[FF/Oneshot] One Chance

Author : AraLee

Casts : Park Jungsoo, Cho Kyuhyun, Kim Heechul, Choi Siwon, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Henry Lau, Shim Changmin

Genre : Violance 17+

Note : FF pertama buatan author yang ga ada cewe satupun, jadi no romance. FF ini dibuat berdasarkan mv B.A.P One Shot. yang udah nonton pasti tahu. berhubung FF pertama di genre ini mungkin banyak kekurangannya, terutama detail cerita. jadi jangan heran kalo ceritanya “kependekan”. Oh ngomong-ngomong lagi, ini juga FF prtama author yang main cast nya Jungsoo kkk

DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION

Happy reading ^^

Jungsoo sedang bersembunyi di celah-celah kardus yang bertumpuk di sebuah gang sempit, bukan tanpa tujuan, ia sedang mengawasi sebuah mobil jeep milik musuh kelompoknya. Orang-orang mungkin menyebutnya gangster ,mafia, berandalan, preman entah apapun sebutannya tapi bagi dia dan teman-temannya bahkan musuh-musuhnya yang seprofesi dengannya ini adalah pekerjaan mereka, untuk mencukupi kebutuhan mereka. Mereka sepakat dunia ini keras dan tidak hanya dihuni oleh orang-baik yang bekerja dengan dunia atas, begitu mereka menyebutnya, sedangkan mereka sendiri memilih untuk menjadi penjahatnya, beraktivitas di dunia bawah, bersahabat dengan pistol, pisau dan senjata mematikan lainnya, bahkan mereka harus menghilangkan rasa takut mereka terhadap kematian jika menghadapi perang dengan musuh-musuhnya. Tak hanya sekali mereka kalah, tak hanya sekali mereka kehilangan kekayaan yang telah mereka timbun, dan tak hanya sekali teman-teman mereka mati satu per satu. Namun bukan berarti mereka selalu mengalami kepedihan akan kekalahan, tak jarang mereka mendapatkan hasil gemilang, rampasan perang, begitu istilahnya.

Awalnya Jungsoo hanya ingin sedikit berjalan-jalan, beruntung mungkin ia menemukan jip itu berhenti di sebuah jalan sepi. Langsung dihubunginya Kyuhyun, salah satu anggota kelompoknya, untuk berjaga di daerah sekitar itu. Hanya untuk berjaga-jaga apabila ada kelompok lain yang datang atau polisi. Dia tentu tak ingin disergap.

Ponselnya bergetar, ada pesan masuk.

Hyung, ada kelompok lain datang, sebaiknya kau cepat menyingkir sebelum ketahuan.

Dari Kyuhyun rupanya. Jungsoo mengetikkan jawabannya singkat dan cepat.

Menyingkirlah segera dari sana.

Jungsoo memandang sekali lagi ke tempat jip itu berada, ia tahu pasti mereka sedang melakukan transaksi. Mendecak kesal dengan langkah cepat ia terpaksa pergi dari sana sebelum nyawanya menjadi taruhannya.

***

“Apakah ada di antara kalian yang mengetahui dimana Kyuhyun?” Tanya Jungsoo pada anggota kelompoknya.

Siwon yang sedang mengutak-atik mesin mobil menoleh ke arahnya, mengernyit heran.

“Bukankah hyung yang terakhir kali bersamanya? Kemarin lusa kau menyuruhnya mengikutimu, bukan? Aku kira hyung memberinya misi.”

“Aku tidak memberikan misi apapun setelah itu, ku kira dia pulang ke apartemennya, namun ketika aku menelepon apartemennya tidak ada jawaban. Ponselnya juga tidak aktif setelah itu.”

Ekspresi Jungsoo menegang.

Apakah waktu itu dia tertangkap?

“Kita tunggu beberapa hari lagi saja, Hyung. Jika tidak ada kabar, baru kita bertindak.” Usul Henry.

Jungsoo mengangguk, lalu ia berjalan ke pintu depan ketika didengarnya ada ketukan.

“Ah? Donghae! Lama kita tidak berjumpa!”

Jungsoo tersenyum lebar lalu merangkul Donghae, orang yang sudah lama dianggap sebagai saudaranya. Donghae membalas rangkulannya, mengulum senyumnya.

“Ya, aku beruntung masih hidup. Aku…”

DUAGH!!

Bertepatan dengan suara benturan itu Donghae tersungkur jatuh. Nanar, Jungsoo melihat ada anggota kelompok saingannya, yang waktu itu ia intai, membawa pemukul baseball, tentu alat itulah yang digunakannya untuk memukul belakang kepala Donghae.

Jungsoo berteriak.

“Donghae-ya! Donghae-ya!”

Member lain yang mendengar teriakannya berhamburan keluar dan berusaha mengejar si pemukul, namun mereka kalah cepat karena beberapa detik kemudian sang pelaku dan teman-temannya sudah menghilang dari pandangan.

Beberapa orang menggotong tubuh Donghae ke dalam rumah, sementara yang lain menugaskan diri sendiri untuk berjaga di sekeliling rumah.

“Sialan!” umpat Jungsoo.

“Apa alasan mereka melakukan ini?” Tanya Hyukjae, ia tidak mengerti, selama ini mereka tidak pernah untuk melakukan kontak langsung dengan kelompok tersebut. Perdagangan apapun bentuknya atau percekcokan juga tidak pernah terjadi di antara mereka walau memang hubungan mereka tidak baik.

Well aku melupakan fakta bahwa beginilah hidup kaum mafia, suka atau tidak suka, salah atau tidak salah.

“Jungsoo hyung! Aku menemukan ini.” Ujar Henry lalu mengulurkan sebuah flashdisk kepada Jungsoo.

Jungsoo mengambilnya, mengamatinya.

“Apakah itu milikmu hyung?” Tanya Hyukjae.

Jungsoo menggeleng.

“Mungkin punya Donghae hyung?” Tanya Henry berharap jawabannya adalah iya, ia tidak mau memikirkan bahwa itu berasal dari kelompok yang menyerang Donghae. Karena jika begitu, masalah tidak akan menjadi sederhana.

“Bukan.” Jawab Donghae lirih.

Ia memegang kepalanya yang terbebat oleh perban.

Jungsoo duduk di sampingnya.

“Bukan milikmu?”

“Bukan. Sebaiknya hyung melihatnya karena kurasa itu milik mereka yang memukul kepalaku.”

Jungsoo menghela napas panjang ketika Henry membawakan laptop miliknya. Yang lain berkumpul di sekitarnya, penasaran akan isi flashdisk tersebut.

“Video?” gumam Hyukjae.

Di-klik-nya satu satunya file berbentuk video yang ada di flashdisk tersebut dan kemudian ia menahan napasnya.

Video itu memperlihatkan wajah Kyuhyun yang penuh memar dan berdarah. Kyuhyun mengerang lirih.

Jungsoo mengepalkan tangannya. Sepertinya Kyuhyun disergap ketika akan melarikan diri.

Seseorang muncul dan berdiri di sebelah Kyuhyun. Memakai kacamata hitam dan masker seolah tidak ingin diketahui bagaimana rupanya. Kemudian orang itu tertawa. Seolah menertawakan kebodohan Jungsoo dan kelompoknya.

Orang itu tidak mengatakan apa-apa, meninju perut Kyuhyun yang diiringi erangan kesakitannya, lalu ia menjambak rambut Kyuhyun dengan kasar, mengalungkan sebuah papan yang bertuliskan $100,000,000. Lalu melambaikan tangannya seolah mengisyaratkan perpisahan dan video itu gelap.

Jungsoo menghempaskan tubuhnya ke sofa tempatnya duduk sampai kemudian didengarnya Henry berteriak memanggilnya.

Rupanya video itu masih bersambung, memberikan alamat tempat pertemuan dan jamnya. Jungsoo menggeram kesal. Merasa mereka sangat tidak berdaya, bagaimanapun walau Kyuhyun baru bergabung dengan mereka tiga bulan terakhir, lelaki itu sudah menunjukkan kualitasnya. Dia adalah salah satu anggota kelompoknya yang mahir menembak. Jika ia, sekarang ini, kehilangannya, ia akan kehilangan asset berharganya.

“Sekarang bagaimana hyung? Uang dengan jumlah itu tidak bisa kita dapatkan dalam waktu dekat.”

Jungsoo memejamkan matanya ketika ia mendengar Henry bertanya kepadanya, dan ia mendengar yang lain berbisik-bisik mencoba memecahkan solusi yang kini mereka hadapi. Bagi mereka Kyuhyun sudah menjadi bagian dari mereka walau ia baru saja bergabung. Sempat beberapa kali Kyuhyun menolong mereka yang tentu saja mereka mengenal dengan baik bahwa pekerjaan mafia, apapun itu, tidaklah mudah.

“Hanya satu, “ Semua terdiam ketika mendengar Jungsoo berbicara.

Jungsoo membuka mata, ia dapat membayangkan rangkaian rencana dalam otaknya. Dan ia terpaksa harus melakukan hal ini walaupun ini bukanlah style nya, style mereka. Namun kini keadaan darurat dan bagaimanapun mereka harus melakukannya.

***

“Hyung, kami sudah melaksanakannya.” Lapor seseorang kepada orang lain yang paling tua, orang itu tentu saja menjadi ketua kelompok itu.

“Kerja bagus. Sebentar lagi ini akan selesai.”

Ketua itu tersenyum sinis, senang rencananya berjalan lancar tanpa menyadari seseorang di sampingnya menyembunyikan senyum yang sama.

Ya, sebentar lagi akan selesai.

***

Jungsoo memegang walkie-talkie nya dengan erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ia begitu tegang. Yang biasa mereka lakukan adalah rampokan halus, pencucian uang, namun itu membutuhkan waktu dan sekarang waktu yang mereka miliki tidak banyak. Mereka harus merampok, rampokan yang sebenarnya. Ia hanya tidak ingin ada rekannya yang terluka lagi.

Beberapa saat kemudian datang mobil jeep berwarna hitam, dari informasi yang dia dapat mobil itu baru saja memindahkan sejumlah uang yang diletakkan dalam beberapa karung berukuran sedang. Ya, ia bahkan bisa mencium bau uang itu dari tempatnya berada sekarang, walau ia yakin itu hanya halusinasi belaka.

“Sekarang.” Bisiknya pada walkie talkie memerintahkan rekan-rekannya bergerak.

Beberapa saat kemudian teman-temannya sudah mengepung mobil jeep itu, beruntung hanya ada dua orang di dalamnya, dan sebelum mereka sempat mengambil senjata mereka, Hyukjae dan Siwon, yang sudah memakai masker untuk menutupi wajahnya sama seperti yang lain, menghajar mereka hingga terkapar. Henry dan Donghae bergegas mengambil beberapa karung yang berisi uang, dan mereka berempat segera kembali ke mobil, bergegas meninggalkan tempat itu karena samar-samar sirene mobil polisi terdengar mendekati tempat itu.

Jungsoo tersenyum lega karena rencananya berjalan mulus, berlari ia menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir secara tersembunyi. Menginjak pedal gas mobilnya sebelum ada orang lain yang menyadari keterlibatannya, terutama dari polisi.

***

Siwon menghitung dan menumpuk sejumlah uang yang akan diserahkan sebagai tebusan terhadap Kyuhyun sementara yang lain menanti tegang. Kemudian ia menepuk bahu Jungsoo.

“Lebih dari cukup hyung, kita juga bisa membeli beberapa senjata.”

Jungsoo mengangguk, tanpa mengatakan sepatah kata pun ia meninggalkan ruangan. Menyendiri di dalam kamarnya adalah cara favoritnya untuk menenangkan diri. Ia perlu menyusun rencana-rencana akan kemungkinan yang akan terjadi besok lusa.

“Apa Jungsoo hyung tidak apa-apa?” Tanya Henry.

“Dia tidak akan apa-apa, bukankah hal biasa dia melakukan itu?” sahut Hyukjae.

“Lalu, bagaimana dengan Kyuhyun hyung, apa dia tidak akan apa-apa?” Tanya Henry.

Seketika semuanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing, enggan menjawab pertanyaan Henry.

“Kita semua pasti ingin dia baik-baik saja.” Sahut Siwon.

Semuanya mengangguk setuju.

***

Mereka menuruni tangga, menuju stasiun bawah tanah yang sudah tidak terpakai. Koper berisi uang berada di tangan Jungsoo. Matanya menatap tajam, nalurinya mengatakan ia harus bersiaga. Disentuhnya pinggang belakang sebelah kanan tempatnya menyimpan pistol.

Bagaimanapun jangan sampai ada pertumpahan darah

Kemudian ia melihatnya, gerombolan orang-orang yang pasti menunggu mereka.

Kelompok mereka saling berhadapan, menatap satu sama lain dengan tajam.

Lalu seorang dari mereka membawa, lebih tepatnya menyeret Kyuhyun menuju depan barisan.

“Letakkan koper berisi uangmu, anak buahku akan mengambilnya dan pada saat yang sama Kyuhyun akan kami lepaskan. Ah… senang bertemu denganmu lagi, Jungsoo.” Ujar lelaki yang mengikat rambut blondenya ala samurai, lelaki itu tersenyum sinis.

Jungsoo menggeram, Heechul.

Jungsoo meletakkan koper berisi uang itu di dekat kakinya, sedikit menendangnya ke depan.

“Lepaskan Kyuhyun.”

Kyuhyun melihat Jungsoo, tatapannya sayu dengan wajah yang penuh lebam.

“Changmin-ah, ambil koper itu.” Ujar Heechul tanpa melihat ke orang yang disuruhnya.

Changmin berjalan mendekati koper hitam itu, tatapannya tajam menatap satu per satu kelompok Jungsoo, tangannya siap bersiaga mengambil pistol jika keadaan berubah gawat.

Begitu Changmin sudah mendapatkan koper itu, Kyuhyun dilepaskan.

Berjalan lemah, Kyuhyun berusaha mengurai senyumnya untuk Jungsoo. Namun belum sampai setengah jalan Heechul menembaknya.

Jungsoo maupun yang lain tidak ada yang bersuara, hanya menatap nanar pada wajah Kyuhyun yang menunjukkan ekspresi terkejut lalu ekspresi itu melemah, diiringi tubuhnya yang limbung dengan warna merah menghiasi baju birunya.

Tepat ketika tubuh Kyuhyun ambruk ke tanah, Jungsoo tersadar, penuh emosi ia mengambil pistolnya secara kilat menembak membabi buta ke arah kelompok Heechul.

Ia tahu ia telah menembak jatuh beberapa anak buah Heechul namun ia juga tahu sebentar lagi ia sendiri akan ambruk terkena bombardir peluru dari mereka. Benar, pandangannya sudah berkunang-kunang, ia bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.

Ambruk. Dan pertumpahan darah tidak terelakkan lagi.

Masing-masing berusaha membunuh yang lain, masing-masing berusaha untuk tetap hidup, masing-masing berusaha untuk menyelamatkan harga diri kelompok.

DOR!!

Anggota kelompok Jungsoo yang terakhir, Siwon, terkapar setelah Heechul menembaknya. Heechul sendiri bukannya tidak apa-apa,kaki dan tangannya sama-sama tertembak. Berjalan terseok-seok ia mengambil koper hitam berisi uang. Tersenyum sinis terhadap pemandangan di hadapannya, seolah menunjukkan bahwa ia lah pemenangnya tanpa menyadari Jungsoo berusaha mengumpulkan tenaga terakhirnya.

Tepat ketika Heechul berbalik, akan meninggalkan tempat itu, Jungsoo bangkit, mengambil pistolnya dengan tangannya yang gemetar. Memegangnya dengan kedua tangan.

Ini kesempatan terakhirku.

DOR!

***

“Hyung? Hyung?”

Jungsoo tergagap bangun.

“Hyung kau tidak apa-apa?”

“Apa kita sudah mati?” Tanya Jungsoo yang disambut dengan kerutan dahi oleh member yang lain.

“Apa maksudmu hyung?” Tanya Henry.

Jungsoo memijit keningnya. Mimpi.

“Dimana kita?” Tanyanya kemudian.

“Kita sudah hampir sampai hyung.” Sahut Siwon.

Jungsoo merespon dengan anggukan.

“Persiapkan diri kalian. Segalanya bisa terjadi. Termasuk, kehilangan semuanya.” Ujar Jungsoo. Seperti dalam mimpiku. Imbuhnya dalam hati.

Semua mengangguk.

Jungsoo keluar dari mobil diikuti oleh yang lainnya, menenteng koper di tangan sebelah kirinya, bersiaga memegang pistol di tangan kanannya yang kosong untuk sekarang ini.

Menuruni tangga stasiun bawah tanah membuatnya tegang, seolah merasakan de javu dari mimpinya.

“Selamat datang Jungsoo..”

Bahkan penampilan mereka semua persis seperti dalam mimpinya. Jungsoo menyumpah pelan.

“Heechul.” Sahut Jungsoo. Keduanya saling menatap tajam.

“yah well, sudah lama bukan kita tidak bersinggungan seperti ini? Aku sebenarnya tidak ingin berjumpa denganmu Jungsoo, walaupun aku merindukanmu.” Heechul menampilkan smirk andalannya.

“Namun karena aku menangkap bajingan kecil ini di sekitar teritorialku saat itu, kurasa bertemu denganmu cukup menyenangkan juga.” Lanjut Heechul.

Diam.

“Serahkan Kyuhyun.” Ujar Jungsoo.

Heechul tertawa.

“Betapa dinginnya. Baiklah, anak buahku akan mengambil koper itu, taruh koper itu empat langkah dari tempatmu berada sekarang. Begitu anak buahku sudah memegangnya, Kyuhyun akan ku lepaskan.”

Jungsoo masih menatap Heechul tajam, ekspresinya keras, tak terbaca walau di dalam hatinya ia sangat cemas jika mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Bagaimanapun nyawa rekan-rekannya lebih penting.

Jungsoo melemparkan kopernya, mengira-ira dimana 4 langkah dari tempatnya berada.

“Changmin, ambil koper itu.” Ujar Heechul.

Changmin mengangguk, berjalan angkuh namun siaga mengambil koper hitam.

Begitu Changmin mendapatkan kopernya dan berbalik, anak buah heechul melepaskan Kyuhyun, mendorongnya ke kelompoknya.

“Hyung…” panggil Kyuhyun lemah.

Jungsoo menahan air matanya, begitu Kyuhyun dekat ia menariknya, memeluknya dengan erat.

“Kyuhyun-ah, maafkan aku.” Bisik Jungsoo.

Kyuhyun tidak menjawab.

Begitu Jungsoo melepaskan pelukannya Kyuhyun berjalan mundur, teoat di tengah dua kelompok itu.

“Kyuhyun-ah, apa yang..”

Perkataan Jungsoo terputus oleh tawa Heechul.

“Kau sungguh naïf Park Jungsoo.”

Jungsoo dan yang lain menatap bergantian antara Heechul dan Kyuhyun, benar benar tidak mengerti akan situasi.

“Dia, “ Heechul melempar pandang kearah Kyuhyun. “Adalah anak buahku, yang sengaja ku susupkan sebagai mata-mata di kelompokmu. Pernahkah kau bertanya-tanya kenapa beberapa kali pekerjaan kalian gagal? Bukan karena strategimu yang jelek Jungsoo, bukan ku akui strategi-strategi itu sungguh brilian, sayang ada kebocoran informasi. Jadi aku menyabotasenya. Dan kau masih datang untuknya, padahal semua ini sudah aku rencanakan. Ck ck “

Jungsoo mengepalkan tangannya ingin sekarang juga ia menembak mati Heechul, namun ia masih memikirkan nyawa yang lain.

Dilihatnya Kyuhyun yang menatapnya kosong, ekspresinya tidak terbaca.

“Sudah berakhir Jungsoo… kelompok kalian tidak ada apa-apanya. Lebih baik kau bergabung dengan kami, dan membubarkan curut-curut kecilmu yang tak berguna itu.”

“Kurang ajar kau” Jungsoo menahan Hyukjae yang maju seolah ingin menerjang Heechul.

“Jangan.” Ujarnya singkat lalu tertangkap olehnya Kyuhyun yang tersenyum.

“Sudah berakhir.” Ucapnya tanpa bersuara yang hanya bisa ditangkap oleh Jungsoo.

Jungsoo sedang bertanya-tanya apa maksudnya ketika terdengar teriakan dari belakangnya.

“Polisi, jangan bergerak!”

Kelompok Heechul bergerak mundur namun dari belakang mereka juga sudah ada polisi yang mengepung, berhamburan polisi-polisi itu mulai menangkap mereka semua, kecuali Kyuhyun.

Seorang polisi mendekati Kyuhyun, memberikan hormat kepadanya lalu menyerahkan sebuah lencana.

Jungsoo menatapnya nanar, begitu pula Heechul.

“Kau!” Heechul berteriak yang langsung digiring oleh polisi yang memegangnya.

“Ya, aku polisi, aku ditugaskan menyamar untuk meringkus kelompok kalian. Ya, aku menyamar di kelompok Heechul, berusaha keras menjadi tangan kanannya sebelum ia benar-benar mempercayaiku. Akulah yang memberikan ide untuk menyusup di kelompokmu. Aku juga yang merencanakan semua pertemuan dan penangkapan ini. Maafkan aku, hyung? Terima kasih atas segalanya. Oh ngomong-ngomong, kalung pemberianku itu yang selalu kau pakai, ada penyadap di dalamnya.” Kyuhyun memberikan hormat kepada Jungsoo yang berontak ingin menghajarnya namun kedua polisi memegangnya sangat erat.

Kyuhyun tersenyum, berbalik, memberikan hormat yang sama pada Heechul yang langsung meludah di hadapannya, dan berjalan meninggalkan mereka dalam cengkraman puluhan polisi.

***

Mungkin ada yang mikir kenapa judul sama cerita ga nyambung, yah gak mungkin judulnya “betray” atau “you trapped” pasti udah bisa nebak jalan ceritanya gimana(?).

5 thoughts on “[FF/Oneshot] One Chance

  1. Ya ampun aku pikir itu beneran kyuhyun ditembak. Smpet kecewa knpa heechul yg jahat😦
    Jdi inget film twillight yg ke-2 wktu mau nyerang pasukan arro wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s