baik-baik saja atau sekedar menanyakan apakah aku sudah makan. “

Keheningan merayap, hanya dipecahkan napas keduanya yang memburu dan isak tangis tertahan milik Victoria.

Hyukjae baru akan menjawab ketika Victoria mendahuluinya.

“Kau berubah…” bisiknya lirih. Namun dapat dirasakan oleh pria itu ada rasa sedih, kecewa, dan sakit dalam dua kata itu.

Belum sempat Hyukjae berkata sesuatu wanita itu dengan cepat meninggalkannya, mengambil kunci mobilnya dan begitu Hyukjae mengejarnya, mobil Victoria sudah bergerak menjauhi halaman.

***

Victoria kembali meneguk minumannya, ia tahu ia bahkan sudah tidak sanggup untuk berdiri, namun ia tidak peduli.

“Nuna, sepertinya kau sudah cukup mabuk, sebaiknya kau berhenti minum dan pulang ke rumah.” Ujar seorang pria yang duduk di sebelahnya. Victoria hanya menanggapinya dengan dengusan. Lalu kembali meneguk minumannya sampai habis.

“Nuna..” pria itu meraih tangannya, melingkarkannya ke sekeliling pundaknya, berusaha memapahnya bangun. Victoria ingin mendorongnya, atau menghempaskan tubuh pria yang sedari tadi menyuruhnya pulang itu, namun efek minuman keras benar-benar sudah menguasainya, ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang merangkulnya.

“Lepaskan dia.” Ujar pria lain yang suaranya sangat familiar di telinga Victoria.

Victoria merasakan berat badannya berpindah ke pria yang baru datang, dan bau parfumnya, Victoria yakin itu adalah suaminya. Ia berusaha melepaskan diri, mendorong tubuh suaminya dengan sisa kekuatannya yang ada. Namun sama saja, Hyukjae telah memegangnya erat, memapahnya menuju mobilnya

“Apa yang sedang kau lakukan?! Apa sebegitu murahnya dirimu sehingga mau ikut saja dengan pria yang bahkan kau baru saja bertemu dengannya?!”

Hyukjae begitu marah sampai menggenggam kemudi dengan begitu eratnya sehingga buku buku jarinya memutih.

Victoria mendengus pelan.

“Urus saja urusanmu sendiri.”

***

Hyukjae terbangun, refleks dilihatnya jam dinding. Jam delapan.

Hyukjae mengumpat.

“Bagaimana mungkin dia tidak membangunkanku. Tsk”

Bergegas ia bangun, menyambar kemejanya dan memakainya. Sembari mengancingkan kemejanya ia berjalan keluar kamar, mencari istrinya.

“Kemana dia..” gumamnya.

Hyukjae memanggil nama Victoria namun tak ada sahutan sampai kemudian dilihatnya ada selembar kertas yang tertempel pada pintu kulkas nya.

Aku pulang ke rumah orang tuaku. Tidak perlu menelepon atau menjemputku.

Hyukjae terdiam. Apa masalah mereka sebegini parahnya sehingga mereka harus berpisah untuk sementara? Ia kembali ke kamarnya, menyiapkan dirinya untuk pergi ke kantor. Ketika baru disadarinya koper milik istrinya tidak ada, dan ketika dibukanya lemari baju, sebagian baju istrinya juga tidak ada.

***

Hyukjae mutar kunci pintu rumahnya, kemudian membukanya perlahan. Kegelapan menyambutnya.

Ia menghela napas, tidak ada lagi yang menyambutnya dan mengucapkan kata ‘selamat datang’ dengan riang, tidak ada lagi yang menyambutnya dengan membawakan segelas jus jeruk favoritnya yang kemudian dapat menghalau rasa lelahnya.

Ia lelah, ia ingin langsung tidur.

***

Hyukjae melihat arlojinya, pukul sembilan malam. Biasanya ia sudah di rumah, biasanya, ketika ada yang menunggunya di rumah. Sekarang ia tidak berniat pulang cepat. Dan rutinitasnya berubah sejak tiga hari lalu. Ia memutuskan untuk tinggal lebih lama di kantor. Rumah hanyalah tempatnya tidur.

Hyukjae kembali menunduk, menekuni dokumen dokumen yang merupakan pekerjaannya sehari-hari.

***

Ketukan di pintu sedikit membuyarkan konsentrasi Hyukjae.

“Masuk.” Ujarnya singkat.

Dari sudut matanya ia tahu sekretarisnya berjalan masuk.

“Umm… Tuan Lee, maaf tapi sepertinya anda tidak bisa lembur untuk hari ini.”

Hyukjae mengalihkan tatapannya, dari lembar-lembar dokumen kerja di atas mejanya, lalu menatap wajah sekretarisnya, lalu ke arlojinya. Baru jam setengah delapan malam, aneh biasanya ia sampai jam sepuluh dan tak ada keluhan soal itu.

“Kenapa?” tanyanya meminta penjelasan.

Sekretaris itu terdiam sejenak seperti sedang mengatur kata-kata.

“Begini, saya mendapat laporan dari bagian pegawai, umm.. beberapa pegawai mengeluh mereka tidak dapat melakukan tugas mereka, bersih-bersih maksud saya, ketika anda masih disini, sehingga waktu mereka kembali pulang menjadi lebih lama. Karena besok hari libur, mereka ingin pulang lebih cepat, jadi….” Sekretaris itu memberi tatapan mohon anda mengerti kepada Hyukjae yang kemudian di jawab dengan anggukan.

“Baiklah aku akan pulang.” Ujarnya lalu membereskan dokumen-dokumen pekerjaannya. Sekretarisnya mengangguk lalu permisi keluar.

Hyukjae menghela napas, kemana ia harus pergi? Ia tidak ingin segera pulang tapi ia juga tidak ingin mampir ke suatu tempat.

Hyukjae terdiam beberapa saat di balik kemudi mobilnya.

Kemana?

Ia melihat ponselnya, ada beberapa pesan, dan semuanya adalah rekan kerjanya, mengajaknya untuk berkumpul dengan mereka.

Hyukjae mendengus, alcohol, rokok, dan wanita pasti ada di sana. Ia sedang tidak ingin berhadapan dengan tiga benda itu jadi ia memilih untuk mengabaikan pesan-pesan itu lalu mengemudikan mobilnya.

Ia masih mempertimbangkan akan kemana ketika disadarinya ia sedang mengarah pulang ke rumahnya.

Hyukjae mengangkat bahunya, lalu tersenyum tipis.

Mungkin ia memang harus pulang.

Hyukjae menatap pintu depan rumahnya. Rumahnya terasa sunyi hari-hari terakhir.

Kapan kau pulang….

Ia memutar anak kuncinya, yang lagi-lagi kegelapan menyambutnya.

Namun itu tidak bertahan lama karena kemudian tiba-tiba lampu menyala sendiri.

Hyukjae mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum matanya terbiasa dan melihat beberapa orang yang dikenalnya berkumpul di depannya dan tersenyum lebar.

Lalu Victoria memegang sebuah kue.

“SURPRISE!” ujar mereka bersamaan.

“A….pa yang…” belum sempat Hyukjae menyelesaikan ucapannya mereka sudah menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.

Ah benar… ini hari ulang tahunnya, bagaimana ia bisa lupa?

Victoria mendekatinya, tersenyum geli.

“Aku mengerjaimu, maaf ya. Pria yang waktu itu teman kuliahku,” ujarnya lalu melempar pandang ke arah pria di sudut yang dikenal Hyukjae sebagai pria yang akan membawa Victoria pergi dari bar.

“Bagaimana harimu tanpaku?” Tanya Victoria.

Hyukjae menatapnya,

“Biasa saja.” Jawabnya yang langsung membuat istrinya memanyunkan bibirnya.

“Tapi tetap lebih baik kau disini.” Imbuh Hyukjae lirih lalu langsung meniup lilin di atas kuenya.

Semua bersorak, dan pesta dimulai.

“Selamat ulang tahun.” Ujar Victoria sembari tersenyum kepada Hyukjae.

Hyukjae terdiam, masih tidak menyangka ini semua hanya untuk mengerjainya.

Tapi ia tersenyum.

“Aku akan membalasmu suatu saat nanti.” Ujarnya yang langsung membuat kerutan di dahi Victoria.

“Ya, kau tidak boleh punya dendam terhadap istrimu sendiri.”

Hyukjae tertawa, mengabaikan protes Victoria dan bergabung bersama family dan teman-temannya, merayakan pesta bertambahnya umur dirinya tanpa sekalipun melepaskan pandang pada Victoria, takut, kalau kalau wanita itu meninggalkannya, dan itu untuk yang sebenarnya.

***

 

8 thoughts on “[FF/ONESHOT] Gone…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s