[FF/Part2] Love’s Loan

Author : Aralee

Casts : Lee Sungmin, Song Saehee

N.O.T.E : hai haiiii kkk author bawa part kedua muhahahah setelah berapa bulan ya tau berapa bulan wkwk jeongmal mianhae author sibuk sama pengurusan skripsi ._.v jadi kalo mau nyentuh FF rasanya males buanget… tapi author janji sama diri sendiri kalo komen FF ini sampe 50 komen / readers sampe 150.000 author mau ngelanjutin ini FF sampe kemudian author ngecek wah blog ini udah nembus 150.000 o_o jadi buat memenuhi janji author ngepost part 2 FF ini… masih berapa part lagi author juga belum tau, tergantung dari ide 😛

selamat membaca jangan lupa kritik saran 

DO NOT PLAGIAT

PREVIEW

Sungmin menarik lengan Saehee pelan, menarik agar tubuh dan kepala Saehee bersandar padanya. Ditahannya kepala Saehee dengan tangannya. Kepala Sungmin juga ikut bersandar pada kepala Saehee *bisa bayangin kaga?*

“Igen mwoya??” desis Saehee yang terbangun atas tingkah Sungmin, berusaha melepaskan diri namun tangan Sungmin dengan kuat menahan kepalanya.

“Tidurlah.” Jawab Sungmin singkat.

Saehee kembali berusaha menjauh dari Sungmin namun gagal, akhirnya ia hanya menyender pasrah, kembali menerawang sembari sesekali muncul dalam pikirannya kenapa Lee Sungmin melakukan hal-hal aneh, seperti sekarang ini misalnya.

Terlalu lelah berpikir, Saehee kembali terlelap. Sungmin tersenyum mengetahui gadis di sebelahnya tertidur.

“Tanpa disuruh pun aku akan melindunginya, ahjussi…”

***

“Kamarmu di sebelah kamarku,” Sungmin menunjuk ruangan di sebelah kamarnya.

Saehee berjalan menuju kamarnya ketika Sungmin menahannya.

“Besok, aku mau kau membangunkanku sebelum jam delapan. Aku agak terlalu sulit untuk tidur di tempat baru jadi kemungkinan aku akan bangun terlambat. Ingat, sebelum jam delapan, ini bawa kunci kamarku.” Sungmin melempar kunci master kamarnya yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Saehee secara refleks.

“Tidurlah lagi, selamat malam …. Saehee-ya.” Ujar Sungmin lalu tersenyum dan masuk ke kamarnya.

Saehee masih terpaku di tempatnya, berusaha mencerna perkataan Sungmin dengan otaknya yang lamban ketika hari semakin malam. Ketika menyadarinya ia mengumpat pelan.

“Kenapa aku juga menerima saja kunci kamarnya astaga…”

Saehee menggelengkan kepalanya dan memasuki kamarnya, kembali beristirahat untuk sejenak. Continue reading

Advertisements

[FF/Sequel After The Night] It’s Over

Title : It’s Over (Sekuel After The Night)

Author : AraLee

Casts : Lee Hyukjae, Jang Jinhye

Genre : NC 17

Wooppsss hahaha ini sekuel yang diminta readers karena misteri kematian orang tua Hyukjae belum terungkap . well jujur aja ini bikinnya sungguh sangat ngebut. 3 hari di sela-sela ujian dan tugas kuliah jadi mohon maklumi jika kurang memuaskan.

WARNING!

Author tidak memusatkan cerita pada bagian yadong, jika kamu readers yang mencari part yadong, mungkin tidak perlu baca karena cerita ini sebagian besar hanya spoiler ^^

Selamat membaca . –AraLee-

 

Terlahir di sebuah keluarga yang bisa dikatakan di bawah miskin, hidup Jang Jinhye benar-benar tidak ada yang istimewa. Kecuali fakta bahwa ibunya, yang hampir seluruh warga kota tahu, adalah selingkuhan seorang pengusaha terkenal di kota itu yang membuat nama keluarganya terkenal, karena tercemar tentu saja. Ditambah lagi ayahnya seorang pemabuk berat yang hanya bisa merampas uang milik ibunya, yang tentu saja hasil dari perselingkuhannya, Jinhye sendiri juga heran kenapa Tuhan tega menitipkannya pada keluarga yang seperti ini.

Menghela napas Jinhye memandang wajah adiknya yang tertidur pulas. Hanya adiknya inilah yang membuatnya bertahan, walau ia tidak tahu apakah adiknya ini benar-benar adik se-ayahnya. Diliriknya jam dinding, dan ia terkesiap. Teringat olehnya tentang sesuatu, bergegas ia bangkit, mencium dahi adiknya dan berjalan sembunyi-sembunyi menuju pintu belakang rumah. Continue reading

[FF NC/21/Scene 2] After The Night

Genre : Yadong 21, Romance

Casts : Lee Hyukjae, Jang Jinhye

ini part terakhir maaf kalo ga memuaskan ^^

happy reading, ditunggu kritik sarannya

 

DO NOT PLAGIAT

 

 

Hyukjae menghela napas panjang yang sudah sekian kali ia lakukan sepanjang hari ini.

Aktivitas wanita itu menunjukkan tanda-tanda hiatus. Tidak ada hal yang menonjol dilakukannya. Jinhye hanya keluar untuk membeli bahan makanan, dan selebihnya wanita itu terus mengurung diri di dalam rumahnya.

“Apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan?” gumam Hyukjae penasaran.

Ia merindukan Jinhye, tidak diragukan lagi. Namun ego sebagai pria menahannya untuk menemui wanita itu.

Teleponnya tiba-tiba berdering, Hyukjae berniat mengabaikannya, namun terus berdering.

Deringan keenam ia mengangkatnya.

“ne, Yeobsoyo?”

“Hyukjae-ssi… bisa,,bisakah kau kesini?” tanya orang di seberang dengan cepat.

Hyukjae tersenyum.

Jang Jinhye, kenapa dia meneleponku? Apa ia sudah memaafkan kejadian malam itu? pikir Hyukjae.

“Wae geurae?” tanya Hyukjae.

“A..aku takut, a..ada.. ah putakhaeyo!!” jawab Jinhye dengan suara mendesak.

Hyukjae menangkap nada takut dari suara Jinhye, ia tersenyum, wanita itu akhirnya mengakui kalau membutuhkan dirinya.

“arrasseo aku ke sana sekarang.”

Hyukjae bangkit, berjalan cepat ke area parkir, mengabaikan sapaan karyawan-karyawannya.

Hatinya berbunga-bunga. Jang Jinhye meneleponnya, karena membutuhkannya, entah karena apa tapi ia dipanggil dan wanita itu memerlukan pertolongannya.

Senyum Hyukjae mengembang mengetahui Jinhye yang menunggunya di teras dan langsung berdiri melihat mobilnya memasuki halaman.

Namun senyum Hyukjae perlahan menghilang ketika wajah pucat Jinhye semakin terlihat jelas ketika ia mendekat.

Tubuh wanita itu juga sedikit gemetar, dengan ekspresi wajah yang menyiratkan kecemasan dan ketakutan.

“Wae geurae?” tanya Hyukjae.

“Di..dalam.. a..da … bangkai..”

Hyukjae tersenyum simpul.

Bangkai,hanya karena bangkai wanita ini sampai meneleponku, pikirnya.

“Eodie?” tanyanya.

“Di atas meja makan.. di .. dapur…” jawab Jinhye lirih.

“Tenanglah aku akan membereskannya.” Continue reading

[FF/Part 1] Love’s Loan

Author : Ara Lee

Casts : Lee Sungmin

Song Saehee

Genre : Yadong 17, romance

Note

ini murni fiktif karangan author tanpa plagiat dari sumber manapun. jadi tolong jangan ada yang plagiat juga ya ^^

boleh copy asal ijin author dan disertai credit siapa authornya 🙂

sedikit penjelasan soal judul maksudnya bukan cinta yang dipinjamkan (love for loan) tapi cinta karena pinjaman (love cause loan) (?) begitulah -.-v

Happy reading ~

Comment lebih bagus ^^

 

 

 

Saehee menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Kini ia benar-benar sendirian. Sekarang ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Matanya memandang ke sekeliling, interior rumahnya tertata apik. Tentu saja, ayahnya bahkan sampai menyuruh desainer terkenal untuk menata ruangan rumahnya. Namun semua itu kini percuma.

Untuk apa rumah sebesar ini dan seindah ini interiornya jika ia hanya tinggal sendiri.

“Hanya orang bodoh yang tinggal di rumah sebesar ini sendirian “ gumam Saehee lalu mendengus menertawai ayahnya.

Sejak ibunya meninggal lima tahun lalu ia memang tidak tinggal bersama ayahnya, ia memilih tinggal sendiri di apartemen kecil di dekat kampusnya.

Orangtuanya tidak bercerai, tidak, ibunya bahkan sangat menyayangi ayahnya. Namun tidak begitu dengan ayahnya, entah kenapa sejak perusahaannya menjadi besar sikap ayahnya terhadap ibunya maupun dirinya berubah.

Beliau tidak lagi menjadi ayah yang menyenangkan, sosok ayah yang bila pada hari liburnya rela meluangkan waktunya hanya untuk menjadi kuda tunggangan bagi anaknya.

Song Saehee tidak lagi mengenal ayahnya sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Harus aku apakan rumah ini?” desisnya.

Ia sedang mempertimbangkan untuk menjual rumah peninggalan ayahnya ini ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

“pasti dari relasi ayah yang ingin melayat.”

Saehee bangkit dari duduknya, menghapus bekas air mata di wajahnya yang ia sendiri bingung kenapa ia masih menangisi kematian ayah yang sudah lama tidak dianggapnya.

”Ah maaf, tapi jasad ayah sudah …”

“Anda kerabat  Tuan Song Hyunsoo?”

Saehee mengernyitkan dahinya.

Kedua orang pria di depannya memakai jas rapi, ia mengira kedua orang itu datang untuk melayat.

“Ya, aku anaknya. Siapa kalian?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Saehee namun salah satu dari pria itu mengeluarkan selembar amplop dari saku jasnya.

“Ada titipan untuk anda.” Ujarnya singkat lalu menyerahkan amplop tersebut.

Saehee menerima dengan banyak pertanyaan di benaknya.

“kalau begitu kami permisi.”

Saehee hanya mengangguk sopan lalu kembali mengamati amplop di tangannya.

“Jangan-jangan ini surat warisan.” Gumamnya.

Duduk nyaman di sofa besar , Saehee kemudian membuka amplop tersebut.

Yang terhormat kerabat Tuan Song

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Song Hyunsoo. Namun hal ini tidak dapat mengubah tenggat waktu yang telah diatur dalam perjanjian antar perusahaan.

Sesuai perjanjian, besok hari terakhir untuk membayar hutang sebesar 1 milyar won. kami tunggu kedatangan anda untuk membayar hutang esok hari .

Salam hormat,

Direktur Lee

Saehee mendecakkan lidahnya berulang kali.

“satu milyar won? dasar gila ia kira semudah itu apa uang sebesar itu didapatkan?”

Ia sendiri heran untuk apa ayahnya berhutang dengan jumlah yang sangat besar. Sepengetahuannya ayahnya hidup senang dengan uang yang dihasilkan sendiri dari perusahaannya.

Ia tidak pernah mengetahui jika ayahnya berhutang, tentu saja bagaimana mungkin ia bisa tahu jika mengobrol dengan ayahnya saja sangat jarang dilakukannya jika tidak terpaksa.

Kesal, Saehee merobek kertas itu.

“Bukannya dapat warisan, ah tidak aku mendapat warisan, warisan hutang. Seperti aku peduli saja, yang berhutang ayahku, bukan aku, dan beliau sudah tidak ada. Bukan urusanku kalau ternyata beliau belum melunasi hutangnya.” Desisnya.

Ia mengemasi pakaiannya, dengan segera meninggalkan rumah besar yang kini tidak ada penghuninya itu.

*** Continue reading

[Teaser FF/Oneshot] Love’s Loan

Author : Ara Lee

Casts : Lee Sungmin

Song Saehee

Genre : Yadong 17, romance

Note

ini murni fiktif karangan author tanpa plagiat dari sumber manapun. jadi tolong jangan ada yang plagiat juga ya ^^

boleh copy asal ijin author dan disertai credit siapa authornya 🙂

sedikit penjelasan soal judul maksudnya bukan cinta yang dipinjamkan (love for loan) tapi cinta karena pinjaman (love cause loan) (?) begitulah -.-v

Happy reading ~

Comment lebih bagus ^^

 

 

Saehee menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Kini ia benar-benar sendirian. Sekarang ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Matanya memandang ke sekeliling, interior rumahnya tertata apik. Tentu saja, ayahnya bahkan sampai menyuruh desainer terkenal untuk menata ruangan rumahnya. Namun semua itu kini percuma.

Untuk apa rumah sebesar ini dan seindah ini interiornya jika ia hanya tinggal sendiri.

“Hanya orang bodoh yang tinggal di rumah sebesar ini sendirian “ gumam Saehee lalu mendengus menertawai ayahnya.

Sejak ibunya meninggal lima tahun lalu ia memang tidak tinggal bersama ayahnya, ia memilih tinggal sendiri di apartemen kecil di dekat kampusnya.

Orangtuanya tidak bercerai, tidak, ibunya bahkan sangat menyayangi ayahnya. Namun tidak begitu dengan ayahnya, entah kenapa sejak perusahaannya menjadi besar sikap ayahnya terhadap ibunya maupun dirinya berubah.

Beliau tidak lagi menjadi ayah yang menyenangkan, sosok ayah yang bila pada hari liburnya rela meluangkan waktunya hanya untuk menjadi kuda tunggangan bagi anaknya.

Song Saehee tidak lagi mengenal ayahnya sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Harus aku apakan rumah ini?” desisnya.

Ia sedang mempertimbangkan untuk menjual rumah peninggalan ayahnya ini ketika bel pintu rumahnya berbunyi.

“pasti dari relasi ayah yang ingin melayat.”

Saehee bangkit dari duduknya, menghapus bekas air mata di wajahnya yang ia sendiri bingung kenapa ia masih menangisi kematian ayah yang sudah lama tidak dianggapnya.

”Ah maaf, tapi jasad ayah sudah …”

“Anda kerabat  Tuan Song Hyunsoo?”

Saehee mengernyitkan dahinya.

Kedua orang pria di depannya memakai jas rapi, ia mengira kedua orang itu datang untuk melayat.

“Ya, aku anaknya. Siapa kalian?” tanyanya.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Saehee namun salah satu dari pria itu mengeluarkan selembar amplop dari saku jasnya.

“Ada titipan untuk anda.” Ujarnya singkat lalu menyerahkan amplop tersebut.

Saehee menerima dengan banyak pertanyaan di benaknya.

“kalau begitu kami permisi.”

Saehee hanya mengangguk sopan lalu kembali mengamati amplop di tangannya.

“Jangan-jangan ini surat warisan.” Gumamnya.

Duduk nyaman di sofa besar , Saehee kemudian membuka amplop tersebut.

Yang terhormat kerabat Tuan Song

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Song Hyunsoo. Namun hal ini tidak dapat mengubah tenggat waktu yang telah diatur dalam perjanjian antar perusahaan.

Sesuai perjanjian, besok hari terakhir untuk membayar hutang sebesar 1 milyar won. kami tunggu kedatangan anda untuk membayar hutang esok hari .

Salam hormat,

Direktur Lee

Saehee mendecakkan lidahnya berulang kali.

“satu milyar won? dasar gila ia kira semudah itu apa uang sebesar itu didapatkan?”

Ia sendiri heran untuk apa ayahnya berhutang dengan jumlah yang sangat besar. Sepengetahuannya ayahnya hidup senang dengan uang yang dihasilkan sendiri dari perusahaannya.

Ia tidak pernah mengetahui jika ayahnya berhutang, tentu saja bagaimana mungkin ia bisa tahu jika mengobrol dengan ayahnya saja sangat jarang dilakukannya jika tidak terpaksa.

Kesal, Saehee merobek kertas itu.

“Bukannya dapat warisan, ah tidak aku mendapat warisan, warisan hutang. Seperti aku peduli saja, yang berhutang ayahku, bukan aku, dan beliau sudah tidak ada. Bukan urusanku kalau ternyata beliau belum melunasi hutangnya.” Desisnya.

Ia mengemasi pakaiannya, dengan segera meninggalkan rumah besar yang kini tidak ada penghuninya itu.

***

[FF NC /21/ scene 1] After The Night

Cast : Lee Hyukjae, Jang Jinhye

Genre : Yadong 21, Romance

Note : Ff ini diadaptasi dari novel Linda Howard dengan judul yg sama, jadi buat readers yg pernah baca jangan heran ^^

Sebenarnya ini cerita oneshot

Cuma berhubung kepanjangan dijadiin 2shot muheheheh. Enjoy!! Jgn lupa kritik saran. Jangan plagiat yah 🙂

 

 

 

Sorot tajam lampu truk yang akan mengangkut barang-barang keluarga itu membuat Hyukjae melihatnya, apa yang ada di balik gaun tipis itu.

Tubuh itu, ia akui cukup seksi untuk ukuran gadis umur 14 tahun, tapi dirinya justru merasa jijik.

Gadis itu, dilihat dari sudut pandang manapun, mengingatkannya pada perempuan jalang yang telah menyebabkan kematian kedua orang tuanya, yang tidak lain adalah ibu gadis itu.

Gadis itu menatapnya, tatapan marah, kecewa dan benci. Aneh memang karena sebelumnya tatapan dari gadis itu adalah tatapan memuja.

Hyukjae tahu betul soal itu, dan sekarang ia merasa terhina telah dipuja oleh anak pelacur.

Hyukjae berjalan mendekatinya, mendesis pelan di dekat gadis itu.

“Aku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu dan keluargamu yang hina, lain kali jika aku melihat kalian lagi di kota ini, aku tidak segan untuk melenyapkan kalian dengan caraku sendiri, Jang Jinhye.”

***

Jinhye menatap gedung megah di hadapannya. Setelah sekian lama, ia tidak tahu apa yang ia lakukan ini benar ataukah salah.

Jinhye menghela napas panjang.

Ia harus melakukannya, ia tidak mungkin terus lari dari masa lalunya.

Jinhye mengambil langkah mantap, digerakkannya kedua kakinya di lantai marmer kantor itu, menemui seseorang dari masa lalunya yang membuat hatinya terluka sampai dalam.

Jinhye berani melakukannya karena ia yakin, ia bukanlah gadis cilik berumur 14 tahun yang terjerat pada pesona pemuda umur 18 tahun itu lagi.

Jang Jinhye, tidak akan jatuh pada pesona seorang Lee Hyukjae lagi.

Jinhye mengangguk mantap.

Sampai kemudian sedetik setelah ia membuka pintu ruangan tempat pria itu bekerja, ia menyangkalnya sendiri.

Jinhye melihatnya, garis rahang yang tegas, sorot mata yang tajam saat menatapnya, dan bibirnya yang menurutnya… tebal dan seksi (kata aak donghae sih gitu) pria itu tetap mempesonanya sampai sekarang.

Jinhye mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya dari imajinasinya yang hampir melampaui batas.

“Ada apa kau kembali?” tanya Hyukjae dingin. Continue reading

[Teaser FF/2] After The Night

Cast : Lee Hyukjae

Jang Jinhye

Note : berhubung FF nya belum jadi hahahaha jadi author keluarin deh nih teaser versi kedua biar makin penasaran (?) author janji ini FF ga bakal lama lagi rilis *apaandeh*

Hyukjae menghela napas panjang yang sudah sekian kali ia lakukan sepanjang hari ini.

Aktivitas wanita itu menunjukkan tanda-tanda hiatus. Tidak ada hal yang menonjol dilakukannya. Jinhye hanya keluar untuk membeli bahan makanan, dan selebihnya wanita itu terus mengurung diri di dalam rumahnya.

“Apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan?” gumam Hyukjae penasaran.

Ia merindukan Jinhye, tidak diragukan lagi. Namun ego sebagai pria menahannya untuk menemui wanita itu.

Teleponnya tiba-tiba berdering, Hyukjae berniat mengabaikannya, namun terus berdering.

Deringan keenam ia mengangkatnya.

“ne, Yeobsoyo?”

“Hyukjae-ssi… bisa,,bisakah kau kesini?” tanya orang di seberang dnegan cepat.

Hyukjae tersenyum.

Jang Jinhye, kenapa dia meneleponku? Apa ia sudah memaafkan kejadian malam itu? pikir Hyukjae.

“Wae geurae?” tanya Hyukjae.

“A..aku takut, a..ada.. ah putakhaeyo!!” jawab Jinhye dengan suara mendesak.

Hyukjae menangkap nada takut dari suara Jinhye, ia tersenyum, wanita itu akhirnya mengakui kalau membutuhkan dirinya.

“arrasseo aku ke sana sekarang.”

Hyukjae bangkit, berjalan cepat ke area parkir, mengabaikan sapaan karyawan-karyawannya.

Hatinya berbunga-bunga. Jang Jinhye meneleponnya, karena membutuhkannya, entah karena apa tapi ia dipanggil dan wanita itu memerlukan pertolongannya.

Senyum Hyukjae mengembang mengetahui Jinhye yang menunggunya di teras dan langsung berdiri melihat mobilnya memasuki halaman.

Namun senyum Hyukjae perlahan menghilang ketika wajah pucat Jinhye semakin terlihat jelas ketika ia mendekat.

Tubuh wanita itu juga sedikit gemetar, dengan ekspresi wajah yang meniratkan kecemasan dan ketakutan.

“Wae geurae?” tanya Hyukjae.

“Di..dalam.. a..da … bangkai..”

Hyukjae tersenyum simpul.

Bangkai,hanya bangkai wanita ini sampai meneleponku, pikirnya.

“Eodie?” tanyanya.

“Di atas meja makan.. di .. dapur…” jawab Jinhye lirih.

“Tenanglah aku akan membereskannya.”

Hyukjae amsuk, namun ketika mengetahui apa persisnya bangkai yang dimaksud, ia mengumpat keras-keras.

Buru-buru ia keluar, napasnya memburu menahan amarah yang memuncak.

“Siapa yang mengirimkannya?” tanya Hyukjae cepat.

Jinhye menggeleng.

“Tidak ada nama pengirim, ataupun alamat.. Tukang posnya juga tidak bilang apa-apa..”

Hyukjae serasa ingin meledak mendengar jawaban Jinhye, namun yang ia lakukan justru memeluk wanita itu, menenangkannya.

Hyukjae menelepon polisi lokal untuk menyelidiki siapa pengirim bangkai kucing hitam yang mati dengan cara dibunuh secara tragis itu.

“Kami akan berusaha untuk menemukan pengirimnya, tapi saya rasa akan membutuhkan waktu lama.”

Baik Jinhye maupun Hyukjae menyadari tatapan aneh dari sheriff yang sudah berumur 40-1n ini.

Hampir semua golongan tua di kota itu tahu insiden yang menyebabkan perseteruan yang tidak seimbang mengingat keluarga Lee mempunyai perusahaan dimana separuh dari warga kota bergantung, sementara keluarga Jang tragisnya terkenal karena keburukan kedua orang tua Jinhye.

“Cepat temukan dia, bagaimanapun caranya.” ucap Hyukjae.

Sheriff itu mengangguk lalu mohon diri untuk melanjutkan penyelidikan bersama anak buahnya.

Hyukjae berbalik.

“Bangkainya sudah dibawa pergi, polisi juga sudah memulai penyelidikan, aku sudah tidak ada urusan lagi di sini, kalau begitu… aku pulang.”

Hyukjae menanti jawaban Jinhye tapi gadis itu hanya menunduk, Hyukjae bahkan ragu wanita itu mendengarkannya.

Namun ketika ia berbalik untuk pergi, Jinhye justru memegang kain belakang jasnya, menahannya untuk tinggal.

Hyukjae menoleh, wanita itu masih menunduk, seolah tidak sadar apa yang telah dilakukannya.

Hyukjae kembali memeluknya, kali ini lebih erat.

Dan seketika pertahanan Jinhye runtuh, tangisnya pecah. Hyukjae menggiringnya masuk ke dalam rumah, menemani Jinhye menumpahkan semua emosinya yang terpendam.