[FF/kaistal] Delusion

 

Jongin – Soojung

 

NO BASH NO COPY WITHOUT PERMISSION :]

 

Description : “Kau mau masuk?” tanyanya pada lelaki, yang menurutnya, seumuran dengannya. Lelaki itu basah kuyup, berdiri di depan pintu masuk apartemennya, memandang langit dengan tatapan kosong. Bahkan ketika lelaki itu menoleh kepadanya, tatapannya masih kosong.

Jongin membuat hidup Soojung lebih berwarna. Namun suatu hari ketika Soojung bangun tidur,ia tidak mendapati Jongin di sisinya seperti biasanya.

“Jongin?”

 

***

Jika diibaratkan warna, hidup adalah hitam dan putih bagi Jung Soojung. Membosankan. Ia sendiri mengakuinya, namun tidak pernah ada hasrat dalam dirinya untuk mengubah aktivitas kehidupannya agar lebih berwarna.

Setiap hari ia menjalani aktivitas yang sama, bangun, bekerja, makan, pulang dan tidur, begitu seterusnya. Ia tidak mempunyai banyak teman, bahkan jika mereka memaksanya untuk keluar bersama mereka, ia selalu menolaknya. Apalagi berkencan, ia bahkan tidak mengenal kata itu.

Soojung menghela napas, hari ini hujan turun dengan deras. Untung baginya membawa payung.

Soojung berjalan memasuki apartemennya sebelum kemudian ekor matanya menangkap seseorang sedang duduk bersandar di dekat pintu masuk apartemennya dalam keadaan basah kuyup. Ia tidak merasa melihat lelaki itu sebelumnya. Atau mungkin dia yang tidak benar-benar melihat.

Soojung mengambil kunci pintu apartemennya, dan hampir melangkah masuk ketika dilihatnya lagi lelaki yang bahkan tidak sekalipun melihat ke arahnya.

“Kau mau masuk?” tanyanya pada lelaki, yang menurutnya, seumuran dengannya. Lelaki itu basah kuyup, berdiri di depan pintu masuk apartemennya, memandang langit dengan tatapan kosong. Bahkan ketika lelaki itu menoleh kepadanya, tatapannya masih kosong.

Mengira lelaki itu tidak mendengarnya ia mengulangi perkataannya.

“Kau mau masuk?”

Lalu tiba-tiba mata lelaki itu terlihat bersinar, ia menyunggingkan senyum.

Manis. Pikir Soojung, namun ia langsung mengusir pikirannya jauh-jauh.

“apa boleh?” Tanya lelaki itu, masih dengan senyum lebarnya. Entah kenapa Soojung sedikit terganggu melihat senyum lelaki itu, membuatnya merasa tidak nyaman.

Soojung memalingkan muka, berjalan memasuki apartemennya yang cukup untuk satu orang.

“masuklah.” Ujarnya singkat.

Lelaki itu mengikutinya masuk, menutup pintu apartemennya lalu menatap Soojung yang mondar-mandir menata barangnya.

Soojung menyadarinya, ia menatap lelaki itu. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru, apa dia benar-benar kedinginan?

“duduklah. aku akan mencarikan baju untukmu.” Ujar Soojung yang dijawab dengan anggukan lelaki itu.

“Namaku Kim Jongin, kau?” Tanyanya ketika Soojung hendak memasuki kamarnya.

Soojung berhenti sejenak, ia jarang memberikan identitas aslinya pada orang yang baru saja ditemuinya, namun entah kenapa ada dorongan dari dalam dirinya untuk berkata jujur pada lelaki ini.

“soojung. Jung soojung.” Ujarnya lalu memasuki kamarnya.

Jongin mengangguk dan tersenyum lebar. Lalu kepalanya menoleh ke arah lain, menelusuri seluruh isi apartemen kecil milik Soojung.

“Kosong.” Gumam Jongin.

Bisa dikatakan tidak banyak barang yang ada di apartemen itu, bahkan tidak ada televisi, pot bunga, dan jam dinding. Untuk ukuran seorang gadis muda tentu saja itu hal yang aneh.

“Aku hanya punya baju ini yang paling besar, aku tidak tahu apakah ini muat untukmu atau tidak.” Ujar Soojung yang tiba-tiba sudah berada di belakang Jongin dan mengulurkan sweater dan celana olahraga kebesaran miliknya.

“Ah kau tidak perlu repot-repot, aku tidak apa-apa.”

Soojung menaikkan salah satu alisnya.

Dengan wajah pucat dan bibir membiru dia masih bilang tidak apa-apa?

“Ambil lalu ganti bajumu, atau kau lebih suka menunggu hujan reda di luar apartemenku?”

Jongin menggaruk kepalanya yang basah lalu mengambil baju dari tangan Soojung.

Soojung menunjukkan letak kamar mandinya yang berada di dekat dapur.

“disana.” Ujar Soojung.

Jongin berjalan ke arah yang ditunjuk Soojung. Memasuki kamar mandi dan mengganti bajunya.

Itu adalah pertemuan pertama mereka. Soojung tidak menyangka jika itu akan menjadi awal baru bagi hidupnya.

Jongin, yang ia tahu adalah lelaki yang ceria, ia sering tersenyum, ia sering menggoda Soojung, ia sering membuat Soojung tertawa dengan lelucon dan ceritanya. Namun ia juga lelaki yang lebih menyukai tidur daripada apapun, bahkan ia lebih suka tidur daripada makan. jongin, yang sekarang tidur di sofa kecil miliknya, tidak mempunyai rumah, dan bahkan keluarga.

Soojung tidak yakin apa benar dia benar-benar tidak mempunyai rumah dan keluarga ataukah ia sedang bermasalah dengan keluarganya. Awalnya ia memang keberatan menampung Jongin, mengingat ia seorang gadis, bila hidup bersama seorang pemuda dalam satu atap, tahu sendiri bagaimana tanggapan orang. Namun setelah janji Jongin untuk membersihkan apartemennya setiap hari, akhirnya dia setuju. Bagaimanapun ia membutuhkan apartemen bersih setelah seharian bekerja dan ingin bersantai di rumah.

“Soojung-ah” panggil Jongin suatu hari ketika mereka sedang makan malam.

Soojung yang menekuni makanannya mendongak menatap Jongin.

“Apa kau tidak punya pacar?”

Soojung yang mendengar pertanyaan itu langsung tersedak dan langsung menyambar gelas minumnya.

“maaf aku tidak bermaksud membuatmu tersedak. Kau tidak apa-apa?” Tanya Jongin dengan muka cemas.

“Kenapa kau menanyakannya?” Tanya Soojung.

Jongin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Yah, sudah 10 hari aku disini aku tidak penah melihat satu temanmu atau bahkan melihatmu keluar di malam hari atau di hari libur.”

Soojung tidak menjawabnya dan melanjutkan makannya.

Jongin mengamatinya, lama setelah ia merasa gadis itu tidak merespon, ia bertanya lagi.

“Apa kau pernah jatuh cinta?”

Kali ini Soojung menghentikan makannya.

Ia meletakkan sumpitnya lalu berdiri.

“Soojung maaf, aku tidak bermaksud untuk..”

“Tidak. Aku tidak tahu apa itu cinta, dan aku tidak perlu pergi di malam hari untuk menghamburkan uangku.” Jawab Soojung dingin lalu berjalan ke dalam kamarnya.

“Apa kau pernah jatuh cinta?”

Pertanyaan itu terus terngiang di benak Soojung. Kenapa lelaki itu harus menanyakannya? Untuk apa?

Cinta? Huh, apa itu cinta. Bukankah itu hanya perasaan sampah yang hanya menyakiti diri sendiri? Banyak orang bunuh diri hanya karena putus cinta. Lebih baik tidak usah mengenal perasaan itu daripada hidupnya menjadi hancur karna sebuah kata.

Hari-hari selanjutnya Jongin tetap bersikap seperti biasa, seolah tidak terusik dengan sikap dingin Soojung sebelumnya. Jongin hanya tidak lagi mengungkit pertanyaan itu.

“Soojung-ah, aku bosan, ayo kita jalan-jalan” ajak Jongin ketika dilihatnya Soojung bermalas-malasan di tempat tidurnya.

“Kau saja pergi sendiri.” Jawab Soojung.

Ini hari liburnya, dan ia ingin bermalas-malasan untuk satu hari penuh.

“Jung Soojung ayolah, sekali ini saja kita jalan bersama, kalau nanti kau tidak suka aku tidak akan mengajakmu lagi.”

Soojung memutar bola matanya lalu menatap Jongin.

“Aku sudah tahu kalau aku tidak akan suka jadi lebih baik tidak usah.”

“Soojung-ah…”

Soojung menghela napas panjang.

“Ya, ya baiklah hanya kali ini.” Jawab Soojung lalu ia memutar bola matanya lagi ketika melihat Jongin tersenyum lebar karena ia menerima ajakannya.

“ganti bajumu aku akan menunggu di luar.” Ujar Jongin.

“tentu saja kau menunggu di luar memangnya aku menyuruhmu tinggal untuk melihatku ganti baju?”

“Oh sebenarnya aku lebih suka begitu” jawab Jongin lalu tersenyum jahil dan segera menutup pintu kamar Soojung ketika dilihatnya gadis itu bersiap melempar bantal ke arahnya.

Soojung hanya mengenakan kaos berlengan panjang dan celana jins. Simple, itu gayanya.

“Bagaimanapun kau tetap terlihat cantik.” Puji Jongin.

Entah kenapa itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat, namun Soojung berusaha untuk mengontrolnya.

“Terima kasih aku tahu aku cantik.”

Giliran Jongin yang memutar bola matanya.

“Aku penasaran apakah kau akan lebih cantik jika tidak mengenakan apapun.”

Soojung melotot ke arah Jongin yang dibalas dengan cengiran lebar lelaki dengan kulit kecoklatan itu.

“Hanya bercanda. Kau ingin kemana?”

Soojung mengendikkan bahunya.

“Kau yang bosan dan ingin jalan-jalan, terserah kau.”

“Kalau begitu kita ke taman hiburan.” Jawab Jongin masih dengan cengiran khasnya lalu menggamit tangan Soojung untuk berjalan lebih cepat.

Soojung ingin protes, namun melihat wajah gembira Jongin akhirnya ia membiarkannya, menggelengkan kepalanya heran terhadap dirinya sendiri yang terkadang lemah terhadap Jongin.

Soojung mengedipkan matanya berulang kali. Takjub. Seumur hidupnya ia tidak pernah ke taman hiburan, bahkan semasa ia kecil.

“Soojung-ah, kita naik wahana itu dulu, oke?”

Jongin tidak perlu menunggu jawaban Soojung langsung menyeret gadis itu ke wahana yang ingin dinaikinya.

***

Sudah lima wahana yang mereka naiki bahkan senyum tidak pernah lepas dari bibir Jongin, dan itu menular ke diri Soojung. Entah kenapa ia juga merasa senang. Ia tidak tahu kenapa.

“Soojung-ah, kau ingin es krim?” Tanya Jongin.

Soojung menggelengkan kepalanya.

“Tidak? Aneh sekali, bukankah gadis gadis muda sepertimu menyukai es krim?”

Soojung menaikkan salah satu alisnya.

“Berapa gadis yang sudah kau ajak kencan kesini?” Pertanyaan ini meluncur dari bibir Soojung tanpa bisa ditahannya.

Jongin menatapnya.

“Kau penasaran?”

Soojung mendengus, mengalihkan tatapannya.

“Lupakan.”

Jongin tertawa.

“Hanya satu, kau.”

Sekali lagi debar jantung Soojung berdetak lebih cepat, dan ia merasa pipinya menghangat.

“Aku akan membeli es krim.” Ujar Soojung lalu berjalan cepat meninggalkan Jongin.

Jongin tersenyum.

“Seandainya kita bertemu lebih cepat.” Gumamnya pelan.

***

“Soojung-ah, kau sudah tidur?” Tanya Jongin lalu mengetuk pintu kamarnya.

Soojung yang masih memikirkan tentang debaran jantungnya menjawab pelan.

“Belum.”

Jongin membuka pintu kamarnya.

“Ada apa?” Tanya Soojung ketika sekian menit Jongin tidak berkata apa-apa.

Jongin menggaruk kepalanya.

“Bolehkah….. bolehkah aku tidur bersamamu?”

Mata Soojung melebar mendengar pertanyaan Jongin.

“Yah! Kau itu..”

“Bu-bukan.. aku janji aku tidak akan macam-macam, hanya saja beberapa hari ini cuaca sangat dingin di luar. Ayolah Soojung-ah..”

Soojung menatap Jongin yang balas menatapnya dengan pandangan memelas.

“Ya sudah kalau begitu biar aku yang tidur di luar.” Ujar Soojung lalu menyeret bantal dan selimutnya.

Jongin menahan lengan Soojung.

“Ya Soojung, kau ini perempuan bagaimana mungkin aku membiarkanmu tidur di luar. Ya sudah aku saja yang tidur di luar. Aku akan coba bertarung dengan hawa dingin malam ini.”

Soojung mendengus menahan tawanya mendengar ucapan Jongin.

Beberapa menit yang lalu ia meminta dengan pandangan memelas, dan baru saja ia ,menjadi sok kuat.

“Baiklah, kau boleh tidur denganku, awas saja kalau kau macam-macam. Aku bisa menuntutmu.”

Cengiran lebar menghiasi wajah Jongin.

“Terima kasih Tuan Puteri.” Ujar Jongin lalu membungkuk seolah-olah sedang menghadap putri kerajaan.

Soojung hanya tersenyum geli melihat tingkahnya dan kembali membaringkan tubuhnya.

“Awas jangan macam-macam.” Ujarnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap tembok.

Ia tidak mendengar jawaban Jongin ia hanya merasa ada beban yang naik ke atas kasurnya, dan ia tahu Jongin sudah berbaring di sebelahnya.

Sekal lagi debaran jantung Soojung berdetak kencang. Ia bahkan takut  jika Jongin dapat mendengarnya.

Jongin melihat gadis di sebelahnya diam tidak bergerak, ia tahu gadis itu belum tidur. Ia ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya agar tidak kedinginan, lalu mengelus rambutnya, membuat gadis itu lebih cepat tidur dengan nyenyak. Namun ia tahu ia hanyalah orang asing yang menumpang di apartemen seorang Jung Soojung. Seseorang yang bahkan sudah berbaik hati dan mempercayainya dengan membolehkannya tidur seranjang.

Jongin membenarkan letak selimut Soojung.

“selamat malam Soojung.” Bisiknya.

Soojung yang mendengarnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Mencoba mengontrol debaran jantungnya.

Selamat malam Jongin.

***

Soojung merasa dirinya sedikit hangat, bergerak menurut instingnya , ia mendekat ke tempat yang membuatnya merasa hangat.

Namun kemudian otaknya mengambil alih kesadarannya, perlahan Soojung membuka matanya.

Matanya melebar ketika jarak dirinya dan Jongin begitu dekat, kedua tangannya berada pada dada Jongin sedang tangan Jongin merangkul pinggulnya seolah menariknya mendekat.

“Yah! Sudah aku bilang jangan macam-macam!” teriak Soojung yang langsung menghujani Jongin dengan pukulan tangan kosongnya.

Jongin terbangun dengan kaget dan berteriak kesakitan, lalu mencoba untuk menahan tangannya.

“Ya! Aku kan tidak melakukan apa-apa.”

“tapi kenapa aku.. kau… kau tadi meme-“ soojung tidak melanjutkan kalimatnya,lagi-lagi pipinya menghangat.

Jongin yang mengacak rambutnya dan menguap tidak melihatnya,

“Apa? Memelukmu? Kau sendiri yang mendekat padaku. Tentu saja aku tidak menolak.” Ujarnya yang membuat pipi Soojung semakin merona.

“Oh? Apa kau malu? Pipimu merah Soojung-ah..”

Jongin tersenyum lebar yang disambut dengan bantal melayang yang tepat mengenai wajahnya.

“Keluar.”

Kali ini guling terbang mengenai kepalanya.

“Yah! Aku minta maaf walau ini bukan salahku!”

Sekali lagi bantal terbang ke arahnya yang membuatnya langsung berlari keluar kamar Soojung.

Soojung langsung mengunci pintu kamarnya begitu Jongin keluar. Duduk bersandar pada pintu dengan memegangi kedua pipinya yang masih menghangat disertai degup jantungnya yang cepat, mengacuhkan ketukan pintu yang terus menerus dan ocehan permintaan maaf dari Jongin.

“Kenapa sih aku?” tanyanya heran pada dirinya sendiri.

***

Soojung terus mengabaikan Jongin pada hari itu dan seterusnya. Ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri hingga ia menemukan arti debaran jantung dan hal semacamnya itu ia tidak akan berbicara pada Jongin.

Pagi-pagi sekali ia langsung berangkat kerja dan malamnya ia langsung mengunci diri di kamar. Tidak memberi kesempatan pada lelaki itu untuk mengobrol dengannya.

Malam itu seperti biasa, Soojung langsung mengunci diri di kamar, Jongin hanya menatap gadis itu masuk ke kamarnya, dan menghela napas.

Soojung terbangun dari tidurnya karena haus. Sejenak ia bimbang memutuskan akan keluar kamar dan mengambil minum, dengan resiko berhadapan dengan Jongin ataukah melanjutkan tidurnya. Akhirnya rasa hausnya mengalahkan egonya.

Perlahan berusaha tidak menimbulkan suara ia membuka pintu kamarnya. Sepi. Sepertinya Jongin sudah tertidur.

Soojung berjalan pelan ke dapur ketika diliriknya Jongin yang tidur di sofa berwajah pucat. Langkahnya terhenti.

Apa dia sakit? Ah tapi apa peduliku.

Soojung hendak kembali melanjutkan langkahnya ketika terdengar erangan pelan. Soojung pun berjalan mendekati Jongin.

Perlahan ia mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi lelaki itu.

“Astaga, badanmu panas sekali.” Gumamnya cemas.

Ia mengguncangkan badan Jongin pelan.

“Jongin… bangun…”

Jongin kembali mengerang sebelum perlahan membuka matanya.

“Soo..jung?”

Soojung mendesah.

“Kau ini bagaimana, merawat tubuhmu sendiri saja masa tidak bisa. Ayo pindah ke kamar ku, tubuhmu panas sekali, aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di luar sekarang.”

Soojung meraih tangan Jongin, meletakkannya di sekeliling bahunya, bisa dikatakan Jongin yang merangkulnya.

“Tidak usah, aku tidak apa-apa.” Tolak Jongin. Ia hanya tidak ingin membuat gadis ini marah padanya.

“turuti apa kataku kalau kau tidak mau aku usir.” Jongin pun terdiam mendengar kalimat itu. Pasrah dan berusaha tidak terlalu membebankan berat tubuhnya ke Soojung, ia bersama gadis itu berjalan ke kamar Soojung.

Jongin terus menatap Soojung yang sibuk mengompresnya untuk menurunkan demamnya.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Soojung, menangkap basah Jongin yang sedang menatapnya. Jongin menoleh ke arah lain.

“Lebih baik.” Jawab Jongin.

“Baguslah, tidurlah disini aku akan tidur di luar.” Namun sebelum Soojung sempat berdiri Jongin memegang pergelangan tangannya, menahan gadis itu untuk beringsut.

“Tidurlah disini, bersamaku.”

“A-apa yang..”

“Maksudku, temani aku, bukan, tidur di sebelahku, aish maksudku aku tidak ingin kau tidur di luar.”

Soojung hanya diam mendengar permintaan Jongin. Lalu ia menghela napas panjang.

“Baiklah.” Jawabnya singkat yang langsung membuat sudut-sudut bibir Jongin berkedut membentuk senyuman.

“Terima kasih..”  ucap Jongin pelan.

“Kau mengatakan sesuatu?” Tanya Soojung yang membaringkan tubuhnya di sebelah Jongin.

“Tidak.. bukan apa-apa. Selamat malam Soojung.”

Soojung mengernyit heran, lalu mengabaikannya.

“Selamat malam.”

***

Soojung membuka mata, lagi-lagi ia terkejut menemukan dirinya dalam pelukan Jongin. Ingin ditendangnya lelaki itu jika tidak diingatnya bahwa Jongin sedang sakit.

Lagipula dalam hatinya entah kenapa ia merasa….. nyaman.

Jongin menggeliat, dan entah kenapa Soojung menutup kembali matanya, berpura-pura tidur.

lalu dirasakannya Jongin menarik tangannya yang memeluk tubuhnya.

“Kalau Soojung terbangun dia pasti mengamuk seperti dulu.” Gumam Jongin.

Soojung berusaha mengatur pernapasannya, memperlihatkan bahwa dia benar-benar tidur. Dan ia merasa Jongin sedang memperhatikannya, wajah tidurnya.

Dan tubuhnya sedikit menegang ketika udara hangat menerpa wajahnya.

Jongin mencium dahinya.

Dirasakannya berat tubuh lelaki itu menghilang dari tempat tidurnya, dan Jongin keluar kamar. Soojung membuka mata, memegang dahinya, tempat dimana Jongin baru saja mengecupnya.

Ia memegang dadanya yang terus menerus berdegup kencang.

Mungkinkah ini…. Cinta?

***

Soojung memutuskan untuk keluar kamarnya 10 menit kemudian, menemukan Jongin yang menggunakan dapurnya.

“Kau sudah sembuh?” Tanya Soojung ketika Jongin menyadari keberadaannya.

Jongin tersenyum. Soojung kembali merasakan debaran jantung yang bertambah cepat, namun ia berusaha mengabaikannya.

“Berkat dirimu.” Sahut Jongin kemudian.

“Kau sedang apa?” Tanya Soojung sambil melirik ke arah kompor.

Ramyun. Dan seketika perutnya mengeluarkan suara. Soojung berdehem disambut dengan tawa kecil Jongin yang membuat Soojung meninju lengannya pelan.

“ouch.. yah aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, tapi karena aku tidak bisa memasak jadi…” Jongin menggaruk belakang kepalanya.

Soojung tidak menjawab hanya berjalan menuju meja makan sederhana miliknya dan duduk.

“cepatlah, aku sudah lapar.” Ujarnya.

Jongin mengeluarkan cengiran khasnya.

“Yes, ma’am.”

***

Soojung sedang memasuki pintu apartemennya ketika dilihatnya Jongin, dengan wajah pucat dan berkeringat, duduk di lantai bersandar pada dinding dan memegangi dadanya.

Bergegas ia menghampiri pemuda itu.

“Jongin? Jongin ada apa? Kau masih belum sembuh? Bagaimana kalau kita ke dokter?” Tanya Soojung. Soojung terkejut mendapati nada suaranya yang terlihat sangat cemas. Namun itu bukanlah prioritasnya saat ini.

Jongin hanya menggeleng.

“Tapi kau sampai begini, pasti penyakitmu parah. Mungkin aku harus menelepon ambulans untuk membawamu ke rumah sakit.”

Soojung mengaduk-aduk tasnya mencari ponselnya ketika tangan Jongin menahannya.

“tidak Soojung, aku… tidak apa-apa.. aku sudah.. terbiasa.. aku akan baik-baik saja.. aku hanya butuh tidur mungkin..lalu aku akan sehat kembali..”

Soojung menatap Jongin lekat. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun ia meraih lengan Jongin, melingkarkannya ke sekeliling bahunya, membantunya berdiri lalu memapahnya menuju kamarnya.

“Maaf.” gumam Soojung pelan ketika Jongin sudah berbaring di tempat tidurnya.

Soojung kembali mengompres dahi Jongin.

Jongin tersenyum.

“Bukan salahmu Soojung.. Tubuhku memang sudah lemah dari kecil.” Jongin tertawa kecil.

Soojung tersenyum.

“Kalau kau butuh sesuatu panggil saja aku.” Soojung bangkit dan hampir berjalan pergi ketika tangan Jongin lagi-lagi menahannya.

“Kau mau kemana? Tidur di luar? Tidak. Aku tidak ingin kau sakit . cukup aku saja yang sakit.”

Soojung menatap Jongin dengan kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.

Tentu saja ia ingin tinggal. Tentu saja ia ingin tidur bersama Jongin. Tidur di sebelahnya. Memeluknya. Namun ia takut. Dalam hati kecilnya ia bertanya-tanya kapan Jongin akan meninggalkannya. Tidak mungkin Jongin akan terus tinggal bersamanya. Ada saatnya ia harus menikah, berkeluarga,tidak mungkin ia menikah dengan Jongin…

Soojung menggelengkan kepalanya. Dan Jongin menganggapnya sebagai penolakan.

“Soojung, jangan keras kepala.”

Soojung menggigit bibir bawahnya.

“Baiklah.” Gumamnya.

Jongin tersenyum, lalu menepuk ranjang di sebelahnya.

“Ya! Ini tempat tidurku, kenapa kesannya jadi ini milikmu !” omel Soojung yang disambut tawa kecil Jongin.

“Maaf, maaf.”

Soojung berbaring di sebelah Jongin, seperti biasa ia menghadap ke tembok, membelakangi Jongin.

Lama mereka saling tidak berbicara. Soojung mengira Jongin sudah terlelap, apalagi karena kondisinya sedang tidak baik. Ia merasa sedikit lega , namun ketika ia merasakan gerakan di belakang tubuhnya, ia menjadi tegang.

“Soojung-ah..” bisik Jongin.

Soojung dilemma untuk menjawabnya atau berpura-pura tidur. Namun ia teringat Jongin sedang sakit jadi ia mungkin membutuhkan sesuatu.

“hm?” gumam Soojung. Ia merasa itu sudah cukup menunjukkan bahwa ia masih terjaga.

Ia mulai merasakan napas hangat di tengkuknya, dan ia merasa benar-benar tidak nyaman untuk situasi saat ini.

“Boleh aku…” Jongin berhenti.

Soojung menunggunya untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Boleh aku memelukmu?” Tanya Jongin.

Soojung menahan napasnya.

Hal yang biasa terjadi adalah ketika mereka berdua berpelukan tanpa menyadarinya, bukan Jongin yang meminta ijin untuk memeluknya.

Jantung Soojung berdebar sangat keras hingga ia takut Jongin dapat mendengarnya lalu mengolok-oloknya.

“Hanya sekali ini.. aku janji.” Imbuh Jongin.

Soojung tidak menjawab, hatinya gelisah. Tubuhnya ingin bereaksi sendiri, membalikkan tubuhnya menghadap Jongin lalu memeluknya erat, sementara otaknya menolaknya dengan berbagai macam alasan rasional.

“Soojung?” panggil Jongin ketika lama ditunggunya gadis itu tidak bersuara.

Soojung berdehem pelan.

“Oke…kau boleh….memelukku.. tapi hanya kali ini saja..” ujar Soojung pelan.

Entah kenapa Soojung merasakan Jongin tersenyum di belakangnya.

Lalu tangan Jongin melingkar di pinggangnya , sedikit menariknya lebih dekat. Soojung menggigit bibirnya ketika panas tubuh Jongin terasa olehnya.

Seketika dipersetankannya logika lalu berbalik, memeluk Jongin dan menyembunyikan wajahnya di dada Jongin.

Ia tau Jongin terkejut dengan sikapnya , namun pemuda itu tidak mengatakan apapun, ia hanya mengeratkan pelukannya, mengelus rambut Soojung, lalu mencium puncak kepala gadis itu yang langsung membuat pipinya merah padam dan akan terlihat oleh Jongin jika ia tidak menyembunyikan wajahnya.

Lalu Soojung merasakan detak jantung Jongin. Detak jantung yang sama keras dan cepatnya dengan miliknya. Soojung pun tersenyum, mendapati bukan hanya dirinya yang merasa seperti itu.

“cepat sembuh.” Bisiknya. Lalu ia memejamkan matanya.

***

Soojung merasa sedikit kedinginan membuatnya sedikit bergelung ketika otaknya mulai merespon ada hal yang aneh. pelan ia membuka matanya dan mendapati dirinya sendirian di tempat tidurnya. Tidak ada Jongin.

Soojung bangkit, keluar dari kamarnya.

“Jongin?” panggilnya. Namun tidak ada sahutan.

Ia mencari di seluruh apartemennya , namun hasilnya nihil.

Pikirannya menyuruhnya untuk tenang. Mungkin ia hanya keluar untuk membeli obat atau apa.

Soojung masuk kembali ke kamarnya untuk melihat jam, ketika dilihatnya ia harus bergegas untuk pergi bekerja.

Ditinggalkannya kunci apartemennya di tempat biasa, kalau-kalau Jongin kembali.

Soojung pulang dari tempat kerjanya dan mulai gelisah ketika masih didapatinya kunci apartemennya.

Ia membuka apartemennya dan kembali memanggil nama Jongin, walau ia tahu itu akan sia-sia.

Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat namun ia tidak menyangka akan terjadi secepat ini.

“Jongin…” panggilnya lirih.

Soojung masih termenung di sofa apartemennya ketika sebuah pikiran menghantamnya.

Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Jongin membeli obat lalu terjadi kecelakaan. Jongin tidak mempunyai kartu identitas dan ponsel, mereka tidak tahu harus menghubungi kemana jika Jongin dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku harus menelepon polisi.

Berbekal dengan sedikit harapan Soojung menelepon polisi, bertanya-tanya jika ada kecelakaan hari ini, ketika polisi menjawab tidak ada Soojung memutuskan untuk mengubahnya menjadi info orang hilang. Membeberkan ciri-ciri Jongin, ia berharap , jikalau Jongin memutuskan untuk kembali ke keluarganya seseorang mungkin melihat Jongin dan mungkin akan memberikan kabar kepadanya.

Soojung menggantungkan harapan pada kemungkinan kecil itu.

***

Seminggu sudah berlalu sejak kepergian Jongin yang tanpa kabar, Soojung sudah menyerah, berusaha mengabaikan ingatan bahwa pemuda itu pernah dekat dengannya, pernah tinggal bersamanya, atau lebih mudahnya, pernah mengenalnya.

Tetap saja itu sulit baginya, ada saat ia seolah melihat Jongin masih tinggal bersamanya, di dalam apartemennya, makan bersamanya, bahkan terkadang ia masih merasakan Jongin berada di belakangnya, memeluknya sewaktu ia tidur.

Tentu saja ia menangis, menangis dalam diam, bingung dengan dirinya sendiri, tidak mengerti apa sebenarnya yang ia tangisi.

Jongin bukan miliknya.

Sejak awal mereka adalah orang asing yang mempunyai hubungan mutualisme, yah sebetulnya parasitisme mengingat Jongin yang menumpang di apartemennya.

Dan kini, mereka kembali menjadi orang asing.

***

23 thoughts on “[FF/kaistal] Delusion

  1. SEQUEEEEEL!!!*demo di depan rumah author😀 *

    Kai kemana? Jongin kemana? Kai Kim Jongin KEMANA!? Oke ini komentar terabsurd yang pernah ada di jagat raya.

    Bahasanya itu membuatku terbawa suasana fanficnya yang ngenaaa banget di hati*ceileh

    Alurnya itu keren banget, membuatku tersenyum jika membayangkan kejadian itu terjadi

    Yang pasti aku suka banget sama fanfic ini! Good job, author-nim ^^

  2. Thor ini ada sequel nya kan😦 keren lo tapi sayang kalo dihentiin😦
    sequel ya thor, sayang deh ama authornya😀

  3. jongin siapa dan kenapa sebenernya? jongin hilang kemana? aigooo.. it must sequeeellllll~~~ author omg hello bgttt~ ini gantung; )

  4. JONGIN! JONGIN! JONGIN! WHERE ARE YOU?! Cepat balek bro, soojung need you much T^T

    AUTHOR-NIM! Puelissss ini WAJIB SEKUEL.

  5. Sebenernya ini keren, keren banget malah. Tapi, endingnya kaya nggantung banget gitu. Minta sequelnya dong thor…

  6. Iya ini butuh sequel cantik.. Endingnya gantung banget. Reader bertanya2 kmn sijongin ap dia plng krmhnya ato dia pergi pas mati ditengah jln jd ga balik2 ke apartemen krystal. Diibaratkan kai tu ky jailangkung dtng ga diundang pergi ga pamit(hahahaha). Duh ngebayangin kaistal dlm 1 apartemen mana tidurnya seranjang lg,ahayde sweet bingits.. Mana si kai misterius bnget lg dsini karakternya ketemu ma cwe jutek yg gila kerja n polosnya ga ketulungan. Oh iya klo km sk nulis ff ttg kaistal bs kunjungi (ffindo kaistal wordpress com)dsn ad lowongan jd author lo n dsna kumpulan ffnya seru2. Mksh

  7. Banyak alesan yg hrs dikasih knapa ff ini hrs ada sequel nya…
    pertama itu keberadaan Jongin yg tiba2 dan blg kalo dia ngga punya keluarga lagi . Kedua karena Jongin sakit2an disini. Ketiga karna kepergian Jongin yg tiba2 blush aja ngga ada -_____-
    ini aslian butuh sequel peliiiiiis ._.

    Keep writing❤

  8. Aah itu kai kemana coba ? Ninggalin krystal😦
    Daebak thor
    Tapi agak bingung alur nya pertemuan mereka hanya karena hujan yah
    Ending nya gantung
    Feel nya kayak gado-gado hehe good job thor

  9. Ah aku suka bangetttttt sumpah. Soojung ama jongin mirip karakter asli mereka (kaya tau aja) jadi gampang bayangiinnya terus gak lebay. Plotnya bagus gausah banyak penjelasan dan percakapan tapi nyampe bgt. Aku kl jadi soojung jg nangis inimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s