[FF/Kaistal] Last Farewell (Sekuel Delusion)

Jongin – Soojung

NO BASH NO COPY WITHOUT PERMISSION :]

kaistal6

Setengah dari dirinya menyangkal kepergian Jongin, dan setengah dari dirinya juga memaki-maki pemuda itu. Ia takut jatuh cinta, dan sebelumnya ia juga tidak peduli akan cinta. Namun kehadiran pemuda itu sudah menyebabkannya jatuh, dan kini ia mungkin tidak akan pernah sama lagi.

***

Soojung menaiki wahana yang kelima kalinya, namun tidak ada senyum di wajahnya. Ia sendiri heran, sebelumnya ia tertawa riang ketika menaiki wahana-wahana itu, namun sekarang dirasanya ini tidak menyenangkan. Dan kemudian ia teringat Jongin, mungkin pemuda itu yang menjadikannya menyenangkan. Seketika ia merasakan sengatan di dadanya, dipegangnya dada kirinya, ia sudah memeriksakan dirinya ke dokter jantung dan jantungnya sehat tidak ada masalah. Ia pun tahu penyebabnya, rasa sakit yang abstrak yang membuatnya nyeri hingga ia pernah tak tahan untuk menangis meraung-raung di apartemennya.

Soojung duduk di bangku yang dulu ia duduki bersama Jongin, rasa sakit itu kembali menyerang. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan nyeri yang dirasakannya semakin hebat ketika memorinya bersama Jongin meluncur dengan derasnya.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara seorang pemuda, Soojung mendongak, mendapati seorang pemuda tinggi, berdagu lancip, berkulit agak pucat memandangnya.

Soojung hanya mengangguk sebagai jawaban, ia lalu berdiri, bergegas meninggalkan tempat itu.

“Jung Soojung.”

Soojung berhenti, terhenyak mendengar namanya disebut, ia berbalik, mendapati pemuda itu menatapnya.

“Kau… Jung Soojung kan?”

Soojung mengernyitkan dahinya, ia tidak pernah ingat ia mengenal pemuda ini atau bahkan bertemu dengannya.

“Kau siapa?” tanya Soojung kemudian.

Pemuda itu tersenyum.

Entah kenapa Soojung kembali teringat senyum Jongin walau senyum mereka sama sekali berbeda.

“Aku Oh Sehun, Aku tahu kau tidak mengenalku, tapi teman baikku sangat mengenalmu, ah tidak, ia menyukaimu.”

Soojung kembali mengerutkan dahinya.

“Teman baikmu?”

“Ya, Kurasa kau mengenal Kim Jongin bukan?”

Kalimat itu terasa hantaman besar bagi Soojung, mendengar nama orang yang dicintainya, yang menghilang, yang kemudian datang orang asing menyebut nama yang menyebabkan luka pada kehidupannya.

Soojung berbalik.

“Aku tidak mengenal nama itu.”

Ia berjalan, kembali menahan nyeri di dadanya.

“Soojung!”

Pemuda itu menahan tangannya.

“Apa kau tidak mau bertemu dengannya? Ia sangat ingin bertemu denganmu.”

Soojung menyentakkan tangan Sehun kasar.

“Aku tidak peduli” ucapnya dingin

Sehun berlutut di hadapan Soojung, menyebabkan gadis itu kaget dan berjalan mundur beberapa langkah. Beberapa pasang mata menyaksikan mereka, dan soojung benci itu, ia benci jadi pusat perhatian, baginya itu memalukan.

“Berdirilah” gumamnya.

Sehun menggeleng.

“Tidak sampai kau mau bertemu Jongin. Kumohon Soojung, ikutlah denganku, bertemulah dengannya..”

Soojung menarik napasnya dalam-dalam.

“Jika ia memang sangat ingin bertemu denganku kenapa aku yang harus menemuinya? Dia tahu dimana aku tinggal. Berdirilah.”

Sehun terdiam, sekilas raut wajahnya menggelap.

“Jongin… tidak dalam kondisi yang bagus untuk menemuimu, ia tidak bisa… “ Sehun mendongak menatap wajah Soojung lagi. “Ayolah, hanya kali ini saja, jika kau tidak suka kau tidak perlu melakukannya lagi.”

Soojung terhenyak, kalimat itu kalimat yang pernah diucapkan Jongin kepadanya ketika mengajaknya ke taman hiburan ini.

Ia sebetulnya juga ingin bertemu Jongin, ingin menanyakan kepadanya banyak hal, juga… ingin memastikan perasaannya sendiri.

Soojung kembali menarik napas panjang.

“Baiklah aku akan ikut denganmu.”

***

Soojung was-was ketika mobil yang mereka tumpangi  memasuki kawasan sepi, takut pemuda yang sedang menyetir di sampingnya berbuat macam-macam ia memegang cutter dalam tasnya erat-erat.

“Ke-kenapa kita kesini? Bu-bukankah kita akan bertemu Jongin?” tanya Soojung takut-takut.

Sehun tidak menjawab, ia hanya tersenyum suram. Entah kenapa itu membuat Soojung melonggarkan pegangannya pada cutternya.

Keheranan Soojung semakin bertambah ketika ia melihat kuburan di kanan kiri jalan.

Tepat ketika mobil berhenti ia menyatakan keheranannya.

“Hey kenapa kita..”

“Turunlah.” Potong Sehun.

Soojung menurutinya, turun dari mobil dan mengeratkan pegangannya pada cutternya.

Sehun tidak menunjukkan sikap yang aneh ia berjalan mendahului Soojung tanpa sekalipun berbalik menatap Soojung, lalu ia berhenti di depan sebuah pusara. Soojung tidak dapat dapat mengatakan pusara siapa karena Sehun menutupinya.

“Hey sobat, aku membawanya kesini, kau bilang kau sangat ingin bertemu dengannya bukan?”

Nyeri di dada Soojung kembali datang walau kini nyerinya terasa berbeda dengan sebelumnya ketika Sehun menggeser tubuhnya dan Soojung berhasil membaca nama di pusara tersebut.

Kim Jongin

1994 – 2014

Seketika lututnya terasa lemas, ia terduduk di depan pusara Jongin, matanya masih menunjukkan ketidak percayaan.

“a…..apa maksudnya ini…” tanyanya pelan.

Sehun tidak menjawab ia menyerahkan secarik kertas kepada Soojung.

“Lebih baik kau baca dulu.” Ujar Sehun pelan.

Tangan gemetar Soojung perlahan-lahan membuka lipatan kertas itu. Dan ia tahu, itu adalah surat dari Jongin.

Dear Soojung..

Hey aku tahu kau pasti marah besar aku minggat tanpa pamit setelah kau yang luar biasa baiknya mau menampungku.

Maafkan aku?

Yah, aku serius tentang permohonan maaf karena begitu banyak hal membuatku harus melakukannya.

Maafkan aku yang telah merepotkanmu selama ini

Maafkan aku yang sudah menyusahkanmu

Maafkan atas sikap egoisku dan kekurangajaranku

Maaf sudah membohongimu

Maafkan aku telah memasuki kehidupanmu

Maafkan aku yang menyukaimu

Dan… maafkan aku yang membuatmu menyukaiku kemudian melukaimu…

Aku akan menceritakan satu hal padamu, Sehun akan membawa rekamannya, mintalah padanya.

Soojung menggigit bibirnya, menahan air matanya, ia menatap Sehun.

Sehun mengangguk lalu mengeluarkan recorder kecil, ditekannya sebuah tombol dan Soojung mendengar suara orang yang dikasihinya.

Hai Soojung

Ketika kau mendengar ini, ini artinya aku tidak bisa mengatakannya langsung, tolong jangan menangis, aku tidak ada di sana untuk menghapus air matamu, dan akan menyakitkan bagiku melihatmu menangis tanpa bisa melakukan apa-apa.

Soojung tidak lagi menahan air matanya yang mengalir deras.

Awal pertemuan kita, waktu itu aku sungguh depresi, aku memang gagal jantung sejak kecil, dan kondisiku saat itu sudah sangat parah. Keluargaku ingin melakukan operasi, tapi aku tahu persentasenya sangat  kecil. Aku merasa tidak ada harapan hidup jadi aku kabur. Aku berjalan tanpa tujuan, dan sewaktu hujan aku hanya mampir untuk berteduh. Sungguh aku terkejut ketika kau menawarkanku masuk ke apartemenmu. Aku seperti melihat malaikat, sungguh bagiku kau seperti malaikat , yah walau kau sangat dingin waktu pertama kali kita bertemu.

Aku juga terkejut ketika kau mau menampungku, kau bahkan percaya cerita bualanku.

Suara tawa yang renyah milik Jongin terdengar dari recorder itu, Soojung merindukan tawa itu, ia menggenggam bajunya, menahan kepedihan hatinya.

Dan kau tahu Soojung, aku menyukaimu, tak butuh waktu lama bagiku untuk menyukaimu. Karenamu aku ingin tetap hidup, aku ingin hidup bersamamu soojung. Waktu itu jika kau tidak membalas pelukanku, ah tidak, jika kau melarangku memelukmu, mungkin aku akan kembali depresi, tapi pelukanmu waktu itu… Aku memutuskan untuk mengikuti operasi.

Maaf aku tidak memberitahumu, aku ingin memberikannya sebagai kejutan.

Sebentar lagi operasinya akan dimulai, aku akan menitipkan ini pada sahabatku, Sehun, tenang saja walaupun wajahnya topeng tapi ia orang yang baik hati, yah walaupun aku lebih baik tentunya.. hey ouch..

Soojung tidak tahu apa yg terjadi tapi ia menduga Sehun di sana waktu itu, dan ia melihat Sehun mengepalkan tangannya yang bergetar.

Aku benar-benar berharap operasinya sukses, jadi kau tidak perlu mendengarkan ini.

Baiklah, kurasa itu saja, ah satu hal lagi….

Suara Jongin terdiam agak lama sejenak Soojung mengira pesannya putus sampai di sana.

Aku ingin bertemu denganmu Soojung, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu, sangat menyukaimu.

Soojung terisak, bahunya berguncang hebat.

Ia juga ingin bertemu Jongin, ia merindukan pemuda yang ia kenal hanya beberapa minggu saja, ia juga ingin mengatakan hal yang sama.

“aku juga…menyukaimu Jongin…” gumamnya di sela isak tangisnya.

Hingga kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.

***

Soojung terbangun, matanya sedikit berat untuk terbuka dan ketika disadarinya ia berada di kamar tidurnya.

“Kau sudah sadar?”

Soojung menoleh ke sumber suara, Oh Sehun.

Lalu ingatan yang menyakitkan kembali menghampirinya. Ditahannya air mata yang sudah akan jatuh di pelupuk matanya.

“Maafkan aku… Aku tidak tahu kau akan…”

“Tidak apa-apa, aku justru berterima kasih. Selama ini aku salah sangka,kukira J-…. “ Soojung tidak mampu melanjutkannya, bahkan menyebut namanya saja membuatnya sesak.

“Beristirahatlah, aku sudah meninggalkan nomorku di ponselmu kalau kalau kau butuh bantuan, mengingat kau tinggal sendiri. Tolong jangan lakukan hal bodoh.”

“Hal bodoh?”

“Seperti bunuh diri misalnya? Atau mabuk-mabukan. Tidak Soojung.”

Soojung sedikit mendengus, sejenak pikiran itu memang sempat melewati pikirannya. Lagipula untuk apa dia hidup?

“Jongin adalah sahabatku, dan dia menyukaimu, orang yang penting bagi sahabatku adalah orang yang penting bagiku juga. Kau bisa mengandalkanku. “

Sehun beranjak keluar kamar namun kemudian langkahnya terhenti.

“Dan kau harus tahu kau tidak boleh bersedih terus, ingat pesannya? Dia tidak suka kau menangis, tenang saja ia sudah bahagia. Ya kurasa ia sudah bahagia, ia tak perlu lagi menanggung sakit yang selama 20 tahun sudah mengganggu aktivitas hidupnya. Jadi, jangan terlalu lama berduka Soojung, untuk kebaikanmu sendiri, dan untuknya.”

Sehun menunggu jawaban Soojung ketika kemudian gadis itu mengangguk perlahan dan terdengar gumaman lemah.

“aku tahu…”

Sehun tersenyum lalu meninggalkan apartemen Soojung. Soojung yang sendirian merasakan lagi kepedihan. Di sini, entah kenapa ia masih bisa merasakan kehadiran Jongin, dan entah kenapa ia merasa Jongin sedih melihat kondisinya yang sekarang.

Soojung memaksakan seulas senyum.

Ia bergumam

“Ijinkan aku…… ijinkan aku menangisimu untuk hari ini…. aku janji aku akan tersenyum lebih banyak esok hari…. maaf Jongin… Maafkan aku…selamat jalan….”

****

3 thoughts on “[FF/Kaistal] Last Farewell (Sekuel Delusion)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s