[Kihyun – Kyuhyun Scene] Wish You Were Here (or wish you were not?)

Casts :

  • Han Kihyun
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Donghae
  • Lee Ahra
  • Lee Hyukjae
  • Shin Yeonhee

Author : ninasomnia a.k.a. ninanino

Summary : It’s about an idea that come from girl named Kihyun. She wants exchange dates between them. Those’re supposed to be Donghae and Yeonhee, Kyuhyun and Ahra, and last Eunhyuk and Kihyun. But everything that un-usual, sometimes really enjoyable and also…different. Get it?

________________________________________________________________________________ 

Kyuhyun POV

“Ah sial, kalah lagi.”
Kutendang botol minuman di dekatku. Kondisinya yang kosong membuatnya dengan mudah terlempar ke sembarang arah.
“Kyuhyun-ah, hentikan kebiasaan burukmu itu. Atau ruangan ini akan berubah menjadi lapangan bola.”
Aku melemparkan pandangan ke arah Ryeoseok. Leluconnya sangat tidak beralasan, “Berlebihan.”
Kulihat dia mulai menarik diri mendengar komentar singkatku itu. Memilih berbalik mencari keberadaan pasangan terkasihnya, Yesung hyung.
“Dasar manja.” Kukembalikan fokus pikiranku ke arah game konsol. Baru beberapa detik, kurasakan seseorang menepuk bahuku. Meski enggan, mataku tetap beranjak meneliti sosok yang menganggu waktu berhargaku bersama game kesayanganku ini.
“Kyuhyun-ah, aku lapar. Ayo temani aku makan siang.”
Aku memilih mengikutinya. Lagipula tidak ada salahnya, aku juga lapar saat ini. Latihan tadi cukup menguras energiku.
Dia terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan mengenai dirinya sendiri. Sedikit terdengar sombong sebenarnya, tapi aku mengenal sosok kakakku yang satu ini. Dia memang seperti ini. Alih-alih mendengarkannya, aku lebih memilih memusatkan perhatian pada permainan di tanganku. Level terakhir.
Kurasakan sebuah tangan terulur tepat di depan dadaku. Menahanku untuk melanjutkan langkah.
“Rapi sekali, ada fanmeeting?” suara Siwon hyung sedikit bersemangat. Mungkin ini yang menahan langkah kami.
“Ah Siwon-nie, Kyu-nie…kalian disini?”
Aku menyipitkan mata mendengar suara itu. Donghae hyung.
“Kau ada jadwal?” Siwon hyung masih berusaha mengorek informasi darinya. Dan entah kenapa, meski tak begitu tertarik, aku tetap saja mendengarkan pembicaraan mereka.
“Tidak ada. Tapi aku ada kencan spesial hari ini.”
Deg. Perasaanku sedikit tak enak disini. Seperti ada yang terlupakan.
“Dengan Yeonhee?” aku belum melihat reaksi Siwon hyung saat menanyakan ini. Kukira ini pertanyaan bodoh. Dengan siapa lagi Donghae hyung akan berkencan kecuali dengan kekasihnya itu.
“Ahra. Ah aku pergi dulu. Bye.”
Kepalaku terangkat sempurna tepat saat mendengar nama itu meluncur dari bibir Donghae hyung. Mengabaikan satu pukulan yang siap kulayangkan di permainan terakhir yang sedang kulakukan.
Aku merasa Siwon hyung memperhatikanku. Melempar pandangan dariku lalu ke Donghae hyung, dan kembali padaku. Begitu seterusnya.
“Donghae hyung—” panggilku lemah. Entah kenapa aku bersikap seaneh ini. Kukontrol nada dinginku. Mengembalikan Kyuhyun yang sebenarnya. “—jangan terlalu percaya diri dengan penampilanmu. Asal kau tahu saja, kau itu bukan tipe idaman Lee Ahra. Mengerti?”
Aku tidak tahu dari mana asalnya aku bisa berucap seperti itu. Yang jelas disini ada rasa tidak terima.
Donghae tersenyum. Bukan senyuman mencibir kukira. “Aku tahu. Karna itu, aku akan mencoba menjadi keinginannya. Aku pergi.”
Punggungnya terlihat semakin menjauh dari pandanganku. Dan entah kenapa ada rasa takut disini. Sampai kusadari ada orang lain, yang masih menungguku menjelaskan semuanya.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan Siwon hyung.”
^^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyuhyun….oppa.”
Aku menahan langkahku. Suara ini, suara Kihyun. Langkah besarnya semakin mendekat, membuatku memilih tidak berbalik dan menghampirinya. Aku mau melihat seberapa besar Gambarperjuangannya.
“Aish, kenapa oppa tidak berbalik saat kupanggil tadi?”
Kukulum bibir bawahku. Mencoba menahan tawa yang mungkin keluar melihatnya seperti ini. Kejam? Memang. Siapa suruh dia (mengorbankan diri) menjadi kekasih Cho Kyuhyun.
“Kau yang membutuhkanku, kenapa harus aku yang berbalik?” Kembali kuteruskan perjalananku. Mencoba mengabaikan gadis polos itu.
“Ya! Kenapa meninggalkanku? Aku ini punya penyakit asma tau.”
Kusingkirkan game konsol dari tanganku. Memasukkannya ke kantung celanaku kemudian. Entah kenapa saat ini aku ingin mengerjai kekasih hyungku itu. Cepat, kupasang kuda-kuda. Bersiap berlari, meninggalkannya. Atau setidaknya membuatnya mengejarku. Anggap saja dia berlatih menjadi stalker seorang Cho Kyuhyun.
Tepat pada hitungan ketiga, aku berlari sekuat tenaga. Walaupun sebenarnya aku tak begitu ahli pada bidang yang satu ini. Setidaknya aku masih ahli dalam menyanyi dan sebagainya.
“Ya! Oppa…kenapa harus lari?” seruannya semakin membuatku ingin menggodanya. Kutambah kecepatanku setelah kupastikan dia benar-benar melakukannya. Mengejarku.
Setelah itu hanya ada suara sepatunya, juga teriakan dari mulut cerewetnya itu. Kalau saja aku tidak berjuang mati-matian menahan tawa, mungkin saat ini suara tawa itu akan lebih mendominasi.
Setelah kurasa cukup aman, aku kembali memalingkan wajah ke arahnya. Melihatnya jatuh tersungkur, dengan ekspresi yang (sepertinya) setengah tercekik. Setidaknya ekspresi seperti itukan yang dipunyai seseorang dengan penyakit asma saat berlari.
“Han Kihyun—” mulutku hanya bisa bergumam lemah. Dia terduduk menempel di salah satu dinding. Ekspresinya jauh lebih mengerikan dari dugaanku tadi. Airmata mengucur deras, rambutnya berantakan —yang mungkin karna ia mengejarku, sampai yang terparah mulut yang terbuka lebar. Sepertinya dia sedang berusaha mendapatkan oksigen dari sana.
“Kihyun-ah.” Kali ini aku sedikit berteriak. Memastikan bahwa dia masih sadar dengan memanggil namanya. Aku berbalik arah. Tentu dengan lari yang kupercepat. Ini menyangkut nyawa orang lain.
Kedua tanganku meraih bahunya. Menyandarkannya ke tubuhku. “Kihyun-ah, kau baik-baik saja?”
Kurasakan tubuhnya bergetar. Airmatanya masih terus keluar. Desahan napas berat juga bisa kudengar dengan jelas. Positif, penyakitnya kambuh. Setahuku memang seperti itu gejala saat asma muncul.
“Ah…kub…bi…lang…ak..kuh..ah…tid..dak…ah…bis…sa…ber…la..ah…ri…” ucapnya tersengal-sengal. Melihatnya yang seperti ini benar-benar mengerikan. Rasa bersalah itu muncul. Setidaknya kalau tadi aku tidak menyuruhnya mengejarku hal ini tak mungkin terjadi padanya.
“Lalu kenapa kau mengejarku. Bodoh.”
Aku merogoh saku celanaku. Mengambil benda berbentuk persegi panjang itu. Tak butuh lama tanganku sudah bergerak menelusuri sederetan kontak yang berjajar rapi disana. Eunhyuk hyung. Setidaknya dia lebih bisa diandalkan.
“Eunhyuk hyung.”
Aku langsung berteriak tepat saat mendengar ucapannya membuka panggilan kami. Bisa kau katakan aku tidak sabaran, tapi sekali lagi kutegaskan ini menyangkut nyawa gadis sialan ini.
“Ya, Kyuhyun-ah. Aku tidak tuli. Kau tidak perlu berteriak sep…”
“ASMA KIHYUN KAMBUH. AKU HARUS BAGAIMANA?!?” Kupotong ucapannya dengan teriakan lain. Dan sepertinya itu bukan hal baik. Napas Kihyun semakin berat. Catatan lain, jangan pernah berteriak di depan pengidap asma, sepanik apapun keadaannya, bahkan saat partnermu sedikit tuli.
“Dimana kalian? Bawa dia ke rumah sakit. Cepat.”
Kulempar ponselku. Aku tidak terlalu memperdulikannya saat ini. Dan entah kenapa aku tidak memikirkan hal itu sejak tadi. Membawanya ke rumah sakit.
Sedikit kudorong tubuhnya, bersandar kembali ke dinding. Kubalikan tubuhku kemudian, mencoba menyuruhnya memposisikan diri di punggungku. Aku berniat menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit.
“Tahan Han Kihyun. Tetaplah bernapas. Kumohon.”
Bahuku terasa sedikit basah. Sepertinya dia belum berhenti menangis. Sial. Bukankah itu artinya asmanya belum akan berhenti. “Han Kihyun, kumohon berhentilah menangis. Kau mau semua orang di gedung ini mengira aku mematahkan hatimu.”
Racauanku semakin tak jelas seiring dengan kepanikan yang kurasakan. Ponselku tertinggal di lobi tadi, dan bagaimana jika seseorang yang jahat memungutnya. ‘Kenapa aku bisa seceroboh ini?’
^^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyu—” Aku bangkit dari tempatku. “—dimana Kihyun?” tambahnya tak sabaran. Aku hanya menganggukkan kepala, memintanya mengikutiku.
Langkah kami berhenti di ranjang nomor tiga sebelah kanan. Seorang perawat masih memeriksanya saat kami melihatnya.
“Kalian, keluarganya?”
Kulihat Eunhyuk hyung mengangguk pasti. “Hanya kami keluarganya. Ayahnya di luar kota, dan yang aku tahu, dia hanya tinggal bersama ayahnya.”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya serangan asma ringan.” Perawat itu berbalik. Hendak memastikan sesuatu sekali lagi sepertinya.
“Ringan? Dia nyaris meregang nyawa beberapa saat yang lalu.”
Beberapa saat setelah mulutku melontarkan kalimat itu, sebuah pukulan mengenai bagian belakang kepalaku. Ada sedikit rasa ngilu sebenarnya. Tapi aku tahu ini bukan saatnya mengeluh sakit.
“Hyung—”
Ekspresi wajah Eunhyuk hyung sudah sedikit berubah. Tidak sepanik sebelumnya. Meski kali ini yang kulihat justru…
“Ya! Apa maksudmu dengan meregang nyawa? Memang apa yang kau lakukan sampai dia seperti itu?”
“Saya mohon anda berdua tenang, ini rumah sakit. Dan sekali lagi, nona Han baik-baik saja. Dia hanya sedikit shock, sudah lama mungkin penyakitnya tidak kambuh. Saya permisi dulu.”
Perawat itu meninggalkan kami bertiga. Eunhyuk hyung mulai berjalan ke arah Kihyun. Meraih tangan gadis yang tertidur lelap itu.
Aku bisa melihat mulut dan hidungnya ditutupi sebuah masker plastik besar. Dari sini semakin besar rasa bersalah itu.
Aku berinisiatif untuk buka suara saat ini. Dan lagi Eunhyuk hyung sedikit lebih tenang sekarang. “Maaf hyung, aku tidak bermaksud membuatnya seperti ini.”
“Bagaimana ceritanya kalian bisa bersama?”
Eunhyuk hyung masih belum mengalihkan pandangan dari Kihyun. Kubuka kantong jaketku. Meraih sapu tangan milik Ahra yang masih kubawa. Mengulurkannya pada hyungku.
Dia menerimanya, mengusapkan tepat di pelipis Kihyun. Mencoba menghapus peluhnya.
“Aku tak tahu apa yang dilakukannya disana. Mungkin dia mau mengajakku keluar.”
“Keluar?” nada bicara Eunhyuk hyung sedikit meninggi. Ada rasa tak percaya dengan apa yang didengarnya kukira.
“Iya. Mengenai bertukar pasangan, kau lupa?”
Kali ini dia berbalik menatapku. Dari mata dan mulutnya bisa kuyakini dia benar-benar melupakan ide bertukar pasangan itu. Sama sepertiku beberapa saat lalu. Atau memang ini rekayasa Donghae hyung agar bisa berkencan dengan Ahra? Hanya dia yang mengingat tentang hal ini.
“…op..pa…”
Aku mendekat ke sumber panggilan. Mengikuti Eunhyuk hyung. “Hyunnie-ya, kau sadar?”
Tangan Kihyun meraih masker yang menutupi sebagian wajahnya itu. Melepasnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. “—kenapa kau disini? Bukankah kita tidak boleh bertemu selama seminggu?”
“Kau tidak bilang kita tak boleh bertemu sweety olive. Dan lagi dengan keadaan seperti ini, bagaimana mungkin aku mengabaikanmu?”
Kihyun memaksakan diri memasang senyuman terbaiknya. Yang kulihat disini Eunhyuk hyung bersikap selayaknya kekasih normal. Dan jujur saja, aku terkadang iri dengan itu. Dia, bisa menunjukkan rasa cintanya pada Kihyun semudah itu. Tidak sepertiku. Terlalu berpegang pada gengsi.
“Tetap saja itu namanya kontak, berhubungan. Apapun yang terjadi padaku, kita tidak seharusnya bertemu tuan Lee. Itu namanya curang.”
Sekali lagi, Kihyun tidak kehilangan sifat keras kepalanya. Meski beberapa jam lalu dia nyaris menghentikan kerja paru-parunya dengan penyakit akutnya itu.
“Ya, Han Kihyun. Disaat sekaratpun kau tetap keras kepala. Kali ini aku akan menjaga rahasia. Aku tidak akan mengatakan pada yang lain kalau kalian bertemu. Tenang saja.”
Eunhyuk hyung menginjak kakiku. Aku tahu dia sengaja. Mulutnya mendecak kesal. Mengundang tawa hampa dari Kihyun.
“Kenapa kau suka sekali memanggilku dengan nama belakangku, oppa? Hehehe.” suara Kihyun benar-benar mengerikan. Dia lemah sekali saat ini.
“Dan ya! Cho Kyuhyun, bagaimana bisa kau bilang menjaga rahasia kalau kau yang menyebabkan dia seperti ini!” Emosi Eunhyuk hyung saat ini benar-benar tak stabil. Terbukti dia tidak berhenti menggunakan nada tingginya. Sesuatu yang cukup langka. “Baru menjadi kekasihmu satu hari saja dia masuk rumah sakit. Nona Han, lebih baik kita hentikan acara bertukar pasangan ini. Aku tidak mau sesuatu yang lebih buruk dari ini menimpamu.”
Ucapan Eunhyuk hyung sedikit berlebihan. Bahkan kami belum berkencan secara resmi, bagaimana bisa dia menyalahkanku. “Hyung~”
“Ini bukan salahnya, kami bahkan belum mulai berkencan tuan Lee sayang. Sebaiknya kau pergi sekarang. Yeonhee mungkin menunggumu.” Tangan Kihyun mendorong bahu Eunhyuk hyung lemah. Walaupun yang terlihat justru menggelikan. Seharusnya dia sadar dia tak punya cukup kekuatan untuk melakukan hal itu.
“He? Untuk apa Yeonhee menungguku?”
Kihyun tersenyum lemah sekali lagi. “Sudah kubilang, kita sedang bertukar pasangan. Suka atau tidak, kalian harus menjalaninya seminggu ke depan.”
“Arra. Aku pergi. Jaga dirimu.” Dia bangkit dari kursinya. Mencium lembut kening Kihyun. Sesaat sebelum meninggalkan kami, dia sempat membisikkan sesuatu kepadaku. “Jaga dia untukku.”
Aku menganggukkan kepala yakin. Mengantarkannya keluar, meski dia hanya mengijinkanku sampai di depan lobi rumah sakit saja. Dia bilang dia tak mau Kihyun sendirian. Entah kenapa aku ingin tertawa mengejek diriku sendiri. Apa aku akan bersikap sepertinya jika ini terjadi pada Ahra?
Kuputuskan memikirkan itu sembari melihat keadaan Kihyun. Sesampainya di tempat Kihyun terbaring tadi, justru kutemukan beberapa suster mengerubungi tempat itu. Takut terjadi sesuatu dia kupercepat langkahku dengan sedikit berlari. “Apa yang terjadi? Dimana pasien yang tadi disini?”
Serentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Perawat-perawat tadi sedang membereskan ranjang itu. Dengan tidak adanya Kihyun di tempat itu tentunya.
“Oppa, aku disini.” Sebuah tepukan di punggungku sedikit mengagetkan. Tapi tentu saja, membuatku bisa bernapas lega.
“Kau darimana?” tanyaku sedikit khawatir. Baiklah tidak sedikit, aku sangat mengkhawatirkannya saat ini.
Kihyun mencoba bangkit dari kursi rodanya. Kuulurkan kedua tanganku, menahannya agar dia tidak kehilangan keseimbangannya.
“Terima kasih.” ucapnya. Dia sudah bisa berdiri sendiri. Wajahnya masih nampak pucat. Tapi kali ini sedikit lebih baik daripada saat dia terbaring tadi tentunya. “Aku menyelesaikan urusan administrasi. Setelah ini apa kau bisa mengantarku pulang oppa?”
Aku mengangguk mengiyakan. Kemudian berjalan mendahuluinya mengambil tas tangannya. “Naiklah ke kursi roda. Kita akan pulang sekarang.”
^^^^^^^^^^^
“Kau mau kemana Kyu?”
Aku meraih kunci mobilku. Mengabaikan pertanyaan, yang mungkin juga semacam sapaan dari Sungmin hyung itu. Aku sedang terburu-buru saat ini.
Kudengar dia mengeraskan volume suaranya. Membuat teriakan dengan namaku tentunya. Dan sekali lagi aku masih terlalu malas untuk meladeni itu. Aku benar-benar terlambat.
Entah perasaanku saja atau apa tapi sepertinya elevator ini berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Kuperhatikan dengan seksama lampu yang bergantian menyala di tiap lantai yang ditunjuknya. Padahal kami hanya tinggal di lantai sebelas, kenapa harus selama ini untuk mencapai lobi.
Tepat saat aku mulai mengkhawatirkan waktu yang terlampau berlebihan itu, sebuah dentingan kembali mengembalikan semangatku. Seiring dengan pintu elevator yang terbuka perlahan. Saking tak sabarnya, aku memilih menerobos pintu itu saat belum terbuka sepenuhnya.
Dari tempatku saat ini aku bisa melihat seorang pria, lengkap dengan seragam valet parking, berdiri di samping mobilku. Menungguku pastinya.
Tak perlu waktu lama untuk mendekati petugas itu. Kukeluarkan beberapa lembar uang, dan menyerahkannya pada pria itu. Sebagai upah atas jasanya.
Setelah mendapat kunci mobilku, aku segera masuk ke dalamnya. Memacunya secepat yang aku bisa. Sembari merapikan penampilanku yang sepertinya belum sepenuhnya sempurna sesuai keinginanku.
Perlu waktu cukup lama untuk mencapai tempat itu. Dengan keterlambatanku yang mencapai satu jam, jalan yang cukup macet menjelang tahun baru, dan beberapa jalan yang dialihkan karna tertutup salju, total keterlambatanku mencapai tiga setengah jam. Belum berhenti disitu, sepertinya kesialanku masih berlanjut. Aku lupa membawa ponselku.
Aku mengedarkan mata malas di sekitar area kampus itu. Ini kampus Kihyun. Aku berjanji menjemputnya hari ini. Dan sepertinya dia sudah pulang. Mana ada gadis yang mau menunggu jemputan yang terlambat nyaris empat jam. Terlebih di tengah cuaca dingin seperti ini.
Kecepatanku masih di bawah rata-rata. Berjaga-jaga agar dengan itu aku bisa meneliti setiap wajah yang berdiri di sepanjang jalan depan kampus ini. Aku nyaris menginjak rem reflek, jika aku tak mampu menahan keterkejutanku. Seorang gadis terlihat berjongkok di bawah pohon. Menggosok-gosokkan tangannya secara teratur satu sama lain. Buku-buku tebal yang menjadi ciri khasnya kini beralih fungsi sebagai penyokong sikunya. Kuparkirkan mobilku tepat di depannya. Meski nampaknya itu sama sekali belum membuatnya menyadari kehadiranku.
Aku turun dari mobilku pelan. Masih berusaha menjaga tidak adanya suara yang bisa mengagetkannya.
Sesampai di depan sosoknya itu, aku ikut merendahkan tubuh. Berjongkok dengan posisi berhadap-hadapan dengannya. Memanggil namanya lembut. Sesuatu yang pasti kulakukan untuk pertama kali tentu. “Kihyun-ah—”
Dia mendongakkan kepalanya. Saat ini jarak wajah kami nyaris kurang dari tiga puluh sentimeter. Kepulan asap keluar dari mulutnya, bahkan saat dia belum memutuskan untuk berbicara.
Aku juga bisa melihatnya, matanya melebar dengan selengkung senyuman penantian. Dia seakan terlalu senang melihatku. Meski ada sesuatu lain yang turut menyita perhatianku. Darah mengalir dari hidungnya. Dia mimisan. Jika dilihat sepertinya belum lama. Darah itu masih segar.
“Kihyun-ah, kau mi—” Belum selesai kuselesaikan kekhawatiranku, gadis itu terjungkal ke belakang tidak sadarkan diri. Kihyun, dia pingsan.
Kulakukan hal yang sama seperti dua hari lalu. Meraih tubuhnya dan mendekapnya di dadaku. Menepuk-nepuk pipinya sedikit keras beberapa kali. “Kihyun-ah… kumohon sadarlah.”
Melihat hasilnya yang tak cukup memuaskanku, kuputuskan menggendongnya lagi ke mobilku. Membawanya ke rumah sakit terdekat dari sini.
“Bertahanlah gadis lemah…”
^^^^^^^^^^^
Kupandangi sosok Kihyun yang masih berkutat dengan makanannya. Melihatnya dengan selera makan seperti itu benar-benar membuatku tak percaya gadis ini nyaris meregang nyawa untuk kedua kalinya dalam minggu ini.
“Oppa, boleh aku minta satu porsi lagi?”
“Nde?” tanyaku tak percaya. Gadis ini benar-benar tak terdefinisikan.
Dia memasang kedipan mengerikannya. Sesuatu yang selalu dibanggakan sebagai kedipan cantiknya itu. “Jjampong. Boleh aku minta satu porsi lagi? Pleaseeeeeeeeee~”
Aku mengangguk. Pertanda mengabulkan keinginan sederhananya itu. Anggap saja ini sebagai penebusan rasa bersalahku padanya.
“Bibi, bisa beri kami satu mangkok lagi? Terima kasih.” teriakannya benar-benar memekakkan telinga. Jujur saja aku mulai curiga dia pernah secara tak sengaja menelan mega-phone sewaktu bayi.
Aku mendesis. “Pelankan suaramu Han Kihyun! Jangan membuat kita jadi pusat perhatian.”
Dan seperti biasa, dia hanya menahan tawanya sembari memamerkan sederetan giginya. “Maaf, hehehe.”
Kuatur napasku. Ini saatnya aku meminta maaf padanya juga. “Kihyun-ah, maaf.”
Dia meletakkan garpu digenggamnya sedari tadi. Ada satu lagi kebiasaannya yang sedikit aneh. Dia tidak begitu mahir menggunakan sumpit. Mungkin satu-satunya orang di Korea yang selama hidupnya nyaris tidak pernah memakai sumpit.
“Maaf? Untuk apa oppa? Bukannya aku yang harus meminta maaf karna menghabiskan uangmu hari ini?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan bodohnya. “Maaf karna membuatmu menunggu Kihyun-ah.”
“Ah, it’s ok oppa. I love waiting for someone.” pamernya sembari menepuk dadanya beberapa kali. Tentu ucapannya membuatku cukup tercengang. Bukan karna aku tak begitu pandai berbahasa Inggris, aku mengerti dengan jelas maksud ucapannya. Hanya saja jawaban terdengar teramat sangat janggal.
“Kihyun-ah, orang itu benci menunggu. Kenapa kau justru menyukainya?” tanyaku ingin tahu.
“Saat kita menunggu seseorang, itu artinya kita membuat orang itu merasa dibutuhkan. Dihargai. Ataupun dinantikan keberadaannya. Ah, pesananku datang.”
Dia menghentikan ucapannya. Berkonsentrasi dengan makanan yang baru saja tersaji di meja kami. Aku menatapnya yang masih berkutat dengan makanan favoritnya itu. Membiarkanku masih tak percaya dengan ucapannya. Aku tidak pernah berpikir menunggu bisa memiliki sudut pandang seperti pemikirannya itu. Dan sepertinya itu benar. Aku merasa dihargai.
“Kalau begitu terima kasih.” ralatku. Dia melirikku dari sudut-sudut matanya. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Aku harus menunggu dia menyelesaikan mengunyah makanan yang ada di mulutnya sebelum menunggu kalimat balasannya.
“Untuk?”
Ah sial. Gadis ini ternyata memiliki kemampuan otak di bawah rata-rata. “Menungguku.”
Dia tersenyum. “Aku juga harus berterima kasih padamu oppa. Terima kasih karna kau slalu tanggap membawaku ke rumah sakit. Dan maaf karna merepotkanmu.”
“Ini baru hari ketiga pertukaran pasangan, dan kau sudah masuk rumah sakit dua kali. Apa kau berencana melakukannya lagi untuk pertemuan mendatang?”
“Aku sudah selesai.” Dia meletakkan peralatan makannya. Mengabaikan sarkasmeku tadi. Meraih lap makan bersih di hadapannya, membantu menyapu bekas-bekas makanan di area bibirnya. “Bibi, bisa minta dibungkuskan tiga jjampong dan satu jjajangmyeon. Terima kasih.”
Sekali lagi dia mengeluarkan suara sonarnya. Dan bisa kukatakan sedikit memalukan bersamanya saat dia melakukan itu di hadapan umum. “Kau masih belum kenyang?”
Dia menggeleng penuh semangat. Meraih segelas air putih, dan meneguknya cepat. “Kemarin seharusnya aku datang ke rumah eommonim. Tapi karna perjanjian konyol bertukar pasangan ini, aku jadi tidak bisa menemui orang tua Hyukjae itu di acara makan malam.”
Aku mengerti maksud ucapannya. Dia benar, seharusnya kemarin kami berdua yang ada di sana, rumah Ahra dan Eunhyuk hyung. Bukannya Yeonhee dan Donghae hyung.
“Aku semalam kesana.” akuku. Dia sepertinya cukup tersentak dengan pengakuan itu.
“Oppa kesana?”
Aku mengangguk. “Hanya menunggu di luar. Dan melihat diriku digantikan oleh Donghae hyung, rasanya menyakitkan. Seharusnya aku yang disana. Kita yang disana Kihyun-ah.”
“Belum tentu seperti itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi.”
Baru saat aku akan menyelanya, hantaran pesanan sudah datang di tempat kami. Kusodorkan beberapa lembar uang kepada pelayan tadi. Meraih pergelangan tangan Kihyun dan menariknya keluar sesegera mungkin dari kedai itu.
“Jadi sekarang kita akan ke rumah keluarga Lee?” tanyaku sembari memasang sabuk pengaman. Dia masih menggenggam bungkusan tadi. Matanya menerawang ke depan. Penasaran, aku berusaha mengikuti arah pandangannya.
Sekitar seratus meter dari mobilku, Yeonhee dan Eunhyuk hyung. Pose mereka tak terlalu jelas, yang jelas mereka berdua berdiri membelakangi kami. Namun aku yakin aku melihat Eunhyuk hyung sedang menggenggam tangan Yeonhee tepat di punggung Yeonhee. Dan gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahu hyungku itu.
Kulirik gadis yang duduk di sebelahku. Baru mendapatkan pandangan ke tangannya, aku sudah merasa ada yang janggal. Punggung tangannya basah. Sepertinya beberapa tetes air baru saja mengenai bagian tubuhnya itu. Ada dua kemungkinan. Dia menangis atau atap diatasnya bocor. Sepertinya kemungkinan kedua sedikit tidak masuk akal. Lagipula cuaca terlalu cerah untuk sekedar membagi tetesan air ke dalam mobilku.
“Ah, Eunhyuk hyung dan Yeonhee. Apa kita harus menyapa mereka?” Aku berinisiatif memecah keheningan. Setelah sebelumnya mengembalikan pandangan ke depan tentunya. Sembari berpura-pura tidak pernah melihat kondisi Kihyun.
Dia sepertinya tersentak dengan ucapanku. Terbukti adanya suara yang sedikit dibuat-buat untuk mengatasi keterkejutannya.
“Sepertinya tidak. Kau lupa kita tidak boleh melakukan kontak apapun dengan pasangan?” suaranya lemah. Berbeda dengan dirinya beberapa saat lalu.
“Tapi keduanya bukan masalah untukku bukan? Aku akan turun, dan menyampaikan salammu untuk Eunhyuk hyung.”
“Jangan.”
Dia terlambat. Aku sudah melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil saat dia berusaha meraih lenganku. “Kyuhyun oppa, kumohon tetap disini.”
Aku mengabaikan permintaannya. Jujur ada sedikit kemarahan padaku saat ini. Aku hanya tak bisa melihat sosoknya yang lemah seperti tadi. Sudah tiga kali aku melihatnya. Dua kali setelah dia jatuh pingsan. Dan satu lagi saat dia menangis barusan. Benar-benar menyakitkan melihatnya yang selama ini bertindak gila, menunjukkan sisi lainnya.
Niatku hanya satu. Bukan menyampaikan salam dari Kihyun, atau mungkin kalau tinjuan yang akan kulayangkan pada laki-laki brengsek itu termasuk salam, maka aku memang akan menyampaikannya.
Aku berlebihan? Oh oke. Tapi dalam pertukaran pasangan ini tidak harus mengambil tindakan berlebihan seperti itu. Apalagi sampai mencium kening Yeonhee. Tunggu, mencium? Ya Tuhan, bahkan sekarang Eunhyuk hyung mencium kening kekasih Donghae itu.
Aku hanya berjarak beberapa langkah dari mereka saat ini. Kupanggil namanya setengah berteriak. Walaupun kesal, aku juga tak mau kami dikenali disini. Meski parkiran ini cukup sepi, tidak menutup kemungkinan kami akan segera dikenali. Terlebih dengan niatanku untuk menghajarnya.
Sepertinya Eunhyuk hyung menyadarinya. Dia mendorong Yeonhee. Menjaga jarak dari gadis yang beberapa saat lalu didekapnya. “Kyu-nie…”
Kuraih kerah bajunya kasar. Menghempaskannya kemudian. Aku bersyukur masih bisa menggunakan akal sehatku. Menahan tangan kananku melayangkan tinjuan ke wajahnya. “Kyuhyun-nie, kenapa?”
Aku melengos. Seharusnya aku tidak mencampuri masalah percintaan ini. Meski bukan berarti aku harus diam saja. Kulangkahkan kaki menjauhi mereka. Baru langkah ketiga, aku berbalik menatap mereka bergantian. Yeonhee belum beranjak dari tempatnya semula. Maksudku dia belum berniat menolong Eunhyuk hyung dari tindakanku tadi. Namun tetap saja, kepanikan terpancar darinya.
“Aku hanya ingin menyampaikan salam dari Kihyun. Kalau kalian mau melanjutkannya, lebih baik mencari tempat lain. Jangan di hadapan gadis itu.” cibirku. Mataku jelas-jelas menangkap ekspresi keterkejutan mereka.
“Kyuhyun-ah, apa maksudmu?” tanya Eunhyuk hyung lemah. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan melemparkan pandangan ke tempat dimana mobilku terparkir.
Mataku membulat saat menemukan mobilku sudah dalam keadaan kosong. “Kihyun-ah!” kuteriakkan namanya beberapa kali. Berlari tanpa arah di tempat parkir ini. Kemudian kudengar teriakan lain yang kukenali sebagai suara Eunhyuk dan Yeonhee.
“Kihyun-ah, kuharap kau sudah pergi sedari tadi. Tanpa perlu melihat tindakan pengecut hyung-ku tadi.”
^^^^^^^^^^^

click here to continue

6 thoughts on “[Kihyun – Kyuhyun Scene] Wish You Were Here (or wish you were not?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s